Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 46


__ADS_3

Al menoleh kearah Bia selesai salam dan berdoa. Dia mendengar isakan Bia.


" Apa ada yang sakit ? " tanyanya sembari berdiri dengan lututnya didepan Bia.


Bia menggeleng, tak juga membuka wajahnya yang tertutup kedua telapak tangannya. Ada ketakutan yang tiba-tiba memebuat hatinya terasa sangat nyeri.


' Bagaimana kalo saat sholat tadi, Clara atau Ghazzy melihatnya. Apa yang harus dia katakan ? Bagaimana kalo nanti Al semakin berharap untuk bisa bersama dengan Bia ? Bagaimana dengan perasaan Clara dan Ghazzy ? '


Al menurunkan kedua tangan Bia dengan paksa. Dan menggenggamnya meskipun terhalangi mukena.


" Kenapa ? " tanya Al pelan.


" Aku gak enak sama Kak Clara dan juga Mas Ghazzy. Ini salah. "


Al menghembuskan nafas kesal.


" Bukannya setelah salam selalu diakhiri dengan salim pada Imamnya ? "


Bia menatap Al , berharap semoga pikirannya salah. Al tidak mengharapkan dia mencium punggung tangannya kan ?


Al mengambil tangan Bia dan membuatnya mencium tangannya. Bia kembali tersentak kaget. Bingung dengan respon Al. Apalagi dia tampak terlihat sumringah.


" Harusnya Kak Clara yang menjadi makmum kamu Mas. Ingatkan aku untuk minta maaf pada Kak Clara." tegur Bia.


" Aku antar ke kamar anak-anak. " katanya dan beranjak berdiri dibelakng kursi roda Bia.


Alis Bia berkerut.


Sebenarnya Al kenapa sih ? Setiap aku membahas Kak Clara dia pasti menghindar.


Mata Bia dan Clara bertemu saat Al membuka pintu kamarnya. Bia sudah mau bicara tapi keburu Clara mengalihkan tatapannya dan mendekap Azalea yang terlihat sedih karena Al masih mendiamkannya.


" Bundaaaa !!!! " seru Faiz sembari merengek ingin turun dari gendongan Leon.


" Mas ,,, sayang. " panggil Bia dengan lembut dan mata berkaca-kaca. Senang melihat Faiz akhirnya sadar.


Al membungkuk.


" Ada apa Bia ? Apa kamu memerlukan sesuatu ? " tanya Al.


Bia terkekeh sejenak begitupun dengan Zaskia dan Clara yang mendengarnya. Bia meraih tangan Faiz dan menggendongnya.


" Bunda,,, maaf Bunda.. "


" Mas Faizz,, Mas Faiz,, lihat Bunda. " kata Bia sembari melirik Al supaya mengerti.


Faiz mengendurkan pelukannya tapi tangannya masih memeluk leher Bia.


" Mas Faiz,, minta maaf kenapa ? "


" Pasti karena Mas Faiz banyak gerak di motor. Makanya Ayah, Bunda dan Adek Fawwaz jatuh. Maaf Bunda. "


" Eeehhh,, mas Faiz gak nakal kok sayang. Kemarin, ada mobil yang pak supirnya mengantuk dan menabrak kita. Mas Faiz gak salah kok. "


" Truss,, kenapa Ayah dan Adek Fawwaz masih belum bangun ? Bunda juga kenapa duduk dikursi roda ? "


Hati Bia kembali terasa nyeri. Sadar kalo Fawwaz masih belum keluar dari masa kritisnya.


" Bunda kakinya sakit. Sementara gak bisa jalan dulu. Mas Faiz,, mau kenalan sama seseorang ? " tanya Bia.


" Sama siapa Bunda ? "


" Sama Papa. " jawab Bia sambil melihat kearah Al yang masih duduk disampingnya.


Faiz mengalihkan pandangannya pada Al. Keduanya saling bertatapan. Al sampai terduduk di lantai karena kaget.


Azalea dan Zaskia saling mendekap dan menangis. Begitupun dengan Clara. Tian dan Leon memghela nafas.


" Bunda,, kok matanya sama kayak mata adek Fawwaz ? "


Bia terharu sejenak kemudian tersenyum.


" Mata Mas Faiz juga sama kok. "


" Iya Bun ? "


Bia mengangguk.


" Kok bisa Bun ? "


Bia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung bagaimana menjelaskannya.


" Dia siapa Bun ? "


" Ini,, Papa Al. "


" Papa,, Papa ? " panggil Faiz.


Tapi Al terlalu larut degan rasa rindunya dengan panggilan itu. Dia hanya terdiam.


" Kok Papa diam saja Bun ? "


" Mas,, Mas Al,, ! " panggil Bia sembari menepuk tangan Al.


" Kok Bunda panggil Mas sih. Katanya dia Papa Al. "


" Aaahh iya. Maaf Bunda slaah. Maksudnya Papa. Papa Al. " ralat Bia sambil mencubit telpaak tangan Al agar tersadar.

__ADS_1


" Salim dulu sayang. "


" Papa,,, " panggil Faiz sembari mengulurkan tangannya.


Al meraih tangan itu dan menciuminya dengan tangis haru.


" Bunda,,, kok Papa nangis ? "


" Papa kangen Mas Faiz. Kan sejak Mas dan Adek kecil belum pernah ketemu. " jawab Bia sendu.


" Boleh aku menggendongnya Bi ? "


Bia mengangguk.


" Bi ? Bunda,, ini Bunda Papa. " tegur Faiz.


" Iya. Bunda. "


Tatapan Faiz bertemu dengan Clara yang tengah tersenyum tapi menangis di belakang Al.


" Mama Ara,, " panggil Faiz sambil melambaikan tangannya pada Clara.


" Mas Faiz. Mau jalan-jalan gak ? " tanya Bia.


" Mau,, mau Bun. Tapu Bunda masih sakit. "


" Kan ada Papa sama Mama Ara . Mau jalan-jalan sama mereka ? "


Faiz menatap Al dan Clara bergantian. Kemudian melihat Bia.


" Boleh Bun ? "


" Tanya ke Papa sama Mama dong. Mau gak ajak Mas Faiz jalan-jalan ? "


" Papa,, Mama,, boleh Mas Faiz ikut jalan-jalan ? "


" Boleh dong sayang. " jawab Clara senang.


" Tentu dong. Anak Papa mau jalan-jalan kemana ? "


" Bunda,,Mas Faiz pengen bubur ayam. "


" Minta antar Papa dan Mama untuk beli ya Mas. Jangan lupa beliin juga buat Oma, Opa Leon, Tante Kia dan Om Tian. "


" Siaaappp Bunda. Papa dan Mama,, tidak apa-apa uangnya habis nanti ? "


Semuanya terkekeh. Al hanya mengangguk sambil menghapus air matanya.


" Eeehhh,, kok gak salim dulu. Salim ke semuanya dulu. Minta tolong Opa Leon untuk membuka infusnya dulu sayang. "


Faiz mengangguk dengan semangat. Apaalagi Al menggendongnya dan mengarahkannya pada Leon untuk membuka infusnya. Dia mengantarkan Faiz untuk bersalaman dengan semua orang disana.


kata Bia mengingatkan.


" Siaappp Bunda. "


" Salam dulu dong ! " tegur Clara.


" Assalamualaikum. "


" Waalaikumsalam. "


Al menatap Clara dengan bingung. Apalagi baru menyadari kalo Clara tengah memakai baju gamis dan juga berjilbab sama seperti Bia.


------


" Bia, ada gumpalan darah di otak Ghazzy karena benturan saat kemarin terjatuh. " kata Leon saat melihat Faiz, Al dan Clara sudab tidak nampak lagi.


" Apa ? Lalu bagaiman keadaan Mas Ghazzy sekarang Om ? " tanya Bia khawatir.


Kecemasannya pada keselamatan Fawwaz belum juga berkurang sekarang bertambah keselamatan Gahzyy.


" Kita harus segera mengeluarkan gumpalan darah itu. Aku butuh tanda tnagan persetujuanmu. "


Bia segera menanda tangani prosedur rumah sakit yang disodorkan Leon. Zaskia memegang pundak Bia agar tabah.


" Kapan operasinya dilakukan Leon ? " tanya Azalea.


" Nanti siang. Aku harap setelah operasi. Aku bisa segera melakukan tindakan pada Fawwaz. "


" Semoga Al tidak keras kepala lagi. " celetuk Azalea.


" Oh iya. Soal Al. Ada yang ingin aku katakan tapi, tunggu dokter Bima saja. "


" Dokter Bima ? " tanya Bia.


" Bukannya dia dokter ynag menangani kasus Al dulu ?" tanya Azalea memastikan.


" Iya Lea. "


" Memangnya ada aapa ? " tanya Zaskia bingung.


" Ahh itu dokter Bima. Silahkan dokter. Apa kita perlu ke ruangan syaa ? " tanya Leon saat menjabat tangan seorang dokter yang masuk keruang VVIP.


" Tidak usah dokter Leon. Disini aja. Biar tidak terlalu formal. "


Leon hanya mengangguk. Dokter Bima menatap ketiga wanita didepannya.

__ADS_1


" Bia ?? " taanyanya sambil menunjuk ke arah Bia yang mengangguk bingung.


" Silahkan duduk Nyonya Lea dan Zaskia . Benar kan. "


Azalea dan Zaskia hanya twrsneyum. Kemudian duduk disamping Bia. Tian dan Leon masih berdiri di depan keempat orang itu.


" Ada apa dengan Al, Dokrer ?" tanya Azalea.


" Tuan Al,, heeemmm,, complicated Nyonya. "


" Kenapa ? "


" Dia membangun tembok besar untuk menutup jati dirinya sendiri. "


" Maksud dokter ? Aku gak ngerti. " jawab Zaskia gak sabar.


" Sabar Kia. " tegur Zaskia.


" Dia menyembunyikan dirinya sendiri. Ehhhmm,, keinginannya mungkin lebih tepatnya. Dia sudah mendoktrin pikiran dan hatinya untuk selalu membahagiakan Mama dan adiknya. Memenuhi semua keinginan kalian. Dan menekan semua keinginan pribadinya. "


" Kenapa seperti itu ? " tanay Zaskia terharu.


" Seperti berusaha agar tidak ada yang akan menyakiti kalian. "


" Lalu apa hubungannya dengan Bia ? " tanya Tian.


" Bia. Apa Al pernah bercerita tentnag masa lalunya ?" tanya Leon penasaran.


Bia terdiam. Mengingat-ingat semua yang dilaluinya bersama Al. Dan pikirannya teriingat saat Al ulang tahun dan dia menanyakan tentang luka sayatan di pergelangan tnagannya.


" Aaah iya. Waktu itu, aku menanyakan tentang bekas luka sayatan di pergelangan tangannya. "


" Apa yang dia katakan. "


" Eeehhhmm,, itu sudah lama sekali dokter Bima. "


" Cobalah untuk mengingatnya Bia. " seru Leon.


Bia kembali terdiam. Saat melihat Azalea mengangguk , Bia menghela nafas panjang.


" Kalo tidaks salah ingat sih. Waktu itu aku tanya, kalo setiap hari Mas Al mendapatkan penyiksaan dari almarhum Papanya. Apa tidak pernah terfikir untuk kabur waktu itu ? "


" Lalu apa jawaban Al Bia ?" tanay Azalea dengan suar tercekat.


" Eeehhmmm,, dia takut kemarahan Papanya akan beralih ke Mama. Mas Al takut kalo dia kabur, Mama akan menjadi korban pelampiasan kemarahan Papa."


Penjelasna Bia membuat dokter Bima dan dokter Leon sama -sama tersnyum dan mengangguk.


" Lalu,,, setiap kali kalian berdebat atau bertengkar dnegan Al selama ini selalu karena Bia kan ? Dan selalu menyudutkan Clara karena beranggapan dia telah membawa pengaruh buruk pada Al. " jelas Leon.


Azalea dan Zaskia mengangguk.


" Iya. " jawab mereka kompak.


" Kita dapat jawabnnya dokter Leon. " seru dokter Bima sembari menepuk lengan Leon yang tengah berdiri.


" Aku masih gak ngerti dokter. Lalu hubungannya apa ? " tanya Bia.


" Entah sejak kapan Al menyembunyikan perasaannya direlung terdalamnya. Dan keingannya yang ingin sellau membahagiakan Mmaa dan adiknya. Membuatnya,, seolah mengharuskan hati dan pikirannya terpenuhi oleh Bia. Dia membuat dirinya mencintai Bia seperti yang diinginkan Mama dan adiknya. " jelas dokter Bima.


Penjelasan itu tentu saja membuat ketiganya terpaku.


" Lalu apa yang harus kita lakukan untuk mengembalikan ingatan Kak Al tentang perasaannya pada Clara. Dia tidak bisa terus-terusan terobsesi pada Bia. Akan semakin berbahaya kedepannya nanti. Membahayakna Bia dan juga rumah tangganya sendiri. " kata Tian.


" Kamu benar Tian. Itu yang selama ini aku pikirkan. Aku melihat Al , seolah menganggap Bia masih sebagai istrinya. Karena ittu, kekhawatirannya terlalu berlebihan. Meskipun tidak aku pungkiri ada ikatan batin antara Al dan juga si kembar. " kata Leon menambahkan.


" Untuk saat ini,, mungkin kita harus membiarkannya bertindak sesuai dengan pikirannya. Mungkin juga ada postifnya, kita jadi lebih mudah untuk membujuknya melakukan transfusi darah. "


" Lalu bagaiamna nantinya ? " tanya Zaskia.


" Sepertinya itu menjadi tugas Bia. " jawab Leon.


" Aku ? Apa yang harus aku lakukan ? "


" Tidak usah direncanakan Bia. Mengalir apa adanya saja. " jawab Bima.


" Maksud dokter ? "


" Sama seperti yang kamu lakukan tadi Bia. Memberikan waktu untuk untuk Al dan Clara berduaan. Tanpa dia bisa menghindar, seperti tadi. Karena ada Faiz, tentu saja Al tidak bisa menghindarinya. " jelas Leon.


" Iya. Dokter Leon benar. Harus ada perantara diantara mereka yang Tuan Al tidak bisa menghindar. Agar dia bisa meruntuhkan tembok itu. Agar dia bisa menemuka jati dirinya. Menemukan keinginannya sendiri. "


" Lalu bagaimana dengan obsesi Kak Al pada Bia ? " tanay Tian memastikan.


Karena sedari tadi yang ditangkapnya, hanya untuk menyelamatkan rumah tangga Al dan clara. Bagaimana dengan perasaan Ghazzy nanti ?


" Untuk saat ini, memang hanya Bia yang tahu caranya. Karena Al hnaya mau mendengarkan apa yang Bia katakan. " jawab Leon.


" Bagaimana dnegan Kak Clara ? Aku gak mau ada keslaah fahaman antara aku dan Kak Clara. Aku isa menjelaskan pada Mas Ghazyy nantinya. Lalu bagaiamna dnegan Kak Clara ? "


" Aku yang akan bilang padanya. " jawab Azalea.


" Tidak. Tidak. Jangan kamu Lea. Beban pikiranmu sudah terlalu banyak. Aku yakin kamu sekarnag makin merasa berslaah apda Al. "


Azalea menunduk. Tidak butuh waktu lama untuk menangis. Zaskia mendekapnya iba.


" Biar aku yang mengatakannya pada Kak Clara. Aku yang terlalu membencinya dulu. Sekarang aku harus mempertanggung jawabkannya. " tegas Zaskia.

__ADS_1


Tian mengusap kepala Zaskia bangga. Karena istrinya mau mengakui kesalahannya dan mempertanggung jawabkannya.


__ADS_2