Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 110


__ADS_3

Al mengurungkan niatnya untuk menginap dirumah Clara. Karena tiba-tiba ingin mengajak Bia jalan-jalan keliling Kalimantan. Sedari Bia datang, belum pernah jalan-jalan berdua denganya.


Mereka menghabiskan waktu seharian untuk berkelilig. Dari tempat wisata sampai tempat religi seperti makam-makam para ulama setempat.


Bia merebahkan tubuhnya diatas ranjangnya. Setelah memberikan oleh-oleh pada Amy, Wimpi dan Randy.


" Gak mandi dulu ? " tanya Al sambil memcium kening Bia.


" Pengennya sih Mas. Tapi masih capek. Sebentar lagi deh. "


" Mau aku mandikan ? " goda Al.


" Hanya mandi !! " tegas Bia.


" Tergantung nanti. "


" Issh,, jawaban apa itu. Tergantung bagaimana ? "


" Tergantung apa nanti ada yang terbangun atau gak." goda Al smabil mengecup bibir Bia.


" Issh,, dasar mesum ih. " ejek Bia sambil memukul dada Al.


" Apa kamu sennag kita jalan-jalan ? " tanya Al sembari mengusap rambut Bia.


Bia menghadapkan tubuhnya pada Al. Kemudian memeluknya senang.


" Aku senang Mas. Kita gak pernah keluar berdua. Anggap aja kencan pertama kita. " gurau Bia.


Al tertawa geli. Yah,, ini pertama kalinya mereka keluar berdua. Kencan pertama.


" Aku harap anak-anak kita cukup kuat untuk diajak kencan kedua,, ketiga,, dan seterusnya. " gelak Al.


" Aaammmiiinn. "


" Gak jadi mandi ? "


" Jadi dong. Udah lengket semua Mas. Sebentar ya. "


kata Bia sembari beranjak bangun.


" Mau kemana ? Katanya mau dimandikan ? " jawab Al semabri ikut bangun.


" Kalo gitu,,, gendong ya. " sahut Bia manja.


Al tertawa mendengarnya.


" Dengan senang hati Nyonya Alfarizhi. "


Bia terkekeh mendengar panggilan Al padanya. Yah,, dari semula Nyonya Ghazzy berganti menjadi Nyonya Alfarizhi.


" Mas, sepertinya kali ini si kembar lebih mau manja sama Papanya. Aku harap Mas gak risih ya nanti. "


Al menurunkan Bia di kamar mandi. Mengisi bathtub dengan air hangat dan aroma terapi. Bagaimanapun ini sudah malam dan tidak baik mandi dengan air dingin. Al mencipratkan sisa air di telapak tangannya ke arah wajah Bia.


" Mas,, ih,, " keluh Bia smabil mengusap air itu dari wajahnya.


" Risih bagaimana ? Yang mau bermanja sama Papanya kan dua jagoan Papa. Tentu saja Aku senang Bi. " kata Al sambil mengecupi bibir Bia yang tersenyum.


" Hanya mandi ! " seru Bia.


" Aku sudah bilang tergantung kan. "


Bia hanya mencibir mnedengarnya apalagi dengan senyuman smirk yang ditunjukkan Al.


 


Bia mengernyitkan alisnya saat melihat sosok laki-laki yang dikenalnya sedang berada di luar pagar rumah Zaskia. Setelah mobil berhenti di teras. Bia beranjak menuju pagar. Tapi Al keburu mencegahnya.


" Ada apa ? " tanya Al heran.

__ADS_1


" Sepertinya aku melihat Pak Dito diluar. Sebentar, aku mau pastiin dulu Mas. "


" Pak Dito ? "


" Laki-laki yang dulu kamu suruh untuk membuang motorku di pertemuan kedua kita. Kamu tiba-tiba menghadang jalanku. Lalu main cium aja. " jelas Bia sambil mencubit pipi kanan Al yang terlihat sedang berfikir.


Akhirnya Al tertawa setelah bisa mengingatnya.


" Tunggu aja di teras. Aku akan menyuruh pak satpam untuk membuka pagar dan mengijinkanya masuk. "


Bia mengangguk mengerti. Kemudian kembali ke teras rumah Zaskia sedangkan Al menuju ke satpam yang tadi membuka pintu pagarnya.


" Assalamualaikum. " sapa laki-laki yang tengah berjalan masuk diantarkan satpam.


Al memberikan kode pada satpam itu untuk kembali ke pos security.


" Waalaikumsalam Pak Dito. " jawab Bia sambil mendekat.


Bia berniat menyalaminya tapi Al langsung mendekapnya tidak terima. Hingga dia mengurungkan niatnya.


" Mbak Bia bukan ? " tebak Pak Dito.


" Iya Pak Dito. Sedang apa Pak Dito di Kalimantan dan,, dirumah suami saya ? " tanya Bia penasaran.


Pak Dito melihat sebuah kertas yang diambil dari saku kemejanya. Lalu melihat ke arah rumah kemudian pada Bia dan suaminya bergantian.


" Ada apa Pak Dito ? " ulang Bia semakin penasaran.


" Ini rumah suami Mbak Bia ? "


" Iya Pak. "


" Apa teman Leny gak salah kasih alamat. " gumam Pak Dito gusar.


" Maaf Mbak Bia, sepertinya aku slaah alamat. " jawab Pak Dito.


" Memangnya mau cari alamat apa ? Mungkin aku bisa membantu Pak Dito. " sahut Al yang sedari tadi melihat wajah gelisah Pak Dito.


" Kalo Bapak salah alamat. Gak mungkin membuang barang semacam ini dirumah ini ! " hardik Wimpi yang baru datang bersama Amy dan Randy.


Pak Dito nampak makin gelisah bahkan berubah menjadi takut saat apa yang ditunjukkan Wimpi memnag barang yang sudah dibuangnya atas instruksi teman Leny.


" Apa itu Wimpi ? " tanya Al ketus. Wajahnya tidak seramah tadi.


Wimpi terdiam, bingung harus bagaimana menjelaskannya. Apalagi isi dari bungkusan yang dibuang Pak Dito memang tak lazim.


" Bik Amy,, tolong bawa Bia masuk. " titah Al dingin saat melihat Wimpi yang hanya terdiam.


Bia menggeleng cepat dan makin mendekap Al.


" Gak. Aku mau tetap disini. " tegas Bia cepat.


" Tapi Bi,, "


" Gak ada tapi-tapian. "


Akhirnya Amy berinisiaatif masuk ke dalam rumah untuk memanggil semua penghuni rumahnya.


Wimpi menjauhkan bungkusan yang di temukannya saat Pak Dito hendak merebutnya. Randy dengan sigap memegangi Pak Dito.


" Pak Dito,, sebenarnya ada apa ini. Kalo Pak Dito gak terus terang. Aku gak bisa membantu Pak Dito nantinya. " sahut Bia minta penjelasan.


" Aku hanya disuruh Mbak Bia. Aku juga gak tahu apa isi bungkusan itu. " jawab Pak Dito jujur.


" Wimpi,, kenapa kamu diam saja ? Apa isi bungkusan itu ? Berikan padaku. " geram Al .


" Ada apa ini ? " tanya Tian yang keluar bersama Zaskia dan Azalea.


" Dito ?!! " seru suara dibelaknag Bia.

__ADS_1


Al dan Bia menoleh. Keduanya berpandangan saat melihat Mark dan Naya sudah berada di sana. Bahkan Ustadz Yahya juga datang.


Bia menyalami Mark dan Naya bergantian dan mengatupkan kedu tangannya didepan Ustadz Yahya yang membalasnya dengan senyuman penuh keteduhan dan ketenangan. Al pun juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Bia.


" Pak Mark ,, Bu Naya ,, " ujar Pak Dito tidak menyangka.


" Berikan bungkusan itu padaku. " kata Ustadz Yahya.


Wimpi mengangguk dan memberikan bungkusan itu pada Ustadz Yahya.


" Sebenarnya kamu juga bisa mengatasinya. " kata Ustadz Yahya pada Wimpi yang langsung menatap Ustadz Yahya kaget.


" Maaf,, gak berani Ustadz. Ada yang lebih sanggup. " ujar Wimpi merendah.


" Kamu bisa aja kalo merendah. Dengan sikapmu seperti ini, pasti banyak yang akan mengantre untuk mendapatkanmu Wimpi. " gurau Ustadz Yahya.


Semua orang hnaya tersenyum tapi Bia kembali merinding. Ustadz Yahya orang yang penuh misteri. Kekaromahannya membuat Bia tidak sanggup menatap kedua mataya. Karena mata beliau seolah tengah membaca apa yang tengah dirasakan dan dipikirkan lawan bicaranya.


" Tidak usah banyak berfikir Robiatul Adawiyah. " gumam Ustadz Yahya yang terdenagr jelas oleh keluarganya.


Al tentu saja langsung mendekap dan mngusap lengan Bia seolah tengah berusaha menenangkannya. Brifikir apa yang tengah terjadi telah membuat Bia stres.


" Gak usah pake emosi Alfairizhi. Kita bicara. Suruh mereka melepaskan Pak Dito dan persilahkan Pak Dito duduk bersmaa kita. Karena Pak Dito memang juga tidak tahu menahu tentang bungkusan ini. " kata Ustadz Yahya sembari duduk di lantai di teras rumh Zaskia.


" Lhoo Ustadz. Biarkan di alasi tikar dulu. " sahut Azalea tidak enak hati.


" Gak usah Bu Lea. Duduk lesehan seperti ini lebih syahdu. Bukan begitu Robiatul Adawaiyah ? " gurau Ustadz Yahya sambil tertawa.


Bia hanya mengangguk sambil tersenyum. Bingung karena Ustadz Yahya selalu memanggil namanya dengan lengkap.


" Silahkan duduk semuanya. Akan aku jelaskan barang apa ini. " kata Ustadz Yahya saat hanya melihat Bia dan Wimpi yang ikut duduk lesehan seperti dirinya.


" Kia duduk diatas kursi saja. Nanti gak nyaman kehamilannya. " celetuk Ustadz Yahya saat Zaskia meminta bantuan Tian untuk bisa duduk di lantai.


Zaskia terkekeh mendengarnya.


" Jangan Ustadz. Gak sopan. " gurau Zaskia.


" Apa gak mau duduk dengan Kakak ipar kesayanganmu ini. " goda Ustadz Yahya.


" Gak usah Ustadz. Aku duduk di samping Mama sjaa. " jawab Zaskia.


" Kenapa, takut dengan si bucin akut. " goda Ustadz Yahya pelan. Tapi masih terdengar oleh Bia.


Zaskia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia memang tadi hendak menjawab seperti itu. Tapi diurungkannya. Matanya langsung menatap Bia yang menertawakannya.


" Sudah rileks semua kan. Baik, saya jelaskan benda apa ini. " kata Ustadz Yahya serius sembari membuka bungkusan itu.


Ustadz Yahya tersenyum saat Wimpi menggeser posisi duduknya dibelakang Bia dan Al.


' Terima kasih Wimpi. '


Wimpi menoleh ke kanan dan kekiri. Celingukan kebelakang. Heran. Dia mendengar dengan jelas ada yang sudah mengucapkan terima kasih padanya. Tapi saat melihat semua ornag sednag mengamati apa yang dilakukan Ustadz Yahya. Wimpi menghela nafas panjang.


* Pasti hanya halusinasi saja. * batinnya.


' Aku tahu kamu mendengarku Wimpi. Aku senang ilmu yang kamu miliki tidak kamu salahgunakan. Bahkan nyaris tidak pernah kamu gunakan. Tapi, saat ini, aku membutuhkan bantuanmu. Kamu tahu ini tanah kuburan yang dikhususkan untuk mencelakakan Bia. Dan kembali akan mengunci pikiran dan hati Al. Gunakan ilmumu semampumu,, lindungi Al dan Bia. Back up mereka dengan tenaga dalammu. '


Wimpi lanssung menatap ke arah Ustadz Yahya yang juga tengah menatapnya dengan tersenyum dan mengagngguk. Wimpi akhirnya ikut mengangguk mengiyakan. Dan mulai menyiapkan tenaga dalamnya utnuk memback up Bia dan Al yang ada di depannya. Untung saja posisinya di belakang jadi tak satupun yang menyadari apa yang tengah dilakukannya.


" Apa itu Ustadz ? " tanya Pak Dito penasaran.


" Darimana Pak Dito mendapatkannya ? Siapa yang menyuruh Pak Dito ? " tanya Ustadz Yahya balik.


" Teman anak saya Ustadz. " jawabnya sambil menunduk apalagi Mark dan Naya sudah menatapnya tajam.


" Sebentar. Aku buang dulu pengaruhnya. " kata Ustadz Yahya sembari memejamkan matanya dan merapal semua doa rukyah.


" Bantu aku dengan membaca istighfar semuanya. " kata Ustadz Yahya saat masih dengan mata terpejam.

__ADS_1


' Terima kasih, Wimpi. Istirahatlah. '


Wimpi kembali menatap Ustadz Yahya yang sudah membuka matanya.


__ADS_2