
" Baik. Saya jelaskan. " ujar Ustadz Yahya.
" Tapi apa gak sebaiknya kita minum dulu ini. " sindir Ustadz Yahya smabil terkekeh.
" Ahh maafkan saya Ustadz. " sahut Tian tidak enak hati.
Lalu masuk kedalam dan membawa satu doz air kemasan dan membagikannya untuk semua orang yang ada disana. Setelah semuanya minum. Ustadz Yhaya menghela nafas sejenak.
" Bungkusan itu, adalah tanah kuburan orang yang meninggal di selasa kliwon. Kata orang Jawa lebih ampuh untuk dijadikan teluh. "
Penjelasan Ustadz Yahya membuat semua orang beristighfar. Terutama Bia yang langsung menggenggam tangan Al. Takut Al akan berubah seperti dulu lagi.
Tangan Bia yang dingin membuat Al menoleh dan membawa Bia ke pelukannya. Dan menciumi puncak kepala Bia.
" Yahh,, seperti yang kalian ketahui. Dikirim orang yang sama dan dengan tujuan yang sama. " kata Ustadz Yahya pada Mark, Naya dan Azalea yang tengah menatapnya seolah bertanya.
Sontak semuanya menatap Al. Melihatnya yang masih mesra dengan Bia, semuanya menghela nafas lega. Tentu saja membuat Al bingung.
" Lalu bagaimana Ustadz ? " tanya Azalea.
" Bungkusan ini ada dua. "
" Dua ? " tanya Naya tidak mengerti.
" Dua ? Teluh ? Aku membawa santet ? " gumam Pak Dito tidak menyangka.
Perjalanan jauh keluar pulau yang ditempuhnya dari Jawa ke Kalimantan, hanya untuk membawa keburukan utnuk orang lain.
" Satu,, untuk kembali mengunci hati dan pikiran Al. "
Bia mengeratkan pelukannya bahkan tnagan satunya yang berada dibelakang tubuh Al sudah meremas baju kemeja Al saking paniknya. Al sendiri hanya bisa mematung mendengarnya.
* Mengunci hati dan pikiranku ? * batinnya.
" Satu lagi, untuk,, " ustadz Yahya menggantungkan kalimatnya. Memandang Wimpi sejenak. Saat melihat Wimpi yang mengangguk dia tersenyum.
" Untuk mengambil janin yang ada di rahim Robiatul Adawiyah. Dan kalo teluh itu tidak ditemukan Wimpi. Mungkin bukan hanya janin Bia, tapi juga nyawanya. "
Tubuh Bia menegang. Tubuhnya langsung tegak. Setelah memegang perutnya yang masih membuncit Bia menghela nafas lega. Tapi tidak Al, mendengar penjelasan Ustadz Yahya dia memeluk Bia dengan posesif. Tapi matanya dengan tajam menatap Pak Dito dengan marah.
Bahkan Azalea, Zaskia dan Naya sudah bertangisan diseberang sana. Takut terjadi sesuatu pada Bia.
" Aku tidak akan melepaskan kamu kalo terjadi sesuatu pada anak dan istriku !! " bentak Al keras.
Pak Dito menunduk menyesal. Dia menyadari kesalahannya yang tidak tahu menahu kalo disuruh mmebawa teluh. Apalgi untuk seseorang yang dikenalnya seperti Bia.
" Tenanglah Alfarizhi. Teluhnya sudah hilang. Untung aja kemampuan Wimpi bisa menemukannya. "
Bia spontan melepaskan pelukan Al dan menggenggam tnagan Wimpi penuh terima kasih.
" Terima kasih Kak,, terima kasih Kak Wimpi. " ucap Bia tulus.
" Sama-sama Non Bia. " jawab Wimpi terharu.
" Wimpi memang selalu peka pada Bia. " puji Azalea.
Ustadz Yahya terkekeh mendengarnya.
' Karena ilmu yang kamu miliki hanya bisa digunakan saat berdekatan dengan Bia. Orang yang dilahirkan pada selasa wage, kata orang Jawa. ' Batin Ustadz Yahya.
Wimpi tersenyum sambil mengangguk pada Ustadz Yahya.
" Lalu apakah teluh itu sudah tidak berbahaya lagi ? " tanya Naya.
" Bukannya Leny masih berada di pondok Ustadz ? " tanya Mark tidak mengerti.
__ADS_1
" Bukan Leny. Tapi teman yang membuat teluh itu yang pertama kali. Dia tidak terima karena teluhnya sudah dihancurkan. Itu berarti sebagian ilmunya juga sudah dihancurkan. "
" Leny ? " tanya Al bingung.
" Nanti kami jelaskan Al. " jawab Azlaea.
" Kenapa teluh itu malah dikirim untuk Bia ? Bukannya targetnya sedari awal memang Al ? " tanya Mark.
" Seperti yang aku bilang, Robiatul Adawiyah tahu apa yang harus dilakukan untuk menyadarkan Alfarizhi disepertiga malamnya. " ujar Ustadz Yahya smabil tersenyum pada Al.
" Karena itu, pembuat teluh itu berniat menghancurkan penawar teluh itu. Penawar itu ya,, istrinya Alfarizhi. Robiatul Adawiyah. " tegas Ustadz Yahya.
Al mencium puncak kepala Bia dengan penuh terima kasih. Dan makin merasa cintanya pada Bia terpupuk semakin subur dihatinya.
" Alhamdulillah. " ucap Naya senang.
" Alhamdulillah,, semuanya sudah selesai. " kata Tian.
" Belum. Belum selesai. " jawab ustadz Yahya.
" Maksud Ustad ? Bukannya teluh itu sudah dihancurkan ? " tanya Azalea tidak mengerti.
" Teluhnya memang sudah dihancurkan. Tapi aura negatif pengaruh teluh yang ada di tubuh Al belum speenuhnya hilang. Aku yakin Robiatul Adawiyah masih melakukan instruksiku. Tapi harus ada perantara yang bisa meluruhkan teluh itu didalam tubuh Alfarizhi.
Wimpi mungkin sanggup melakukannya, tapi kalo seijin dari Alfairizhi dan dengan bantuan Robiatul Adawiyah. Tapi, tentu saja pasti Wimpi tidak seberani itu bersikap lancang pada majikannya. " jelas Ustad Yahya.
Al dan Bia langsung menatap Wimpi yang langsung tertunduk. Tidak menyangka Ustadz Yahya bahkan bisa membaca niatnya selama ini.
" Lalu,, ini mau bagaimana Ustadz ? " tanya Mark.
" Nanti setelah sholat dhuhur. Kita bersihkan sama-sama. Tapi selesaikan urusan kalian dengan Pak Dito terlebih dulu. Wimpi,, bisa mengantarkanku ? " tanya Ustadz Yahya tiba-tiba.
" Hah,, mengantarkan kemana Ustadz ? "
" Tidak Ustadz. Baik saya antarkan. " jawab Wimpi cepat.
" Tian,, bisa minta tolong temani kami ? " tanya Ustadz.
" Iya Ustadz. "
Tian menerima kunci mobil dari Randy dan segera mengeluarkan mobilnya. Setelah Ustadz Yahya dan Wimpi masuk ke mobilnya. Menuju ke suangai Mahakam untuk membuang teluh itu.
" Maafkan aku Mbak Bia. Sungguh, aku gak tahu kalo aku membawa santet. "
" Siapa yang mengirimmu Pak Dito ? " tanya Naya.
" Temannya Leny. Bu Naya. " jawab Pak Dito.
" Ada hubungan apa Pak Dito dengan Leny ? " tanya Zaskia kesal.
" Dia,, ayahnya Leny, Kia. " jawab Naya.
" Lhoo,, bukannya, Leny itu anak pembantu dan supir Pak Mark dan Bu Naya ? " tanya Azalea bingung.
" Mereka,,, Leny,,, anak perselingkuhan Mbok Nina dengan Pak Dito. " jawab Mark tidak enak hati pada Pak Dito.
Zaskia dan Bia tercengang. Teringat bagaimana Leny dengan ketusnya mengatai si kembar hasil perselingkuhan Bia dan Al. Tapi ternyata dia sendiri,,,
" Bagaimana kabar anak saya Bu Naya ? " tanya Pak Dito.
" Alhamdulillah baik. Dia sedang berada di pondok pesantren yang berada di Singapura. " jawab Naya.
" Alhamdulillah. " sahut Pak Dito.
" Lalu, bagaimana denganmu ? Kamu mau kembali ke Surabaya atau menetap di Kalimantan. " tanya Mark kesal.
__ADS_1
" Kalo Pak Dito kembali ke Surabaya. Nanti di suruh teman Leny lagi. " keluh Zaskia.
" Lebih baik menetap di sini dulu Pak Dito. " jawab Bia yang terlihat lebih tenang.
" Untuk sementara. Pak Dito bisa tinggal disini sebagai satpam. Tapi jangan macam-macam pada keluarga saya Pak. " tegas Al.
" Tidak lagi Pak Al. Aku benar-benar minta maaf. " ujar Pak Dito menyesal.
" Silahkan ke pos security. Bilang pada mereka pak Dito satpam baru. " kata Al kesal.
" Terima kasih. Permisi. "
Pak Dito sudah beranjak pergi dari teras itu menuju ke pos security.
" Kok ketus gitu sih Mas. " protes Bia.
" Dia berniat mencelakakan kamu dan anakku Bi. " geram Al.
" Iya. Tapi kan,,, "
" Gak pake tapi-taapian ! " seru Al.
" Kak Al ,, percaya dengan teluh ? " tanya Zaskia heran.
" Kalo aku gak melihat sendiri sikapku pada Bia kemarin-kemarin. Aku pasti menyangsikannya. "
" Apa yang Kak Al rasain dulu. Smapai bisa-bisanya sedingin itu pada Kak Bia. Aku aja yang melihatnya, rasanya mau mencakar-cakar Kak Al saking kesalnya."
Bia tertawa mendengar keluhan Zaskia.
" Aku marah karena Bia tidak mau melaporkan Leny pada polisi. Hanya karena itu. Tapi, entahlah. Setiap melihat Bia rasanya masih maraah dan selalu teringat kenekatan Leny. " jelas Al.
" Itu yang dimaksudkan Ustadz Yahya. Teluh itu, mengunci hati dan pikiran kamu , biar kamu hanya fokus pada Leny. Meskipun dengan kemarhaan. Dan akhirnya mengacuhkan orang-ornag disekitarmu. Terutama Bia. Kamu gak tahu sestres apa Bia melihatmu sedingin dan secuek itu. " jelas Azalea.
" Maafkan aku Bi. " ujar Al sambil memeluk Bia dengan erat. Menyesali apa yang telah dilakukannya.
" Aku gak bisa membayangkan kalo teluh itu sampai berhasil membuat Kak Al bersikap dingin lagi. " sahut Zaskia sambil mendekap Azalea.
" Aku juga gak bisa membayangkan kalo aku kehilangan janinku. " kata Bia sambil mengusap perutnya.
" Aku gak akan bisa menerimanya Bi. Apalagi smapai aku kehilangan kamu. Mungkin aku juga bisa mati nanti. " ujar Al sedih.
" Apaan sih ngomongnya. " tegur Bia kesal smabil mendorong tubuh Al memjauh.
" Maafkan aku. Tapi aku bicara apa adanya, Bi. "
" Sssttt,, sudah gak usah dibahas. "
" Apa kalian sudah memeriksakan kandungan ? Sepertinya perut Bia terlihat lebih besar kalo masih empat bulan. " tanya Naya.
" Sudah Ma. " jawab Bia dan memukul lengan Al yang tiba-tiba tertawa.
" Kenapa ? " tanya Azalea bingung.
" Kembar lagi Ma. Dua jagoan. Firasatku selalu mengatakannya. " jawab Al sennag.
" Alhamdulillahhh.. " seru Azalea dan Naya berbarengan.
" Aaahh pasti sekeras kepala Kak Al nanti. " celetuk Zaskia.
" Jangan dong, Ki. Punya satu aja posesifnya tingkat akut. " gurau Bia.
Al mencubit pipi Bia dan merengkuhnya dalam pelukannya.
" itu karena aku memcintaimu Bi. " ujar Al.
__ADS_1