
Langkah Al berhenti sejenak saat melihat Azalea dan Zaskia sedang tertidur didepan kamar Bia. Wajah Azalea yang tampak lelah membuat Al menunduk sedih.
Dia tersadar sudah terlalu larut dengan perasaannya pada Bia sampai melupakan Mama dan adiknya. Rasa rindu pada mereka masih belum bisa mengalahkan kemarahannya.
Setelah memperbaiki selimut Azalea dan Zaskia, Al beranjak menuju kamar Ghazzy. Disana dia tersentak kaget saat melihat Ghazzy sudah terbangun dan tengah sholat.
Ghazzy tersenyum saat melihat Al masuk ke kamarnya. Dan duduk di kursi disamping ranjangnya. Wajahnya sudah terlihat lebih cerah.
" Maafkan aku sudah merepotkanmu. " kata Ghazzy menghilangkan kecanggungan di antara mereka.
Al mengangguk lemah dan menunduk.
" Apa kamu sudah bertemu dengan anak-anak ? "
" Hanya Faiz. Aku belum bertemu dengan Fawwaz. Kata Om Leon, dia masih dalam pemantauan. Jadi tidak boleh dijenguk dulu. "
" Benarkah ? Pasti Faiz sedih melihat Fawwaz belum bangun juga. "
" Iya. Dan dia minta maaf pada Bundanya karena berfikir dia terlalu banyak gerak sewaktu dimotor kemarin sampai kalian terjatuh. "
" Oh iya ? Hahhaa Faiz memang lebih peka. "
Al kembali menunduk. Lalu Ghazzy teringat video saat mereka baru dilahirkan Bia.
" Al,, bisa minta tolong. Ambilkan ponselku ? "
Al menoleh dan celingukan mencari ponsel Ghazzy yang ada di laci nakas. Dia memberikannya pada Ghaazzy.
Ghazzy tersenyum sekilas setelah beberapa saat mengotak atik ponselnya.
Satu pesan terkirim di ponsel Al. Dia mnegrnyit saat melihat pesan itu dari Ghazzy.
" Apa ini ? "
" Masih loading. Itu video saat Bia melahirkan. Kia merekam semuanya. "
" Benarkah ? Aku akan melihatnya nanti. "
Ghazzy mengangguk sambil tersenyum. Apalagi saat melihat Al hanya menunduk menghindari tatapannya.
" Apa sudah sedikit lebih baik ? "
Al mendongak.
" Maksudnya ? "
" Perasaanmu pada istriku. Apa sudah bisa melupakannya ? "
Al tersenyum getir.
" Terpupuk dengan subur. " jawabnya pasti.
" Setelah dua tahun ? "
Al hanya mengangguk.
" Dan masih mengacuhkan Clara ? "
" Seperti yang kamu bilangkan. Aku masih belum bisa melupakan Bia. Kontak fisik yang aku lakulan dnegan Clara, selalu diakhiri dengan menyebut nama Bia. "
" Kamu mendholimi istrimu Al. "
" Apa boleh buat ? "
__ADS_1
" Karena itu kamu tidak pernah menyentuhnya lagi ? "
" Sepertinya kamu sangat perhatian pada rumah tanggaku. "
" Aku tidak sengaja mendengarnya saat Clara bercerita pada Kia. "
Al tertawa.
" Aku mencintai Bia. Aku tidak pernah mengucapkan talak pada Bia. Aku masih merasa dia istriku. "
" Kamu salah. Aku juga salah. Kita salah tentang pernikahan kontrak dulu. Aku salah karena tidak mencari tahu tentang hukumnya. Jangan semakin larut dalam kesalahan kita Al. Jangan menyesal untuk kedua kalinya dengan pernikahanmu."
" Apa kamu tahu segila apa aku merindukan Bia selama ini ? "
" Aku tahu. Segila saat aku jauh dari istriku dan membayangkan istriku berhubungan dengan laki-laki lain selama enam bulan. Segila saat aku mengantarkan kamu yang dibawah obat perangsang menemui Bia untuk meminta hakmu sebagai suaminya. Dan apa kamu tahu, rasanya aku ingin membunuhmu setelah Bia di operasi sumsum tulang belakang. "
Al menatap Ghazzy dengan tajam. Seolah bermaksud karena alasan apa ?
" Gimana bisa kamu melakukan KDRT pada istriku ? "
Al menunduk.
" Maafkan aku. Saat itu aku mabuk. "
" Kamu sadar kalo kamu mabuk selalu melakukan kekerasan fisik pada orang-orang disekitarmu. Tapi kenapa kamu gak juga mau berhenti ?! "
" Dulu, aku selalu mengalami dipukuli Papaku setiap malam. Apalagi saat dia mabuk. Ternyata itu membuatku trauma dan trauma itu membuatku semakin seperti Papaku. Butuh waktu lama aku akhirnya mengambil keputusan untuk menemui psikiater. Itu pun karena aku menyadari telah mulai mencintai Bia. "
" Tapi,, kenapa harus Bia yang selalu kamu jadikan pelampiasanmu. "
" Aku gak tahu. "
Ghazzy menunduk menetralkan emosinya. Begitupun Al yang menunduk karena rasa bersalahnya pada Bia dan Ghazzy.
" Aku tahu tidak akan pernah adil. Seperti perasaanku pada Bia, aku tidak tahu kapan akan berakhir. "
" Karena kamu gak pernah mencobanya. "
" Gak pernah ? Dua tahun, dan itu gak berhasil. "
" Lalu,, apa yang akan kamu lakukan ? "
" Membiarkan aku dengan perasaanku. "
" Kamu yakin ? "
Al mengangguk pasti.
" Lalu bagaimana dengan Clara ? "
" Aku akan menceraikannya. "
" Semudah itu ?! "
Al menatap Ghazzy saat melihat tangannya tengah terkepal.
" Sampai kapan kamu akan seegois itu !! " bentak Gahzzy marah.
" Apa maksudmu ? "
" Kamu ingin semua orang respect dengan perasaanmu pada Bia. Lalu, Clara ? Kamu sudah tahu kalo dia mencintaimu. Apa kamu gak berfikir, gimana dnegan perasaannya nanti ? Lalu orang tuanya ? Kamu gak memikirkan perasaan orang tua Clara ? "
" Aku tahu gimana tersiksanya memendam perasaan pada orang yang salah. Karena itu, aku akan melepaskaannya. "
__ADS_1
" Kamu,, perasaanmu yang salah ! Tapi Clara mempunyai perasaan pada suaminya sendiri. Dimana kesalahan Clara ? "
" Sejak awal memang pernikahan kami salah. Ini bukan kesalahannya. Aku akui, ini salahku. Sejak awal saat aku menyadari perasaanku pada Bia, aku tahu ini juga salah. Jadi, salahkan saja aku. Kalian semua benar. Aku egois. "
" Clara punya cara sendiri untuk mempertahankan miliknya. "
Alis Al berkerut mendengarnya.
" Apa maksudmu ? "
" Dia memintamu pada pemilikMu. "
Al sedikit tertegun dengan maksud Ghazzy. Dia kembali menatap Ghazzy bingung.
" Pemilikku ? Maksudnya Mama ? "
Ghazzy terkekeh sejenak. Kemudian menatap Al.
" Allah. " jawab Ghazzy singkat tapi penuh ketegasan.
jawaban Ghazzy membuat Al merinding. Ketegasan Ghazzy mampu menggetarkan hatinya. Tapi Al juga tersenyum dengan jawaban Ghazzy. Inilah jawaban dari perasaannya selama ini. Inilah solusi terbaik tanpa menyakiti siapapun nantinya.
Ada satu keinginan kuat dalam hatinya, dia juga menginginkan Bia. Dia juga ingin meminta Bia pada pemilikNya. Dimana Ghazzy atau siapapun juga tidak punya hak untuk melarangnya. Bahkan Bia sendiri.
" Kalo begitu,,, apa aku bisa melakukan hal yang sama pada Bia ? " tanya Al getir.
Ghazzy tercengang. Tidak menyangka Al sekeras kepala itu untuk tetap mempertahankan perasaannya pada Bia.
" Lakukan saja apa yang kamu mau. Kita lihat saja doa siapa yang akan dikabulkan Allah. Kita semua melangitkan harapan yang sama. Clara mengharapkan samawanya bersamamu. Aku dan Bia, tentu saja pun melangitkan harapan yang sama untuk bisa sakinah mawadda dan warrahmah sampai kami meninggal. "
Al kembali dibuat merinding dengan perkataan Ghazzy. Ada sedikit pesimis dihatinya dengan pengharapan Ghazzy dan Bia. Tapi kembali diyakinkannya hati Al saat ini.
" Kita serahkan saja pada pemilik hati kita. Akan kemana takdir Allah membawa kita nantinya. Siapapun tidak berhak melarang kita. " kata Ghazzy sembari menunduk.
Ada ketakutan dihatinya, kalo Bia akan luluh pada Al yang mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dia.
" Sampai saat itu tiba. Aku harap kamu mengijinkan aku untuk menemui anak-anakku. " kata Al.
" Hanya anak-anak ? " tanya Ghazzy memastikan.
" Dan juga,, Bia. "
" Kamu sendiri meragukan dirimu sendiri. "
Al terdiam. Ada rasa ragu untuk menemui Bia nantinya. Dia takut tidak bisa menkontrol perasaannya nanti.
" Kenapa ? Kamu takut lepas kontrol saat menemui Bia ? Atau kamu takut menghadapi kenyataan kalo nanti Bia gak mau bertemu denganmu lagi ? "
" Gak !!! " jawab Al tegas.
Ghazzy tertawa sejenak.
" Aku rasa Faiz dan Fawwaz sudah sangat bahagia memiliki satu Bunda dan satu Mama. Juga satu Ayah dan satu Papa. Aku harap kamu mengerti maksudku. "
" Kita lihat saja nanti. " jawab Al.
Dia melihat video kelahiran Si Kembar. Al ikut menangis saat melihat Bia yang kesakitan. Mama dan Adiknya yang menangis karena bahagia. Kemudian ikut tertawa saat Bia protes karena Kia bilang tidak mirip dengan Al sama sekali. Sampai di akhir video, Ghazzy memperlihatkan kedua mata si kembar sama dengan mata Al.
" Terima kasih. Karena memberikan namaku pada mereka. " ucap Al tulus.
" Mereka juga anak-anakmu. " jawab Ghazzy.
" Tapi, Bunda mereka hanya milik Ayah mereka. " tegas Ghazzy.
__ADS_1
Membuat senyum diwajah Al menghilang perlahan.