Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 61


__ADS_3

Bia mengerjapkan matanya. Menatap sekelilingnya. Ada Azalea disamping kanannya yang dengan cemas menggenggam tangannya. Leon mengusap pundak Azalea agar lebih tenang.


Ada Zaskia dan Wimpi yang tengah menangis disamping kiri Bia. Sedih dengan keadaan yang menimpa Ghazzy. Si kembar sudah diambil alih Tian dan Randy yang mengajak mereka untuk makan siang di resto seafood milik Tian.


Wimpi dnegan sigap membantu Bia bangun dan memberikan bantal sebagai sandaran tubuh Bia. Juga memberikan satu bungkus tisu pada Bia yang sudah menangis dalam dekapan Zaskia.


" Apa sudah lebih baik Bia ? Apa kita bisa bicara ? " tanya Leon serius.


Bia mengangguk.


" Apa yang harus kita lakukan Om ? " tanya Bia parau.


" Untuk saat ini kita bisa mencoba semua metode penyembuhan untuk kanker nasofaring Bia. Kemoterapi, radioterapi, dan juga imunoterapi. "


" Gimana dengan efek sampingnya ? Apa saat ini tubuh Gahzzy masih baik-baik saja ? " tanya Azalea.


" Untuk saat ini, pendengarannya yang semakin berkurang. Dan kita harus berusaha untuk gak membiarkan Ghazzy terluka. Karena lukanya akan sulit untuk sembuh. "


Bia mengusap air matanya meskipun percuma. Begitupun dengan Zaskia dan Azalea. Wimpi menunduk menyembunyikan kesedihannya. Tidak tega melihat Bia menangis.


 


" Bi,,, Bi,,, Biaa,, !! "


Al terbangun dari tidurnya dengan nafas ngos-ngosan. Dilihatnya jam di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjuk angka tiga. Al meregangkan tangannya sejenak. Karena ketiduran dikursi kerjanya.


" Kenapa aku bermimpi tentang Bia ? Apa karena aku terlalu merindukan Bia ? " gumamnya.


Al menegakkan duduknya. Mencoba mengingat kembali mimpinya. Dia melihat Bia menangis sendirian di kamarnya, dia ingin menyentuh Bia. Ingin memeluk Bia tapi tangannya seolah semakin menjauh dan bayangan Bia semakin menghilang menyisakan isak tangisnya.


" Mungkin Bia sekarang sedang sholat tahajud sama seperti malam-malam sebelumnya. Jangan sampai aku kalah dari mereka. Aku akan sholat juga. " tegas Al sembari bangkit menuju kamar pribadinya yang ada diruang kerja. Bahkan Clara tidak mengetahui ada kamar pribadi di dalamnya.


 


" Kalian berdua jangan ikut masuk. Berikan waktu pada mereka untuk bicara. " kata Leon pada Azalea dan Zaskia saat akan masuk ke kamar Ghazzy bersama Bia.


" Tapi,, kami juga ingin menghibur Kak Ghazzy Om Leon. " protes Zaskia.


" Kalian bukannya menghibur nanti. Malah semakin membuat mereka bersedih. Sudah, biarkan Bia yang bicara dengan Ghazzy. Tunggu saja diluar. "


" Aku sendiri aja Ma. Ki. Om Leon benar, mungkin saat ini kami butuh waktu sendiri. "


" Baiklah. Kami menunggu diluar. " kata Azalea.


Bia mengangguk kemudian menghela nafas panjang. Berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mennagis saat masuk ke kamar Gahzzy. Tampak Ghazzy sedang duduk bersandar diatas ranjang. Wajahnya nampak pucat tapi senyumnya merekah saat melihat Bia masuk ke kamarnya.


" Sini sayang. " ujar Gahzzy sembari mengulurkan tangannya.


Bia tersenyum dan menyambut uluran tangan Ghazzy. Dia duduk disamping Ghazzy. Tangan Ghazzy mendekap bahu Bia dan Tangan satunya terulur di wajah Bia. Dan memaksa wajah itu untuk menatapnya.


Kedua pasang mata itu saling menatap. Janji yang diucapkan Bia dalam hatinya untuk tidak menangis luntur begitu saja saat Ghazzy menempelkan keningnya di kening Bia. Air matanya mengalir dengan deras. Tak mampu mengucapkan satu kata pun, apalagi untuk menghibur Ghazzy.


" Maafkan aku sayang. Aku membuatmu sedih. " ucap Gahzzy.


Bia hanya menggeleng diantara tangisnya. Masih tidak mampu untuk bicara.


" Kenapa By ? " keluh Bia dengan suara tercekat dan parau.


" Allah sayang sama kita sayang. "


Bia memeluk Ghazzy. Dadanya sesak membayangkan hari-hari Ghazzy akan dipenuhi dengan obat-obatan dan kemoterapi.


Ghazzy ikut menangis membayangkan waktunya yang akan singkat bersama istri dan anak-anaknya. Membayangkan hidup Bia dan anak-anaknya saat dia sudah meninggal kelak.


* Aahh,, Al,, semoga saja perasaan Al masih sama seperti dulu. Aku akan lebih tenang kalo Bia bersama Al nantinya. * batin Ghazzy


 


" Al, apa aku boleh ke Surabaya ? " tanya Clara saat sarapan bersama Al.


" Ada apa ? "


" Papa sakit. Mama bilang beliau ingin bertemu denganku. "


" Tapi aku masih harus meeting tiga hari kedepan dengan para investor. "


" Aku tahu pbetul jadwlmu sangat padat. Aku bisa sendiri Al. Tapi kamu mengijinkanku pergi kan ? "


Al terdiam sejenak.


" Eeehhmmm,, sebenarnya aku gak enak membiarkanmu pergi sendiri. Apa kamu mau Reiga menemanimu ? "


" Dan membiarkan pekerjaanmu disini kacau ? Tidak,, tidak,, lebih baik aku sendiir Al. Its okay. " tegas Clara memastikan.


" Kamu yakin ? "


" Aku baik-baik saja Al. " tegas Clara lagi.


" Kapan kamu berangkat ? "


" Sebenarnya penenrbangan ke Surabaya adanya pagi ini dan besok malam. "


" Jangan di malam hari. Kamu pergi pagi ini saja. "


" Benarkah ? Thanks Al. " seru Clara senang.


" Maafkan aku gak bisa menemanimu. "


" Aku tahu kamu sibuk. "


" Salam untuk Papa dan Mama. "

__ADS_1


" Makasi Al. "


" Apa kamu sudah packing ? "


Clara mengangguk pasti sembari minum air putih. Menyudahi sarapannya.


" Apa mau sekalian aku antar ke bandara ? "


" Tidak merepotkan ? "


" Tentu saja tidak. Bersiaplah. "


" Oke. Aku ambil koperku dulu. "


Al mengangguk dan tersenyum. Sejak kepergian Clara ke kamarnya. Al termenung, seandainya saat ini aku benar-benar tidak sibuk. Aku pasti menemanimu disana, Clara. Aku juga ingin menemui anak-anak. Dan juga,,, Bia,,, pikirnya.


--------------------------------------------------


" Sayang, aku ingin pulang. Aku gak betah di rumah sakit. " keluh Ghazzy setelah melakukan kemoterapi.


Wajahnya semakin pucat, karena Leon dan tim dokter lainnya melakukan dua terapi sekaligus. Kemoterapi dan radiasi. Bahkan mencukur habis rambut Ghazzy.


" Tapi, terapinya gimana By ? Kan baru jalan dua hari."


" Aku kangen anak-anak sayang. "


" Tapi,, "


" Sayang. Duduklah disini. " pinta Ghazzy sambil menepuk ranjangnya.


Bermaksud agar Bia mau duduk disampingnya. Dia sadar Bia sangat menahan diri untuk tidak menangis dihadapannya. Supaya terlihat tegar dimata Ghazzy. Setidaknya bisa memberikan smeangat untuknya.


" Ada apa By ? " tanya Bia dengan suara tercekat.


Ghazzy menggenggam tangan Bia. Dan tangannya terulur menepuk pipi kiri Bia.


" Sudah lama aku gak lihat lesung disini lagi sayang."


Bia tersenyum getir dengan gurauan Ghazzy.


" Gitu dong. "


Bia menunduk saat Ghazzy mencium keningnya lama.


* Hubby ini,, paling bisa buat pertahananku jebol. Aku jadi nangis lagi kan. * batinnya kesal.


" Sayang,, terapinya hanya sebagai ikhtiyarnya. Tapi aku tahu waktuku gak banyak. Aku mau menghabiskannya bersamamu dan anak-anak. Bukannya sendirian dirumah sakit. "


" Tapi,, terapinya By. " protes Bia diantara tangisnya.


" Kita bisa rawat jalan. Aku mohon sayang. Aku bosan disini. Aku kangen anak-anak. "


" Aku bicara dengan Om Leon dulu ya. Biar Om Leon yang memutuskannya. "


" Pokoknya aku mau pulang sayang. " tegas Ghazzy.


Bia menghela nafas panjang.


" Baiklah. Aku pastikan kita pulang hari ini. "


Ghazzy mencium bibir Bia sekilas sambil tersenyum senang.


" Dasar kalian ini. Bisa-bisanya mesra-mesraan disini." celetuk Leon sembari bersandar dipintu kamar Ghazzy.


Keduanya tertawa malu. Tidak menyangka Leon tengah berada disana.


" Sebentar lagi Om Leon akan lebih mesra daripada kami. " gurau Ghazzy.


" Tentu saja. Apalagi pihak keluarga Gita sudah menyetujui untuk memajukan tanggal pernikahan kami. "


" Oh iya ?! Alhamdulilaah. Aku ikut sennag mendnegarnya Om. " jawab Bia.


" Dimajukan lusa Om ? "


" Enak aja. Kamu pikir pesta ulang tahun bisa semendadak itu. "


Bia menatap Ghazzy yang tengah tertawa oleh protes Leon. Dia merindukan tawa itu. Tawa yang ingin dia simpan di memori otaknya.


" Lalu ? " tanya Ghazzy sambil menggenggam tangan Bia yang disadarinya tengah menatapnya.


" Mereka hanya menunda sampai empat puluh harinya saja. Tapi, dengan satu syarat. "


" Syarat ? Apa itu Om ? " tanya Bia heran.


" Akad nikah dan pesta pernikahan diadakan di Kalimantan Timur. Di rumah nenek Gita. Karena Gita memang sedari kecil tinggal disana. Jadi, Gita ingin pernikahannya diadakan disana. "


" Syukurlah. Setidaknya ada Al disana yang bisa memfasilitasi pernikahan Om nanti. "


" Kenapa Al ? Kamu lupa ? Aku ini juga asli Kaltim Ghazzy. Rumah orang tuaku juga masih berdiri kokoh disana. " kata Leon mengingatkan sambil mulai memeeiksa Ghazzy.


" Aahh iya. Aku lupa. " jawab Ghazzy.


Leon nampak serius memeriksa kondisi Gahzzy. Alisnya berkerut. Membuat Bia melihatnya semakin khawatir.


" Gimana dengan komdisi Mas Ghazzy Om ? "


" Sayang. Terapinya baru satu kali. Tentu saja masih belum membuahkan hasil. " jawab Gahzzy sambil menepuk lengan Leon.


Keduanya saling memandang sekilas. Ghazzy mengedipkan matanya yang tertangkap jelas di mata Leon. Dia hanya menghela nafas.


" Gahzzy benar Bia. " jawab Leon singkat.

__ADS_1


" Apa aku bisa pulang sekarang Om ? Kan aku sudah baikan. "


" By,,, pemaksaan ini namanya. " celetuk Bia.


" Aku akan melakukan pemeriksaan menyeluruh sekali lagi. Kalo memang benar-benar tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kamu boleh pulang hari ini juga. " jelas Leon.


" Pemeriksaan apa lagi Om ? Udah bosen aku disini. "


" By,, turuti Om Leon. Atau kita tetap disini. "


" Baiklah. Baiklah. Ayo cepat lakukan Om. Aku udah kangen sama anak-anakku. "


" Sabar dong ! " geruttu Leon.


Ponsel Bia berbunyi, ada nama Clara dilayar ponselnya.


" Siapa sayang ? "


" Kak Clara By. Aku boleh mengangkatny ? "


" Iya. Lagipula Om Leon akan memeriksaku. Oh iya. Jangan beritahu Clara tentnag kondisiku. "


" Iya By. Aku mengerti. " jawab Bia sambil duduk di sofa untuk mengangkat telpon Clara.


" Om,, boleh aku minta tolong sesuatu ? "


" Apa itu ? "


" Aku tahu terapi itu tidak berpengaruh apapun pada penyakitku. Aku juga tahu kalo waktuku tidak lama lagi. Aku,, "


" Apa-apaan kamu ini. Kamu meragukanku Ghazzy ?? "


" Om Leon. Aku sangat mengahrgai usaha yang Om lakukan untukku. Aku ingin bersama anak-anak dan Bia. Aku gak mau menghabiskan sisa waktuku dirumah sakit. "


Leon menunduk. Dia mengakui Ghazzy seorang yang peka. Dan sudah pasti dia telah mengetahui penyakitnya sejak lama.


" Aku minta tolong, satukan Al dan Bia setelah aku meninggal nanti. "


" Ghazzy ! " geram Leon tertahan takut Bia mendenagr pembicaraan mereka.


" Aku mohon Om. Anggaplah ini permintaan terakhirku. "


" Gahzzy. Kamu sadar dengan apa yang kamu katakan hah. Kamu pasti sembuh. "


" Om, seorang dokter tidak akan berbohong tentang komdisinya pada pasiennya. "


Leon kembali terdiam mendnegar sindiran Ghazzy.


" Aku tahu akan menyakiti Clara. Poliandri memang haram, tapi poligami tidak dosa Om. Dan aku yakin Clara pasti mengerti. Ada anak-anak yang masih membutuhkan sosok seornag Ayah. Hanya Al yang berhak dan wajib memegang tanggung jawab itu. " geram Ghazzy pun juga tertahan.


" Kalian kenapa bisik-bisik seperti itu ? " tanya Bia heran sembari mendekat.


" Kami hanya ngobrol sayang. Ada apa dengan Clara ?"


" Kak Clara sedang berada di rumah sakit ini By. "


" Clara di Surabaya ? Sama Al ? Mereka sakit ? Atau kamu memberitahu tentang komdisi Ghazzy ? "


Leon dan Gahzzy sama-smaa melihat Bia menunggu jawabannya.


" Gak Om. Kak Clara di Surabaya sendirian. Om Mark sakit dan sedang dirawat di rumah sakit ini juga. Kak Clara datang menjenguknya. Tadi, hanya mengabarkan saja. " jelas Bia.


" Kamu mau menjenguk ornag tua Clara sayang ? "


Bia nampak bingung. Dia ingin menjenguknya sebentar. Tapi juga tidak mau meninggalkan Gahzzy yang sedang di periksa Leon.


" Pergilah sayang. "


" Tapi,,, " jawaban Bia menggantung.


" Pergilah Bi. Aku akan menjaga Ghazzy sekaligus melakukan pemeriksaan lagi. "


" Beneran Om ? gak merepotkan ? "


" Aku free. Jadwalku memang hanya visit ke Ghazzy. Setelah itu istirahat. " jelas Leon.


" Sekalian cari makan siang juga sayang. Mumpung ada Clara yang menemani. "


" Iya By. Aku tinggal dulu ya By. "


" Iya sayang. "


Bia memcium punggung telapak tangan Ghazzy dan Leon bergantian.


" Om. Aku nitip Hubby bentar ya. "


" Sudah pergi sana. Gak usah menyindirku denga panggilan kesayangamu itu. " geruutu Leon.


" Ihhh, Om Leon baper aja nih. "


" Fakta Bi. I know you !! " seru Leon kesal.


Ghazzy dan Bia kembali tertawa mendnegarnya. Lalau Bia beranjak pergi setelah berucap salam.


" Jangan lupa permintaan terakhirku Om. " kata Gahzzy mengingatkan.


" Aku akan menganggap kamu sedang bermimpi Gahzzy. Sudah diamlah. Kamu mengacaukan komsentrasiku. "


" Al berhak bahagia Om. Mungkin ini jawaban dari Allah, untuk hubungan kami yang Om bilang complicated. " gurau Gahzzy.


" Ghazzy shut up !!! " geram Leon kesal.

__ADS_1


__ADS_2