
" Tante,, Bia,, Bia,, "
suara Al memanggil Gita dengan tercekat. Begitupun dnegan Zaskia yang memegang lengan Al dengan gemetaran.
kalimat Al menggantung saat melihat jari telunjuk Gita berada di depan mulutnya. Pertanda untuk diam.
" Biarkan Bia istirahat. Efek anestesinya masih belum hilang. Ini anakmu yang lahir pertama Al. " kata Gita sambil mengulurkan box berisi satu bayi.
Al menghela nafas lega begitu juga Zaskia. Dia tidak menghiraukan Gita. Al mendekat ke arah Bia. Menciumi kening dan wajah Bia dengan penuh terima kasih.
" Terima kasih, Bi. Terima kasih sudah bertahan. Terima kasih sayangku. " bisik Al getir.
Al celingukan mencari kedua anaknya yang lain. Gita hanya tersenyum. Mengerti Al yang tengah mencari anak-anaknya yang lain.
" Kedua anakmu masih dibersihkan perawat. Mungkin sebentar lagi selesai. Adzani yang ini dulu saja. " jelas Gita.
Al mengangguk mengerti kemudian Al menarik nafas sangat dalam. Dan menghembuskannya perlahan. Dan anehnya, mules yang sedari tadi dirasakannya hilang begitu saja.
Zaskia memvideokan saat Al menggendong bayi pertama mereka dan mengadzani anak pertamanya. Dokter Iren dan suster Mirna masuk dan menempatkan kedua bayi Al di box yang sudah disediakan. Lalu dengan anggukan kepala pada Gita dan Zaskia untuk permisi keluar.
Leon masuk dengan mendekap Azalea yang masih gemetaran. Tian ikut masuk dengan membawa tas milik Zaskia dan Azalea. Keduanya kalo sedang panik memang selalu lupa apa saja yang tadi di bawanya.
" Ganteng dan cantik Ma. " puji Zaskia dengan masih memvideokan Al mengadzani sampai putri kecilnya.
" Ganteng sekali cucu Oma. " puji Azalea sembari menciumi bayi pertama Al dan Bia.
" Siapa namanya Al ? " tanya Azalea.
" Nanti. Tunggu Bia sadar dulu Ma. " jawab Al sambil meletakkan bayinya ke dalam box.
" Memangnya belum boleh dipindahkan ke kamar Om ? " tanya Tian.
" Dokter Baim sednag menyiapkan kamar VVIP untuk Bia dan anak-anaknya. " jawab Gita sambil mendekap Leon yang mengulurkan tangannya pada Gita.
" Kami permisi ganti baju dulu. " pamit Leon dan Gita.
Azalea memeluk Gita.
" Terima kasih Gita. Sudah menyelamatkan anak-anak dan cucu-cucuku. " ujar Azalea sungguh-sungguh.
" Hanya terima kasih Lea ? Gak ada hadiah untuk Afifah ? Ckk,, Omanya Afifah pelit sekali sayang. " sindir Leon sembari kembali mendekap Gita.
Gita tertawa mendengarnya. Begitupun dengan Zaskia dan Tian.
" Oma ? Enak aja. Afifa harus memanggilku Tante. " geram Azalea.
" Pasti Afifah akan keberatan nantinya. Karena anak-anak Bia dan juga Kia seumuran dengan Afifah. Dan mereka memanggilmu dengan Oma. Aku juga bingung bagaimana mereka akan memanggil Afifah nantinya. " kata Leon bingung.
" Makanya,, kalo saja kamu sudah menikah saat mereka belum punya anak. " sindir Azalea kesal.
" Waktu itu kan kami belum bertemu Kak Lea. " gurau Gita.
" Lagipula dulu, aku disibukkan dnegan anak kesayangan kamu itu. " goda Leon pada Zaskia.
Kemudian membawa Gita oergi dari ruang operasi.
" Kenapa Om melihatku ? Anak keaayangan Mama itu Kak Al, si bucin akut. " protes Zaskia.
Leon hanya tertawa mendnegar protes dari Zaskia dari luar pintu ruang operasi.
" Tentu saja dong. Aku CEO Dewandaru. " gurau Al.
" Ckk,, songong sekali siih. " ejek Zaskia kesal.
Tian tertawa kemudian mendekap Zaskia yang tengah manyun.
" Ini udah cukup jadi kesayanganku. " kata Tian.
Zaskia tersenyum malu. Rona merah terlukis jelas di pipinya yang chubby.
" Kak Tian ini,, apaan sih. " ledeknya.
" Ki,,, kamu gak pulang dulu ? " tanya Azalea.
" Kenapa Mama mengusirku ? Tadi cepet-cepet nyuruh aku datang. " gerutu Zaskia.
" Tadi kan Mama panik Ki. Dan sekarnag Alhamdulillah Bia dan anak-anaknya sudah lahir dengan selamat. "
" Lalu,, apa hubungannya denganku ? Aku mau tetap disini. "
" Lalu Bilqis gimana ? " tegur Azalea.
__ADS_1
Zaskia terkekeh saat Tian mencubit pipinya.
" Bilqis juga butuh perhatian kamu Mami. Bunda Bia juga sudah ada Papa Al yang menunggu. " goda Tian.
" Baiklah aku pulang Ma. Kabari aku tentnag perkembangan Kak Bia. " pamit Zaskia.
" Tolong minta Randy untuk mengantarkan Wimpi dan Bik Amy kesini untuk membawa Si Kembar. " kata Al sambil duduk di smaping ranjang Bia.
" Oke, Bosss CEO !!! " sindir Zaskia.
Al hanya tertawa mendnegar sindiran itu.
" Bik Amy kita mau kemana ? " tanya Faiz bingung saat Bik Amy menyuruh mereka buru-buru mandi.
" Iya nih. Ini masih jam tig sore Bik Amy. Biasanya Bunda nyruh mandi jam empat sore. " protes Fawwaz.
" Kita mau jenguk adik-adik bayi Mas Faiz dan Mas Fawwaz. " jawab bik Amy senang.
" Bunda sudah lahiran ?? " tanya Faiz senang.
" Adik-adik bayi udah lahir ? " tnaya Fawwaz senang.
Bik Amy mengangguk mengiyakan.
" Ayo Mas Faiz dan Mas Fawwaz mandi, terus kita minta antar Om Randy dan Tante Wimpi ke RS jenguk Bunda dan adik-adik bayi. "
" Horeeee,,, horeee,,, !!! " seru keduanya senang.
Zaskia terkekeh melihat tingkah keduanya sembari memberikan ASI pada Bilqis.
" Iihh,, kok sneyum-senyum sendiri sih. " gurau Tian sembari memberikan jus jambu biji ke Zaskia.
" Makasih Kak Tian. Lihat si kembar sulung yang senang mendnegar Bundanya sudah lahiran. " jawab Zaskia sambil tertawa.
" Habis ini kita pulang ke rumah ya Ki. "
" Memangnya kenapa Kak Tian ? Apa Kak Tian gak betah disini ? " tanya Zaskia tidak enak.
" Bukannya gak betah Ki. Ibu juga sedang dapat orderan seafood. Aku sih senang-senang aja kita tinggal dimana aja asalkan ada kamu. " goda Tian.
Zaskia mencibir sejenak lalu tertawa.
" Bia kan sudah lahiran. Dirumah ini sudah ada bayi-bayi Bia. Nanti Bilqis memgganggu. " kata Tian.
Zaskia tersenyum simpul.
" Kak Tian,, Kak Bia gak mungkin seperti itu. Justru karena Kak Bia udah lahiran. Aku mau melihat dan belajar dari cara Kak Bia merawat dan mendidik anak-anaknya. Lihat aja Faiz dan Fawwaz. Mereka tumbuh dengan sikap bijaksana. Tnetu aja gak lepas dari didikan Kak Bia dan Kak Ghazzy. "
" Nanti kamu adu mulut terus sama Kak Al. Aku juga yang gak enak nantinya. "
" Aku pastiin gak debat lagi deh. " gurau Zaskia.
Tian mengangkat alisnya memasang tampang serius sembari menatap Zaskia.
" Ya Allah,, Kka Tian gak percaya ?? " protes Zaskia.
" Kamu pasti gak bakalan tahan Ki. " kata Tian sambil tertawa.
" Iya juga sih. " sahutnya.
" Mas,, Mas,, bangun Mas. " panggil Bia saat efek anestesinya sudah hilang.
Al mengerjapkan matanya lalu merentangkan tnaganya meregangkan otot-ototnya. matanya langsung terbuka lebar saat melihat Bia yang tersenyum padanya.
" Bi,, kamu sudah sadar ? Maaf,, maaf,, aku ketiduran. Apa ada yang sakit ? Apa kamu haus Bi ? Atau ,,, kamu mau apa ? "
Bia nampak terkekeh pelan mendengarnya.
" Anak-anak,,, gimana Mas ? " tanya Bia.
" Aku sudah menyuruh Randy mengantarkan mereka ke RS . Mungkin sebentar lagi sampai.
" Bukan Faiz dan Fawwaz, Mas. " elak Bia.
" Lalu ? Makssudnya siapa ? " tanya Al bingung.
" Mas,, anak-anaak kita. Mereka udah lahir kan. " jawab Bia kesal.
__ADS_1
Al menepuk keningnya.
" Maaf Bi. Aku baru sadar. Ya,, mereka sudah lahir Bi. Dua jagoan, satu putri cantik teman bermain Bilqis. " jawab Al sambil mencium kening Bia yang menangis bahagia.
" Terima kasih Bi. Terima kasih karena Bunda kuat,, Bunda hebat. Terima kasih sudah melahirkan anak-anakku Bunda. Terima kasih sudah bertahan untukku Bi. Aku mencintaimu Bi. " bisik Al sambil mengecup bibir Bia.
" Terima kasih sudah mencintaiku sedalam ini Mas. Aku harap Mas gak pernah berubah dan tetap seperti ini padaku. Meskipun aku nanti udah gak cantik lagi. " kata Bia sambil mengusap pipi kanan Al.
" Aku menunggumu snagat lama Bi. Bodoh kalo aku sampai melepaskanmu lagi. " ujar Al sembari mengecup kening Bia lama.
" Assalamualaikum. " sapa Faiz dan Fawwaz bersamaan saat Wimpi dan Bik Amy membuka pintu kamar Bia yang sudah ditempatkan di ruang VVIP.
Al menoleh dan tertawa saat melihat anak-anaknya berlarian menuju Al. Fawwaz berada di gendongan Al. Dan Faiz naik ke ranjang Bia yang sudah bangun dan menyandarkan tubuhnya di ranjang. Kemudian memeluknya erat.
" Bunda baik-baik saja ? Adik-adik gak nakal kan Bun. Adik-adik gak nyusahin Bunda kan pas lahiran tadi. " tanya Faiz cemas.
" Alhamduliah Bunda sudah baik-baik saja, Mas. Ada Papa yang selalu menjaga Bunda disini. Ada Opa Leon dan Oma Gita juga yang sudah menolong Bunda melahirkan adik-adik. " jawab Bunda sambil mencium kepala Faiz.
" Bunda,, adik-adik mana ? " tanya Fawwaz.
" Sebentar. Oma Lea dan Oma Gita sedang memandikan mereka. Mas Faiz dan Mas Fawwaz sudah mandi kan ? " jawab Al.
" Sudah dong Pa. " seru keduanya.
" Nah,, itu mereka sudah datang. " celetuk Al.
Bik Amy menerima bayi yang diberikan Azalea padanya. Dia terlihat snagat bahagia. Apalagi wajahnya memang terlihat sangat mirip dengan tuannya.
" Papa,, mau duduk disamping Bunda. " pinta Fawwaz.
Al menurunkan Fawwaz di sebelah kiri ranjang Bia.
" Hati-hati ya Mas. Bunda perutnya masih sakit. Masih belum boleh banyak gerak. " kata Gita mengingatkan.
" Perut Bunda kenapa ? Katanya adik gak nakal Bun ? Kok perut Bunda sakit ? " protes Faiz.
" Mas Faiz harus belajar yang rajin. Biar bisa pinter kayak Opa Leon dan Oma Gita. Katanya mau jadi dokter seperti mereka. "
" Benarkah ? " sahut Leon dan Gita bersamaan saking sennagnya.
" Iya dong. Kalo Mas jadi dokter. Bisa mengobati Bunda. Papa. Oma Lea. Mami Kia. Papi Tian. Dan semuanya yang ada dirumah. " jawab Faiz yakin.
" Aaammmiinn. " seru Leon dan Gita bersamaan.
" Papa,, yang di gendong Papa . Siapa namanya ? " tnaya Fawwaz sambil berdiri untuk melihat wajah adiknya.
Al kemudian ikut duduk di ranjang agar wajah bayi mereka terlihat oleh Bia dan kedua anak-anaknya.
" Yang ada di gendongan Papa, namanya,, Farash Ghazzy Alfarizhi. Yang di gendongan Bik Amy, namanya, Farish Ghazzy Alfarizhi. "
Mata Bia berkaca-kaca saat tahu Al juga menyematkan nama Gahzzy di nama anak-anaknya. Begitupun dengan Azalea dan Leon.
" Apa artinya Papa ? " tanya Bia.
" Ksatria berani dan bijaksana yang dilimpahi keberuntungan. " jawab Al.
" Aaammiiinn. "
" Adik Farash , adik Farish,,, " tunjuk Faiz pada Al dan Bik Amy.
" Ini satu lagi. " kata Gita smabil memberikan putri mereka pada Bia.
" Ini juga adik kami Oma ? " tanya Faiz kaget.
" Iya, Mas. Bunda hamil tiga adik bayi. " jawab Leon.
" Waaahh,, pantesan perut Bunda sering sakit. Pastti adik-adik bayi berebut tempat di perut Bunda. " celetuk Fawwaz.
Semuanya menjadi tertawa geli mendnegarnya.
" Lalu,, putri kamu,, siapa namanya Al ? " tamya Azalea.
Bia menatap Al dnegan bingung saat Al tersneyum smabil memandang Bia.
" Clarissa Adawiyaah Alfarizhi. "
" Boleh kita panggil Clara Papa ? " tanya Bia.
" Bukan Clara,, tapi Arra. " jawab Al.
" Sama saja kan. " protes Bia dengan bibir mengerucut kesal.
__ADS_1
" Adik Farash,, adik Farish,, adik Arra. " jawab Al.