Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 150


__ADS_3

Mark dan Naya memutuskan kembali pulang ke Singapura untuk menemani Alex belajar agama kepada Ustadz Yahya. Mereka tidak mau Alex merasa sendirian di jalan hirahnya.


" Maafkan kami Bia. " ujar Naya saat memeluk Bia yang mengantarkannya ke bandara.


" Mama dan Papa bahkan belum satu minggu berada di sini bersamaku. Tapi, kalian sudah pergi lagi. " keluh Bia saat pelukannya terlepas.


" Kami harus memastikan laki-laki ini memegang komitmennya untuk berhijrah Bia. " gurau Mark sembari memukul lengan Alex yang terkekeh.


" Aku minta maaf. Karena harus mengambil waktu Om dan Tante untukmu. Kamu sudah punya Al. Aku hanya memiliki mereka. Jadi, tolong ikhlaskan mereka hanya untukku. Eehhhmm,, aku bisa mengikhlaskan mereka kalo kamu mau menikah denganku. " kata Alex seraya mengerlingkan matanya pada Al.


" Minggir sana, gak usah dekat-dekat istriku ! " geram Al sambil mendorong Alex sedikit menjauh dari Bia.


Al langsung mendekap Bia posesif. Bia menghela nafas panjang begitupun dengan Naya. Moment yang semula terasa mengharukan menjadi terasa konyol karena ulah keduanya.


" Alex. Hentikan. Dia saudaramu. " tegur Naya mengingatkan .


" Dengar apa kata Mama. " seru Al.


" Lebih baik kamu jaga Bia. Kalo aku sudah kembali dan kamu tidak menjaganya dengan baik. Aku pastikan siap merebut Bia darimu. " ancam Alex.


" Kalo gitu, aku akan membatalkan lamaran kamu pada dokter Baim. Biar dokter Iren segera dijodohkan dengan dokter dari Jepang saja. Tidak sulit menemukan jodoh untuk dokter Iren. " goda Al.


Alex meraih kerah kemeja Al. Mencengkramnya dengan marah.


" Kalo kamu berani mengacaukannya. Aku pastikan Bia akan menjadi milikku. Dengan atau tanpa persetujuan Bia, Om dan Tante. " hardiknya.


Al tersenyun smirk. Dan membalas mencengkram kemeja Alex.


" Kalo kamu berani menyentuh Bia sedikit saja. Aku akan pastikan kamu membusuk di penjara. Aku pastikan dokter Baim ataupun dokter Iren tidak akan sudih melihatmu. " ancam Al tidak mau kalah.


" Hentikan. Kalian ini speerti anak kecil aja. " seru Mark kesal.


" Sudah setua ini, masih saja bertingkah speerti bocah. " gerutu Bia.


Al dan Alex melepaskan cengkramannya. Lalu keduanya tertawa lucu.


" Terakhir kalinya kita bertengkar sperti ini karena raportmu banyak yang merah Al. " seloroh Alex.


" Dan kamu mengancam akan mengadukannya ke Papaku kan. "


Kini giliran Bia dan Naya yang berpandnagan heran kemudian mengangkat bahu pertanda tidak mengerti.


" Kami pergi Bia. " pamit Mark.


" Hati-hati Pa. Kabari aku kalo sudah sampai. "


" Pasti. "


Mark dan Naya melambaikan tangannya. Alex mendekap bahu Al untuk sedikit menjauh.


" Sepertinya Ary menyukai Wimpi. Kalo gak keberatan tolong beri kesempatan pada Ary untuk dekat dengan Wimpi. "


" Harusnya kamu mengatakannya pada Bia. Aku gak terlalu dekat dengan Wimpi. Yang memahami gimana Wimpi hanya Bia. "


" Kamu ingin aku yang mengatakannya pada Bia ? Yakin gak cemburu ? " goda Alex.


" Tidak,, tidak,, biar aku saja yang mengatakannya. " ralat Al cepat.


Alex tertawa lucu melihat perubahan wajah Al.


" Aku sudah memberi tahu Ary untuk mendiskusikan beberapa urusan perusahaan padamu sebelum mengambil keputusan. Aku titip perusahaanku. " kata Alex kembali serius.


" Baiklah. Terima kasih sudah mempercayaiku. "


" Aku harap aku bisa mengikuti jejakmu agar bisa menjadi seorang Imam yang baik, speerti yang dikatakan Iren di email terakhirnya. "


" Aamiin. Dulu, aku speertimu Alex. Jauh dari Allah. Bia membuatku kembali pada Allah. "


" Semoga kalian bahagia sampai maut memisahkan. "


" Aamin,, aamiin ya robbal alamin. "


" Alex, sudah waktunya berangkat. " seru Mark di kejauhan.


Alex mengangguk, memeluk Al sejenak kemudian melambaikan tangannya pada Bia. Lalu berlari menuju Mark dan Nayaa.


Al mendekap Bia sembari beranjak pergi.


" Ngomongin apa sih sama Alex. Serius banget. " gerutu Bia.


" Biasa, urusan cowok Bi. " celetuk Al sambil tertawa.


" Heeemmm,,, sepertinya aku bisa cemburu melihat keakraban kalian. " gurau Bia sambil tangannya bersedekap dan menghentikan langkahnya.


Al tertawa melihat ekpresi Bia yang pura-pura marah. Al mendekat ke arah Bia.

__ADS_1


" Aku masih lebih suka jajanan apem daripada pisang Bi. " bisik Al sambil meniup telinga Bia.


Bulu kuduk Bia meremang seketika karena tiupan Al di telinganya. Dia tertawa lirih dan mengejar Al yang telah berjalan lebih dulu. Menggamit lengan Al dan memukuli lengannya karena menertawakan dirinya.


*****


Alis Bia berkerut saat Al membelokkan mobilnya ke arah pantai. Setelah itu menyempatkan sholat ashar di masjid Pantai. Menikmati makan siang yang sangat tertunda di pinggir pantai.


Bia duduk di hamparan pasir diikuti Al. Entah sudah berapa tahun Bia tidak pernah lagi ke pantai. Bia menyandarkan kepalanya di bahu Al saat tnagan Al melingkar di bahunya. Menikmati sisa-sisa matahari yang hampir terbenam. Menyisakan siluet jingga kehitamannya.


" Sudah lama kita gak berkencan. Ini kencan kedua kita Bi. Aku sudah terlalu banyak melewatkan janjiku. Maafkan aku. " kata Al lalu mencium puncak kepala Bia yang tersandar di bahunya.


" Kamu menggantikannya dengan sensasi yang lainnya Mas. Berkencan dengan menjadi sekretarismu. " gurau Bia sembari menatap wajah Al.


Al tertawa dan menempelkan keningnya di kening Bia.


" Kamu juga memberikan sensasi yang lain Bi. Sensasi bercinta dengan sekretaris pribadi di kamar pribadiku. " bisik Al.


Kini giliran Bia yang tertawa mendengarnya.


" Aku mencintaimu Bi. " ucap Al.


Kedua tangan Al menggenggam tangan Bia dan mencium telapak tangannya.


" Maafkan aku, karena sempat menyakitimu dengan sikap dinginku. Meskipun tidak aku sengaja Bi. "


Bia memeluk Al terharu.


" Terima kasih sudah mencintaiku sedalam ini Mas. " bisik Bia.


" Suasananya benar-benar romantis. Membuat hasratku naik Bi. " bisik Al dengan menciumi telinga Bia.


Bia melepaskan pelukannya.


" Iisshh,, Mas ini kebiasaan. Dasar mesum aja. "


" Aku mesum juga sama kamu Bi. " goda Al.


" Mau mesum sama yang lain ? Aku pastikan Mas gak akan bertemu denganku lagi. " ancam Bia kesal.


Al langsung memeluk Bia sambil tertawa.


" Maafkan aku. Aku bercanda. Aku gak bisa bayangkan kalo aku kehilangan kamu Bi. Tidak,, aku gak mau membayangkannya. Terasa menyakitkan disini. Melebihi sakit saat aku merrindukan kamu waktu kamu di Surabaya. "


" Aku mencintaimu Mas. Jangan berubah lagi, rasanya masih sakit kalo mengingat Mas yang mencuekkan aku, bersikap dingin padaku. Apalagi saat kamu membiarkan wanita lain juga menggandeng lengan kamu,, menyandarkan kepalanya juga di bahumu. Lengan ini milikku,, bahu ini juga milikku,, tubuh ini milikku,, aku gak mau ada sidik jari wanita lain membekas disana. " tutur Bia dengan menirukan gaya bicara Al yang penuh ketegasan.


Al langsung memeluk Bia senang.


" Aaahh,, Bi. Rasanya aku ingin berteriak karena bahagia mendnegar apa yang kamu katakan barusan Bi. Kamu juga hanya milikku, aku gak mau kamu bicara apalagi sampai membiarkan laki-laki lain melihatmu. Aku cemburu Bi. "


Bia tertawa mendnegar pengakuan Al.


" Semoga Alllah selalu meridhoi kita Mas. "


" Aammiinn,, aku gak sabar ingin berdoa didepan Ka'bah. Mendoakan kita, mendoakan anak-anak. " ujar Al sambil melepaskan pelukannya.


" Mas belum pernah satu kalipun ke Makkah ? " tanya Bia heran.


Al menggeleng.


" Kenapa ? Padahal soal dananya, kamu tidak pernah kurang. "


" Bukan tentang dananya Bi. Kamu lihat Alex, dulu aku juga begitu Bi. Kehadiranmu di hidupku membuatku lebih dekat dengan Allah Bi. "


" Alhamdulillah. " ujar Bia senang.


" Bi,, setelah ini, kita ke hotel ya. " bisik Al.


" Kenapa ? "


" Kan kencannya lanjut di hotel Bi. "


" Isshhh,, di rumah kan bisa. "


" Dirumah, kamu pasti lebih sibuk dengan anak-anak nantinya. " gerutu Al manyun.


" Kali ini cemburu pada anak-anak Mas sendiri ? " goda Bia.


" Sebagai ganti karena disini gak ada kamar pribadiku. " celetuk Al.


" Oh iya,, tentnag itu. Aku selalu penasaran, mau menanyakannya tapi selalu kelupaan. "


" Tentnag apa ? "


" Kenapa di setiap ruang kerja Mas selalu ada kamar pribadi. Apa Mas selalu lupa waktu kalo sudah bekerja ? " tanya Bia heran.

__ADS_1


" Mungkin salah satu alasannya. Tapi, mungkin lebih tepatnya. Aku lebih nyaman berada di kamar pribadi yang ada di ruang kerjaku. "


" Kenapa ? "


" Dulu saat mengalami KDRT. Aku selalu bersembunyi di ruang kerja Papa yang sudah beralih ke Mama sejak Papa mabuk-mabukan. Sampai aku menemukan kamar pribadi Mama di ruang kerja itu. Aku bisa tidur dengan nyenyak saat berada di kamar itu. Sejak saat itu, di manapun aku berada aku selalu memastikan ada kamar pribadi di ruang kerjaku. Entah dirumah, entah di kantor. "


Bia tersneyum. Kemudian mengusap pipi kanan Al.


" Apa sudah bisa memaafkan Papa ? " tanya Bia.


" Sudah. Sejak kamu memaksaku untuk menggantikan kenangan buruk saat berada di kamarku dulu dengan kenangan bersama kamu dan anak-anak. " jawab Al sambil mencium kening Bia.


" Alhamdulillah. " ucap Bia bersyukur.


Al mengecup bibir Bia sekilas. Membuat Bia sedikit shock karenanya.


" Ini apaan sih. Bisa-bisanya. Nanti dikira mau mesum kita Mas. " omel Bia.


" Hahahh,, karena itu,, kita pindah ke hotel saja ya. "


" Kan bisa dirumah Mas. Kasihan anak-anak, kita sudah terlalu lama meninggalkan anak-anak. "


" Belum sampai rumah saja kamu sudah mencuekkan aku. Gimana nanti kalo sudah dirumah. Pasti kamu sudah disibukkan anak-anaak. " sindir Al sembari berdiri.


Mengibaskan pasir yang masih menempel di bajunya. Bia ikut berdiri dan mengibaskan baju gamisnya dari pasir. Dengan masih tertawa.


" Kita gak bawa baju ganti Mas. Baju ini sudah kotor. Gimana kita sholatnya nanti ? "


" Apa itu berarti,, kita ke hotel ? " tanya Al dengan mata berbinar.


" Terserah Mas. Aku ikut aja. Daripada lihat bibirnya manyun aja. Pasti nanti dirumah ngomel aja bawaannya. " sindir Bia smabil menjinjing sepatunya dan Al.


Bia memekik pelan saat Al menggendongnya, dan membawanya ke mobil.


" Maaf mengagetkan kamu ya. " pinta Al sambil tertawa.


" kebiasaan. " omelnya.


" Aku membelikan baju gamis untukmu kemarin, tapi tertinggal di mobil. Sepertinya masih ada di belakang. Sebentar, aku lihat dulu. " kata Al sembari masuk lewat pintu belakang.


Bia melihatnya dari tempatnya duduk. Dia tertawa saat Al menemukan paper bag dan memberikannya pada Bia.


" Hah,, apa ini ? Katanya gamis ? Kenapa lingerie ? "


" Lingerienya bonus Bi. Hahaah "


" Pantesan aja. Pasti Mas memang udah ada niatan kan sebelumnya. Ini gak hanya baju gamis dan baju kamu lho Mas. Tapi ada pakaian dalamnya juga. " tebak Bia penuh selidik.


" Sejak kamu bilang kita akan honeymoon saat di kantor dulu. Aku sudah membayangkan dimana dan kapan akan mengajakmu. Tapi selalu kelupaan. " jawab Al dengan tertawa.


" Akhirnya kita honeymoon, " seru Al senang.


Bia menertawakan ekpresi Al sekarnag ini. Benar-benar seperti pengantin baru yang akan berbulan madu.


" Mas ngapain ? " tanya Bia saat Al sibuk dengan ponselnya.


" Sebentar. " jawab Al tanpa mengalihkan perhatiannya pada ponselnya.


Bia kembali meletakkan paperbag itu di kursi belakang.


" Aku sudah reservasi hotel disekitaran sini. Aku cari yang viewnya bisa terlihat pantai dari hotel. Aku harap kamu menyukainya nanti. "


" Sebegitu niatnya ya. Sampai gak membiarkan sekretarisnya aja yang reservasi. " gurau Bia.


Al tertawa sambil memasangkan sabuk pengaman Bia. Lalu kembali mengecup bibir Bia sekilas.


" Karena aku tahu, sekretarisku masih belum punya pengalaman untuk reservasi ke hotel. " godanya sambil menyentil hidung Bia.


" Isshhh,, dasar . Kan bisa browsing. " elak Bia.


" Kelamaan. Keburu ada yang terbangun nanti. "


" Iiihh,, mesum ah. "


Keduanya tertawa. Al menggenggam Bia selama di perjalanan. Tangan Bia satunya memgambil ponselnya.


" Mau ngapain ? " tanya Al saat Bia hendak melepaskan genggamannya.


" Mau mengabari Mama atau Kia. Kalo kita gak pulang. "


" Aku sudah mengirim pesan tadi. "


" Hahhh,, "


" Sudah, gak usah memikirkan apapun. Kita sedamg honeymoon, jadi nikmati aja Bi. " goda Al.

__ADS_1


__ADS_2