
" Kak Wimpi. Dimana Bik Leny ? " tanya Bia saat melihat Wimpi tengah bersantai di meja makan setelah membuat jus alpukat.
Wimpi berdiri.
" Sedang menyirami tanaman Non Bia. "
" Bisa tolong panggilkan dia Kak Wimpi. Aku akan menunggunya disini. "
" Ada apa Non. Apa Non Bia membutuhkan sesuatu ? Aku akan membuatkannya. "
Bia terkekeh. Sekedar untuk mengurangi emosinya.
" Aku hanya ingin bicara Kak. Apa ini jus alpukat Kak Wimpi ? "
" Iya Non. "
" Boleh untukku saja ? " gurau Bia.
" Silahkan Non. "
" Terima kasih. " ucap Bia sambil duduk.
" Aku panggilkan Leny dulu Non. "
" Iya Kak. "
Wimpi keluar dari dapur setelah Bia duduk dan minum jus alpukat yang tadi dibuatnya.
Sepuluh menit kemudian, Leny datang ke dapur. Masih bersikap sepeti biasanya. Mengacuhkan Bia. Dia mengambil sebotol air mineral dan meminumnya. Tidak perduli ada Bia yang tengah menatapnya. Tangan Wimpi nampak sudah terkepal melihat ketidak sopanaan pembantu Clara. Tapi Bia menggeleng cepat saat Wimpi sudah bersiap menegur Leny.
" Ada apa ? Bukannnya ada Wimpi yang bisa membantu menyiapkan kebutuhan anda dan anak-anak. " kata Leny acuh.
" Duduklah. " ujar Bia sopan.
" Pekerjaanku belum selesai. " jawabnya dingin.
" Leny,, ! " tegur Wimpi.
Bia kembali menggelengkan kepalannya pada respon Wimpi.
" Aku tahu kamu gak menyukaiku. Dan aku juga gak tahu alasannya. "
Leny tersenyum sinis pada Bia. Mau gak mau memancing emosi Bia yang sedari tadi ditahannya.
" Oke. Silahkan kalo kamu gak menyukaiku. Apapun alasannya. Tapi, janagn pernah memfitnah dibelakangku ! " hardik Bia sembari menggebrak meja.
Baik Wimpi dan Leny menjadi terlonjak kaget. Bahkan Azalea dan Zaskia yang tengah berada di ruang tamu saling berpandangan heran kemudian ikut beranjak menuju dapur.
" Bos,, klien dari Jakarta yang akan meeting dengan kita. Membatalkan meeting karena semua penerbangan ditunda besok. " lapor Reiga.
Al meletakkan penanya. Kemudian berdiri, mengambil jasnya.
" Baguslah. Cancel semua jadwalku hari ini. Antarkan aku pulang sekarang. Perasaanku gak enak, sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada istri dan anak-anakku. Aku ingin pulang lebih cepat, kalo ada berkas yang harus aku tanda tangani antarkan kerumah nanti malam. "
" Baik Bos. " jawab Reiga.
Al melangkahkan kakinya dengan cepat setengah berlari. Entah sejak tadi pagi setelah mengetahui dari Fawwaz kalo Faiz sednag menangis. Perasaannya jadi gak enak. Pikirannya masih pada Bia. Ada apa sebenarnya ? pikirnya kalut.
Al sadar, sesuatu sedang terjadi dirumahnya. Entah, firasatnya mengatakan Bia sedang tidak baik-baik saja saat ini. Entahlah.
" Apa maksud Nona. Memfitnah apa ? "
" Kalo memang gak tahu apapun tentang keluarga kami, lebih baik diam saja. "
" Maaf kalo saya lancang. Apa syaa boleh bicara ?"
" Silahkan. " tantang Bia.
" Dengan melihatnya saja sudah bisa menebaknya Nona. Setiap hari saya melihat Nona Clara menangisi Tuan Al yang gak mau satu kamar dnegannya. Setiap malam yang Tuan sebut dalam tidurnya hanya Bia dan Bia. Pembicaraan Nona Clara dan Tuan Al hanya tentang Bia dan Bia.
Kalo bukan pelakor,, lalu apa sebutan yang tepat untuk anda ini. Bahkan anda berani-beraninya membawa anak hasil perslingkuhan kalian ke rumah ini dulu. Dan sekarang, setelah Nona Clara meninggal, malah gak punya malu tinggal disini. Anda bahkan sudah mencuci otak keluarga Nona Clara. Kita lihat saja apa yang akan Tuan Mark dan Nyonya Naya lakukan kalo melihat Tuan Al sudah berani membawa selingkuhannya untuk tinggal dirumah ini. "
Bia memejamkan matanya mendengar tuduhan Leny. Zaskia bahkan menutup mulutnya dengan tangan karena tidak menyangka Leny berani mengatakan semua itu pada Bia. Pantas saja sedari tadi tangan Wimpi sudah terkepal sepeti ingin memukul Leny. Karena dia pun juga ingin melakukan hal yang sama.
" Terserah kamu menuduhku seperti apa. Tapi lihatlah sekitarmu. Perkataanmu terdengar oleh anak-anakku."
" Itu faktanya. Meskipun sangat memalukan. Tapi mereka harus tahu status mereka memang anak hasil perselingkuhan. "
" Kamu bisa mengatakan tentang apapun padaku, aku gak perduli. Tapi jangan sekali-kali mengatakan yang tidak-tidak tentnag anak-anakku. "
" Yang tidak-tidak bagaimana ?! Sejak dua tahun yang lalu. Yang menjadi momok dalam keluarga Nona Clara hanya anda ! Yang namanya pelakor tetap saja pelakor. "
" Terserah kamu. Aku gak perduli. "
" Bisa-bisanya anda merebut suami Nona Clara. Lihat saja penampilan anda. Sadarlah Nona,, anda gak ada apa-apanya dibandingkan Nona Clara. "
__ADS_1
Bia menghela nafas mencoba untuk kembali bersabar.
" Seperti yang aku bilang kan. Terserah kamu mau mengatakan aku pelakorlah,, perebut suami oranglah. Terserah. Tapi, ini pertama dan terakhir kalinya aku peringatkan. Jangan sekali-kali mengatakan yang tidak-tidak tentang anak-anakku. "
" Seperti hasil perselingkuhan kalian ?! "
" Apa aku harus menunjukkan buktinya kalo aku dan Mas Al bukan pasangan perselingkuhan ? " tegas Bia sedikit melunak. Kepalanya sudah terasa berat karena emosi.
Leny nampak kaget dengan perkataan Bia. Bukti ?
" Kalo memang kalian bukan pasangan perselingkuhan. Apa kamu mau bilang kalo Nona Clara pelakor diantara kalian ? "
" Aku gak harus menjelaskan semua masa lalu kami kan. Lagipula, bukannya gak etis kita membicarakan orang yang sudah meninggal ? Yang perlu kamu fahami,, baik aku ataupun Kak Clara. Kami berdua bukan pelakor seperti yang kamu tuduhkan. Kami sama-sama istri sah Mas Al. Majikan kamu. " tegas Bia kesal.
" Wimpi,, sebenarnya ada apa ? Bia gak mungkin semarah itu pada orang lain. Apalagi setahuku, mereka gak pernah bicara. " tanya Azalea pada Wimpi yang masih terlihat marah dengan seemua perkataan Leny.
" Karena semua yang dikatakan Leny tadi Nyonya. " jawab Wimpi kesal.
" Kak Bia, bukan seorang yang pemarah. Sepertinya bukan hanya tentnag itu . " sahut Zaskia heran.
" Sepertinya Mas Faiz pernah mendnegar semua yang dikatakan Leny tadi Nyonya. "
" Faiz ?! " tanya Azalea kaget.
" Perkataan yang mana Kak Wimpi ?! " seru Zaskia kaget.
Karena perkataan Leny sangat tidak sopan untuk anak seusia Faiz.
" Tentang,, Si kembar yang dikatakan Leny, adalah aanak hasil perselingkuhan Tuan Al dan Non Bia. "
" Apa !!! " seru Al kaget sembari menggebrak pintu dapur hingga pintu yang terbuat dari kaca itu pecah dan berserakan.
Tangan Al bahkan juga sampai berdarah karena beberapa pecahan kaca menancap disana.
Membuat semua yang ada disana terlonjak kaget. Apalagi Zaskia dan Azalea yang berada di dekat pintu dapur.
" Al,, "
" Kak Al,,, "
" Tuan,,, "
Bia terlonjak kaget. Bukan hanya karena suara gebrakan pintu sampai pecah. Tapi juga karena kedatangan Al dnegan wajah penuh dengan kemarahan. Dia berdecak kesal.
* Aduuhh,, kenapa Mas Al pulang lagi ? Apa dia mendnegar semuanya ? *
" Aku obati lukanya Mas. " seru Bia sembari menggamit lengan Al.
" Aku gak apa-apa. " geramnya tanpa menoleh pada Bia.
Tatapan Al tertuju pada Leny.
" Kak Wimpi. Tolong antarkan Bik Leny membeli pesananku. Aku mau buah alpukat ya. " kata Bia sembari mengedipkan matanya pada Wimpi.
Seolah tengah menyuruh Wimpi membawa Leny pergi dari dapur.
" Tidak ada yang boleh pergi. Terutama kamu. " seru Al marah sambil menunjuk Leny.
Darah segar masih mengalir dari luka ditelapak tnagan Al. Tapi Al terlihat tidak merasakannya.
" Mas,, aku obati lukamu. Darahnya mengalir terus. " kata Bia sembari menarik lengan Al. tangannya sudah gemetaran membayangkan kemarahan Al akan sepeti dulu lagi.
" Diamlah Bi. Aku,,, "
Belum juga Al menyelesaikan kalimatnya tapi Bia sudah terlebih dulu pingsan. Untung saja Al dengan sigap segera menangkapnya.
" Non Bia !! "
" Kak Bia !!! "
" Bia,, !! "
Al langsung membopong Bia keluar dapur. Segera menuju ke mobilnya untuk membawanya kerumah sakit. Tapi saat melihat Leon dan Gita yang sepertinya baru sampai dirumahnya. Membuat langkah Al terhenti.
" Om Leon. Tolong Bia !! " serunya.
" Apa yang terjadi ?! " seru Leon panik sampai tidak sadar langsung melemparkan kopernya. Dan mendekat ke arah Al.
" Kita ke kamarku Om. " sahuut Al sambil membawa Bia menuju kamar pribadinya yang ada diruang kerja.
" Wimpi, bantu Leny membersihkan pecahan kacanya. " kata Azalea sambil segera mengikuti Al keruang kerjanya dengan panik begitupun dengan Zaskia dan Gita.
Baik Azalea, Leon, Zaskia dan Gita sama-sama terpaku saat memasuki kamar pribadi diruang kerja Al. Mereka semua sibuk memindai semua foto-foto dan memikirkan apa yang tengah dilihatnya saat ini.
" Om Leon !! " seru Al karena Leon tidak juga memeriksa Bia.
Leon tersentak kaget. Kemudian mendekati Al dan Bia diranjangnya. Mengeluarkan perlengkapan medisnya dari ransel.
" Apa yang terjadi pada Bia Om ? " tanay Al panik.
__ADS_1
" Bia, hanya terlalu menahan emosinya Al. Dia tidak apa-apa. "
Gita ikut mendekati Bia. Dan memeriksanya. Alisnya berkerut. Kemudian sedikit memegang perut Bia.
" Boleh aku pinjam stetoskopnya Mas Leon ? " tnaya Gita.
Leon memberikan stetoskopnya dan memberikan tempatnya agar Gita bisa leluasa memeriksa Bia.
" Kenapa Tante ? " tanay Zaskia panik.
" Ada apa Gita ? " tanay Azalea.
" Obat apa itu ? " tanya Leon saat Gita menyuntikkan sesuatu pada Bia.
Gita tersenyum.
" Hanya vitamin Mas. Kebetulan aku juga bawa. "
" Vitamin ? Vitamin apa ? "
" Sepertinya,, Bia hamil. " jawab Gita.
" Alhamdulillahhhh,,, " seru Azalea dan Zaskia senang.
" Benarkah ?!! " seru Al tidak percaya. Lalu hendak mendekati Bia. Tapi ditahan Leon.
" Kamu juga harus di obati. "
" Aku gak apa-apa, Om. Minggirlah. "
" Kamu mau membuat Bia pingsan lagi karena panik melihat lukamu ?! " hardik Leon.
" Tidak,, Tidak,,, " jawab Al cepat.
Leon tersenyum smirk. Lalu mengobati luka Al dengan sedikit kasar. Bermaksud hendak menggoda Al. Tapi, Al seperti mati rasa. Bahkan tidak merespon setiap kali Leon dnegan sengaja menekan luka yang berdarah. Tatapan Al masih terfokus pada Bia. Berharap Bia segera membuka matanya. Supaya bisa memberikan kabar gembiranya.
" Mas Leon,, kenapa sekasar itu ? " tegur Gita tidak suka.
" Lihat saja ekpresinya. Dia ini speerti kulkas. Luka sepeti ini kecil baginya. Dia sudah bersama obatnya. "
Gita menatap Leon dan Al bergantian. Kemudian tersneyum mengerti maksud Leon dengan obat Al.
" Aku akan meresepkan vitamin penguat kandungan. Untuk lebih jelasnya, bisa menyuruh Bia tes urin kalo sudah sadar nanti. "
" Terima kasih dokter. " ujar Al sembari menggenggam tnagan Bia dan menciuminya.
" Dia kesini sebagai Tantemu. Bukan sebagai dokter. " tegur Leon kesal.
" Maafkan aku, Tante. " pinta Al tak enak hati.
" Tidak aap-apa. Tidak usah memperdulikan Om kamu."
" Mereka memang selalu sepeti itu setiap kali bertemu Gita. Ayo aku antar ke kamarmu. Resepnya biar ditebus Wimpi. " ajak Azalea.
" Al,, tolong pastikan Bia tidak terlalu banyak pikiran. Kandungannya masih rentan. Kamu harus benar-benar jaga emosinya. Jangan membiarkannya shock seperti tadi. " kata Gita mengingatkan.
" Iya Tante. " jawab Al senang.
" Aku keluar dulu. "
Al hanya mengangguk.
" Terima kasih. " ucapnya.
Semuanya juga keluar dari ruang kerja Al. Dan duduk diruang tamu. Zaskia melihat ke dapur. Pecahan kacanya sudah bersih.
" Bik Leny. Tolong bersihkan kamar tamu satu lagi. Karena akan ditempati Om Leon dan istrinya. " kata Zaskia dingin.
" Baik Nona Kia. " jawab Leny sambil beranjak pergi.
" Kak Wimpi,, "
Wimpi mendekat.
" Bagaimana keadaan Non Bia, Non Kia ? " tanya Wimpi khawatir.
" Kak Wimpi, tnenag aja. Kak Bia baik-baik aja, emosinya sedang gak stabil. Dan juga,, Kak Bia sednag hamil. Aku harap permasalahan tadi gak berlarut-larut. Aku harap Kak Al gak marah lagi. " jelas Zaskia.
" Aaahh syukur Alhamdulillah Non Kia. Saya ikut sennag mendengarnya. "
" Iya. Aku juga senang mendneagrnya. Oh iya Kak. Ini resep yang harus ditebus untuk Kka Bia. Bisa minta tolong belikan di apotik Kak Wimpi ? "
" Tentu,, tentu Non Kia. Saya permisi dulu. "
" Eehh,, tunggu. Uangnay Kak Wimpi. "
" Sudah ada Non. Permisi. " pamit Wimpi cepat.
Zaskia geleng-geleng heran. Dari dulu sampai sekarnag. Kak Wimpi selalu peka pada Kak Bia.
__ADS_1