
" Kita pergi ke rumah Mama Ara ya. Kita jemput Oma Lea dan tante Kia sekarang. " kata Al saat selesai sholat.
" Om Tian juga Pa. " celetuk Bia.
" Ayo kita keluar. Bunda mau ganti baju. Kita panaskan mesin mobilnya dulu. " kata Al tanpa menghiraukan perkataan Bia.
Bia terkekeh pelan karena Al mengacuhkannya.
" Oke Pa. " seru kedua anaknya yang langsung ngeloyor keluar kamar.
Bia menutup mulutnya saat Al mendekatinya. Dan terus berjalan mundur. Hingga membentur lemari pakaian Al.
" Ckk,, terus saja menggodaku. Dan lihat saja nanti. Aku gak akan melepaskanmu, Bi. " ancam Al kesal.
" Aku bisa tidur dengan Mama nanti. " jawab Bia tanpa melepaskan tangannya dari mulutnya.
" Lakukan saja. Aku akan membawa anak-anak pergi." ancam Al lagi sembari beranjak pergi.
" Jangan !! " seru Bia sambil menarik lengan Al.
Al langsung memcium bibir Bia, sedikit nakal dengan memberikan sentuhan dititik sensitif Bia. Hingga membuat nafas Bia sedikit lebih cepat menahan rangsangan Al.
" Hukuman buat kamu. Yang sudah berani menggodaku. Tunggu saja nanti. " bisik Al sambil memcium telinga Bia.
Bia memukul lengan Al kesal. Menepis wajah Al agar sedikit menjauh. Menghapus bibirnya yang basah. Nafasnya masih terlihat ngos-ngosan. Sentuhan Al memang selalu berhasil membuat hasratnya naik. Seperti sekarnag.
" Apa mau melakukannya sekarang ? " bisik Al lagi seraya mendekat.
" Pergilah. Anak-anak sudah menunggumu. "
" Kamu yakin ? Kamu sudah,,, " Al sengaja menggantungkan kalimatnya dan meremas dua buah kesukaannya.
" Sangat ingin,, " bisik Al lebih pelan.
" Sudah sana. Aku akan membalasmu nanti. Lihat aja." geram Bia kesal.
Al tertawa dan mengangguk-angguk.
" Ya,, ya,, aku akan menunggunya. " godanya.
" Papaaaaa,,,,!!! " seru anak-anaknya dari luar kamar.
" Mas,,, !! " seru Bia karena Al masih juga tidak mau keluar dari kamar. Malah mengganggunya yang akan berganti baju.
" Iyaaa,,, sebentar. " seru Al tidak kalah kerasnya.
Bia mencoba melepaskan dekapan Al yang semakin erat.
" Mas,, lepasin. "
" Morning kiss. "
" Ini udah siang !" hardik Bia.
" Cium dulu. "
" Anak-anak memunggumu Mas. "
" Cium dulu. " kata Al memaksa.
Bia menghela nafas, capek berusaha melepaskan diri dari Al.
" Terserah kamu saja. " ujarnya pasrah.
Al tertawa menang. Lalu memciumi wajah Bia. Apalagi melihat Bia yang sengaja memejamkam matanya.
" Papa, Bundaa,,, ciyeeeee,, ciyeee,, !! "
Spontan Bia membuka matanya dan menoleh ke arah pintu. Ada kedua anaknya yang tengah bertepuk tangan melihat kedua ornag tuaanya saling berpelukan.
Al tertawa melihat kedua anaknya mendukungnya. Bia memukul lengan Al agar melepaskan pelukannya. Malu pada anak-anaknya. Tapi Al menggeleng pasti.
" Papa masih kangen Bunda. " jawab Al keki.
" Kita gak jadi jemput Oma ? " tanya Fawwaz.
" Jadi dong. " seru Al.
" Kan Papa masih kangen Bunda. Kalo Papa peluk Bunda terus. Kapan kita berangkatnya ? " omel Faiz.
" Kita berangkat sekarnag. Bunda, jangan lama-lama ya. Kita tunggu dibawah. " kata Al sambil mencium kening Bia. Lalu menggandeng kedua tangan anaknya menuju lantai bawah.
Bia menghentakkan kakinya kesal.
" Dasaarrr Mas Al,,, !! " geramnya.
Al menunggu Bia di teras, anak-anak sudah berada di mobil. Bia turun dari lantai atas dengan memakai gamis perpaduan warna hitam dan putih.
" Maaf, lama. " ujarnya buru-buru menuju mobil.
Langkah Bia terhenti saat Al menarik tangannya.
"Ada apa? " tanya Bia heran.
" Hapus lipstikmu. Warnanya terlalu merah. "
Bia melongo mendengarnya. Dia hanya menyapukan vitamin bibir dan lipstik cream dengan warna peach. Tidak seberapa kentara. Terlalu merah ??
" Nanti saja di mobil. " jawab Bia kesal.
Al mengunci rumahnya. Dan bergegas ke mobil. Memberikan satu box tisu padanya.
" Hapus lipstiknya ! "
" Ini ,, matte Papa. "
" Aku gak mau tahu. Aku bilang hapus ya hapus. "
Bia geleng-geleng tidak mengerti. tapi tetap berusaha menghapus lipstiknya. Agar Al segera melajukan mobilnya.
" Sudah puas ? "
" Begituu lebih baik. Aku gak mau laki-laki lain melihatmu dengan lipstik semerah itu. " omel Al seraya menjalankan mobil.
Kedua anaknya hanya cekikikan di kursi belakang. Bia mengulurkan dua botol bekas air mineral yang di isi dengan susu formula ke arah anak-anaknya. Tak lupa juga memberikan satu sedotan untuk masing-masing botol.
" Baca bismillah dulu ya. " ujar Bia mengingatkan.
" Makasih Bunda. "
" Bismillahirrohmanirrohim. "
" Kok cuman mereka yang dapat susu. Susu buat Papa mana ? " protes Al sambil melihat Bia.
" Papa, lihat jalannya. Fokus dong. " omel Bia.
" Susu buat aku mana ? " tegurnya.
" Papa mau susu ? Tadi aku cuman buatin kopi susu. Gimana ? " jawab Bia tidak enak hati.
__ADS_1
" Itu juga boleh. " jawab Al.
Bia membuka botol mini yang di isinya kopi susu. Saat lampu merah Al menerima dan langsung meminumnya.
" Susu jatah Papa nanti malam saja. " bisik Al pelan sambil mencubit pipi Bia.
" Enak aja. Sudah di ambil lebih dulu kemarin. " geruutu Bia sambil menoleh ke anak-anaknya.
" Mas dan Adek mengantuk ? "
" Gak Bunda. " jawab keduanya.
" Udah sampai sayang. Ayo kita turun. "
Bia menatap rumah dua lantai didepannya. Anak-anak langsung keluar dan berlarian masuk kerumah itu. Bia keluar diikuti Al.
" Apa kamu baik-baik saja ? " tanya Al saat Bia terlihat murung.
" Aku teringat Kak Clara. " jawabnya.
" Harusnya kita bertiga bisa membuat satu aja kenangan disini. " gurau Al.
" Kamu belum bisa adil waktu itu Mas. Akan semakin menyakiti Kak Clara. " sindir Bia.
" Ya kamu benar. Aku gak bisa membohongi hatiku Bi. Ayo masuk. " ajak Al sambil mendekap Bia.
" Assalamualaikum. " sapa Bia.
" Waalaikumsalam, Bia. " jawab Azalea yang baru turun dari tangga.
" Anak-anak dimana Ma ? " tanya Bia semabri mendekat dan menyaliminya.
" Ada di atas. Dikamar Clara. Mau mengambil mainan mereka. " jawab Azalea sembari sesekali melirik Al yang sedang mengotak atik ponselnya.
" Bi, aku ke ruang kerjaku dulu. Ada berkas yang harus aku kirim ke Reiga. " pamit Al tanpa menoleh.
Bia berdecak kesal. Karena bisa-bisanya Al kembali mengacuhkan Azalea. Bia mendekap Azalea yang tampak sedih. Lalu membawanya ke ruang tamu.
" Kita ke taman belakang aja Bi. Mama ingin ke kolam renang. " ajak Azalea sambil menggandeng lengan Bia menuju kolam renang.
Mata Bia tidak lepas dari semua dekorasi rumah itu. Semuanya nampak berkelas dan elegan. Sama seperti Clara yang selalu terlihat modis dan elegan. Menampakkan dia bukan dari kalangan biasa.
" Semuanya Clara yang mendesain. " kata Azalea saat Bia masih terlihat takjub.
" Tentu saja Ma. Kak Clara selalu perfect. Selalu bisa terlihat modis dan berkelas. " jawabnya.
" Mama ingin merendam kaki Mama. Sama seperti yang sering kamu lakukan di Surabaya dulu. "
Bia terkekeh.
" Iya. Sudah lama aku gak melakukannya. " kata Bia seraya ikut melipat celana legginya.
Keduanya duduk dipinggir kolam. Dan memasukkan kakinya disana.
" Terasa rileks ya Bi. "
" Iya Ma. "
Keduanya terdiam. Tiba-tiba hening.
" Terima kasih Bia. " ucap Azalea.
Bia menoleh. Menatap Azalea dengan bingung.
" Terima kasih karena sudha menerima Al. Raut wajahnya sudah terlihat lebih cerah meskipun dia masih mendiamkan Mama. Aku tahu itu karenamu. "
" Aku yang harusnya berterima kasih pada Mama. "
" Membantu kami memberitahu tentang kematian Kak Clara pada anak-anak. Jujur, aku gak sanggup mengatakannya Ma. Apalagi makam Kka Clara jauh di Singapura. "
" Pasti sebentar lagi Al akan mengajak kalian kesana. Bia. Tunggu saja."
" Iya. Mas Al sudah menyuruh Reiga mengurus berkas pernikahan kami dan juga mengurus paspor untukku dan anak-anak. "
" Syukurlah. "
" Aku ingin berada disana sebelum empat puluh hari Kak Clara Ma. "
" Aku juga. " sahut Zaskia yang tiba-tiba muncul disana.
Bia dan Azlaea menoleh kaget.
" Geser,, aku mau ditengah-tengah kalian. " seru Zaskia. Sambil memaksa Bia dan Azalea saling menjauh.
" Kiaaa,,, !! " tegur Bia kesal.
" Mama kan masih kangen sama Bia, Ki. "
" Aku juga kangen Ma. "
" Kangen gimana. Kan kemarin kita udah ketemu. " gerutu Bia.
" Sebelum si Alfarizhi menyabotase Kak Bia lagi. " goda Zaskia.
Bia menarik hidung Zaskia kesal.
" Sudah aku bilang. Itu karena pesan kamu ! " omel Bia.
" Aku kan gak tahu kalo Kak Al yang baca. Lagian ngapaim juga Kak Al baca-baca pesan Kak Bia. " protes Zaskia.
" Ki,, Ma,, aku mau kerumah Ibu ya. " pamit Tian.
" Ehh,, kamu ada disini Bia. " kata Tian yang tidak tahu ada Bia juga dikolam renang.
" Iya Tian. Aku baru saja sampe. " jawab Bia.
" Apa aku ikut ? " tanya Zaskia sambil berdiri.
" Gak usah dulu ya. Ibu mau diantarkan kerumah saudara-saudara. Takutnya nanti kamu bosan disana."
" Bosan ? Kenapa ? "
" Karena aku sendiri juga bosan kalo diajak Ibu kesana. " jawab Tian sambil tertawa.
" Kok bisa sih ? Harusnya senang kan bisa ketemu dengan saudara-saudara kamu yang lain Tian. "
" Aku gak terlalu suka dengan saudara Ibu yang satu ini Bia. "
" Kenapa ? " tanya Bia heran.
" Karena mereka selalu membahas tentang warisan dan juga memamerkan koleksi perhiasan mereka. "
Bia tertawa diikuti Azalea dan Zaskia.
" Bi,, apa kamu lupa dnegan apa yang aku katakan sewaktu dirumah ?! " geram Al.
Azalea sampai kaget dan berdiri. Takut Al akan bertindak gegabah. Bia juga ikut berdiri.
" Kamu jangan terlalu dekat dengan istriku ! " ancam Al pada Tian.
__ADS_1
Yang diancam bukannya takut malah tertawa. Zaskia jadi geleng-geleng melihat Al yang masih cembruu pada Tian.
Bia mendekat pada Al, tidak menyangka Al akan mengatakan hal itu. Tapi kakinya yang masih basah membuatnya hampir terpeleset. Untung saja Al segera menarik tnagannya dan memeluknya erat.
" Ceroboh !! " hardiknya khawatir sambil memegang wajah Bia.
" Kamu baik-baik saja ? " tanyanya cemas.
" Aku baik-baik saja. " jawabnya.
" Minum dulu Bi. " kata Tian sambil memberikan segelas air mineral pada Bia.
Al merebut gelas air mineral itu. Dan menatap Tian penuh intimidasi.
" Jangan memanggilnya seperrti itu. Dia kakak iparmu. " geram Al.
Tian kembali tertawa.
" Kak Al sadar dia kakak ipar Kak Tian ? Lalu kenapa masih cemburu pada Kak Tian ? " omel Zaskia.
Bia memukul dada bidang Al pelan.
" Kamu itu,, apaan sih ngomongnya kayak gituu. "
" Aku gak suka dia memanggilmu seperti itu. " gerutuu Al kesal karena semua orang membela Tian.
" Lalu Tian harus memanggilku apa ? "
" Kamu kakak iparnya. Setidaknya dia harus memnaggilmu seperti Kia memanggilmu. "
" Usiaku saja masih dibawah Tian. Gimana bisa dia memanggilku seperti itu ? Harusnya aku memanggil dia dengan Mas atau Kak kan. "
" Bii,,, !!! " tegur Al kesal.
" Maafkan Mas Al Tian. Gak usah perdulikan omongannya tadi. " kata Bia tidak enak hati.
" Bi, aku,,,"
Bia segera menutup mulut Al dengan telapak tangannya.
" Maklumi aja Bia. Selama ini dia sudah menjadi duda di pernikahannya. "
" Kak Tian,, " geram Zaskia kesal.
Kenapa Kak Tian malah memancing emosi Kak Al sih. Pikir Zaskia kesal.
" Apa kamu bilang ?! " seru Al marah meskipun dnegan mulut yang masih ditutup Bia dengan telapak tangannya.
" Benar kan. Selama pernikahanmu dnegan Clara,, kamu menjadikan dirimu sebagai duda. Dan sekarang saat kamu dan Bia sudah bersatu tanpa harus poliandri ataupun poligami,, kamu serasa jadi pengantin baru. Jadi, di maklumi aja Ki, Bia. Pengantin baru , posesifnya masih tingkat akut. " jelas Tian smabil tertawa.
" Kak Tian mau kerumah Ibu kan. Aku antar samapi depan, Kak. " kata Zaskia sambil menarik lengan Tian.
" Aku pamit ke Mama dulu Kia. Aku pergi Ma. " pamit Tian sambil mencium telapak tangan Azalea.
" Hati-hati. " ujar Azalea.
Azalea menghela nafas panjang mendengar anak dan emnantunya berdebat.
" Mama kekamar Clara Bia. Mau menemani anak-anak."
" Iya Ma. Maafkan kami. "
Azalea hanya tersenyum. Lalu mengangguk mengerti.
Al merapatkan tubuh Bia ke tubuhnya. Bia melepaskan tangannya dari mulut Al dan berusaha mendorong tubuh Al menjauh.
" Ini apa-apan sih. Lepasin Mas. "
" Aku udah bilang, aku akan membuatmu tidur seharian kalo berani bicara dengan Tian. "
" Kamu gak lihat ada Mama dan Kia tadi ? Aku gak bicara berdua saja dengan Tian. " protes Bia.
" Pokoknya aku akan menghukummu karena tidak mendengarkan perkataan suaminya. " ucap Al smabil mencium bibir Bia singkat.
" Lepasin, Mas. Gak malu apa dilihat ornag. "
" Siapa yang melihat. Memangnya salah kalo bermesraan dengan istrinya sendiri hahhhh ! "
" Iisshhh,, sudah lepaskan aku. "
Tapi Al tidak juga mau melepaskannya. Bia tersenyum dnegan ide yang ada dikepalanya.
" Kia,, Tian,, kenapa kembali ?! " seru Bia berbohong.
Karena posisi Al memang membelakngi pintu jadi tidak tahu apa ada orang atau tidak. Al spontan melepaskan pelukannya bersiap hendak membalas perkataan Tian tadi.
Kesempatan itu, tidak disia-siakan Bia. Dia segera melepaskan tangan Al yang masih menggenggamnya. Kemudian berlari masuk kedalam rumah.
Sadar kalo Bia sedang membohonginya, Al segera menyusul Bia. Kaki Bia yang masih basah membuat langkah Bia sedikit kesulitan untuk berlari. Takut nanti akan terpeleset lagi.
Baru hendak menaiki tangga rumah itu, tubuh Bia serasa ringan. Yaahh,, Al berhasil menangkapnya dan menggendong tubuhnya.
" Berani sekali kamu membohongi suamimu heemmm.. "
Bia terkekeh, lalu mengatupkan kedua telapak tnagannya.
" Aku minta maaf. Sekarnag turunkan aku."
" Kamu pikir smeudah itu ?! Tidak akan. "
" Mas,, ayolah,, aku mau ke kamar Kka Clara. "
" Aku memang akan membawamu ke kamar. Tapi tidak ke kamar Clara. tapi ke kamarku. Ruang kerjaku. "
" Tidak,, tidak,, aku ke anak-anak saja. "
Al melihat Zaskia yang baru masuk ke rumahnya setelah kepergian Tian.
" Ki,, pastikan anak-anak aman diatas. "
" Jangan, Ki. "
" Oke. Tapi, dengan satu syarat ! " kata Zaskia dnega tangan bersedekap.
" Apa itu ? "
" Kak Al gak boleh cemburu lagi pada Kak Tian. "
" Oke. Deal. "
" Oke. Deal. Cepat sana pergi. " usir Zaskia.
" Kia,,, !!! " hardik Bia kesal.
" Kemarin untuk menebus dua tahun Kak Al, Kak Bia. Kalo sekarnag,, menebus lima bulan kemarin. Kak Bia udah bohongi Kak Al. " jelas Zaskia sambil berlalu pergi dnegan deraian tawa.
" Kamu dnegar itu,, Kia memang peka. "
" Gak Mas. Ini masih pagi. " protes Bia.
__ADS_1
Al tidak perduli, dengan tertawa dan sesekali mencium bibir Bia. Al membawa Bia ke ruang kerjanya. Dan masuk ke kamar pribadinya.