Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 155


__ADS_3

Leon dan Gita datang sehari sebelum keberangkatan. Cuti yang mereka ajukan pada pihak RS harus ditangguhkan beberapa hari karena anak dari direktur RS ditempat mereka bekerja akan melahirkan dan meminta Gita yang membantu kelahiran cucu pertamanya.


Tepat hari keberangkatan umroh. Ustadz Yahya meminta sedikit waktu pada panitia travel. Karena Alex dan dokter Iren akan melangsungkan akad nikah. Tentu saja membuat keduanya senang mendengar usulan Ustadz Yahya.


" Alfarizhi,, kemarilah. Menjadi saksi pernikahan saudaramu Alex. " kata Ustadz Yahya.


" Siap-siap saja melafalkan ikrarmu dengan tepat. Kalo tidak, aku tidak akan mensahkan pernikahan kalian. " gurau Al dengan senyuman sinis pada Alex.


Seketika Alex terdiam. Kemudian mendekat ke arah Ustadz Yahya.


" Ustadz Yahya,, tidak bisakah saksi pernikahanku dokter Leon atau Tian saja. Al punya dendam pribadi denganku. " kata Alex panik.


Pernyataan Alex tentu saja membuat Al dan keluarganya tertawa. Sampai memegangi perut mereka.


" Bukannya kalian saling mengenal karena Alfarizhi dan Robiatul Adawiyah ? " goda Ustaz Yahya.


" Iya sih Ustad. " jawab Alex pasrah. Kemudian menghela nafas panjang.


" Ya sudahlah Ustadz. Bismillah aja. " tegasnya mantap.


" Wuuiihh,,, sudah mantap sekarang lafalnya. " celettuk Bia.


" Bia,, hentikan. Kalian ini kenapa kompak sekali menggodaku. Apa gak tahu aku sedang grogi ini. " geram Alex.


" Ciyeee,,, ciyeee,,, Om Alex,,, ciyeee,,, " goda Faiz dan fawwaz bersamaan.


Keluarganya semakin menertawakan Alex dan dokter Iren yang wajahnya berubah merah karena di goda Faiz dan Fawwaz.


" Isshhh,, anak sama orang tuanya sama saja. " decih Alex kesal.


" Sudahlah Alex, apa kamu mau ditunda saja akad nikahnya ? " sahut Mark kesal.


" Tidak,,, tidak,, kita lakukan sekarang saja Pa. " seru Alex tegas.


Bia tersenyum saat mendengar Alex merubah panggilannya kepada Mark dan Naya. Setidaknya orang tua Clara merasa masih memiliki satu putra lagi. Al mengusap kepala Bia, seolah mnegerti apa yang tengah dirasakan Bia. Dia hanya tersenyum dan mendekap Al.


" Ckkk,, lihatlah itu Ma. Belum berangkat saja, mereka sudah bermesraan didepanku. Pasti nanti disana mereka semakin mengolokku nanti. " adu Alex pada Naya.


Bia sontak makin tertawa dengan respon Alex yang seperti anak kecil.


" Ya sudah. Kita lepas masa lajangmu Alex. Biar tidak di olok-olok saudaramu lagi. " celetuk Ustadz Yahya.


" Siap Ustadz. Awas aja kalo kamu resek Al. " ancam Alex sembari duduk didepan Ustadz Yahya.


Dokter Baim duduk disamping Alex selaku wali dari dokter Iren. Ustadz Yahya memulai acara akad nikah itu. Dan dengan lantang Alex mengucapkan ijab qabulnya. Lalu langsung menatap Al dnegan tatapan memelas.


" Saaahhh,,, !!! " seru Al dan Tian bersamaan.

__ADS_1


" Alhamdulillaaaahhh . " seru kesemuanya.


Ustadz Yahya mengakhirinya dengan membaca doa ba'da nikah. Dan memberikan kesempatan pada Alex untuk memasangkan cincin pada dokter Iren. Lalu mendekat pada Wimpi.


" Apa kamu tidak punya niatan untuk melepaskan khodammu Wimpi ? Ilmu yang kamu miliki sudah cukup tinggi meskipun tanpa khodammu. " kata Ustadz Yahya lirih.


Wimpi menatap Ustadz Yahya sekilas.


" Apa bisa Ustadz ? " tanya Wimpi penuh harap.


" Bisa. Itu alasannya kenapa Mbah Kungmu menyuruh kamu menjaga keselamatan Bia yang mempunyai aura putih. " jawab Ustadz Yahya.


Wimpi menunduk dan mengiyakan dalam hati.


" Tapi, saya masih belum menemukan alasannya selain hanya karena memang itu pekerjaan saya, Ustadz. "


" Karena, kamu berada di sekitar aura putih. Sehingga khodam yang menjagamu selama ini pun mencukupkan sebagai penjagamu. Karena Mbah Kungmu tahu, hanya dengan menjaga keselamatan orang yang memiliki aura putih yang bisa melepaskanmu dari khodam leluhurmu. " jelas Ustadz Yahya.


" Kalo begitu, khodam saya sudah pergi Ustadz ? "


" Tidak. Sebelum orang yang memiliki aura putih iti sendiri yang mengucapkan pengakuan kamu adalah saudaranya. "


" Itu,, berarti,, Non Bia,, yang harus mengucapkannya terlebih dulu ? " tanya Wimpi ragu. Dia tidak berani berharap seperti itu.


" Kalo gak dicoba tidak akan tahu. Apalagi kita mau pergi ke tanah suci. Kamu pasti takut akan bermasalah dengan khodammu saat disana nanti kan ?! "


" Aku akan membantumu berbicara pada Robiatul Adawiyah. "


" Terima kasih Ustadz. "


" Alfarizhi,, Robiatul Adawiyah. Bisa kemari sebentar ? " tanya Ustadz Yahya.


Al dan Bia saling berpandangan bingung kemudian mendekat ke arah Ustadz Yahya dan Wimpi.


" Ada apa Ustadz ? "


" Aku mau minta tolong pada Robiatul Adawiyah. "


" Saya ? Mintq tolong apq Ustadz ? "


" Alfarizhi pasti sudah tahu kalo istrimu ini nemiliki aura berwarna putih kan ? "


Al tersentak, lalu hanya menagguk.


" Dan hanya istrimu yang bisa melepaskan Wimpi dari khodam leluhurnya. "


" Saya ? Memangnya apa yang bisa saya lakukan Ustadz ? " tnaya Bia bingung.

__ADS_1


" Seperti auramu, penuh ketulusan dan kasih sayang. Hanya dengan mengakui Wimpi sebagai saudaramu, seperti kakakmu sendiri. Tulus dari hatimu. "


" Tapi, selama ini saya memang sudah menganggap Kak Wimpi sebagai saudara, seperti kakak saya sendiri Ustadz. " protes Bia.


" Tanyakanlah hatimu . Hatimu yang akan membimbingmu. " ujar Ustadz Yahya.


Bia menggaruk tengkuknya bingung. Apa yang harus aku lakukan ? Pikirnya.


Akhirnya Bia hanya menghela nafas panjang. Membaca Alfatiha didalam hati. Dikhususkan pada khodam Wimpi saat ini. Entah apakah ini cukup untuk Wimpi. Tapi Bia akan melakukannya.


Setelah selesai membaca surat Al Fatiha untuk khodam Wimpi. Bia mendekati Wimpi dan memeluknya erat.


" Aku sudah menganggap Kak Wimpi seperti Kakakku sendiri Kak. Terima kasih atas penjagaan Kak Wimpi selama ini padaku. " ujar Bia penuh terima kasih.


Wuuuuuuussssshhhhh,,,,


Tiba-tiba Bia merasa ada angin yang lewat menerpa tubuhnya dan tubuh Wimpi yang sedang berpelukan. Merasakan tubuh Wimpi yang tiba-tiba melemah, Bia melepaskan pelukannya. Dan mendekap Wimpi panik.


" Apa Kak Wimpi baik-baik saja ? " tanya Bia cemas.


Ustadz Yahya mengulurkan segelas air kemasan pada Bia dan Wimpi. kemudian Wimpi menerimanya dan meminumnya.


" Apa sudah lebih baik Wimpi ? " tanya Ustadz Yahya.


" Alhamdulillah sudah Ustadz. " jawab Wimpi sembari kembali berdiri dengan tegap.


" Kak Wimpi yakin ? " tanya Bia masih cemas.


" Yakin Non Bia. " jawab Wimpi tegas.


" Tidak perlu cemas. Alhamdulillah, khodam leluhurnya sudah pergi dari tubuh Wimpi. Kamu tidak perlu khawatir Alfarizhi. Kemampuan dan ilmu Wimpi tidak berkurang sedikitpun meskipun khodamnya telah pergi. " jelas Ustadz Yahya.


" Alhamdulillah. " ucap Bia dan Al bersamaan senang.


" Terima kasih Non Bia. "ucap Wimpi tulus.


Bia hanya mengangguk senang.


Ustadz Yahya kembali berbicara dengan panitia travel dan meminta mereka kembali melanjutkan jadwal kegiatan yang sesuai dengan yang ditetapkan oleh pihak biro travel.


Al mendekap Bia selama di bandara. Menciumi tangan Bia.


" Alhamdulillah Bi. Kita semua bisa pergi umroh dengan keluarga lengkap kita. "


" Iya Mas,,, semoga perjalanan umroh kita nanti membawa berkah ya Mas. Membuat kita lebih baik kedepannya. "


" Aamin,, aamin ya robbal alamin. "

__ADS_1


**** TAMAT ****


__ADS_2