
Bia melepaskan pelukannya saat terdengar ketukan di pintu ruang kerja Al. Al menggenggam tangan Bia dan menariknya untuk berjalan bersama.
Ada seraut wajah Wimpi tengah menunggu di balik pintu. Dia mengangguk sopan.
" Maaf mengganggu Non Bia, Tuan Al. Diluar ada Tuan Leon dan Nyonya Gita. Juga ada dokter Baim dan dokter Tri. Nyonya Lea menyuruh Tuan Al dan Non Bia keluar untuk menemui mereka. " jelas Wimpi.
" Alhamdulillah Om Leon dan Tante Gita sudah datang." ucap Al senang.
" Apa dokter Iren juga ikut Kak ? " tanya Bia antusias.
" Saya tidak tahu yang mana dokter Iren Non Bia. Karena dokter-dokter itu datang bersama istri mereka masing-masing. " jawab Wimpi sembari beranjak pergi terlebih dulu.
" Aahh,, sayang sekali. Padahal aku ingin mengenalkan Alex pada dokter Iren. " keluh Bia.
Bia menggamit lengan Al dan beranjak keluar ruang kerja Al.
" Kamu yakin Bi ? Sepertinya aku pesimis dokter Baim akan merestui Alex dnegan Dokter Iren. Sudah menjadi rahasia umum kalo Alex suka gonta ganti pasangan Bi. Aku yakin dokter Baim juga sudah mendengar tentang ini. " kata Al.
" Aku hanya ingin mengenalkan mereka, bukan berarti menjodohkan kan Mas. Urusan gimana mereka kedepannya nanti, biar Alex dan dokter Iren yang memutuskannya. Kalo bukan jodoh, mau dipaksain gimanapun pasti gak akan bisa bersama. Kalo udah jodoh, mau dipisah seberapa jauh pun pasti akan bertemu. " tutur Bia sok bijak hingga tertawa lirih.
" Seperti kita,, aku sangat bersyukur karena Allah mentakdirkan kita berjodoh Bi. " celetuk Al.
Bia mengangguk penuh haru. Meskipun harus ada drama diantar hubungan mereka.
" Assalamualaikum. " sapa Bia sembari mencium punggung tangan Gita dan Leon.
" Apa sudah jinak Bia ? " gurau Leon.
Bia menatap Leon bingung.
" Jinak ? Apanya Om Leon ? " tanya Bia bingung.
Apalagi saat melihat Azalea, Zaskia, Gita dan Tian tertawa saat menatap dirinya dan Al.
" Ada apa sih Mas ? " tanya Bia heran sambil duduk disamping Al.
" Sudah, gak usah didengerin. Duduk disini aja. " jawab Al menggantung.
" Ciyeee,, ciyeee,, yang udah baikaaaann. " goda Zaskia.
Bia melihat Zaskia dengan masih bingung. Saat Zaskia mengedipkan sebelah matanya, dan menunjuk ke arah Al. Barulah Bia tersadar.
" Ya Alllah,,, aku pikir apa. " gumamnya keki.
" Dasar kamu itu Al. Sudah setua ini masih saja cemburuan. " ledek Leon.
" Posesif tingkat akut Om Leon. " celetuk Tian.
" Kan bucin. " sahut Zaskia menambahkan.
Yang diledek hanya bisa cemberut mendnegar sindiran keluarganya. Membuat Zaskia semakin santer meledeknya. Semua keluarga jadi tertawa.
" Tapi,, kalo Mas Al gak seperti ini. Malah aneh melihatnya. Aku jadi kehilangan. Aku lebih suka Mas Al yang sepeti ini. " seru Bia yang bisa menutup mulut Zaskia untuk meledek Al.
Spontan Al tersenyum senang dan mencium pipi kanan Bia.
" Mas ihh,,, malu kan. " gerutu Bia.
" Masih mending aku menciumnya disini. Kalo disini gimana ? " gumam Al sambil menunjuk ke arah bibir Bia.
Tentu saja Bia menajdi semakin malu, dia memukul lengan Al yang semakin terang-terangan menciumnya.
" Hahahah,,, sepertinya Kak Bia tertular virus bucinnya. " celetuk Zaskia.
" Kamu belum tahu aja gimana rasanya dicuekin Mas Al Ki. Meskipun aku tahu ada campur tnagan gaib wakttu itu. " tutur Bia yang membuat Al merasa bersalah.
" Syukurlah semuanya baik-baik saja sekarang. " ucap Gita senang.
" Tnate,, Afifah di tidurkan di samping Arra dan Bilqis aja. " usul Bia.
__ADS_1
" Ahh iya. " jawab Gita.
Azalea dan Bia ikut masuk bersama Gita. Meninggalkan para suami di teras.
" Om, bisa usahakan mengosongkan jadwal untuk dua bulan lagi. Sekitar tanggal satu sampai tanggal 12 ? " tnaya Al.
" Memangnya kenapa Al ? " tanya Leon heran.
" Tian, aku membutuhkan foto kopi KK, KTP dan pas foto Bu Adiba. Bisa kamu memberikannya padaku lusa ? " tanya Al tidak menghiraukan pertanyaan Leon.
" Untuk apa Kak Al ? "
Al hanya tertawa lirih melihat keseriusan tampak diwajah Leon dan Tian. Hingga membuat kedua lelaki itu berpandangan bingung.
" Inshallah di tanggal itu kita umroh sama-sama. " jawab Al.
" Allahuakbar ! " pekik Leon.
" Masyallah,, ! " pekik Tian tidak kalah kaget.
" Lalu untuk apa berkas Ibu Kak ? "tanya Tian.
" Bia ingin sekalian mengajak Bu Adiba. "
Tian hanya tersenyum penuh syukur. Binar bahagia terlihat jelas di matanya.
" Terima kasih Kak. " jawab Tian tulus.
" Aku harap Om Leon dan kamu bisa merahasiakan ini dari mereka. Bia ingin memberi surprise pada mereka semua. Kami akan mengatakannya satu minggu sebelun kita berangkat. "
" Bagaimana dnegan Gita ? "
" Tentu saja Tante Gita juga ikut Om, sekalian Afifah kalo mau di ajak. Karena anak-anakku dan Bilqis juga ikut serta. "
" Alhmdulillh. " seru Leon dan Tian bersamaan.
" Tuan Al ? " sapa seseorang di belakang Al.
" Dimana dokter Iren ? " tanya Bia saat ikut bergabung dengan Al.
" Dokter Iren masih ada dua operasi sesar Nyonya Bia. Dia menitipkan salamnya untuk Nuonya Bia. " jawab dokter Baim.
" Ah,, sayang sekali. " keluh Bia.
" Kalo Nyonya Bia merasa sayang karena tidak bisa mengenalkan Tuan Alex pada Iren adik saya. Mereka sudah saling mengenal Nyonya Bia. " tutur dokter Baim.
Tentu saja membuat Al dan Bia berpandnagan bingung.
" Bagaimana bisa ? Sejak kapan ? " tnaya Bia heran.
" Setelah Tuan Alex melakukan pemeriksaan HiV. " jawab dokter Baim.
" Oh iya. Mereka sempat bertemu tapi sepertinya belum sempat kenalan. Iya kan Mas ? "
" Iya, dokter Baim. Apa Alex pernah mendatangi dokter Iren ? " tebak Al.
" Seperti yang Tuan Al pikirkan. Tuan Alex mendatangi dokter Iren di ruang pemeriksaan. "
" Serius dokter Baim ? Mengantre bersama pasien dokter Iren ? Bersama bumil-bumil yang lain ? " sahut Bia tidak menyangka.
" Iya benar sekali Nyonya Bia. Bahkan sampai tiga hari berturut-turut karena dokter Iren tidak mau memberikan nomor telponnya kepada Tuan Alex. "
Al dan Bia berpandangan kaget lalu sedetik kemudian mereka tertawa membayangkan Alex ikut mengantre bersama Ibu hamil lainnya. Sedangkan dia sendirian tidak sedang menemani ibu hamil.
* Kenekatan Alex patut di apresiasi. Gila. * batin Bia lucu.
" Assalamualaikum. " sapa Mark sembari mendekat ke arah Al dan Bia.
Leon dan Tian sudah masuk ke rumah terlebih dulu karena Zaskia memanggilnya. Biar Leon bisa istirahat setelah perjalanan panjang.
__ADS_1
" Waalaikumsalam Papa. " jawab Bia.
Mark, Naya, Al, Bia, dan dokter Baim duduk di teras depan bersama dokter Tri.
" Pa,, kenalkan,,, "
" Dokter Baim. " sahut Mark.
Al menatap Bia bingung. Keinginannya untuk mengenalkan dokter Baim sudah terlebih dulu dijawab oleh Mark.
" Papa kenal dengan dokter Baim ? " tanya Bia heran.
" Alex setiap hari mengajak kami memutari rumah dokter Iren, Bia. " keluh Naya tidak enak hati.
" Hah,, mau ngaapain Ma ? "
" Sudah aku tawari untuk mampir, atau mau sekalian langsung melamar dokter Iren. Tapi dia selalu berubah pikiran saat melihat dokter Iren keluar rumah untuk bekeerja. Alex bilang belun siap kalo ditolak dokter Iren. " jelas Mark.
Spontan Al tertawa mendnegarnya. Begitupun dnegan Bia. Orang seperti Alex ternyata bisa insecure juga. Pikir Al.
" Sekarang sudah berhadapan langsung dengan wali doktter Iren Pa. Apa gak mau di omongkan langsung ?" tanya Bia.
Dokter Baim melihat ke arah Bia sejenak kemudian menatap Mark bingung.
" Begini dokter Baim. Aku selaku Omnya Alex. Ingin melamar dokter Iren untuk Alex. " jawab Mark to the point.
" Honey,, kamu terlalu to the point. " bisik Naya malu.
" Benarkah ? Lalu aku harus bagaimana ? Aku tidak pernah melakukannya ? " jawab Mark malu.
" Tidak apa-apa Tuan Mark. " sahut dokter Baim.
" Lalu,, ini gimana dokter Baim ? Kita jadi besan nantinya. " celetuk Al.
" Saya sangat merasa terhormat bisa menjadi salah satu bagian dari keluarga anda Tuan Al. Tapi,, ini tentang pernikahan adik saya. Yang menjalani ibadah terpanjang ini adik saya. Jadi, saya serahkan semuanya pada adik saya. Saya akan mendukung semua keputusan yang diambil Iren. " dokter Baim menjeda kalimatnya sejenak.
" Jujurr saya akui, saya sudah mencari tahu tentang Tuan Alex. Dan, sedikit banyak ada keraguan pada Tuan Alex. Maafkan saya Tuan Mark. " lanjutnya.
" Keraguan ? " tanya Mark heran.
" Tuan Alex terkenal dengan casanovanya. Dan Iren , adik saya, dia seorang yang introvert. Semua sifat yang dimiliki adik saya sepertinya kebalikan dari semua sifat Tuan Alex. Itu yang membuat saya ragu. " jawab dokter Baim.
" Aahh,, itu masa lalu. Alex sudah berubah dokter Baim. " protes Naya kecewa.
" Alex seorang muallaf dokter Baim. " kata Al.
" Waduhh,, gimana ya Tuan Al. Saya malah sangsi adik saya bisa membersamainya nanti. "
" Maksud dokter Baim ? " tanya Bia.
" Ehhmm,, Nyonya Bia pasti bisa melihat adik saya baru saja berhijrah karena kasus Nyonya Bia dulu. Saya menyangsikan adik saya bisa membersamai Tuan Alex menuju hijrah yang sama. Saya kira, adik saya belum cukup mempunyai ilmu yang mumpuni untuk membimbing Tuan Alex nanti. "
Bia tersenyum sembari mengangguk.
" Bagaimana kalo nanti Alex sudah menjadi lebih baik dan yakin bisa membimbing dokter Iren ke depannya. Apa Alex masih mempunyai kesempatan untuk melamar dokter Iren ? " tanya Bia.
" Saya tidak bisa menjanjikan apapun Nyonya Bia. Tapi, yah, biar saja waktu yang menjawabnya. Karena adik saya juga akan melanjutkan S2 ke Jepang. Tiga hari lagi dia akan berangkat. "
" Alex juga akan belajar di pondok pesantren Ustadz Yahya di Singapura Bia. " jawab Naya.
" Biarkan mereka memantapkan hati masing-masing. Belajar tentang agama. " sahut Al.
" Betul sekali Tuan Al. Saya harap jarak yang cukup jauh ini bisa membuat mereka menjadi pribadi yang lebih baik ke depannyaa. "
" Aammiinn. " jawab Bia.
" Terima kasih dokter Baim. " ucap Mark.
" Saya tidak melakukan apapun Tuan Mark. " gurau dokter Baim.
__ADS_1
Semuanya jadi ikut tertawa.