
Air mata Al kembali keluar saat melihat Bia memang sudah menyiapkan baju dan juga air hangat untuknya. Al segera mandi dan langsung menuju kamar Bia lagi.
Disana hanya ada Azalea. Tian sudah memindahkan anak-anak ke kamar mereka. Zaskia juga sudah istirahat dikamarnya. Diatas nakas sudah Amy siapkan bubur ayam untuk Bia. Biar Azalea tidak bolak balik ke dapur katanya.
Al mendekat ke arah Bia. Mencium keningnya lama.
" Bia tadi sudah sadar. Sempet makan beberapa suapan bubur. "
Al menoleh pada Azalea tapi masih menggenggam tangannya.
" Kenapa hanya beberapa suapan ? "
" Takut muntah lagi. Kamu sendiri, gimana keadaan kamu sekarnag ? Kata Bia, kamu demam. " kata Azalea sembari menyentuh kening Al. Masih terasa hangat.
" Setelah minum jahe yang dibawakan Bia, sudah lebih baik Ma. " jawab Al.
Al melepaskan tnagan Bia. Berganti memegang tangan Azalea yang masih berdiri didepannya.
" Ma,, apa yang dilihat Bia, gak seperti yang dia pikirkan. Mama tahu aku sangat emncintai Bia. Aku gak mungkin mengkhianatinya Ma. "
" Iya. Mama percaya. "
" Bantu aku menjelaskannya pada Bia Ma. Aku gak mau Bia sampai melakukan gugatan cerai padaku seperti dulu. " pinta Al sedih.
" Al,,, pikiranku terlalu jauh. Bia gak mungkin melakukannya. Sikonnya berbeda dengan yang dulu. Kalian sekarang sudah menikah, Bia juga sedang hamil. Tenangkan dirimu. "
" Entahlah Ma. Sebenarnya apa yang telah terjadi padaku. Aku seperti merasa telah melewatkan banyak hal. Aku ,, aku kayak sudah berpisah lama dengan Bia dan anak-anak. Sebelum Bia datang ke kantor, aku merasa sangat tersiksa. Seperti yang aku rasakan saat masih jauh dari Bia. Saat Bia masih bersama Ghazzy. Rasanya sakit sekali Ma. Bahkan aku mendengar Bia memanggil namaku. "
Azalea merasa merimding disekujur tububnya. Apa yang dikatakan Ustadz Yahya benar. Bia tahu apa yang harus dia lakukan untuk membuat Al kembali. Air pemeberiannya hanya sebagai perantara. Tapi usaha yang sebenarnya memang dari doa Ibu dan istrinya.
" Mungkin karena Bia sedikit kecewa padamu. Bia bilang kamu gak pernah melakukan sholat malam speeti dulu. "
Al mengangguk sedih.
" Padahal dulu aku selalu terbangun di jam tiga pagi."
" Perbanyak dzikir, Al. Sepeti yang Ustadz Yahya bilang sewaktu empat puluh hari Clara dulu. Perbanyak dzikir. "
Al kembali mengangguk. Lalu menggenggam tangan Bia. Memciumi setiap inchi wajah Bia. Kemudian meraba bibir Bia. Lalu mencium bibir Bia.
" Ini selalu menjadi obatku. Canduku. Maaf,, Maafkan aku Bi." bisik Al sembari kembali mencium kening Bia lama.
Bia menggeliat dan mengerjapkan matanya.
" Al,, sembunyilah. " bisik Azalea.
Al menuruti Azalea meskipun masih menatapnya heran.
__ADS_1
" Bia,, kenapa ? Apa kamu membutuhkan sesuatu ? " tanya Azalea saat Bia memaksakan tubuhnya utnuk bangun.
Bia melihat sekeliling kamarnya. Kemudian menggeleng . Dia beranjak menuju kamar mandi. Kembali memuntahkan bubur yang satu jam lalu dimakannya.
Al meneteskan air matanya. Tidak tega melihat Bia yang selalu muntah.
Azalea membantu Bia berjalan dan membaringkannya di atas ranjang.
" Maaf sudah merepotkan Mama. " kata Bia tidak enak hati.
" Kamu itu ngomong apa Bia. Sudah, istirahatlah. "
Tapi Bia masih celingukan sembari mengendus aroma disekitarnya.
" Kenapa ? " tanya Azalea bingung.
" Apa Mas Al tadi kesini Ma ? " tanya Bia balik.
" Memangnya kenapa ? "
" Entahlah,, aku seperti merasakan kehadiran Mas Al tadi. "
Azalea tersenyum simpul.
" Apa kamu mau Mama memanggilnya ? "
Al menutup mulutnya terharu. Begitu perhatiannya Bia pada dirinya.
" Lhoo,, memangnya kenapa ? Apa tadi terkena muntah ? " tanay Azalea kahwatir. Pasalnya Al sedang bersembunyi dibalik lemari pakaian Bia.
" Gak Ma. Tapi, bajuku seperti ada bau parfum Mas Al. Aku sudah mulai mual mencium aromanya. "
" Mungkin jilbab kamu Bia. Tadi Al yang memakaikan jilbabnya. "
" Haahh,, Mas Al ? "
Azalea mengangguk sambil membantu Bia melepaskan jilbabnya.
" Apa sudah lebih baik ? Apa masih tercium aroma parfumnya ? " tanya Azalea.
Bia kembali mengendus aroma disekitar tubuhnya.
" Masih sih Ma. Tapi mang gak sebau tadi. Sudah lebih baik. Makasi Ma. "
" Apa mau makan lagi ? "
" Jangan Ma. Aku capek bolak balik ke kamar mandi. Rasanya masih lemas. Aku tidur saja Ma. "
__ADS_1
" Baiklah. Istirahatlah. "
Bia mengangguk kemudian memejamkan matanya. Tidak membutuhkan waktu lama dia sudah tertidur.
" Istirahatlah Al. Biar Mama yang menemani Bia tidur disini. " kata Azalea sedih saat melihat Al yang keluar dari persembunyiannya dengan sisa air matanya.
" Iya, Ma. " jawab Al sedih.
Azalea menahan lengan Al yang hendak mendekat ke arah Bia.
" Jangan. Biarkan Bia istirahat. Perutnya kosong. Nanti makin lemas kalo dia muntah lagi. "
Al hanya mengangguk lalu keluar dari kamar Bia dengan berjalan mundur. Azalea tersenyum melihat tatapan tidak rela Al.
Seperti biasa, Bia terbangun dijam tiga pagi. Membetulkan posisi selimut Azalea yang tengah tertidur disampingnya. Kemudian ke kamar mandi untuk mandi dan berwudhu.
Setelah sholat dan mengaji. Rutinitas yang di instruksikan Ustadz Yahya. Bia menuju ruang kerja Al. Hati Bia trenyuh melihat Al yang tertidur di sofa sembari memeluk fotonya dan anak-anak.
Dia menyiapkan baju kerja Al. Kemudian mengisi bak air dengan air hangat. Dan menyiapkan segelas air putih di atas meja kerjanya.
Bia duduk mensejajarkan tubuhnya di sofa. Mengusap perutnya. Berharap anaknya sudah bisa diajak kompromi. Tangan Bia terulur untuk memegang kening Al.
" Masih hangat. " gumamnya.
Bia mengambil pigura yang berisi fotonya bersama anak-anak yang selalu diletakkan Al di meja kerjanya. Meraba wajah Al yang dirindukannya. Hidungnya, alis matanya, bibirnya. Teringat Al yang selalu bilang kalo bibirnya adalah obat Al. Bia tersenyum.
Lalu mencium bibir Al. Menghapus bekas salivanya.
" Sudah minum obatnya. Harus cepat sembuh Papa. Biar anak Papa gak menghukum Bundanya terus. Capek muntah terus Papa. " gumam Bia sambil terkekeh.
Tapi sedetik kemudian dia berlari ke kamar mandi Al dan kembali muntah.
" Aaahh sayang,, " keluh Bia sambil mengusap perutnya.
Bia keluar dari kamar mandi lalu mencium kening Al. Dan cepat-cepat keluar ruang kerjanya. Takut muntah lagi lama-lama menghirup aroma parfum Al di ruangan itu.
Al terbangun lalu duduk di sofanya. Meraba bibirnya yang tadi di cium Bia. Air matanya menetes tapi bibirnya tersenyum.
Al melihat jam di dinding. Masih sempat untuk sholat malam. Satu hal yang beberapa waktu ini ditinggalkannya.
Setelah sholat Al duduk di meja kerjanya. Melihat semua rekaman cctvnya sedari dua bulan yang lalu. Sejak kepulangannya dari Singapura.
Al menangis tergugu didepan meja kerjanya. Satu jam dihabiskannya melihat aktivitas Bia selama dua bulan ini. Dan baru disadarinya sikapnya pada Bia selama dua bulan ini.
" Kenapa,, kenapa aku bisa bersikap sepeti itu padamu, Bi. Gak mungkin,, gak mungkin. " gumamnya menyesal.
__ADS_1
" Pantas saja anak kita menghukumku sekarang. Aku sudah mengacuhkan Bundanya. Aku sudah bersikap dingin selama ini. " kata Al sedih.