
Bia mengerjapkan matanya dan sejenak meregangkan otot lengannya yang terasa kaku. Sudah jam dua malam. Dia melihat Faiz yang sudah tertidur disebelah kanannya. Entah sejak kapan Fawwaz juga tertidur di sebelah kirinya.
Bia tersenyum melihat anak-anaknya yang sudah tertidur pulas. Dia bangun dan membetulkan selimut kedua anaknya. Beranjak keluar dari kamar Faiz dan Fawwaz. Menengok ke kamar Farash dan Farish juga Arra. Mereka juga masih nyenyak, ada Bik Amy yang memang tidur di kamar mereka sekarang.
Bia berjalan menuju kamarnya. Alisnya berkerut saat melihat Al yang tengah gelisah di tempat tidurnya . Sesekali masih memijat pelipisnya meskipun matanya sudah terpejam. Bia tertawa tertahan.
Menyempatkan membuatkan air hangat dicampur madu asli. Lalu meletakkannya diatas nakas. Duduk bersandar di ranjangnya, melihat Al yang masih terpejam. Tangannya terulur mengusap kepala Al. Seketika Al membuka matanya.
" Kamu sudah bangun Bi ? " tnaya Al sembari meletakkan kepalanya di pangkuan Bia.
Menghadapkan wajahnya ke perut Bia dan mendekapnya.
" Masih pusing ? " tanya Bia.
Al mengangguk tanpa mendongak.
" Jangan begini. Telentang saja. Aku bantu memijat keningnya. " kata Bia.
Al menggeleng pelan. Terdengar isakan dari Al. Membuat usapan Bia terhenti.
" Mas,, kenapa ? Apa sangat sakit ? Kita ke dokter ? " tanya Bia panik.
Al kembali menggeleng. Bia sedikit mendorong tubuh Al agar wajahnya bisa menghadap padanya.
" Kenapa ? " tanya Bia pelan sembari mengusap sisa air mata Al.
" Aku selalu menyakiti kamu Bi. Rasa-rasanya aku ini memang gak bisa dimaafkan. " jawab Al.
Bia terkekeh untuk mengurangi perasaannya yang menjadi trenyuh.
" Bangun. Minum air madunya dulu. Mumpung masih hangat. " kata Bia.
Al menuruti perkataan Bia. Dia bangun dan meminum air madu itu hingga habis. Bia meletakkan gelasnya kembali diatas nakas.
" Sudah lebih baik ? " tanya Bia sambil mengusap pelipis Al yang nampak kemerahan. Mungkin terlalu lama Al memijatnya.
Al mendekap Bia dengan posesif dan menyandarkan kepalanya di bahu Bia.
" Mas belum tidur sama sekali ? " tebak Bia.
" Pusing Bi. Aku gak bisa tidur. " jawab Al manja.
" Kamu terlalu banyak berfikir Mas. Emosimu benar-benar gak stabil tadi. Rebahkan tubuhmu, Mas. Biar lebih nyaman. Aku bantu memijatnya. "
Al menuruti Bia, dia kembali merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di pangkuan Bia. Tangannya menggenggam tangan kanan Bia dan menciuminya. Sedang tangan kiri Bia tengah mengusap kepalanya terkadang memijat pelipisnya.
" Aku takut anak-anak gak bisa memaafkan aku Bi. Apa yang harus aku lakukan ? "
" Yang harus Mas lakukan saat ini, istirahat. Jangan memikirkan hal apapun sekarang. Itu kita pikirkan besok. Sekarang istirahat dulu. Tubuhmu juga butuh istirahat Mas. Jangan diforsir. "
" Tapi,, "
" Mas Alfarizhi,,, !! " tegus Bia kesal.
Al tertawa pelan, kalo Bia sudah memanggilnya seperti itu. Berarti Bia memang harus dituruti.
__ADS_1
" Aku mencintaimu Bi. Terima kasih sudah membantuku bicara dengan Faiz. "
" Faiz ? Mas mendnegarnya ? "
" Iya. Terima kasih. "
" Sudah. Sekarang tidurlah. Istirahat dulu. "
Al mengangguk. Meletakkan tnagan Bia diatas dadanya dengan masih menggenggamnya. Lalu memcoba untuk tidur.
Bia hanya tersenyum, masih dengan mengusap kepala Al. Bia memindai wajah Al.
* Kamu dan Mas Ghazzy adalah anugerah Allah untuukku Mas. Cinta kalian berdua sangat besar untukku yang bukan siapa-siapa ini. Kamu terlalu perfect, Mas Al. Entah apa aku snaggup menghadapi wanita-wanita seperti Leny atau Sesil kedepannya nanti. Jauhkan rumah tangga kami dari kehadiran orang ketiga Ya Allah. * batin Bia.
Bia cepat-cepat menghapus air matanya. Takut akan jatuh mengenai wajah Al. Dia menyandarkan kepalanya di sandaran ranjang saat tidak kuat lagi merasakan kantuknya.
Bia terbangun saat ada yang mencium keningnya. Dia membuka matanya. Ada Faiz didepannya.
" Mas Faiz,, sudah bangun ? Jam berapa ini Mas ? " tanya Bia.
" Jam tiga Bun. Bunda gak sholat ? " tanya Faiz.
Bia memegang kening Al yang terasa panas. Kebiasaan kalo terlalu banyak berfikir dan terlalu capek.
" Gak dulu Mas. Papa lagi demam. " jawab Bia setengah berbisik. Takut Al terbangun.
" Apa karena Mas Faiz Bun ? " tanya Faiz merasa bersalah.
" Kenapa gak dibawa ke dokter Bun ? "
" Kan ini masih jam tiga pagi Mas. Kasihan dokternya dong. Besok pagi aja. Mas Faiz bisa bantu Bunda ? "
" Bantu apa Bun ? "
" Tolong ambilkan air dan handuk kecil yang ada di kamar mandi Bunda Mas. Bunda gak bisa berdiri, ada kepala Papa. "
" Iya Bun. " jawab Faiz.
Bia tersenyum saat Faiz kembali dnegan membawa gayung berisi air dan handuk kecil miliknya.
" Mau kompres Papa ya Bun ? "
" Iya Mas. " jawab Bia.
" Mas boleh bantuin Bun ? "
" Mas gak ngantuk ? Gak tidur lagi ? Ini masih jam tiga Mas. Nanti Mas Faiz telat bangunnya. "
" Tapi Mas pengen bantuin Bunda. "
" Satu kali ini aja ya. Lalu Mas Faiz tiduran lagi ya. "
Faiz tersenyum senang. Kemudian meletakkan handuk kecil itu dikening Al.
__ADS_1
" Cepat sembuh Papa. " ucap Faiz.
" Tidur lagi ya Mas. Nanti Mas Fawwaz ikut bangun cariin Mas Faiz. "
" Iya Bun. Asaalamualaikum. "
" Waalaikumsalam. "
Bia tersenyum melihat Faiz yang hendak keluar kamarnya. Kemudian membenarkan posisi handuk kecil dikening Al yang diletakkan Faiz tadi. Lalu mengisi wkattunya dengan dzikir yang biasa dia lakukan saat selesai sholat malam. Berharap kesembuhan Al.
Adzan sudah berkumandang. Bia mengakhiri dzikirnya. Menyentuh kening Al yang sudah tidak sepanas tadi.
Tangan Bia mengusap pipi kanan Al.
" Mas,, Mas,, bangun. " kata Bia pelan.
Al meregangkan otot tangannya sejenak. Lalu mengucek matanya.
" Jam berapa Bi ? " tanya Al sambil menenggelamkan kepalanya di perut Bia.
" Sudah shubuh. Cepat bangun, keburu anak-anak bangun. " jawab Bia.
Al mendongak.
" Shubuh ? Kok gak bangunin aku untuk sholat malam ? " tanya Al.
Al melihat ada handuk kecil terjatuh dari keningnya di perut Bia. Lalu melihat Bia bingung.
" Ini ? Aku demam semalam ? " tanya Al sembari bangun.
" Kebiasaan kalo Mas terlalu memforsir kerjanya. Kurang istirahat. " jawab Bia sambil mencibir dan menarik hidung Al yang mancung.
Al tertawa. Lalu mengecupi bibir Bia.
" Ini aku sedang minum obatku. Vitaminku. " godanya.
" Sudah ah Mas. Buruan bangun. Kakiku kebas, gak bisa bangun. Aku belum nyiapin air hangat untuk kamu Mas dan juga baju kamu. " keluh Bia.
" Kamu sudah terlalu capek dirumah Bi. Sampai kapan kamu mau bekerja di kantor ? "
" Ckk,, biar kamu bisa leluasa bertemu dnegan wanita itu lagi ?! Sudah minggir, aku mau bangun. " gerutu Bia.
Al malah tertawa membuat bibir Bia mengerucut kesal. Al menggendong Bia, untuk membawanya ke kamar mandi.
" Aku senang melihat Nyonya Alfarizhi secemburu sekarang. " godanya.
" Iisshhh,,, sudah. Mas bisa keluar. Aku yang akan mandi dulu. Kebasnya juga sudah hilang. " usir Bia.
Tapi Al malah memeluk Bia erat dan menciumi telinga dan leher Bia.
" Maasss,, sudaahhh. Sana pergi. " elak Bia.
" Gak mau. Aku mau minum obat sekaligus vitaminku biar cepat sembuh. " desiisnya di telinga Bia.
Bia menghela nafas, sudah tidak bisa melarang Al, percuma untuk berontak juga karena Al sudah sangat berhasrat sekarang.
__ADS_1