
Ghazzy tersenyum saat melihat Al masih uring-uringan dan tidak mau menyapa semua penghuni rumah termasuk anak-anak. Bahkan dia sudah memesan tiket pulang ke Kalimantan untuk besok pagi.
" Mas Faiz,, Adek Fawwaz. Bangunkan Papa Al. Kita sholat maghrib berjamaah. " kata Ghazzy sembari membenarkan peci Fawwaz.
" Kamu yakin dia mau Ghazzy ? " tanya Azalea yang sudah berada di mushola rumah itu bersama Zaskia dan Bia.
" Kalo anak-anak yang memintanya. Pasti dia mau Ma." jawab Ghazzy.
" Sama Mama Ara juga Yah ? " tanya Fawwaz.
" Iya dong Dek Fawwaz. Panggil Opa Leon juga. " kata Bia
" Siiaaappp !!"
Adzan maghrib sudah selesai berkumandang. Tian dan Leon sudah duduk menunggu kedatangan anak-anaknya.
Azalea tersenyum senang saat melihat Al memakai baju koko warna putih dan sarung sewarna. Menggandeng kedua tangan anak-anaknya. Ada Clara yang juga tersenyum dibelakang Al. Bia berharap Al mau memjadi imam sholat saat ini. Agar semua keluarga Al tahu. Al tidak melupakan kewajibannya sebagai muslim meskipun dia sering melupakannya.
" Mas Faiz, Dek Fawwaz,, suruh Papa menjadi Imam sholatnya. Besok pagi Papa dan Mama Ara harus kembali ke Kalimantan. " kata Gahzzy.
Bia tersenyum.
* Aahh,, Hubby emang peka dengan perasanku. *
" Benarkah ? Ahh,, kami jadi tidak punya teman bermain lagi Pa. " keluh Fawwaz.
" Kenapa harus pergi Pa ? "
" Sholat dulu sayang. Ngobrolnya nanti ya. " tegur Bia saat melihat Al hendak menunduk untuk bicara pada anak-anaknya.
Al tersenyum senang mendengar Bia memanggilnya sayang. Padahal panggilan itu untuk anak-anaknya.
" Siaaaap Bunda. Ayo Pa, jadi Imam. " suruh Faiz.
Senyum diwajah Al perlahan menghilang. Dia melihat Gahzzy yang dijawab anggukan begitupun dengan Bia.
Tian seegera mengumandangkan iqomah pertanda sholat segera dimulai. Ghazzy dan Leon pun anak-anak segera berdiri di tempat masing-masing. Begitupun dengan Azalea, Zaskia, Clara dan Bia. Ada juga Wimpi dan Bik Amy.
Azalea bahkan menangis dalam sujudnya karena terharu Al masih bisa menjadi imam sholat.
Sudah tiga hari Al dan Clara berada di Kalimantan. Masih seperti biasa tidak saling tegur sapa. Clara melihat Al yang tengah berada di balkon rumahnya.
" Apa aku mengganggu Mas ? " tanya Clara sedikit ragu karena melihat Al yang melamun.
Al menoleh. Melihat Clara yang membawa dua cangkir entah apa isinya.
__ADS_1
" Gak. " jawabnya singkat sembari bersandar di pagar balkon menghadap Clara yang sudah duduk disana.
" Aku ingin bicara sesuatu Mas. Apa Mas sibuk ? "
Al menggeleng tapi tidak mengalihkan tatapannya pada Clara. Dia masih menatap ponsel yang berisi foto Bia dan anak-anaknya. Yang diambil saat mereka berada di rumah sakit. Dan juga memasang foto saat dia tertidur diranjang dengan menggenggam tangan Bia dan memeluk Faiz sebagai wallpaper ponselnya.
" Bicaralah. "
Clara menelan ludahnya getir. Karena mendapat sikap acuh Al sangat bertolak belakang dengan sikap Al pada Bia.
" Kita tidak bisa seperti ini terus Mas. Aku istrimu, kamu gak bisa mengacuhkanku seperti ini. "
Al menghela nafas panjang.
" Apa yang kamu mau ? "
" Berdamai Mas. " jawab Clara tegas.
Jawaban Clara membuat Al sontak mendongak dan menatap Clara bingung.
" Maksud kamu ? "
" Aku minta maaf karena sudah egois mempertahankan kamu dan pernikahan kita. Disaat aku tahu kamu mencintai Bia. Tapi kamu gak bisa memperlakukanku sepeti ini terus Mas Al. Setidaknya dulu kita bersahabat. Kamu tahu aku selalu menganggap kamu seperti kakakku sendiri. Apa itu gak ada artinya sama sekali buat kamu Mas ? "
Al terdiam sejenak. Lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dia ikut duduk di samping Clara. Dia juga menyadari kalo sikapnya pada Clara sangat keterlaluan.
Clara menyodorkan secangkir kopi hangat ke arah Al. Dengan sikap dingin dan datarnya Al minum kopi itu. Kemudian menatap Clara.
" Iya aku tahu Mas. Tapi, setidaknya biarkan aku berusaha untuk membuatmu menerimaku Mas. Kalopun nanti kamu masih belum bisa menerimaku, aku hargai keputusan kamu. Atau, anggaplah kita masih bersahabat seperti dulu. "
" Kamu yakin ? Kamu akan tersakiti Clara. "
" Dua tahun Mas. Selama dua tahun ini, kamu gak sadar udah menyakitiku dengan sikap acuhmu Mas. "
Al menunduk. Lalu kembali menatap Clara.
" Maafkan aku Clara. Aku gak tahu apa yang harus aku lakukan. "
" Anggap aku seperti Clara yang dulu Mas. Anggap aku sahabat kamu sepeti dulu. "
" Aku akan mencobanya Clara. "
" Aku bosan dirumah sendirian Mas. Ijinkan aku bekerja. Di kantor kamu juga gak apa-apa. "
Al kembali terdiam, seolah sedang berfikir keras.
" Baiklah. Kamu bisa menjadi sekretarisku dikantor. "
__ADS_1
" Benarkah Mas ? Ahh,, aku senang sekali Mas. Terima kasih. Terima kasih. " seru Clara senang sembari menggenggam tangan Al dan mencium punggung tangan Al tanpa sengaja.
Al sedikit canggung dengan ekpresi Clara. Tapi dia tidak mau merusak suasana hati Clara. Baru kali ini dia melihat Clara bisa tersenyum dirumah ini. Senyum yang sellau dilihat Al saat berada di rumah Bia. Aahh,, Bia,, aku merindukanmu. Pikirnya.
Melihat Al yang terdiam. Clara menarik tangannya keki. Takut Al keberatan dengan sikapnya. Dia tidak mau Al kembali menjaga jarak dengannya.
" Maaf Mas. Aku terlalu senang. Maafkan aku Mas Al. "
" Aku akan mengabarimu kalo Reiga sudah mempersiapkan dokumen kamu. "
Al tersenyum kemudian meminum kembali kopi buatan Clara. Entah kenapa seraut wajah Bia terbayang di matanya.
" Ehhemm,, "
Clara menoleh saat Al berdehem.
" Boleh aku minta sesuatu Clara ? "
" Apa itu ? " tanya Clara senang.
Ini pertama kalinya mereka bicara sedekat ini setelah sekian lama.
" Jangan memanggilku Mas. " tegas Al.
" Memangnya kenapa ?" tanya Clara heran. Padahal dia sendiri pun juga masih berusha membiasakan lidahnya. Speeti yang dibilang Bia.
" Panggil saja Al seperti dulu. Aku belum terbiasa mendnegarnya darimu. " jawab Al datar.
Padahal setiap kali Al mendengar Clara memanggilnya dengan ' Mas ', pasti yang terbayang dipikiran Al selalu Bia.
Clara menunduk.
* Pasti karena panggilan itu selalu kamu dengar dari Bia, Mas. Aahh Bia,, ternyata memang gak mudah menggeser posisi kamu di hati Mas Al. * batin Clara.
" Maafkan aku Clara. "
" It's okay, Al. Never mind. " jawab Clara sambil terkekeh untuk menutupi kekecewaanya.
" Thanks Clara. Dan aku minta maaf, karena aku masih belum bisa satu kamar dneganmu. Aku akan tetap tidur di ruang kerjaku. "
" Oke Al. Aku tahu kamu butuh waktu. Ehhmm,, maksudku kita. " jawab Clara sambil tersenyum agar Al tidak kecewa.
" Aku kembali ke ruang kerjaku dulu. "
" Iya. "
Clara menatap kepergian Al dengan pandnagan sayu.
__ADS_1
" Sampai kapan aku menjadi bayang-bayang kamu, Bia. Kalo aku gak mengenalmu pasti aku akan melabrakmu. " gumam Clara sambil tertawa geli.
Dulu, dia memang benci harus menjadi bayang-bayang Bia. Tapi sekarang, menjadi wanita seperti Bia menjadi satu impiannya. Wanita sholeha, istri sholehan dan sekarnag menjadi seornag Ibu yang madrasah bagi anak-anaknya.