Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 141


__ADS_3

" Assalamualaikum. " sapa Azalea saat pengawal mansion menganrarkannya ke taman dimana tuan rumah berada.


" Waalaikumslaam. " jawab Bia, Naya dan Mark bersamaan.


Alex berdiri saat melihat semua orang berdiri menyambut Azalea.


" Bia,, kamu gak apa-apa ? Apa ada yang terluka. Mama gak mau tahu. Kamu harus berhenti bekerja. Mama rasanya mau jantungan setiap kamu keluar rumah. " omel Azalea sembari memeluk Bia erat.


Entah Bia bingung harus mengatakan apa. Yang jelas dia diserang keharuan yang luar biasa.


" Aku baik-baik saja Ma. " jawab Bia dengan suara tercekat.


" Baik-baik saja ? Ckkk,,, kamu memang terlalu naif Bia. " ejek Alex yang masih kesal karena kalah berdebat dengan Bia yang membuatnya ditertawakan Om dan Tantenya.


" Apa maksud kamu Alex ? " tanya Azlaea bingung sembari melepaskan pelukannya pada Bia.


" Tidak ada maksud apa-apa Ma. Mama tenang aja. " sahut Bia cepat sembari menatap tajam ke arah Alex.


Tapi Alex hanya tertawa melihat ekpresi Bia.


" Kenapa kamu gak menjawab pertanyaanku ? " seru Azalea kesal.


" Bu Lea, duduklah dulu. Biar aku yang menjelaskannya. Tidak usah memperdulikan Alex. " jawab Mark.


Azalea duduk disamping Bia. Alex pun juga ikut duduk sembari melihat ponselnya yang terhubung dengan cctv di mansionnya. Dia tersneyum smirk saat melihat mobil Al memasuki pekarangan rumahnya.


" Bia,, " panggil Alex.


Spontan semuanya melihat ke arah Alex.


" Ada apa ? " tanya Bia ketus.


" Aku cuman mau kasi tahu kalo suami tercintamu itu sudah datang. " jawab Alex sambil tertawa.


Sontak Bia berdiri, antara takut akan dimarahi Al karena pergi tanpa Wimpi. Juga karena jujur saja hatinya ingin memeluk Al. Sekedar ingin merasakan kenyamanan dalam pelukan Al. Ingin mengatakan ketakutannya saat berada di parkiran hotel X tadi. Bahkan tidak disadarinya air matanya sudah menetes.


Al, Wimpi dan Reiga mengikuti kemanapun langkah pengawal Alex yang akan mengantarkannya ke taman dimana tuannya berada. Al melihat Bia berdiri dari kejauhan seolah tengah menunggunya. Al segera berlari mendahului pengawal Alex.


" Bii,,, !!! " seru Al dan segera memeluk Bia erat.


Sedikit menahan tubuh Bia yang terhuyung ke belakang karena menopang tubuhnya. Al menciumi wajah Bia, terlihat sanagt lega dan juga snenag karena Bia bisa selamat. Tanpa terluka sedikitpun.


Bia hanya bisa menangis sesenggukan di pelukan Al. Melihat kemeja Al yang sudah terlihat kusut dan memal. Bia tahu pasti Al sudah mencarinya tadi. Tidak bisa membayangakan sepanik apa Al tadi.


" Maaf, Mas. " pinta Bia sedih.


" Maaf kenapa ? Aku yang harusnya minta maaf karena gak bisa menjagamu dengan baik. Aku lalai Bi. Maafkan aku Bi. " bisik Al pelan. Hanya terdengar oleh Bia.


Bia menggelengkan kepalanya pelan.


" Apa ada yang terluka ? Apa mereka menyakitimu ? " tanya Al smebari melepaskan pelukannya dan memindai wajah dan tubuh Bia. Mengusap wajah dan bibir Bia. Seolah ingin menghapus bekas sentuhan Ayden tadi.


" Aku baik-baik saja Mas. Maafkan aku. " jawab Bia.


" Kenapa minta maaf padanya ? Harusnya dia yang minta maaf padamu karena gak bisa menjagamu. Sampai akan menjadi korban jual beli perempuan. " sindir Alex.


" Apa ?!! " seru Azalea kaget.

__ADS_1


" Alex benar Bi. Aku minta maaf. " bisik Al sembari mencium kening Bia.


" Ckkk,, kenapa kalian malah bermesraan disini ?! " geruttu Alex kesal.


Mark dan Naya kembali tertawa. Bahkan Mark memukul lengan Alex yang masih terlihat kesal.


" Aaahh,, aku tahu gimana caranya biar kamu bisa marah Al. " celetuk Alex.


" Alex. " tegur Naya.


" Aku yakin Al pasti akan berterima kasih padaku nanti Tante. " jawab Alex santai. Lalu memberikan kode pada anak buahnya.


" Aku tentu saja harus berterima kasih padamu. Kamu sudah menyelamatkan istriku. " ucap Al tulus sambil masih mendekap Bia posesif.


" Belum, Al. Belum waktunya berterima kasih. Lihat dulu hadiah dariku. " gurau Alex.


" Hadiah ? " sahut Al dan Bia bingung.


Lalu mereka dikejutkan dengan kedatangan beberapa pengawal Alex yang membawa Ayden dan Sesil kearah mereka.


Al tersenyum sinis pada Ayden yang sudah terluka di bibirnya.


" Mas,, " panggil Bia pelan sambil mencengkram kemeja belakang Al.


" Sebentar saja. Aku akan baik-baik saja. Tnenaglah."


hibur Al sembari melepaskan cengkraman Bia di kemejanya.


" Gak. Mas pasti bohong. Udah gak usah kesana. " gumam Bia.


Mau tak mau Bia melepaskan tangannya dari kemeja Al. Apalagi wajah Al yang sudah berubah. Dari yang semula tersneyum padanya. Sekarang menjadi merah karena menahan amarahnya.


Benar saja. Al langsung memukul Ayden tanpa ampun hingga dia babak belur. Tapi tak juga mau melepaskan Ayden. Bia mendekat dan memeluk Al dari belakang.


" Sudah,, sudah, Mas. Hentikan. Aku yang malah takut. Aku mohon. Hentikan. " pinta Bia sambil menangis.


Al menenangkan diri. Menetralkan nfasnya yang masih ngos-ngosan. Beberapa pengawal membantu Ayden untuk berdiri.


" Aku pikir kamu sahabatku, Ayden. Tapi kamu menghacurkan kepercayaanku. Kamu bahkan menculik istriku. Beraninya menyentuh istriku. Aku gak sudi berteman denganmu lagi !! " bentak Al marah.


Al membalikkan tubuhnya dan memeluk Bia yang memang terlihat ketakutan. Bahkan tubuhnya gemetaran.


" Maafkan aku Bi. " pintanya.


Semuanya menatap Wimpi yang tengah menjabat tangan Sesil dengan tatapan tajam.


" Tidak,, tidak,,, jangan,,, jangan,, apa yang kau lakuakan. Jangan,,, aku mohon,, " rengek Sesil sembari berusaha melepaskan tnagan Wimpi.


Tapi Wimpi seolah tuli dengan rengekan Sesil. Ekpresi wajahny sangat datar. Membuat semua ornag disana bingung, kenapa Sesil terlihat snagat kesakitan saat berjabatan tangan dengan Wimpi. Padahal Wimpi tidak mencengkram tnagannya, sangat biasa.


" Aku sudah pernah bilang, jangan ganggu Non Bia dan keluarganya. Aku serius dengan ucapanku waktu itu." geram Wimpi.


" Maaf,,, maafkan aku. Aku mohon ,, jangan lakukan ini. Aku sedang hamil. " rintih Sesil.


" Justru karena kamu sedang hamil, aku membantumu agar tidak melakukan kejahatan lagi. " seru Wimpi.


" Tidak,, tidak,, jangan,, biarkan satu itu,, aku mohon. " rengek Sesil.

__ADS_1


Wimpi tersenyum sinis. Lalu melepaskan jabatan tangannya dengan Sesil. kemudian memukulkan telapak tangannya di batang pohon palem besar yang ada di taman Alex.


Bia tersentak saat melihat perubahan warna kulit telapak tangan Wimpi. Setelah melepas jabat tangannya dengan Sesil, telapak tangan Wimpi menjadi hitam pekat. Dan setelah memukul batang pohon palem itu, tangannya kembali normal.


" Apa yang dilakukan bodyguard kamu itu Bia. Kenapa wanita itu seperti kesakitan. Apa sehebat itu bodyguard kamu. " sindir Alex sedikit bergidik ngeri.


Azalea tersenyum simpul.


" Tentu saja dia hebat. Kalo dia tidak hebat, Al tidak mungkin menempatkannya menjadi pengawal Bia. "


Alex mendnegus kesal. Karen bodyguardnya tidak ada yang sehebat Wimpi.


" Aku berikan cincin pengasihanmu pada laki-laki itu. Setidaknya dia harus bertanggung jawab pada kehamilanmu. " kata Wimpi saat sudah bisa membuang ilmu hitam yang dimiliki Sesil.


" Terima kasih. " jawab Sesil tulus.


" Aku minta maaf Tuan Al, Non Bia. " pinta Sesil sendu.


" Bawa dia pergi. " kata Alex pada pengawalnya.


Pangawalnya langsung membawa Ayden yang babak belur keluar taman bersama Sesil.


Wimpi mendekat ke arah Bia yang masih menangis di pelukan Al.


" Maafkan kelalaian syaa Non Bia. " pinta Wimpi.


" Kak Wimpi gak salah. Aku tahu Kak Wimpi pasti tahu dimana aku berada. " jawab Bia sambil menggenggam kedua tangan Wimpi yang saling bertautan karena khawatir Bia tidak akan memaafkannya.


" Terima kasih, Non Bia. "


" Apa yang terjadi pada Sesil Kak ? " tanya Bia pelan.


Al mendekat kearah Wimpi dan Bia. Kembali mendekap Bia erat.


" Saya hanya mengambil semua ilmu yang dia miliki Non. Termasuk dengan susuk pelet yang dipasang di bibirnya. " jawab Wimpi.


" Susuk pelet ? "


" Itu untuk membuat laki-laki yang bertemu dengannya selalu teeingat padanya. "


" Sama kayak cincin pengasihan tempo hari ? "


" Iya Non. Satu paket. " gurau Wimpi.


" Kamu yakin ilmunya sudah hilang dari Sesil ? " tanya Al memastikan.


" Iya Tuan. Cincin pengasihanya aku pasang di cincin Tuan Ayden. "


" Kenapa ? "


" Setidaknya Tuan Ayden harus mempertnaggung jawabkan apa yang dilakukannya pada Sesil. "


" Tanggung jawab ? " tanya Bia tidak mengerti.


" Sesil hamil dari hubungannya dengan Tuan Ayden. "


Al dan Bia saling berpandangan kemudian smaa-sama menghela nafas panjang.

__ADS_1


__ADS_2