
" Saya,, kenapa saya dipecat Tuan ? "
Al dan Bia berpandangan bingung.
" Dipecat ? " tanya Al heran.
Bia berdiri karena Arra terlihat hendak menangis.
" Ini,, maksudnya,, untuk apa Tuan ? " tanya Bik Okta sambil menunjuk ke arah amplop coklat yang diberikan Bia diatas meja.
Akhirnya Al dan Bia tersenyum. Al ikut berdiri untuk menimang Farash yang terbangun. Mempersilahkan Bia untuk duduk agar bisa memberikan asi pada Arra.
" Bik Okta pasti salah faham dnegan maksud amplop ini Mas. " kata Bia.
Kini giliran Bik Okta yang mengernyitkan alisnya bingung.
" Bik Okta,, kami bukannya mau memecat Bik Okta. Ini, semacam,,, apa ya kami menyebutnya. " kalimat Al menggantung, bingung dengan istilahnya agar Bik Okta tidak salah faham lagi.
" Anggap saja ini sebagai bonusan Bik. Semuanya kan juga sudah mendapatkan bonus masing-masing. Hanya saja berupa kesempatan umroh Bik. " aahut Bia membantu menjawab pertanyaan Bik Okta.
" Jadi,, saya gak dipecat kan Non. " tegas Bik Okta.
" Kami masih sangat membutuhkan Bik Okta disini. Tentu saja kami gak mungkin memecat Bik Okta. Mama bisa marah padaku Bik. " celetuk Al.
Bia hanya tertawa pelan, takut Arra terbangun.
" Aku sudah menitipkan tiket pesawat untuk Bik Okta dan Pak Dito ke Randy. Nanti Randy juga yang akan mengantarkan ke bandara. "
" Aahh,, terima kasih,, terima kasih Tuan,, Non Bia. " seru Bik Okta senang.
" Lebih baik Bik Okta siap-siap. Sepertinya Tian dan Pak Dito juga sudah sampai. " kata Bia sembari membetulkan posisi hijab panjangnya.
" Permisi Non Bia,, Tuan Al. " pamit Bik Okta.
Al dan Bia hanya mengangguk. Lalu keduanya meletakkan Farash dan Arra di box ranjang mereka. Tian masuk dan menyapa keduanya dengan menyalami Al terlebih dulu. Tapi sudah di tarik Al saat Tian hendak menyalami Bia juga.
" Sudah,, gak usah menyalami istriku. " protes Al.
" Ckkk,, Mas Al. " tegur Bia kesal.
" Kak Al masih secemburu itu sama aku ? " gurau Tian sambil memukul lengan Al pelan.
" Sudah terlalu akut. Susah cari obatnya. " celetuk Al yang emmbuat Tian tertawa.
" Darimana Tian ? " tanya Bia.
" Tadi habis shubuh bantuin Ibu belanja untuk mempersiapkan stok satu bulan kedepan. "
" Jadi, Bu Adiba masih dirumah Clara ? " tanya Al.
" Aku sudah disini Al. " jawab Adiba yang mumcul dari teras depan.
" Assalamualaikum. " sapa Adiba.
" Waaalaikumsalam. " jawab Al dan Bia sembari bergantian menyalami Adiba.
" Aku kira Bu Adiba lupa kalo hari ini kita ada jadwal manasik. " kata Al.
" Tidak Al. Semalam juga sudah diingatkan Bu Lea. "
" Berangkat sekarang Kak Al ? " tanya Tian.
__ADS_1
" Kita tunggu Mama dan Kia dulu. " jawab Al.
" Sekalian tunggu Bik Okta dan Pak Dito berangkat, Tian. " sahut Bia.
" Kalo gitu, Ibu kekamar Kia dulu ya. Takutnya Bilqis rewel. " pamit Adiba.
" Biar aku aja Bu. " sahut Tian.
" Bu Adiba,, disini aja. Istirahat sebentar. Biar makin fit Bu. " ujar Bia sembari mendekap Adiba dan mendudukkannya di sofa di ruang keluarga.
" Terima kasih Bia. " jawab Adiba senang.
" Kamu tidak tahu, sebahagia apa aku sekarang. Karena kalian sudah memgabulkan keinginan Ibu untuk ke tanah suci. " kata Adiba sembari menggenggam tnagan Bia.
" Alhamdulillah Bu. Aku juga merasakan hal yang sama Bu. Alhamdulillah, Allah memberikan kita rejeki untuk memenuhi panggilanNya datang ke rumaah Allah Bu. " kata Bia.
" Semoga kamu dan Al sellau dilimpahi rizky yang halal, banyak, dan berkah Bia. Rumah tangga yang sakinah, mawadda' dan warrahmah. " doa Adiba.
Bia mengangkat kedua tangannya untuk mengaminkan doa Adiba untuknya dan Al.
" Aamiin,, ammiin ya robbal alamin. Terima kasih doanya Bu. Doa yang sama untuk rumah tangga Kia dan juga Tian Bu Adiba. " sahut Al terharu.
" Terima kasih Al. "
" Sama-sama, Bu Adiba. "
Tidak lama kemudian Mama dan Kia sudah siap dengan baju gamis putihnya. Begitupun dengan Tian dan Bilqis. Lalu, Wimpi dan juga Bik Amy juga muncul.
" Apa gak sebaiknya, Pak Dito dan Bik Okta naik taksi saja Al. Biar Randy sekalian ikut kita. " usul Azalea.
" Gimana Bi ? " tanya Al menunggu persetujuan Bia.
" Wimpi, tolong panggil Randy dan juga Pak Dito. "
" Baik Tuan. " jawab Wimpi.
Selang beberapa menit, Randy dan Pak Dito sudah berada diruang keluarga.
" Eehhmm,,, maaf Pak Dito. Jadwal manasiknya ternyata dimajukan. Sepetinya Randy harus ikut kami. Apa tidak apaa-apa kalo Pak Dito dan Bik Okta naik taksi ke bandaranya ? " jelas Al.
" Masyallahu. Tidak apa-apa Tuan. Kami naik taksi saja. " sahut Pak Dito yang dijawab anggukan oleh Bik Okta.
" Maafkan kami, Bik Okta. " ujar Azlaea.
" Tidaka apa-apa Nyonya. Sungguh,, saya masih snagat berterima kasih atas kebaikan Nyonya sekeluarga. " ucap Bik Okta senang.
" Duduk saja dulu. Taksi onlinenya masih dalam perjalaanna. " kata Al.
Ponsel Bia berdering cukup lama. Al menatap Bia penuh selidik. Seolah bertanya siapa yang tengah menelpon Bia sekarang.
" Isshh,, Kak Al,, biasa aja dong lihatnya. Masih posesif aja sih. " gerutu Zaskia hingga membuat Al ditertawakan semua keluarganya.
" Dari Mama Naya Mas. " tegas Bia sembari menunjukkan layar ponselnya ke arah Al.
Memang ada nama Mama Naya di layar ponsel Bia. Al tersenyum keki. Membuat Bia mencibirnya.
" Assalamualaikum, Ma. " sapa Bia.
" Waalaikumsalam, Bia. Apa kabar Nak. Mama kangen kamu dan cucu-cucu Mama. " jawab Naya.
" Mau diubah menjadi video call Ma. Ini semuanya juga sedang berkumpul. "
__ADS_1
" Aahh,, iya. Boleh,, boleh,, Bia. "
Bia mengubah panghilannya menjadi video call. Dan seketika kaget saat mendapati dokter Iren dan dokter Baim tengah berbicara dengan Ustadz Yahya dan juga Papa Mark dikejauhan.
" Mama,, kenapa ada dokter Iren dan dokter Baim disana ? " tanya Bia heran.
Pertanyaan Bia membuat Al penasaran dan duduk disamping Bia agar bisa melihatnya.
" Alhamdulillah, Allah memudahkan Alex mendapatkan jodohnya Bia. "
" Maksud Mama ? "
" Dokter Baim ternyata salah seorang alumnus pesantren Ustadz Yahya di Singapura ini. Dia juga sudah melihat keseriusan dan perubahan Alex yang sangat drastis. Dan Ustadz Yahya membantu Alex untuk mengkhitbah dokter Iren. Alhamdulillahnya lagi, keluarga dokter Baim menerimanya Bia. "
" Alhamdulillah. " seru Bia dan keluarganya ikut bahagia.
" Kamu tahu, Bia. Alex sangat bahagia. Sampai-sampai dia mengajak dokter Baim dan istrinya juga dojter Iren untuk umroh bersama. Begitupun dengan Ustadz Yahya. Kami juga diajak Bia. Papamu mengusulkan untuk mengajakmu dan Al. Bagaimana Bia ? "
" Alhamdulillah,, sepuluh hari lagi kami semua juga akan bernagkat umroh Ma. " jawab Bia.
" Benarkah ? Alex,, Alex,,, Honey,, kemarilah. Bia akan pergi umroh tanpa kita. " seru Naya sedih.
Bia menatap Al bingung. Kan sama-sama mau pergi umroh juga. Meskipun tidak berangkat sama-sama dengan travel yang sama. Kenapa Mama jadi sesedih itu ? Pikir Bia heran.
" Benarkah itu Bia ? Al ? " tanya Mark juga nampak sedih.
Al hanya mengangguk, juga bingung dengan ekpresi mereka.
" Al,, kalian akan menggunakan travel apa ?!" seru Alex tidak terima.
Al menggaruk tengkuknya keki. Ini kenapa jadi sehisteris ini ?
Al menyebutkan biro travel yang dipilihnya juga tanggal keberangkatanya. tapi menjadi bingung saat Alex tiba-tiba tertawa.
" Kenapa kamu tertawa ? " tanya Al heran.
" Karena kita ternyata menggunakan biro travel yang sama. Begitupun dengan tanggal keberangkatan kita nantinya. Kami juga sudah bersiap pergi ke Indonesia."
" Bagaimana bisa ? " tanya Bia bingung.
" Ustadz Yahya yang mengusulkan menggunakan biro travel itu. Selain lebih amanah, Ustadz Yahya bilang akan bertemu dengan orang-orang baik nantinya. Akan ada Alfarizhi dan Robiatul Adawiyah. Kami pikir, mungkin beliau hanya ingin kami mengajak kalian. Ternyata memnag benar-benar akan berangkat bersama. Alhamdulillah. " jelas Mark senang.
Bia mengusap lengan dan tengkuknya bergantian. Penjelasan Mark membuanya seketika merinding. Ustadz Yahya selalu saja bisa merasakan kehadirannya dan Al.
" Alhamdulillah. Tunggu kami Bu Lea. " seru Naya sennag.
" Tentu saja Bu Naya. Kami senang mendengarnya. " jawab Azalea yang mengerti Bia masih terlihat speecless dengan kebetulannya kali ini.
" Kalo begitu kami tutup telponnya. Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam. " jawab Bia lirih.
Al mengusap kepala Bia dengan lembut. Lalu mencium tangan Bia.
" Apa yang sednag kamu pikirkan Bi ? "
Bia tersenyum simpul.
" Kebetulan yang snagat indah Mas. Kita semua berangkat ke tanah suci dengan orang-orang yang kita sayangi. Heemmm,, rasanya bahagia sekali Mas. " jawab Bia yang di dukung anggukan oleh Zaskia dan Azalea.
Al merengkuh Bia dalam pelukannya. Menghapus air matanya yang terus mengalir.
__ADS_1