
Al langsung berangkat ke Singapura saat mendengar tentang penyakit Clara. Ada sebongkah karang penyesalan karena Al terlalu larut dengan perasaannya pada Bia hingga melupakan keberadaan Clara sebagai istrinya.
Sudah satu minggu Al berada di Singapura. Meminta Ghazzy sementara waktu ikut andil mewakilinya mengambil keputusan. Meskipun terkadanga meeting harus dilakukan secara virtual oleh Ghazzy. Keadaannya tidak memungkinkan untuk datang ke kaliamantan. Tubuhnya semakin melemah. Bahkan dia memakai alat bantu dengar untuk mempermudah komunikasinya dengan ornag-orang disekitarnya.
Ponsel Ghazzy berdering, ada nama Al dilayarnya. Bia melihat Ghazzy yang sudah tertidur setelah minum obatnya. Dengan ragu Bia menerima telpon Al di ponsel Ghazzy.
" Assalamuaalaikum. " ssapa Bia sembari duduk di balkon kamarnya agar tidak menggamggu istirahat Ghazzy.
"Wa,,Waalaikumsalam. Bi,, kaukah ? " jawab Al dengan senyum tersungging.
Suara Bia seollah menjadi booster untuk mencharge tubuhnya yang terasa lelah.
" Iyalah Mas. Memangnya siapa lagi ? " omel Bia.
Al terkekeh diseberang sana. Dia langsung menegakkan duduknya. Senyum tak pernah lepas dari bibir Al. Membuat Clara yang masih belum tidur memicingkan matanya menatap Al. Penasaran dengan yang ditelpon Al diseberang sana.
" Bagaimana kabar anak-anak ? Sudah satu minggu aku belum sempat menelpon mereka. "
Memang setiap hari Al menyempatkan menelpon mereka di waktu makan siangnya. Terkadang telpon ke ponsel Wimpi, terkadang ke Randy atau kadang ke ponsel Bik Amy.
Clara memejamkan matanya kembali saat menyadari Al tengah menelpon Bia. Karena iti, senyum tak juga lepas dari wajahnya.
" Tentu saja mereka menanyakan Papanya. Tapi aku sudah memberitahu mereka kalo Mama Ara lagi sakit dan Papa Al sedang menemaninya. "
Keduanya terdiam. Bia sesekali masuk ke kamarnya, memastikan Ghazzy tidak sedang menbutuhkannya.
Sedangkan Al diseberang sana sedang senyum-senyum sendiri menikmati degup jantungnya yang tak beraturan. Ingin rasanya Al mengatakan pada Bia kalo saat ini dia tengah merindukan Bia. Tapi Al takut Bia kembali menghindarinya.
" Gimana dengan keadaan Kak Clara ? " tanya Bia khawatir.
Ghazzy meraba samping ranjangnya. Saat tidak menemukan Bia disampingnya. Dia bangkit dan memakai alat bantu dengarnya. Dia hendak memanggil Bia saat melihat sesosok bayangan di balkon kamarnya. Tapi saat mendengar nama Clara, baru dia tahu sekarang Bia sedang berbicara di telpon. Dia melihat ponsel Bia di samping bantalnya.
* Apa Al yang sedang menelpon Bia ? * tanya Ghazzy dalam hati.
" Pasca operasi kemarin, Clara sudah mendingan. Mungkin lusa sudah bisa kembali ke Indonesia. "
" Maksudku,, keadaan batin Kak Clara, Mas. " sahut Bia.
Al terdiam. Dia menatap Clara yang sedang tertidur di ranjangnya. Sejak kedatangannya di Singapura, Clara hanya mau berbicara dengannya saat ada orang tuanya. Kalo mereka tengah berdua sepeti sekarang ini, mereka sama-sama terdiam. Seolah canggung untuk membuka satu obrolan.
" Aku gak tahu Bi. Yang jelaas, Clara lebih banyak diam sekarang. "
" Mas,, pekalah sedikit pada Kak Clara. Dia membutuhkan support darimu. "
" Iya. Aku sedang melakukannya Bi. Kalo tidak, aku gak mungkin berada disini sekarang. " protes Al.
Clara mengigit bibirnya, menahan sebisa mungkin untuk tidak menangis. Agar Al tidak mengetahui kalo dia sekarang tengah menguping pembicaraannya dengan Bia.
" Boleh aku minta satu hal Mas ? " tanya Bia serius.
" Apa itu ? "
" Berjanjilah kamu gak akan menceraikan Kak Clara bagaimana pun keadaan Kak Clara saat ini. "
Ghazzy mengaitkan kedua jemari tangannya. Seolah tengah gundah dengan permintaan Bia saat ini.
" Bi,,, "
" Berjanjilah. "
" Bi,, aku,, "
" Mas,, aku mohon berjanjilah padaku. " keluh Bia sedikit merayu.
" Apa dnegan begitu kamu akan bahagia ? "
Clara makin mempertajam pendemgarannya. Apa yang membuat Bia berbahagia ? Pikirnya.
" Iya. " tegas Bia.
" Aku akan melakukan apapun asal kamu bahagia Bi. "
" Aku mau kamu berjanji Mas. Kamu gak akan menceraikan Kak Clara, gimanapun kondisi Kak Clara saat ini ataupun nanti. " kata Bia sedikit memaksa.
__ADS_1
Al masih terdiam. Dia berfikir sejenak.
* Apa secara gak langsung kamu memintaku untuk melupakan perasaanku padamu Bi ? melupakan kamu ? Kamu tahu itu sulit Bi. * batin Al sedih.
" Mas,,, ?? "
" Kita lihat aja nanti Bi. "
" Mas,, berjanjilah. " pinta Bia sedikit memelas.
" Sudahlah. Sudah malam, istirahatlah. "
" Mas,, kamu belum berjanji padaku. "
" Kalo janji itu membuatku kehilangan harapan untuk bersamamu, lebih baik aku gak pernah menjanjikan apapun. " tegas Al kesal.
* Janji ? Janji apa yang diminta Bia hingga Al menjadi sekesal itu ? * batin Clara.
" Apa maksud kamu Mas ? Aku cuma minta kamu gak menceraikan Kak Clara. Itu aja. Kenapa jadi ngelantur ? "
" Aku hanya berharap Allah mendnegar doaku Bi. "
" Mas ! "
" Aku tutup. Assalamualaikum. " kata Al semabri menutup telponnya sepihak.
Bia menghela nafas panjang. Melihat ponsel Ghazzy yang masih ada ditangannya. Tatapannya beralih ke pekatnya langit malam. Sepekat harapannya pada kesembuhan Ghazzy.
Ghazzy melepaskan alat bantu dengarnya dan kembali memejamkan matanya saat Bia menyudahi pembicaraannya dengan Al ditelpon.
* Aku harap Al tidak mengabulkan permintaan kamu sayang. Aku ingin Al yang menggantikan posiisku nanti. Menjadi Papa anak-anak dan juga menjadi pasanganmu sayang. *
Al menatap layar ponselnya, mencari foto Bia digaleri ponselnya. Mengusap layar ponselnya yang terdapat foto Bia tengah tertawa bersama anak-anak. Lalu Al menyimpan ponsel itu dalam saku celananya. Membingkai tawa Bia dalam otaknya agar bisa menemuinya meski hanya mimpi.
Clara meneteskan air matanya.
* Meskipun kamu sedang berada jauh dari Bia, dan bersamaku saat ini. Tapi, hati dan pikiranmu ada disana Al. Tidak adakah sedikitpun perasaanmu padaku ? *
Kedatangan Leon memang ingin membawakan imfus dan obat-obatan Ghazzy yang sudah hampir habis.
" Apa gak sebaiknya kita bawa Gahzzy kerumah sakit Bia ? " tanya Leon setelah membersihkan luka Ghazzy dan memberikan tindakan pengobatan pada Ghazzy.
" Mas Ghazzy memintaku berjanji untuk gak membawanya ke rumah sakit gimana parahnya keadaan Mas Ghazzy nanti. " jawab Bia sedih.
" Sepertinya Gahzzy memang ingin menghabiskan sisa waktunya dirumah. " keluh Azalea.
" Aku akan menempatkan satu perawat senior dirumah ini mulai besok Bia. " kata Leon.
" Untuk apa Om ? "
" Lusa aku harus ke Kaltim. Untuk mengurus semua berkas dan WO pernikahanku. "
" Aahh iya. Pernikahanny sudah minggu depan. "
" Kak Bia ikut kan ? " tanya Zaskia memastikan.
Bia melihat Leon dan Zaskia bergantian.
" Maafkan aku Om. Aku harap Om Leon mengerti sikonku sekarang. "
" Aku mengerti Bia. Tidak apa-apa. "
" Lalu bagaimana dengan anak-anak ? " tanya Azalea.
" Mereka sudah sangat sennag sewaktu Mama mengajak mereka akan mengunjungi Papa dan Mama mereka. Ki,, gak apa-apa kan aku repotkan untuk menjaga anak-anak "
" Kak Bia yakin ? Gak takut Kak Al akan menahan mereka disana ? " gurau Zaskia.
" Ki,, jangan menakutiku. " seru Bia kesal.
Zaskia terkekeh sejenak.
__ADS_1
" Tolong bawa anak-anak kembali Ma. " pinta Bia serius.
" Tentu saja Bia. Kamu gak usah dengarkan Kia. " sahut Azalea.
" Ingat Bia. Kalo perawatny bilang kalian harus ke rumah sakit , kalian harus ke rumah sakit. Aku gak mau mengambil resiko Bi. "
" Aku usahain Om. "
" Sa,, yang,, "
Bia menoleh. Segera mendekat ke arah Ghazzy. Membantunya memakai alat bantu dnegarnya.
" Apa aku pingsan lagi sayang ? "
" Iya By. Sempat mimisan juga. Mas Faiz dan Dek Fawwaz yang menemukan Hubby malah. "
Ghazzy mencoba tersenyum kemudian menatap Leon, Azalea dan Zaskia bergantian.
" Kapak berangkat ? " tanyanya dengan suara lemah.
" Ehhhmm,, sebenarnya hari ini Gahzzy. Tapi, biar kami tunda saja. " jawab Leon gusar.
" Om,, berangkatlah. Aku gak apa-apa. Asal gak lupa dengan pesanku. "
" Huuuhhh,, sudahlah.. Aku berangkat malam ini juga." keluh Leon kesal.
" Pesan ? Pesan apa By ? "
" Pesan, urusan laki-laki sayang. " gurau Ghazzy.
" Ada pesan apa sih Om. Aku kepo nih. " bisik Zaskia pelan.
" Gak usah kepo. Pesan itu juga aku kirim ke ponselmu Ki. "
" Pesan apaan sih. " gerutu Bia kesal.
" Huussshhh,,, gak boleh kepo. " seru Zaskia sambil terkekeh.
" Kia,,, ! " seru Bia kesal.
" Bunda,, Ayaah,,, "
" Kok gak salam Mas ? " tegur Bia.
" Heheh lupa Bun. Assalamualaikum semuanya. " seru Faiz.
" Waalaikumsalam. " seru semuanya berbarengan.
" Bunda,, kapan kita ke rumah Papa dan Mama ? " tanya Fawwaz.
" Kemarin, Mas sama Adek diajak siapa ? " gurau Ghazzy.
" Oma dan Tante Kia. " jawab si kembar berbarengan.
" Jadi, tanya Tante dan Oma dong kapan berangkatnya. "
" Omaaa,, kapan ? " seru Fawwaz seraya menarik-narik tangan Azalea.
Tangan Azalea terulur mengusap kepala Fawwaz.
" Nanti malam. Kita berangkat nanti malam " jawab Azalea.
" Yeeeeaaayyyy !!!!! " seru keduanya senang.
" Buuunnn,, bantu kita berkemas. " ajak Faiz sambil menarik tangan kanan Bia.
" Adek bawa semua mainan adek ya Buuuunnn. " seru Fawwaz ikut-ikut menarik tangan kiri Bia.
" Eehh,, ini kok tarik-tarik Bunda. Mas sama Adek packingnya sama Tante Kia aja ya. "
" G mauu. Mau sama Bunda. " rengek Faiz dan Fawwaz.
Bia menghela nafas panjang seraya menatap Ghazzy seolah meminta tolong Ghazzy untuk membujuk si kemabr. Tapi yang dilihat malah hanya terkekeh.
__ADS_1
" Bantu mereka berkemas sayang. Disini kan ada Mama dan Kia. Ada Om Leon juga. "
Bia mendengus kesal saat Zaskia hanya tertawa sambil mengacungkan jari telunjuknya. Pertanda tidak mau menggantikan Bia membantu sikembar berkemas.