Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 79


__ADS_3

Zaskia senyum-senyum sendiri saat melihat pesan dari Bia. Tapi sudut matanya kembali terasa panas. Dan matanya sudah mengembun.


" Ada apa Ki ? " tanya Tian sambil memeluk Zaskia dari belakang saat mereka berada di balkon kamar tamu di rumah Clara.


" Aku bahagia melihat Kak Al. "


" Sangat terlihat jelas di matamu Ki. "


" Kak Al sudah terlalu lama tersiksa dengan perasaannya. Kak Al berhak bahagia. Aku bahkan gak bisa mengungkapkan rasa terima kasihku pada Kak Gahzzy saat tiba-tiba Kak Gahzzy minta kita untuk menyatukan Kak Al dan Kak Bia. "


" Terima kasihnya bisa di ucapkan dengan mengirimkan doa untuknya. " ujar Tian sambil mencium pipi kanan Zaskia.


" Iya Kak Tian. Setiap hari aku selalu mendoakan Kak Ghazzy. " jawab Zaskia.


" Sekarnag ada Clara yang juga harus kamu sebut dalam doamu Ki. Akhirnya mereka bisa bersatu tanpa harus Poliandri ataupun poligami. "


" Iya. Kak Tian benar. Mereka gak lagi berada di hubungan yang complicated. "


" Apa kamu akan ikut menetap disini kalao Bia memutuskan untuk tetap tinggal ? " tanya Tian smabil menghadapkan Zaskia didepannya.


" Apa Kak Tian kebeeratan ? " tanya Zaskia ragu.


" Justru aku senang kalo itu terjadi. Aku jadi bisa sekalian merawat Ibu. "


" Gimana dengan resto seafoodnya ? "


" Biar Kak Mayang yang menghandlenya. "


" Terima kasih Kak. " kata Zaskia senang sambil memeluk Tian.


 


Al membuka matanya. Dilihatnta jam sudah memunjuk angka tiga pagi. Dia terlalu bahagia sampai tidak bisa tidur. Ditatapnya kedua anaknya yang sudah terlelap disampingnya. Dan juga Bia yang juga sudah tertidur si ujung sana.


Al bangkit perlahan. Kemudian memutari ranjang untuk membetulkan selimut Bia yang terjatuh. Setelah menyelimuti Bia, Al mencium bibir lalu kening Bia.


" Terima kasih Bi. " bisiknya pelan.


Bia megerjapkan matanya. Kemudiam menarik tangan Al yang hendak berlalu.


" Apa aku membangunkanmu ? " tanya Al pelan sedikit berjongkok.


" Gak. Sudah waktunya sholat. Mas belum sholat kan. "


Al menggeleng sambil tersenyum. Lalu menggendong Bia yang sempat memekik pelan.


" Kamu mengagetkan aku Mas. Untung aja anak-anak gak terganggu. "


" Maaf. Kita wudhu dulu. "


" Eehhmm,, ini dicukur ya. " kata Bia sambil meraba jambang Al.


" Bi, kamu mau menggodaku ? "


Sontak Bia melepaskan tnagannya dari jambang Al. Dan kembali berpegangan pada leher Al. Al tertawa karenanya. Dia menurunkan Bia didepan kamar mandi.


" Mau membantuku mencukurnya ? "


" Gak. Aku langsung mandi saja. Keburu waktunya habis. "


" Apa mau aku mandikan. " goda Al sambil mendekat dan mengecup bibir Bia singkat.


" Tidak,, tidak usah. Aku mamdi sendiri. " jawab Bia smabil masuk ke kamar mandi. Menguncinya dari dalam.

__ADS_1


Al melangkahkan kakinya ke ruang kerja. Untuk bercukur dan mengambil bajunya. Sekalian mandi disana. Agar tidak menyita banyak waktu.


Saat dikamar, Al melihat Bia juga baru selesai dari kamar mandi. Dia tersenyum melihat wajah Al yang sudah bersih dan nampak cerah.


Tangan Bia bersedekap.


" Ini baru Alfarizhi yang aku kenal. Yang arogan, yang menilaiku hanya dari penampilanku yang dekil. " sindir Bia membuat Al tertawa.


" Hhahah,, itu masa lalu Bi. " jawab Al malu.


Al sudah bersiap di sajadahnya. Menunggu Bia siap dengan mukenanya. Setelah itu baru mereka sholat.


" Mas,, aku serius, ingin kamu minta maaf pada Mama. Sudah cukup kamu mendiamkan Mama dan Kia. " kata Bia saat selesai berdzikir. Menunggu waktu shubuh.


Al hnaya terdiam.


" Mas ,, ?? "


" Cukup sulit Bi. Mereka menutupi fakta tentang anak-anak. "


" Mas,, ingat. Mama udah bantu kita menyelesaikan PR kita. Mau sampai kapan kamu mendiamkan Mama. "


" Entahlah Bi. "


" Kalo kamu masih gak mau berdamai dengan Mama dan Kia. Aku dan anak-anak akan pulang ke Surabaya. Aku gak perduli kalo kamu akan marah padaku. " ancam Bia kesal.


" Bi,, !! "


Bia menepis tnagan Al yang hendak meraih tangannya. Lalu sedikit menggeser tubuhnya ke belakang.


" Bi,, " seru Al.


Terdengar adzan shubuh berkumandnag. Bia segera berdiri saat Al hendak mendekat padanya.


Baru juga satu langkah tapi Al sudah memeluknya dari belakang.


" Maaf. Aku akan bicara denagn Mama nanti. Aku akan minta maaf pada Mama. Jangan marah lagi. Tetaplah disini bersamaku. "


" Ini untuk kebaikan kita Mas. Mama sudah cukup tersiksa dengan sikapmu yang mengacuhkannya. "


" Aku juga tersiksa di sini Bi. "


" Berarti gak ada bedanya kan aku disini atau di Surabaya. "


Al makin mengeratkan pelukannya pada Bia. Seolah takut Bia akan meninggalkannya.


" Iya. Iya, aku salah. Maafkan aku. Kita akan menemui Mama. Bahkan setelah sholat shubuh kalo perlu. " kata Al sambil mencium kepala Bia.


Bia tersenyum menang.


" Lepasin Mas. Aku mau membangunkan anak-anak. "


" Aku jadi ingin Bi. " bisik Al sambil mencium telinga Bia yang masih memakai mukena.


" Mas, jangan aneh-aneh. Disini ada anak-anaak. Lagian kemarin kan sudah. " protes Bia.


" Kan kemarin Bi. Satu kali Bi. "


" Gak. Aku gak percaya. Sudah nanti saja. Anak-anak sudah bangun. " seru Bia sambil menyikut perut Al hingga pelukannya terlepas.


" Nakal ya. Beraninya pukul suaminya. " gumam Al kesal.


" Bunda.. Ppaa.. Apa kami telat bangun ? " tanya Faiz.

__ADS_1


" Gak Mas. Baru adzan shubuh kok. Buruan mandi. " jawab Bia.


" Papa,, mau mandi sama Papa. " rengek Fawwaz.


" Kan Ppaa udah cakep sayang. " jawab Bia.


Al tertawa mendnegar pujian Bia.


" Tapi, Bun. Adek mau mandi sama Papa. "


" Baiklah. Bangunkan Mas Faiz. Kita mandi bersama. " kata Al sembari melepas baju kokonya.


Fawwaz langsung tersenyum menang sambil membangunkan Faiz. Keduanya berlari ke kamar mandi setelah Bia membantu melepaskan baju tidur mereka.


" Hati-hati,, lantainya licin. " kata Bia memperingatkan.


Al langsung merengkuh Bia dalam pelukannya. Mencium bibir Bia dna ********** sekilas.


" Aku minum obatku lebih pagi. Kita lanjutkan nanti. " desis Al di telinga Bia.


" Cckkk,, aku jadi batal kan. Kamu ini Mas. " keluh Bia kesal sambil mengusap bekas saliva Al di bibirnya.


Al hanya tertawa kemudian masuk ke kamar mandi. Membantu anak-anaknya mandi.


Bia berdecak kesal karena ketiganya keluar dengan menggunakan handuk smabil cengar cengir.


" Lihat,, udah jam berapa ini. Keburu waktu shubuhnya habis kan. " omel Bia.


" Mas Faiz Bun,, mainan sabun. " adu Fawwaz.


" Adek Bun yang mainan sabunnya. "


" Sudah,, sudah,,, buruan ganti baju. " tegur Al.


" Papa Bun,, tadi siram Mas pake air sabun. Jadi mamdinya makin lama. "


" Iya Bun,, bener,, bner,, Bun. "


" Eeehh kok Papa. Tapi kan asyik ! " seru Al.


Ketiganya tertawa sambil melakukan tos. Bia geleng-geleng kesal.


" Papa, bantuin anak-anak ganti baju. Aku mau wudhu lagi. " gerutu Bia


" Siaaapp. Apa mau Papa mamdikan Bun ? " goda Al semabri mendekat pada Bia.


" Gak apa-apa. Anak-anak, nanti kita jalan-jalan sama Om Tian ya. " kata Bia pelan sambil beranjak ke kamar mandi.


" Kamu mau aku membuatmu tidur seharian. " ancam Al sedikit pelan takut anak-anaknya mendengar.


" Kan ada anak-anak. " celetuk Bia sambil tertawa.


Al mendengus kesal. Yah.. Ada anak-anaknya. Dia gak bisa mencumbu Bia seperti kemarin. Al mengikuti Bia ke kamar mandi. Hanya berdiri di depan pintu kamar mandi yang terbuka.


" Lihat saja,, kalo kamu beneran jalan-jalan dengan Tian. Aku akan membuatmu gak bisa bangun. " geram Al pelan tapi terdengar sangat jelas di telinga Bia.


Bia terkekeh pelan diantara wudhunya. Melihat alis Al yang bertautan dan wajahnya yang tak berangsur membaik. Bia hanya geleng-geleng.


" Permisi,, Papa Alfarizhi yang cakep. " goda Bia sambil mencipratkan sisa air wudhu ke wajah Al.


" Aku serius Bi. Lihat saja nanti. " geram Al smbari menuju anak-anaknya yang sudah siap.


" Dasar pemarah. " ejek Bia.

__ADS_1


__ADS_2