Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 98


__ADS_3

" Bia,, apa yang sedang kamu lakukan ? " tanya Tian saat melihat Bia ada didapur.


Bia terlonjak kaget. Zaskia mengulurkan satu gelas air padanya.


" Maaf, Kak Tian mengkagetkan Kak Bia. " ucap Zaskia.


" Gak apa-apa. Aku lapar. " jawab Bia keki. Setelah minum segelas air yang diberikan Zaskia.


" Sama, aku juga Kak Bia. Kak Tian mau masak nasi goreng seafood. Mau sekalian ? " tawar Zaskia sambil mendekap Bia.


" Mau,, mau,,," seru Bia senang.


" Baiklah. Kalian duduk aja dulu. Apa mau nonton TV dulu. Nanti aku antar. "


" Gak usah. Kami tunggu disini aja. Atau,, apa ada yng perlu aku bantu ? " tanya Bia menawarkan diri.


" Nothing. Rileks Bi. " tegas Tian.


Tian membuatkan dua gelas susu hamil untuk keduanya agar tidak bosan menunggu nasi goreng seafoodnya matang. Untung saja, persediaan dapur di rumah orang tua Clara masih lengkap.


 


Al langsung bangun dari tidurnya saat tidak mendapati Bia disampingnya. Dia beranjak ke kamar mandi. Kosong.


" Bi,, kamu dimana ? Kenapa gak bangunin aku ? Apa ke kamar anak-anak ? " gumam Al bingung.


Dia beranjak menuju kamar anak-anak, lalu ke kamar Azalea. Tapi nihil. Dimana kamu Bi ? Pikir Al khawatir.


Al mendnegar suara deraian tawa dari dapur. Dan dia yakini salah satunya adalah Bia. Langkah beranjak menuju dapur untuk mengeceknya.


" Bi,,, !!! " geram Al kesal. Saat melihat Tian dan Bia tengah tertawa bersama.


Apalagi saat ini didapur hanya ada Bia dan Tian. Kebetulan Zaskia sedang ada di toilet dapur. Tian dengan santainya masih meletakkan nasi gorneg buatannya dipiring yang ada di depan Bia.


" Kenapa kalian berdua ada di sini ? Kalian gak macem-macem kan. " seru Al kesal sambil mencengkram tnagan Bia.


" Aaawww,, " pekik Bia kaget.


" Maaf. Apa sakit ? " tanya Al panik sambil meniup tangan Bia yang tadi dicengkramnya.


Bia menarik Al agar duduk disampingnya. Kesal dengan sikap pencemburunya pada Tian.


" Bertiga, Mas. Kia masih ditoilet. " jawab Bia.


" Alasan ! "


" Alasan,, alasan,, dedek bayi. Lain kali buat Kak Al aja yang ngidam. Biar tahu rasanya ngidam. " seru Zaskia kesal sembari mendekap Tian. Setelah keluar dari kamar mandi dapur.


" Aaammiin.. " gurau Bia.


" Tian juga gak ngidam. " protes Al.


" Siapa bilang ? Ini lagi ngidam pengen masak nasi goreng saefood. Untung ada Kak Bia yang kelaparan. Membantuku menghabiskan nasi gorengnya. " elak Zaskia.


Al mengerucutkan bibirnya kesal. Karena semua orang tidak ada yang mendukungnya.


" Aku lapar, Mas. Tadi aku udah bangunin Mas. Tapi mungkin kamu kecapean, jadi gak bangun-bangun. " kata Bia mencoba menghibur Al yang tengah marah.


" Maafkan aku Bi. Aku gak siaga. " pinta Al menyesal.

__ADS_1


" Aku cuman lapar Mas. Tadi juga sebenarnya mau masak sesuatu. Lalu Kia datang sama Tian. " jelas Bia sambil menyuapkan satu sendok nasi goreng seafood ke mulut Al.


Tian tiba-tiba tertawa. Membuat kesemuanya sontak menatapnya heran.


" Kenapa Kak Tian tertawa ? " tanya Zaskia bingung.


" Kalian merasa gak sih. Kita kayak de javu. " jawab Tian masih terkekeh.


" De javu ? " tanya Bia sambil masih menyuapkan nasi goreng ke mulut Al.


" Bukannya dulu, Kak Al juga pernah memergoki kita sedang berdua seperti sekarang ini Bia. "


Zaskia dan Bia akhirnya tertawa. Al menyentil hidung Bia karena kesal ditertawaakan.


" Ya, dan Kak Bia gak percaya kalo aku bilang Kak Al cemburu melihat Kak Bia berduaan dengan Kak Tian."


" Benarkah ? Heeemm,,, apa kamu gak bisa lihat aku yang semarah itu ke kamu Bi. " protes Al.


" Yaahh,, kan aku mana tahu. Lagian kan waktu itu Mas juga sedang berdua dengan Kak Clara. " gurau Bia sambil memakan satu sendok nasi terakhir.


" Alhamdulillah. Terima kasih Tian. Aku bisa sekenyang ini. Dan aku yakin Mas Al juga kenyang kan. " gurau Bia.


" Iya. Terima kasih, Tian. " ujar Al tulus.


" Seorang CEO hanya terima kasih doang ? " sindir Zaskia.


" Kalo memang suami kamu itu mau menerima tawaranku. Silahkan saja. Aku tahu seornag independent seperti Tian gak mungkin menerima bantuan dari keluarganya. Apaalgi dari iparnya. "


Tian tertawa dan mengangguk.


" Terima kasih sudah mengerti. " kata Tian.


" Dewandaru akan membuka satu hotel berbintang di Kaltim. Tian bisa jadi penanggung jawab chef disana. Atau kalo gak, perusahaan sedang mencari catering untuk makan siang karywan. Mungkin Tian dan Bu Adiba bisa mencoba menjadi penyedia catering perushaaan. " jelas Al.


Tian manggut-manggut sejenak. Seperti tengah berfikir.


" Keduanya tawaran yang menggiurkan Tian. " gurau Bia sambil terkekeh.


" Sebenarnya, Ibu juga sedang mencari kesibukan. Ibu ingin membuka resto seafood seperti di mall Expo dulu. Ibu suka sekali memasak. Tiap hari ada aja yang dimasak. "


" Dan masakan Bu Adiba memang top Tian. " puji Bia diikuti Zaskia yang menunjukkan kedua jempolnya.


Semuanya terkekeh.


" Kalo kamu menerima tawaranku sebagai penyedia catering perusahaan. Kalian bisa menggunakan rumahku sebagai tempat memasaknya. Bukannya disana, semua peralatan dapurnya cukup lengkap ? "


" Lengkap Kak Al. Tapi kami lebih membutuhkan tenaga kerjanya. Aku yakin karyawan Dewandaru pasti gak sedikit. "


" Bukannya Bu Adiba mempunyai satu depot masakan padang ? " tanya Al memastikan.


" Iya. Kami cuman punya tiga karyawan disana. "


" Woow, itu sudah cukup baik Tian. Kalian bisa membuka lapangan pekerjaan untuk yang lainnya. " puji Bia.


" Tapi tetap saja gak bisa ngawur Bi. Harus benar-benar yang punya passion di masakan. Ada satu aja yang gak tahu, bisa mengubah cita rasa masakan nantinya. " kata Al sambil mengusap kepala Bia.


" Iya. Kak Al benar. Aku dan Ibu sudah pernah mengalaminya. Dan memang memberikan pengaruh yang cukup mengerikan. Yang utama, pengunjung gak serame sebelumnya. "


" Lalu, apa keputusan Kak Tian ? " tanya Zaskia penasaran.

__ADS_1


" Aku akan membicarakannya dengan Ibu. "


" Kenapa gak ambil kepala chef aja. Bukannya sesuai dengan sertifikasi sekolah chef kamu ? " tanya Al.


" Masih ada Ibu, aku masih ingin membahagiakan Ibu. Dan kebahagiaan Ibu ya, membuat orang lain ketagihan dengan rasa masakannya. Itu, yang belum bisa aku pelajari dari Ibu. " jawab Tian sambil tertawa.


" Bener juga sih. " celetuk Bia.


Zaskia sudah menguap berkali-kali. Pertanda sudah sangat mengantuk.


" Kalian istirahatlah. Biar aku yang membereskannya." kata Bia.


" Maaf Kak Bia. " kata Zaskia sambil menggamit lengan Tian.


" Eehhmm,, maaf,, ini semua,,, " kalimat Tian menggantung tidak enak hati.


" Pergilah Tian. Kia kelihatannya sudah sangat mengantuk. " kata Al.


" Maafkan aku sudah merepotkan. " jawab Tian.


" Terima kasih sudah memasak untuk Bia. " ucap Al .


Tian mengangguk sambil menggendong Zaskia yang sudah sempoyongan karena menagntuk.


" Aku beresin dulu Mas. Aku juga udah mulai ngantuk." kata Bia sembari berdiri.


Al menarik tnagan Bia.


" Duduklah. Biar aku aja yang beresin. "


" Bener gak apa-apa ? "


" Sebagai permintaan maaf karena aku gak siaga saat kamu ngidam tadi. " kata Al sambil berdiri dan memcium kening Bia.


Lalu Al membereskan semua peralatan dapur yang telah dipakai Tian, mencucinya hingga semuanya bersih. kemudian hendak menggendong Bia.


" Gak usah Mas. Kamu pasti capek. Apa lukanya sudah membaik ? " tanya Bia. Tangannya terulur di sudut bibir Al yang masih terlihat sedikit memas karena dipukul Mark.


" Hanya tinggal bekasnya saja Bi. Jangan khawatir. " kata Al sambil menggendong Bia.


" Kan aku udah bilang gak usah. "


" Aku gak mau kamu kelelahan naik turun tangga Bi. "


Bia mencium bibir Al sekilas.


" Terima kasih. " ucapnya tulus.


" Kalo berterima kasih harusnya lebih lama dong. "


" Iisshhh modus. Gak mau ah. Capek. "


Al tertawa mendnegarnya.


" Baiklah. Kita istirahat. " jawab Al.


" Bener ya. Istirahat. " tegas Bia.


Al mengangguk pasti.

__ADS_1


__ADS_2