Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 84


__ADS_3

Setelah menjadi Imam sholat maghrib. Dan memimpin dzikir sebentar. Al menghampiri Azalea yang tengah memperbaiki baju koko Faiz dan Fawwaz.


Azalea menatap ke arah Al bingung.


" Maafkan aku, Ma. Karena selama ini sudah mengacuhkan dan mendiamkan Mama. " kata Al sembari meraih tangan Azalea dan mencium telapak tangannya lama.


Zaskia mendekap Bia dengan rasa haru yang tiba-tiba menyergap. Apalagi saat mendengar Azalea tengah terisak. Begitupun Al yang masih enggan melepaskan ciumannya pada telapak tangan Azalea.


Teringat bagaimana sikapnya selama ini pada Azalea. Selalu menyakiti dengan kalimat-kalimat pedas yang diucapkannya.


" Mama memaafkan kamu, Al. " kata Azalea di sela keharuannya. Sambil menarik tubuh Al agar tegap.


Al meraih Azalea dalam pelukannya. Membiarkan Azalea terisak sejenak.


" Mama,, hanya ingin melakukan yang terbaik untukmu Al. Maafkan Mama karena tidak memperdulikan bagaimana perasaanmu. " pinta Azalea.


Al mengeratkan pelukannya.


" Maafkan Al, Ma. Aku terlalu egois selama ini. "


Faiz dan Fawwaz yang bingung mendekat pada Bia.


" Bundaa,, kenapa Papa menangis ? " tanya Faiz.


" Oma Lea juga menangis Bunda. " sahut Fawwaz.


" Kalo kita merasa bersalah pada seseorang, pasti akan menangis waktu minta maaf pada seseorang itu kan Mas, Adek. " jelas Bia.


" Papa punya salah sama Oma ya Bunda. " tebak Fawwaz.


" Iya. Karena itu Papa harus minta maaf. "


" Papa punya salah apa Bunda ? " tanya Faiz heran.


" Papa marah-marah pada Oma, tanpa mendengarkan penjelasan Oma. " jawab Bia.


Faiz dan Fawwaz manggut-manggut mengerti. Lalu Faiz mendekat ke arah Al dan Azalea yang masih bertangisan sembari memberikan tisu.


" Papa,, sudah lepasin Oma. Nanti Oma nangis terus. " seru Faiz sembari menarik tangan Al.


Zaskia terkekeh melihatnya.


" Papa,, jangan marah-marah ke Oma lagi ya. " tegur Fawwaz.


Al melepaskan pelukannya dan tertawa melihat Faiz yang menyodorkan tisu padanya dan Azalea.


" Papa,, kenapa bisa menangis ? " tnaya Faiz bingung sembari menghapus sisa air mata Al di pipinya.


" Memangnya kenapa Mas Faiz ? " tanya Zaskia heran.


" Kan Papa laki-laki. Masa laki-laki bisa nangis Tante." jawab Faiz.


Spontan Zaskia tertawa mendengar jawaban Faiz. Sedang yang ditertawakan menjadi manyun.


" Setiap orang bisa menangis Mas. Baik itu laki-laki ataupun wanita. " jelas Al sambil mendudukkan Faiz di pangkuannya.


" Kenapa bisa begitu ? Aku sering melihat Bunda menangis sewaktu Ayah dan Adek Fawwaz sakit dulu. Dan baru kali ini aku melihat Papa ternyata juga bisa menangis. " kata Faiz masih penasaran.


" Bunda dulu sering menangis ya. Sekarnag, gak boleh buat Bunda menangis ya. Kita harus membuat Bunda selalu tersenyum. Oke ? " kata Al sembari menatap Bia yang tengah menghapus air matanya disaat bibirnya tersenyum.


" Oke, Papa. " seru Fawwaz yang masih duduk di smaping Azalea.


Bia tersenyum haru.


" Kenapa pertanyaan Mas Belum dijawab Pa ? Kenapa laki-laki juga bisa menangis ? " keluh Faiz kesal.


" Heeeemmm,,, sepertinya,, pertanyaan kamu lebih cocok ditanyakan ke Opa Leon, Mas. " jawab Al keki.


" Opa Leon ? " tnaya Faiz.


" Iya. Tulis apa yang Mas ingin tanyakan. Nanti kalo kita mengunjungi Opa Leon, mas Faiz bisa menanyakannya. " usul Al.


" Tapi,, Mas kan belum bisa menulis Pa. "


" Kan bisa belajar ke Bunda, Oma atau ke Tante Kia. "


" Siaaappp !!! "


*****


Bia mengernyitkan alisnya heran. Melihat Bik Leny nampak tidak suka padanya. Setiap kali berpapasan dengan Bia pasti Bik Leny akan mengalihkan pandnagannya. Bahkan tidak menyapa Bia smaa sekali. Jangankan memanggil namanya, hanya sekedar mengangguk untuk menyapa Bia pun Bik Leny rasanya enggan. Padahal sudah hampir satu bulan dia berada di rumah Clara. Tapi tidak sekalipun Bik Leny mau berbicara pada Bia.


Seperti sekarnag ini, niatnya ingin membantu Bik Leny menyiapkan makan malam. Tapi dia sepertinya enggan berdekatan dengan Bia. Akhirnya Bia mengalah dan bersikap acuh pula.


" Kenapa sikapmu pada Non Bia seperti itu ? " tamya Wimpi tidak suka.

__ADS_1


" Seperti itu bagaimana ? Sikapku sama sepeerti pada Nyonya besar dan Nyonya Kia. " jawab Leny acuh.


" Sepertinya kamu gak suka dengan Nona Bia. "


" Memang apa hakmu bertanya seperti itu ? Dia itu cuma pelakor, bahkan dia merebut perhatian keluarga Nona Clara. Aku gak nyangka ternyata si kembar ank hasil perselingkuhan mereka selama ini. Bahkan Nona Clara terlihat snagat menyayangi mereka. "


" Heyy,, jaga mulutmu. Tidak ada pelakor dirumah ini. Dan anak-anak juga bukan hasil perselingkuhan. Kalo kamu gak tahu apa-apa tentang majikanmu. Lebih baik kamu diam. " tegur Wimpi kesal.


" Kalo mereka bukan hasil perselingkuhan. Lalu, apa Nona Clara yang telah menjadi pelakornya ? Bukannya dia juga sudah punya suami sebelum Tuan Al ? Lihat aja,, kalo dia hamil pasti si kembar akan dilupakan begitu saja. "


" Bicaramu sudah kelewatan. Jangan sampai terdengar oleh Tuan dan Nyonya. Pasti mereka akan memarahimu. "


" Aku bicara fakta. Mungkin saat ini semua kasih sayang keluarga ini tercurah pada si kembar. Lihat aja kalo dia hamil lagi. Pasti semuanya akan menyayangi anak wanita itu. Dia kan jago merebut perhatian orang lain. "


" Leny,,, !! kalo aja gak ingat kamu pembantu Nona Clara. Pasti aku akan memukulmu. "


" Pukul,, pukul aja. " tantang Leny marah.


Wimpi menggebrak meja karena kesal kemudian masuk ke kamarnya. Faiz keluar dari pintu dapur dan berlari menuju kamar Clara.


Di kamar itu, Faiz menangis sambil memeluk lututnya. Ucapan Leny dan Wimpi saat bertengkar tadi terngiang-ngiang di telinganya. Bahkan Fawwaz yang sedari tadi mengajaknya bermain tidak diperdulikannya. Sampai Faiz tertidur setelah lelah menangis.


 


Bia membantu memasangkan dasi Al dan merapikan jasnya. Setelah itu mengulurkan tangannya untuk salim. Tapi Al menarik tubuh Bia ke pelukannya.


" Heeemmmm,,, melihatmu secerah ini. Aku jadi malas pergi kerja, Bi. " ujar Al sambil terus-terusan mencium bibir Bia.


" Sudah hentikan Mas. Nanti bajunya kusut. "


" Biar aja. Aku tinggal mengganti bajunya aja kan . "


" Issshhh,,, "


" Aku masih kangen,, "


" Gak usah modus. Aku udah hampir satu bulan dirumah ini Mas. "


Al tertawa dan makin mengeratkan pelukannya.


" Tapi, rasanya baru kemarin kamu berada disini. " rayu Al masih terus mencium Bia.


" Mas,, hentikan. "


" Maaaass,, nanti kamu telat. Sudah sana bernagkat."


" Aku ownernya, apa kamu lupa ? "


" Ckk,, tetap aja. Harus kerja dong. Sekarang ada aku dan anak-anak yang menjadi tanggung jawab kamu. Menambah bebanmu. "


Al hanya tertawa.


" Seeperti kata Fawwaz. Uang Papa masih baannyakk."


Kini giliran Bia yang ttertawa.


" Ataauuu,,, biar aku ikut kerja aja Mas. Gimana ? "


" Gak. Aku masih sanggup mencari nafkah umtuk kamu dan anak-anak. "


" Iisshh,,, asyiik juga kan. Bisa satu perusahaan dan satu kantor dengan kamu Mas. "


" Sekarnag kan udah kerja. "


Alis Bia berkerut.


" Bekerja ? "


" Iya. "


" Maksudnya ? "


" Kan udah satu ranjang denganku. "


Bia memukul dada Al kesal.


" Cckk,, kamu itu mesum aja bawaannya. Udah sana berangkat. "


" Cium. "


" Udah dari tadi kan. "


" Kan aku yang memciummu. Gantian dong. "


Bia mencium pipi kanan dan kiri Al, lalu kening dan hidungnya.

__ADS_1


" Sudah. "


" Eeiittttsss,, ini belum. " kata Al sambil menunjuk ke arah bibirnya.


Bia menuruti Al, dia mencium bibirnya. Bukan Al kalo membuat ciuman itu hanya kecupan saja. Dia menahan tengkuk Bia , hingga ciuman itu menjadi lebih lama.


Al menempelkan keningnya di kening Bia. Mengusap bibir Bia yang basah akibat ulahnya.


" Heeeemmm,, rasanya benar-benar hanya ingin dirumah dengan memelukmu saja Bi. "


" Sudah,, sana berangkat. Oh iya. Apa nanti mau makan siang dirumah ? "


" Sepertinya aku gak bisa. Nanti ada meeting dengan klien dari Jakarta. "


" Pasti cewek. Susah punya suami secakep ini. Harus ektra sabar. " ujar Bia sewot.


Al kembali tertawa dan mengecup bibir Bia.


" Aku senang melihatmu cemburu Bi. "


" Isshh,,, sudah lepasin. "


Al melepaskan pelukannya tapi malah memeluk Bia dari belakang.


" Mas,, ini udah siang lho. Keburu macet nanti. "


" Kan Reiga belum jemput. "


" Kita tunggu diluar Mas. "


" Baiklah. " kata Al sembari mendorong tubuh Bia keluar ruang kerjanya.


" Mas,, lepasin. Malu kan. " tegur Bia.


" Malu sama siapa ? Gak ada orang. "


" Mas,, ponselku ketinggalan. "


" Memangnya mau telpon siapa. Sudah, nanti saja. "


" Bundaa,, Papa,,, !! " panggil Fawwaz yang baru keluar dari dapur.


" Adek,, dari mana ? " tanya Bia.


" Mas, lepasin ah. Malu sama Fawwaz. " tegur Bia setengah berbisik.


" Ambil minum Bunda. Ciyeeee,,, adek seneng lihat Papa dan Bunda seperti ini. Saling menyayangi. " goda Fawwaz.


" Ishhh,, anak kecil udah berani godain Bunda. "


Fawwaz tertawa saat Bia mengacak rambutnya sambil melakukan tos dengan Al.


" Mas Faiz dimana ? kok adek sendirian. "


" Mas Faiz di kamar Bun. Adek ajak mainan gak mau. "


" Kenapa ? "


" Gak tahu Bun. Semalam malah menangis Bun. "


Al melepaskan pelukannya pada Bia. Kemudian menggendong Fawwaz.


" Menangis ? Kenapa Mas Faiz menangis ? " tanya Al heran.


Fawwaz mengangkat bahunya pertanda tidak tahu.


" Papa,, Bunda,, adek mau main sama Oma. "


" Iya. Salim dulu ke Papa. "


Al menurunkan Fawwaz dari gendongannya. Suara klakson mobil diluar membuat Al menoleh.


" Kenapa Faiz menagis ? " tanya Al heran sambil menerima tas yang tadi dibawakan Bia.


" Aku gak tahu. Aku akan menanyakannya nanti. Sudah sana berangkat. Reiga sudah menjemputmu. "


" Kabari aku kalo ada apa-apa. "


Bia mengangguk, berusaha untuk tersenyum meskipun hatinya sedang bertanya-tanya kenapa Faiz sampai mennagis.


Al melambaikan tangannya dengan sedikit khawatir. Melihat perubahan pada wajah Bia yang terlihat jelas sedang khawatir.


" Reiga. Majukan meeting saat makan siang nanti. Kalo gak batalkan saja. Aku akan makan siang di rumah nanti. "


" Baik Bos. " jawab Reiga sigap.

__ADS_1


__ADS_2