Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 113


__ADS_3

Azalea menerima panggilan videor dari Leon sesaat setelah Zaskia dpindahkan ke kamar pasien.


" Halo Lea,,, aku sudah menjadi seornag Ayah. Lihatlah,, keponakan kamu Lea. " seru Leon senang saat Azalea muncul di layar ponselnya.


Leon memperlihatkan bayi cantiknya yang tengah berada di gendongan Gita.


" Aaahh cantiknya seperti Tante Gita. " puji Bia senang.


" Cckk,, Bia. Apa tidak ada yang mirip denganku ? Kenapa semua ornag selalu bilang mirip dengan Gita." protes Leon. Hingga nampak Gita yang tertawa.


" Jadi,,, Om Leon ingin dibilang cantik ? " ejek Al sembari menertawakan Leon.


" Isshh,,, Aku tidak akan mengijinkan Gita membantu Bia lahiran nanti. " ancam Leon.


" Eeehh,,, jnagan dong Om. " protes Bia smabil memukul lengan Al agar berhenti menertawakan Leon.


" Bayi Kia juga baru saja dibersihkan. " kata Azalea.


" Benarkah. Alhamdulilalh Kia. Selamat Ki. " seru Gita senang.


" Siapa namanya Om Leon ? " tanya Zaskia.


" Afifah Hilya Nafisa. " jawab Gita sambil tersenyum.


" Apa artinya Tante ? " tanya Bia.


" Perempuan berharga dengan kemuliaan yang tinggi." jawab Leon.


" Aamiinn,, aaammiinn ,, ya robbal alamin. " ucap Bia dan Azalea.


" Lalu gimana denganmu Ki ? " tanya Leon.


Zaskia bingung harus menjawab apa karena masih belum terpikirkan nama untuk putrinya. Melihat Tian mendekat bersama bayi dalam gendongannya membuat Zaskia tersenyum senang.


" Kak Tian,, siapa namanya ? " tanya Zaskia.


Tentu sjaa membuat semuanya menertawakanya.


" Bilqis Khansa Alya. " jawab Tian.


Tian memberikan bayi itu ke gendongan Zaskia.


" Aahh,,, cantiknya. " puji Zaskia.


" Artinya ? " tanya Gita.


" Perempuan baik dengan derajat yang tinggi seperti ratu Bilqis. " jawab Tian.


" Alhamdulillahh,,, " ucap Bia.


" Afifah dan Bilqis. " seru Gita dan Azalea bersamaan.


Semuanya kembali tertawa.


" Bia,, lebih baik kamu yang mencari nama untuk anakmu nanti. " ejek Leon.


" Memangnya kenapa Om ? " tnaya Bia heran.


" Aku gak yakin si kulkas itu bisa mencarikan nama yang lebih baik dari Gahzzy. " guraunya sambil tertawa. Karena melihat wajah Al yang berubah menjadi cemberut.


" Apa Om bilang ?! Tentu saja aku sudah menyiapkan nama untuk anak-anaakku. Aku ,, Papanya !! " geram Al marah.


Tapi diseberang sana hanya tertawa melihat Al yang semakin emosi.


" Cckkk,,, kalian ini. Selaluuu aja berdebat. " tegurr Azalea sambil memukul lengan Al.


" Om Leon yang mulai Ma. Bukan aku. " protes Al.


" Ya sudah kalo gitu. Aku tuutup telponnya. Tiga bulan lagi kita bertemu Bilqis. Assalamualaikum. "


" Waalaikumsalam. "


Azalea memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. Kemudian mendekat ke arah Zaskia untuk menggendong Bilqis.


" Tian,, sudah di adzani ? " tanya Azalea.


" Sudah Ma. Langsung setelah lahir tadi. "


" Alhamdulillahh. "


" Cucu Oma,, Bilqis,,, " seru Azalea sambil mencium kening bayi Zaskia.

__ADS_1


" Ma,, aku tinggal dirumah Kka Bia ya. " cetus Zaskia.


" Kia,,, " tegur Tian.


" Kan nanti Kak Bia bisa membantuku merawat Bilqis Kak Tian. " jawab Zaskia.


" Aku kan juga bisa. Lagipula Ibu juga pasti akan membantu kita nanti. "


" Ibu tinggal bersama kita terus kan. "


" Iya. Aku akan meminta Ibu tinggal bersama dengan kita terus nanti. " kata Tian memastikan.


" Memangnya kenapa kamu mau tinggal dengan Bia ? Kamu pasti hanya mau resek kan. " goda Al.


" Isshhh,, Kak Al apaan sih. Inget ya,, trimester terakhir biasanya Papanya akan semakin bucin pada Bundanya. Dulu Kak Ghazzy juga sepeti itu, bahkan Kak Ghazzy juga ikut merasakan sakitnya saat Kak Bia lahiran dulu. "


" Ckk,, itu karena kalian yang menyembunyikan fakta tentang anak-anakku. Aku jadi gak sesigap sekarnag." protes Al.


Azalea dan Bia saling berpandangan kemudian menggelengkan kepalanya.


" Itu kan karena,,, "


Belum juga sempat Zaskia melanjutkan kalimatnya. Tian mengambil Bilqis dari gendongan Zaskia.


" Kak Tian,, kenapa di ambil ?! "


" Sudah,, lanjutkan saja debat kalian. Biarkan Bilqis istirahat. " kata Tian sembari menidurkan bayinya di box bayi.


" Kak Al sih,, " gerutu Zaskia.


" Kamu yang mulai kan. " elak Al tidak mau kalah.


Zaskia hanya bisa cemberut apalagi Tian menggeleng saat Zaskia menatapnya untuk memberikan Bilqis lagi.


" Bi,, ayo kita pulang. " ajak Al.


" Kak Al pulang sendiri aja. Jangan ajak-ajak Kak Bia." seru Zaskia masih kesal.


" Enak aja. Dia kan istriku. Tentu saja harus ikut pulang bersamaku. " tegas Al sambil mencium kening Zaskia meskipun tahu kalau adiknya sedang sewot padanya.


" Aku pulang ya Ki. " pamit Bia sambil menarik bibir Zaskia yang masih manyun.


" Kaak,,, " protesnya.


" Kak Al tuh Kak. " adu Zaskia.


" Om Alfarizhi gak boleh nakal. " gurau Bia.


" Om Al dan Bunda Bia. " sahut Zaskia.


" Enak aja. Papa Al. Bukan Om. "


" Si kembar juga panggil aku dan Kka Tian Om dan Tante kan. "


" Al,,, Kia,,, " tegur Azalea saat keduanya kembali hendak berdebat.


Yang di panggil langsung terdiam. Bia dan Tian hanya terkekeh melihatnya.


" Ma,, kami pulang dulu. " pamit Al sambil mencium telapak tangannya.


" Kenapa harus pulang sih. "


" Aku mau jemput anak-anak Ma. Biar mereka bisa bertemu dengan Bilqis. " jawab Al sambil mengedipkan matanya.


" Isshh,, kamu itu selalu aja menggoda adikmu. " kata Azalea sambil memukul lengan Al yang terkekeh.


" Sudah lama kami tidak melakukannya Ma. " bisik Al sembari mencium kening Azalea.


" Aku pulang Ma. " pamit Bia.


" Hati-hati di jalan. " ujar Azalea.


Al dan Bia hnaya mengangguk mengiyakan.


 


" Aku akan menyiapkan baju anak-anak. Untuk sementara kita tinggal dengan Kia. Ehhmm,, sekitar satu minggu atau sampai,,, satu bulan aja ya. Satu minggu dulu aja ya. Kamu juga siapin baju-baju yang akan dibawa ke rumah Kia nanti. Baju kerjaku masih ada di ruang kerja. Bawakan aku baju santai aja nanti. " celoteh Al saat sampai dirumah.


Dengan bingung Bia hanya mengangguk. Dia masuk ke kamarnya sedang Al masuk ke kamar anak-anaknya. Bia mengambil beberapa stel baju rumahan untuknya dan Al. Di ruang kerja Al juga masih ada beberapa gamis yang belum di pakainya. Tapi mungkin sudah tidak muat karena perutnya sudah membuncit.


Bia menyandarkan tubuhnya di ranjang sembari memasukkan baju Al dan bajunya ke dalam koper. Setelah itu, Bia memejamkan matanya. Tapi baru lima menit memejamkan matanya. Dia dikagetkan Al yang tiba-tiba berbaring di pangkuannya dengan memeluk dan menciumi perut Bia. Tangan Bia terulur untuk memgusap rambut Al.

__ADS_1


" Ada apa ? Kenapa ? Apa ada yang mengganggu pikiran Mas Al ? " tanya Bia bingung.


" Apa aku masih belum sesigap Ghazzy dulu Bi ? " tanya Al balik tanpa melihat wajah Bia.


Bia tertawa pelan takut Al tersinggung. Kia,, memang dasar kamu ini. Kakakmu jadi baper kan. Pikir Bia.


" Mas masih kepikiran dnegan omongan Kia ? Kok jadi baper gitu sih. " goda Bia.


" Gimana gak baper. Kalo mendengar Ghazzy bahkan bisa merasakan sakit yang kamu rasakan saat melahirkan si kembar dulu. Gimana dengan anak-anakku ini nanti ? Kalo aku masih belum sesigap Gahzzy dulu, Apa aku juga akan bisa merasakan sakit speerti Gahzzy dulu ? " gerutunya masih dengan tidak melihat Bia.


Al masih mengusap dan menciumi perut Bia. Sesekali nampak tersenyum saat anak-anaknya aktif merespon sentuhannnya.


" Kamu juga suami siaga, Mas. Gak usah baper gitu ah. Kia hanya bercanda tadi. "


" Aku tahu Kia, Bi. Dia gak akan bercanda kalo gak sesuai faktanya. Kemarin-kemarin aja aku malah mengacuhkan kamu. "


" Itu kan bukan kemauan kamu Mas. Ada campur tangan dunia ghaib waktu itu kan. "


" Tapi aku jadi melewatkan banyak hal. Aku melewatkan waktuku menemani kamu di trimester pertama dulu. "


" Alhamdulillah kan. Aku jadi gak terlalu banyak muntah karena parfum kamu. "


" Ckkk,, kamu gak tahu rasanya menjadi orang yang menjijikkan karena kamu mual didekatku. "


Bia tertawa mendengar omelan Al. Lalu teringat kalo Clara dulu mengatakan Al juga merasakan sakit saat Dia sedang melahirkan dulu.


" Ehhmmm,, seingatku,, dulu Kak Clara pernah telpon ke Kia. Mengabarkan kamu masuk RS karena perut kamu sakit, dan dokter bahkan gak bisa mengatakan apa penyakitmu Mas. "


Al langsung bangun dan menatap Bia tidak percaya.


" Benarkah ? "


" Yah aku gak tahu. Mas Al yang harus mengingatnya. Apaa pernah masuk RS dengan kondisi tubuh yang memang gak sakit. "


Al nampak berfikir sejenak.


" Rasanya dua kali , Clara memaksaku ke RS dan opname. "


" Dua kali ? " tanya Bia.


" Iya. Yang pertama, tiba-tiba mual dan muntah. Karena mencium aroma parfum yang biasa aku pakai. Malah aku lebih suka mencium aroma vanila seperti parfum kamu. "


Bia hanya mencibir.


" Tahu kan gimana rasanya jadi aku sewaktu mencium aroma parfum kamu. " celetuk Bia.


Al tertawa keki sambil kembali mengusap perut Bia.


" Lalu ,, yang satu lagi kenapa ? " tanya Bia antusias.


Karena tidak menyangka Al juga sebenarnya merasakan kehamilan simpatik sama seperti Gahzzy dulu. Hanya saja tidak tahu keadaanya.


" Ehhhmm, kalo gak salah. Aku merasa perutku seperti melilit. Kayak mules kena diare. Tapi gak dalam posisi diare. Gak tahu rasanya mules saja. Shubuh baru mulesnya hilang. "


Bia tertawa, lalu mengusap wajah Al. Menyentuh alisnya yang masih berkerut karena mengingat-ingat.


" Kamu juga merasakan apa yang Mas Ghazzy rasakan saat aku melahirkan si kembar dulu, Mas. " ujarnya.


" Benarkah ? "


" Mas Gahzzy juga merasakan mulesnya saat aku mau melahirkan. Dan dia menahannya hanya agar bisa menemaniku lahiran di ruang persalinan. Kalo Mas nanti mau merasakan mules itu lagi. Yang nemenin aku diruang persalianan nanti siapa dong. Masa iya, aku ditemenin Mama. Atau,,, Tian aja. " gurau Bia smabil tertawa karena melihat perubahan wajah Al saat dia emnyebut nama Tian.


Al mencium bibir Bia lama. Sambil menahan tengkuk Bia. Al melepaskan ciumannya saat melihat Bia yang sudah kehabisan nafas.


" Tentu saja aku yang akan menemanimu di ruangan itu. Tidak Mama apalagi Tian !! " tegasnya sambil mengusap salivanya di bibir Bia.


" Ya sudah,, aku mau istirahat. Kita ke RS nya nanti habis ashar aja ya Mas. " kata Bia sambil merebahkan tubuhnya.


" Iya. Istirahatlah. " kata Al sambil tersenyum smirk.


" Gimana mau istirahat kalo tnagan Mas gak bisa diam gituu. " protes Bia.


Karena tangan Al yang semula mengusap perutnya diatas bajunya. Malah masuk dan mengusap perutnga secara langsung dan makin ke atas ke gunung kembarnya. Yang di protes seperti biasa hanya tertawa tanpa mendengar protesan Bia.


" Kamu makin menggodaku Bi. Aku jadi ingin. "


" Isshhh,, menggoda apanya. Kapan aku melakukannya. Mas aja yang mesum aja bawaannya. Maaasss,, udah,,"


" Aku ingin Bi. "


" Satu kali. " tegas Bia.

__ADS_1


Al tersenyum menang.


" Aku gak janji. " kata Al smabil memciumi telinga Bia untuk membuat Bia makin berhasrat.


__ADS_2