
Bia kembali melihat pesan yang dikirim Clara untuk memberitahu kamar tempat Papanya dirawat.
" Assalamualaikum. " sapa Bia saat Clara membuka pintu kamar Papanya.
" Bia,,, !! Waalaikumsalam. " jawab Clara sambil memeluknya.
" Apa kabar Bia ? Aku merindukanmu. " bisiknya.
" Aku juga kangen Kak. Gimana keadaan Om Mark ? "
Clara melepaskan pelukannya. Lalu menggandeng Bia utnuk masuk dan menemui Papanya.
" Hai Bia. Nice to see you agaain. " sapa Mark saat melihat Bia yang mendekat dan mencium telapak tangaannya.
" Bagaimana keadaanya Om ? Apa sudah lebih baik ? "
" Aku baik-baik saja Bia. Dasar mereka aja yang terlalu berlebihan. " jawab Mark.
" Berlebihan bagaimana. Kamu masih terlihat pucat honey. "
" Aku hanya merindukan anakku ini Bia. "
" Sangat terlihat jelas Om." gurau Bia setelah mencium telpak tagan Naya.
" Aku sudah datang Papi. Jadi, harus bisa pulang kalo perlu hari ini juga. " seru Clara.
" Bagaimana sakitmu Clara ? Apa lebih baik ? " tanay Naya.
" Kak Clara sakit ? " tanya Bia bingung.
" Dari tadi pagi perutnya kram Bia. " jawab Naya.
" Ini memang sering terjadi setiap kali datang bulan Bia. " jawab Clara sembari memegang perutnya.
" Apa kamu yakin ? Kamu terlihat sangat kesakitan Clara. " ujar Naya cemas.
" Kak Clara gak mau periksa ? " tanya Bia.
" Apa kamu mengenal dokter disini Bia ? " tanya Naya.
" Dokter Gita, Tante. "
" Dokter Gita ? "
" Iya. Beliau dokter spesialis kandungan. Beliau yang membantuku dalam program bayi tabung dan juga persalinanku. "
" Aahh iya. Dokter Gita. " seru Clara.
" Apa kamu juga mengenalnya Clara ? "
" Tentu saja Mami. Dokter Gita, calon istri Om Leon. " jawab Clara.
" Syukurlah. Itu lebih baik. Bia, tolong temani Clara memeriksakan perutnya. Tante tunggu kabarnya. " pinta Naya sembari menggenggam tnagan Bia pertanda minta tolong.
" Kak Clara gimana ? Kita ke dokter Gita ? "
" Baiklah. aku gak mau melihat Papi dan Mami lebih sakit karena mencemaskanku Bia. "
" Kami pamit dulu Tante. Om, semoga cepat sembuh Om Mark. " ujar Bia.
" Thank you Bia. Aku titip Clara. " ujar Mark.
" Kami permisi Om Tante. Assalamualaikum. "
" Waaalaikumslaam. "
Bia menyempatkan mengirim pesan pada Gahzzy dan Leon untuk mengabarkan tentang kondisi Clara.
" Apa kamu baik-baik saja Bi ? " tanya Clara saat tengah menunggu antrian.
" Aku ? Kan yang sakit Kak Clara. "
" Kamu terlihat pucat. "
__ADS_1
" Mungkin hanya perasaan Kak Clara. Karena aku tadi gak pake lipstik kak. " gurau Bia sambil terkekeh.
* Aku mengkhawatirkan Mas Ghazzy Kak. * batinnya.
" Heeemmmm,, kira-kira seperti apa reaksi Mas Al kalo aku mengirim foto kita berdua saat ini. "
" Kak,, jangan aneh-aneh. " ancam Bia.
" Aku tahu dia merindukanmu Bia. "
" Gimana perkembangan hubungan kalian ? Aku dengar dari Kia. Kak Clara sekarang bekerja di kantor Mas Al. "
" Hanya kerja Bi. Kami belum sedekat yang kamu bayangkan. Jangan cemburu dulu. "
" Kak,,! " hardik Bia.
Clara tertawa melihat Bia yang kesal.
" Aku bercanda Bia. "
" Jangan bercanda untuk sesuatu yang hanya akan menyakitimu. "
Clara menunduk dan terdiam dengan sindiran Bia. Yah,, dia memang sakit hati dengan gurauannya pada Bia. Tapi, kenyataannya memang seperti itu. Al merindukan Bia, dan kehadirannya bagi Al memang hanya sebatas sahabat seperti dulu.
" Kak, sudah giliran kita. Ayo. " ajak Bia sambil menggandeng lengan Clara. Membuyarkan lamunan Clara.
" Bia,, Clara,, " seru Gita saat melihat pasien terakhir mereka keponakan calon suaminya.
" Apa kabar dokter Gita. Calon pengantin gak boleh capek. " gurau Bia sembari duduk.
" Eiitttsss,, kalian kesini mau jadi pasien apa keponakan nih. " balas Gita.
Ketiganya tertawa.
" Apa kamu sakit Bia ? " tanya Gita.
" Bukan aku dokter, tapi Kak Clara. "
" Clara ? Kenapa ? "
" Sejak kapan ? "
" Ehhhmm ,, biasanya memang hanya kram dokter. Tapi sudah dua bulan terakhir ini, sepertinya kramnya lebih parah. Bulan kemarin malah sempat pingsan. "
Bia melongo mendengar penuturan Clara. Apa Al tidak mengetahuinya ? Kenapa tidak memeriksakan Clara lebih cepat ? Apa mereka masih tidur terpisah ?
" Silahkan ke ruangan tindakan. Aku akan memeriksanya dulu. " kata Gita.
" Apa yang kamu pikirkan benar Bia. Sudah aku bilang, kami gak sedekat yang kalian pikirkan. " bisik Clara pelan. Kemudian beranjak menuju ruang tindakan bersama Gita.
Bia menunduk ikut merasa bersalah dengan apa yang dialami Clara.
" Om,, jangan lupa permintaanku Om. " kata Ghazzy mengingatkan setelah Leon selesai memeriksanya.
" Sudah aku bilang, diamlah. Kalo tidak. Aku pastikan kamu akan lebih lama berada di rumah sakit ini. " ancam Leon.
" Gak !! Aku mau pulang hari ini juga. Aku kangen si kembar Om . " protes Ghazzy.
" Ghazzy. Kamu tahu penyakitmu sudah menyebar ke organ tubuhmu. Bahkan sudah ke otak kamu. "
Ghazzy tersenyum saat Leon duduk di kursi disampingnya.
" Jadi, terapinya hanya memperlambat waktuku kan Om ? Lalu, buat apa aku menghabiskan sisa waktuku dirumah sakit ? Tentu saja aku mau menghabiskannya bersama anak-anak dan juga Bia. "
" Kamu harus optimis Ghazzy. "
" Aku optimis untuk membahagiakan anak-anak dan istriku disisa waktuku. Karena itu aku meminta tolong pada Om. Aku percaya Al bisa menggamtikan posisiku disisi anak-anak. Dan juga,, Bia. "
" Kamu bahkan meragukannya. Mungkin anak-anak bisa menerimanya. Tapi Bia ? Clara ? Setelah kalian mati-matian menyatukan mereka ? Sekarang kamu ingin menjadikan Bia kembali hadir ditengah-tengah mereka ? Kamu pikir Bia menyetujuinya ?! "
Ghazzy terdiam. Apa yang dikatakan Leon memang benar. Bia pasti tidak mau melakukannya.
" Tapi,aku lebih tenang kalo Bia dan anak-anak bersama Al Om. "
__ADS_1
" Sudahlah. Jangan mendahului takdir. "
" Aku hanya ingin memastikan Om mau melakukan permintaan terakhirku. Om wali nikah Al. "
" Sudah. Aku gak mau ikut campur sihubungan complicated kalian. Aku akan fokus pada pernikahan dan kesembuhan kamu. "
" Om Leon. "
" Kalo kamu tetap bersikeras. Suruh saja Lea dan Kia yang melakukannya. Mereka pasti dengan senang hati melakukannya. " omel Leon kesal.
" Pasti Om. Aku pasti akan menyampaikan permintaanku juga pada mereka. " sahut Gahzzy.
Leon berdecak kesal sembari mengirim pesan pada apoteker untuk menyiapkan obat-obatan untuk dibawa pulang Ghazzy.
" Bia. Clara. " panggil Gita setelah Gita mengambil hasil beberapa tes dari meja perawat diruang sebelah.
" Memangnya apa yang salah dokter. Kenapa aku harus melakukan beberapa tes sekaligus ? " protes Clara.
Bia sudah panik sedari dokter Gita menjelaskan Clara harus menjalani beberapa tes pemeriksaan. Ingat saat melihat tes yang dilakukan Leon saat memeriksa Ghazzy tempo hari.
" Tenang dulu Kak Clara. " hibur Bia diamtara paniknya. Bahkan tangannya sampai gemetaran.
" Kamu itu aneh Bia. Kamu menyuruhku tennag disaat kamu sendiri juga panik saat ini. Lihat saja, tnaganmu sampai gemetaran kayak gini. " omel Clara.
Clara menggenggam tangan Bia yang memang gemetaran. Bagi Bia, dia trauma berada di sikon seperti ini. Benar-benar menyesakkan dadanya.
" Melihat kalian seperti ini. Pasti ornag akan mengira kalian ini saudara kandung. " puji Gita sambil tersenyum.
" Aku sennag mendnegarnya dokter. " jawab Clara senang.
" Dokter,, sudah jelaskan saja apa yang terjadi pada Kak Clara. Kenapa harus melakukan tes sebanyak itu ?"
" Sebelumnya aku minta maaf karena melakukan tes tanpa menjelaskan perihal maksudnya. Tapi, tes itu juga utnuk bisa mengetahui tindakan apa yang diperlukan untuk saat ini. "
" Lalu ? Apa yang terjadi padaku ? Itu semua wajar saja kan. "
" Clara,, dirahimmu ada myom. Mungkin kalo kamu memeriksakan kondisimu lebih cepat, kita bisa mengobatinya saat miyom itu belum seganas sekarang."
" Myom ? Dirahimku ? "
" Maksud dokter Gita dengan seganas sekarang ? " tanya Bia bingung.
" Myom itu sudah menjadi tumor Bia. Clara. Dan sudah merusak jaringan rahim Clara. "
Tangan Clara menggenggam tangan Bia lebih erat seolah ingin mencari dukungan disana.
" Lalu, apa yang harus dilakukan sekarang dokter ? " tanya Bia.
" Maaf Bia. Clara. Satu-satunya jalan yang harus kita ambil, dengan pengangkatan rahim Clara. Kalo tetap mau mempertahankannyabisa menyebabkan kematian."
Bia spontan memeluk Clara erat. Menangis dipelukan Clara. Hatinya campur aduk. Sebagian hatinya masih belum menerima harua dihadapkan dengan sikon satu lagi orang terdekatnya satu langkah lebih dekat dengan kematian.
Tapi sebagian hatinya pun tidak sanggup bila dihadapkan pada kenyataan akan kehilangan rahimnya yang berarti tidak akan bisa mempunyai anak.
Clara masih terlihat shock mendengar penjelasan dokter Gita. Otaknya seaolah berhenti mendengarnya. Tiba-tiba blank, kosong.
" Bicarakanlah ini dengan keluargamu Clara. Aku akan menunggu jawabannya. "
Clara hanya mengangguk sambil tersenyum.
" Bia,,sudah jangan menangis lagi. Ayo kita pulang. "
Bia menghapus air matanya dan mengambil sebuah amplop yang berisi vonis penyakit Clara. Menganggukan kepalanya saat hendak beranjak pergi dari ruangan Gita. Mengikuti Clara yang menariknya segera pergi.
Clara dengan langkah gontai berjalan menuju kamar Papanya. Bia masih mengambil obat anti biotik untuknya agar kramnya tidak terlalu mengganggu.
" Bia,, tolong aku. " kata Clara saat Bia hendak membuka pintu kamar Papanya.
" Tolong apa Kak ? "
" Tolong,, kamu saja yang menjelaskan pada Papi dan Mami tentnag kondisiku. Aku gak snaggup mengatakannya Bia. "
" Iya Kak. " jawab Bia dengan suara parau.
__ADS_1
" Terima kasih Bia. "