
Bia memijat pelipis Al yang katanya terasa sakit. Sedang yang dipijat hanya senyum-senyum sambil memejamkan matanya.
" Udah gak pusing kan. Sekarang bangun. " ujar Bia sambil menarik hidung Al dan tertawa saat melihat mata Al langsung terbuka karenanya.
" Biarkan dulu seperti ini. "
" Aku kangen anak-anak. Aku mau telpon anak-anak."
Al memicingkan matanya.
" Kamu gak kangen sama aku ? Jujurlah, Bi. Apa kamu masih belum bisa menerimaku ? " protes Al kembali kesal.
" Mas ini bicara apa sih. Kalo aku masih belum bisa menerima kamu. Semalam gak mungkin terjadi apapun. Dan yang aku tahu, meskipun aku belum bisa menerima kamu. Kamu pasti tetap memaksa mengikatku kan. Gak mau menceraikanku kan. " omel Bia kesal. Bisa-bisanya Al masih berfikir seperti itu, setelah meminta haknya.
Al bangun dan memegang tengkuk Bia. Mencium bibirnya. Tidak perduli Bia memukul lengannya dan menjauhkan tubuhnya sebagai protes pada Al untuk melepaskan ciumannya.
Kalo tidak melihat Bia yang terlihat sudah kehabisan nafas, Al enggan untuk melepaskan ciumannya.
" Isshhh,,, " desis Bia kesal sambil sebanyak mungkin menghirup oksigen.
Al menghapus bekas salivanya dibibir Bia. Lalu tertawa saat Bia menepis tangannya kesal.
" Aku sudah pernah bilang kan. Aku akan menciummu kalo kamu tetap membicarakan tentnag perpisahan atau perceraian padaku. " ancam Al.
" Mas juga yang aneh-aneh. Bisa-bisanya berfikir aku belum bisa menerima setelah semalam melakukan itu padaku. "
Al kembali tertawa.
" Melakukan apa ? "
" Itu,,, "
" Itu,, itu,, apa ? " goda Al sambil terus mendekatkan wajahnya ke wajah Bia.
" Sudah. Aku mau telpon anak-anak. " elak Bia sembari mendorong wajah Al menjauh dan menggeser tubuhnya agar bisa bangun.
Al kembali merebahkan kepalanya di pangkuan Bia. Tentu saja membuat Bia tidak bisa bergeerak.
" Mas,,, "
" Sebentar lagi. " ujar Al.
Al menggeser tubuhnya kesamping, dia mencium perut Bia. Mengusapnya.
" Aku harap kamu segera hamil Bi. Aku iri pada Gahzzy yang bisa menjadi suami siaga di kehamilan si kembar dulu. Aku cemburu setiap kali melihat Gahzzy mengusap punggungmu yang nyeri. Menenangkan gerakan si kembar saat masih ada di perutmu. Aku juga ingin merasakan menjadi suami siaga. "
Tangan Bia terulur di kepala Al. Mengusap rambutnya yang masih sedikit basah. Tersenyum saat Al mendongak. Lalu kembali menciumi perut Bia. .
" Assalamualaikum calon anak-anak Papa. Aku harap kalian segera berkembang didalam sana. Ammiinn. "
Bia terpaku sejenak. Teringat Ghazzy. Doa yang sama yang diucapkan Ghazzy setelah Al melakukan penyatuan padanya.
Tangan Al mengusap wajah Bia yang terlihat sedang melamun. Bia menunduk.
" Sedang memikirkan apa ? " tanya Al heran.
" Tidak sedang memikirkan apa-apa. Kenapa ? "
" Aku yang akan menjelaskan semuanya, baik pada anak-anak ataupun pada Mama Naya dan Papa Mark. Dan aku akan segera mendaftarkan pernikahan kita. Membuatkan paspor untuk kamu dan anak-anak. Biar kita bisa mengunjungi makam Clara. "
Bia tersenyum .
" Terima kasih. "
" Jangan memikirkan apapun. Hanya pikirkan aku saja. "
Bia tertawa geli.
" Kenapa aku harus memikirkan kamu ? Ada Mama dan Kia yang lebih berkewajiban memikirkan kamu. " gurau Bia.
" Kamu ingin aku menciummu lagi. Dan aku pastikan kali ini tidak hanya ciuman. " kata Al seraya hendak bangkit.
Bia segera menekan kening Al hingga kembali terbaring di pangkuannya.
" Cckk,, selalu saja seperti itu. " gumamnya.
Al menggenggam tangan Bia dan menciumnya.
" Tetaplah disini Bi. "
" Aku gak bawa baju Mas. "
" Itu hanya alasan kan. Kamu pikir aku gak bisa memenuhi lemari ituu dengan baju untukmu ? "
Bia tertawa karena Al sudah bisa menebak pikirannya yang ingin menghindar.
__ADS_1
" Aku gak bisa menjanjikan apapun Mas. Kita jalani saja duluu. Sampai PR kita, sudah selesai kita kerjakan. Aku akan bersedia bersamamu dimanapun kamu tinggal nanti. "
" Aku benar-benar akan menghukum kamu kalo kamu sampai mengingkarinya. "
" Terserah kamu. Ingat, kamu punya syarat yang masih belum kamu lakukan. "
" Berjanjilah kamu gak akan membeli apalagi mengkonsumsi obat itu lagi. "
" Lalu, apalagi permintaan kamu ? Sepertinya aku harus mencatatnya biar bisa menghafalnya. "
" Bi,, aku serius !!! " bentaknya.
Senyum diwajah Bia hilang saat Al membentaknya.
" Iya. Aku janji. Tapi kamu juga janji satu hal padaku."
" Apa itu ? "
" Jangan emosi lagi. "
" Aku janji. " tegas Al sambil mencium tangan Bia.
" Aku gak perduli kalopun kamu masih belum bisa mencintaiku. Yang penting, aku gak akan pernah melepaskan kamu lagi. Cukup di masa lalu aku melakukan kebodohan itu. "
" Semuanya perlu waktu Mas. Baik aku dan kamu,, gak bisa melupakan Mas Ghazzy ataupun Kak Clara dalam waktu singkat. Tapi, yang perlu kamu tahu. Aku sudah menerima kamu Mas. Baik kehadiran kamu sebagai suamiku, juga perasaan kamu. Aku menyayangimu Mas. Aku khawatir kalo kamu sakit lagi. "
Bia tersentak kaget saat Al tiba-tiba bangun dan memeluknya erat.
" Terima kasih, Bi. Aku mencintaimu Bi. " bisiknya senang.
Bia tertawa kemudian mengangguk-angguk.
" Sudah ah. Lepasin dulu. Aku mau telpon anak-anak. Tapi ponselku tertinggal di ruang tamu. "
Al melepaskan pelukannya kemudian mengambil ponselnya yang berada di atas nakas.
" Pakai ponselku saja. " kata Al seraya kembali tertidur dipangkuan Bia.
" Mas. Kok tidur lagi ? Aku belum ambil jilbabku. "
" Memangnya mau kemana ? Kan hanya telpon. "
" Aku mau vidcall. "
" Nanti kalo Tian yang angkat vidcallnya gimana ? "
" Sini,, biar aku aja yang vidcal. Kalo ada dia, kamu gak usah ngomong. " geram Al sambil merebut ponselnya.
" Mulai,, mulai,, udah dibilang gak usah emosi. "
" Aku gak emosi. Aku hanya cemburu. Apa gak boleh aku cemburu ? "
" Kamu cemburu pada ornag yang salah Mas. "
" Dia punya banyak waktu berada disana selama ini. Kalian tinggal diatap yang sama. Bahkan anak-anak sudah nyaman didekatnya. Aku akan tergantikan nanti. "
Bia tertawa geli, lalu menarik hidung mancung Al.
" Kamu kalo cemburu resek Mas. Lihat aja. Pikirannya jadi ikut ngelantur kan. "
" Faktanya Bi. "
" Mana ada Om bisa menggantikan kedudukan Papa ?"
" Sudah diamlah. Aku gak mau kalo Tian mendnegarmu. " geram Al.
Bia menutup mulutnya yang masih tertawa tertahan. Sambungan vidcal sudah diangkat diseberang sana. Ada wajah Zaskia terpampang jelas disana.
" Assalamualaikum. " sapa Zaskia.
" Waalaikumsalam. Di mana anak-anak ? Dan juga suamimu ? "
" Mereka sedang bermain. Ada apaa ? "
" Tentu sjaa aku mau bicara dengn anak-anak. "
" Apa Kak Al sudah sembuh ? "
" Menurutmu ?? " goda Al smabil menaik turunkan alisnya.
Zaskia tertawa disebernag sana.
" Sepertinya Kak Bia benar-benar menyampaikan salamku kan. "
" Enak aja !! Itu karena pesan yang kamu kirim. " protes Bia.
__ADS_1
" Kak Bia ? "
Al menggeser posisi ponselnya sedikit menjauh hingga Zaskia bisa melihat posisi Al yang tengah tidur dipangkuan Bia yang tidak memakai jilbab.
" Kak Biiiaaaa,,,,, " seru Zaskia lalu tertawa.
" Iiisshhh,, Ki. Dimana anak-anak ? "
" Mas,, adek,, bunda vidcal. " seru Zaskia.
Tampak dimata Bia, Zaskia tengah mengusap sesuatu disudut matanya. Dia hanya tersenyum melihatnya. Al meletakkan tangan Bia di keningnya. Seolah pertanda ingin Bia kembali mengusap kening dan kepalanya.
" Buuuuunnndaaa,,, !!!! " seru si kembar bersamaaan.
" Kok gak salam dulu ? "
" Assalamualaiakum Bunda. "
" Waaalaikumsalam. Mas dan Adek gak nakal kan. "
" Gak dong Bun. " jawab Faiz.
" Bun,, Papa mana ? Kok belum jemput Mas dan Adek ? Katanya kita mau kerumah Papa dan Mama Ara ? " protes Fawwaz.
" Papa ,, ada disini Adek. Papa sedang gak enak badan. "
Al menggseser ponselnya sedikit ke bawah jadi terlihat di layar.
" Papaaaa,,, !! " seru keduanya senang.
" Papa sakit ? " tanya Fawwaz.
" Sedikit. Nanti malam Papa jemput. Sekarang Papa istirahat dulu. "
" Beneraan mau jemput ? " tanya Faiz.
" Iya. Nanti Papa dan Bunda jemput. "
" Oke Pa. " seru Fawwaz.
" Pa,, Mama Ara dimana ? Kenapa Papa sama Bunda ?"
tangan Bia berhenti mengusap kepala Al. Dan itu sudah membuat Al mengerti. Kalo ketakutan Bia terjadi. Anak-anaknya menanyakan dua hal yang menjadi PR mereka selama ini.
" Nanti malam Papa jelaskan. "
" Oke Pa. " celetuk Faiz dan Fawwaz.
" Mau bermain lagi ? "
" Iya Pa. " jawab Fawwaz.
" Baiklah Papa tutup telponnya. "
" Iya. Assalamualaikum Papa. "
" Waalaikumsalam Mas,, Adek. "
Al meletakkan ponselnya di atas nakas. Berbaring dibantal dekat Bia. Lalu menarik tubuh Bia agar ikut berbaring. Memberikan lengannya sebagai bantal Bia. Mengusap wajah Bia yang terlihat murung.
" Kepikiran dengan pertanyaan anak-anak ? "
" Sudah aku jelaskan kan tadi ? PR kita udah ditagih."
" Aku siap bertamggung jawab untuk menjelaskannya."
Bia mengeratkan dekapannya ke tubuh Al. Membenamkan wajahnya didada bidang Al, merasakan tangan Al yang mengusap rambutnya dengan lembut.
" Apa anak-anak dan ornag tua Kak Clara akan mengerti hubungan kita dulu Mas ? " tanya Bia tanpa mendongak.
" Semoga saja. Tidurlah lagi. "
" Sebentar lagi dhuhur Mas. "
" Masih lama Bi. Istirahatlah sebentar. "
" Tapi, jangan macam-macam. " ancamnya sembari mendongak.
Al tertawa. Kemudian mencium bibir Bia.
" Sudah waktunya minum obatku. " desis Al ditelinga Bia.
" Tuuuhh kaaan. Aahhh, Maasss.. "
Bia hanya bisa pasrah saat Al kembali menginginkannya lagi. Tidak bisa mendebat apalagi memeberontak. Karena setiap kali hendak bicara Al sudah membungkam Bia dengan bibirnya. Mau berontak juga percuma, karena Al sudah menindihnya.
__ADS_1