Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 116


__ADS_3

Azalea masih menggenggam tangan Bia yang khawatir dan tegang. Keduanya yakin ada sesuatu yang serius di kandungan Bia. Kalo tidak, Leon dan Gita tidak akan sedemikian serius bahkan lebih terlihat marah. Dan dokter Iren yang sedari tadi hanya menunduk dan tidak banyak bicara.


Dokter Baim menyuruh asistennya untuk menyediakan air mineral dan beberapa cemilan untuk Al dan kedua dokter sertifikasi ganda di depannya. Tentu saja dokter Baim dan dokter Tri mengenal siapa mereka berdua. Karena mereka senior dari Leon dan Gita.


" Jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi. Apa maksudnya hidden twins ? " kata Al dingin. Aura kejamnya makin terlihat.


" Hidden Twins bisa terjadi karena salah satu janin berbagai kantung ketuban Al. " jawab Gita.


" Apa maksudnya ? " tanya Bia.


" Begini, aku akan menjelaskannya dengan bahasa umumnya. Intinya,, kali ini kamu gak hanya hamil kembar dua Bia. Tapi tiga. Salah satu ketuban berisi dua janin. " jelas Leon.


Azalea dan Bia tercengang mendnegarnya.


" Aku yakin bukan hanya karena itu, kita berada disini sekarang. " tegas Azalea.


" Kamu benar Lea. Karena kalo sedikit saja kita terlambat mengetahuinya. Bisa menyebabkan janin itu meninggal. " jawab Leon.


" Aapa ? " sahut Al dan Bia bersamaan saking kagetnya.


" Hidden twins yang terlambat diketahui memang sering berakibat fatal pada janinnya, Al. Bia. Tapi banyak juga yang bisa diselamatkan. " jawab Gita menenangkan.


" Bagaimana bisa sampai tidak terdeteksi. Ini sudah masuk delapan bulan bahkan hampir sembilan bulan." protes Al sambil menatap dokter Iren dengan tajam.


" Maafkan saya. " pinta dokter Iren takut.


" Itu,, kita bahas nanti. Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang ? " tanya Al panik.


" Sepeetinya ,, kali ini Bia tidak bisa melahirkan normal. Terlalu berbahaya untuk janin dan keselamatan Bundanya. " jawab Gita.


Al semakin cemas. Lebih takut membayangkan keselamatan Bia. Daripada kemarahannya pada dokter RS Medika yang sudah ceroboh.


" Lakukan yang tebaik untuk Istriku Tante. " pinta Al.


" Itu pasti Al. "


" Apa kita bawa Bia ke Surabaya ? Aku mau Om dan Tante yang menangani Bia. " seru Al.


" Terlalu beresiko membawa Bia ke Surabaya di kehamilannya yang sudah besar Al. " cegah Gita.


" Kalo memang diijinkan. Biarkan kami melakukan operasinya disini. Setidaknya mereka juga harus mempertnaggung jawabkan kecerobohan tim dokternya. " kata Leon sambil menunjuk ke arah dokter Iren.


Kemarahannya masih bisa ditahan karena melihat ada dua dokter senior di belakang dokter Iren saat ini. Dia yakin salah satu dari mereka pasti punya hubungan khusus dengan dokter Iren. Karena melihat sikap mereka yang seolah melindungi dokter Iren.

__ADS_1


Al menatap dokter Baim dan dokter Tri seolah mempertnyaakan kesanggupan mereka.


" Tentu,, tentu saja aku akan megijinkannya. Dokter Leon benar. Bagaimanapun ini juga karena kecerobohan dokter Iren. Kapanpun kalian akan melakukan operasinya. Siapapun petugas medis yang akan membantu kalian di ruang operasi akan kami sediakan. Pokonya apapun keperluan kalian, aku akan menyiapkannya. " kata dokter Baim menyanggupi.


" Aku mau dokter Tri dan perawat itu juga ikut membantu kami saat operasi. " kata Leon.


" Termasuk dengan dokter Iren sendiri. " tegas Gita.


Dokter Iren menataap Gita tidak percaya.


" Saya , dokter Gita ? "


" Iya. Memangnya siapa lagi ? Apa dokter berfikir akan lari dari tanggung jawab atas kelalaian dokter Iren ? "


Dokter Iren menggeleng cepat.


" Bukan,,, bukan sepeeri itu. Saya akan bertanggung jawab. Meskipun harus dicabut lisensi saya. "


" Dokter Iren ! " tegur dokter Baim.


" Lalu kenapa kamu sampai kaget seperti itu ?! " sahut Leon.


" Saya,, hanya tidak menyangka. Dokter Gita meminta saya juga ikut bergabung di operasi Bu Bia. " jawab dokter Iren.


Dia ingin melihat sejauh apa dokter Baim melindungi dokter Iren. Mereka punya hubungan apa ?


" Abi,, dokter Leon. Aku harap dokter menjaga sikap dokter. Kita disini untuk mencari jalan keluar terbaik untuk Bia. Bukan mengintimidasi siapapun. Bukankah Al juga sudah menegaskan untuk memikirkan masalah kecerobohan itu nantii ?! " tegur Gita tegas.


Dan cukup membuat Leon menciut nyalinya. Apalagi Gita sudah tidak menyebutnya Abi lagi tapi memanggilnya dengan dokter. Itu berarti sikapnya memang keterlaluan dan di ingatkan untuk profesional.


" Eheemm,, maafkan atas sikapku. " pinta Leon sembari berdehem.


Dokter Baim dan dokter Tri tersenyum maklum. Seolah salut pada kedua pasangan dokter handal didepannya.


" Dokter Iren,, adik saya. Dokter Leon. " jelas dokter Baim sambil tersenyum.


" Haahh,,, maksud dokter apa ya ? " tanya Leon kikuk. Karena seniornya bisa membaca maksudnya.


" Maafkan atas kecerobohan adik saya. " pinta dokter Baim.


" Dan saya pastikan akan memberikan sangsi padanya sesuai dengan permintaan Tuan Al sekeluarga. Bagaimanapun ini memang kesalahannya. " pinta dokter Baim.


Bia menarik-narik lengan Al yang masih serius menatap para dokter itu bicara. Al menoleh, melihat Bia yang berkeringat dingin dan meengusap perutnya. Al menggeser duduknya dan mendekap Bia.

__ADS_1


" Kenapa Bi ? Ada apa ? Apa ada yang sakit ? " tahya Al beruntun.


" Mas,, perutku kram lagi. " keluhnya.


" Tante,, tolong Bia. Perutnya kram lagi. " seru Al panik.


Gita dan Leon segera mendekat. Belum juga memeriksa Bia. Tapi Bia sudah pingsan.


" Bawa dia ke ruang tindakan !! " seru Gita cepat.


" Lewat lift privacy saja. Biar cepat. " sahut dokter Baim.


Al menggendong Bia dengan panik sembari mengikuti petunjuk dokter Baim. Leon merangkul Gita dan Azalea di kanan dan kirinya. Sesekali berlari kecil untuk mengejar Al yang panik.


Gita segera memeriksa Bia di ruang persalinan. Kembali melakukan USG 4dimensi secara mendetail. Ke seluruh perut Bia.


" Kita harus operasi sekarang juga. Ketuban yang berisi dua janin sudah pecah. " seru Gita.


" Saya akan menyiapkan ruang operasinya. " kata perawat itu cepat dan berlalu.


" Aku akan bersiap. " kata dokter Tri.


" Dokter Gita,, bisa memakai baju saya dokter. " tawar dokter Iren.


" Terima kasih. " jawab Gita sembari mengikuti langkah dokter Iren.


" Silahkan dokter Leon memakai baju saya. " kata dokter Baim.


Leon mnegangguk mengerti.


" Kamu boleh menemani Bia sekarnag. Sampai tim dokter akan membawanya ke ruang operasi. " kata Leon sebelum pergi ke ruangan dokter.


Al mengangguk mengerti. Al menggenggam kedua tangan Bia. Dan menciumi kening Bia dnegan panik. Tangannya gemetaran, air matanya sedari tadi sudah mengalir deras.


" Bi,, kamu bisa. Kamu kuat Bi. Kamu harus kuat Bi. Demi anak-anak kita,, demi aku, Bi. Jangan tinggalkan aku Bi. " bisik Al ditelinga Bia.


" Aku mencintaimu Bi. Jangan tinggalkan aku Bi. Aku gak tahu apa yang akan terjadi padaku nanti. Aku gak mau kehilangan kamu Bi. "


" Bismillah Bi. Kuat Bi. Bertahan sayangku. "


Azalea bingung harus melakukan apa. Dia merasa trenyuh melihat Al yang sekhawatir itu. Dia snagat takut kehilangan Bia. Azalea ingin menenangkan Al tapi dia sendiri juga dalam keadaan panik.


* Kia,, aku harus telpon Kia. * batin Azalea.

__ADS_1


__ADS_2