Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 115


__ADS_3

" Katanya tiga bulan lagi kesininya ?! " seru Zaskia senang saat Leon dan Gita datang berkunjung ke rumahnya.


Zaskia menyambut kedatangan Gita dengan memeluknya sejenak. Lalu mencium telapak tangan Leon dan Gita bergantian.


" Ada yang sudah sangat merindukan Om. " gurau Leon sembari terkekeh.


Al hanya berdecak kesal. Sambil duduk di sofa ruang tamu. Bia keluar dari dapur dengan membawa tiga gelas teh hangat. Dan tiga botol air mineral.


" Kalo bukan karena Bia yang akhir-akhir ini sering kram perutnya, aku gak mungkin repot-repot membawa Om Leon kesini. " sahut Al cepat lalu membantu Bia meletakkan nampan itu diatas meja.


Bia dan Azalea hanya tertawa lalu bergantian memeluk Gita. Bia juga mencium telapak tangan Gita dan Leon bergantian.


" Afifah mana Tante ? " tanya Bia.


" Afifah masih dirumah Papaku, Bia. Mereka tidak memperbolehkan kami membawanya. Mereka masih kangen cucunya. " jawab Gita tidak enak hati.


" Kenapa kita gak main kesana aja Ma ? " usul Zaskia.


" Benar juga. Udah lama kita gak silaturrahmi kesana." jawab Azalea.


" Aku ikut Ma. " sahut Bia.


" Gak boleh !! " seru Al saat selesai minum teh hangatnya.


" Kenapa ? "


" Kamu lupa semalam perutmu kram Bi ? Tidak boleh pergi kemanapun. " jawab Al.


" Tapi, aku ingin ikut Mas. Aku mau melihat Afifah. " bujuk Bia.


" Tidak. " jawab Al singkat.


Bibir Bia mengerucut karena kesal. Tapi tidak juga bisa mendebat. Karena apa yang dikatakan Al memang benar. Semalam perutnya kram, entah kenapa.


" Memangnya kenapa Bia ? " tanya Gita heran.


" Aku gak tahu Tante. Rasanya kayak kram waktu menstruasi. Yahh,, cuman sebentar aja sih. " jawab Bia.


" Apa kamu kecapean Bia. Al,, jangan mengajak Bia ke kantor lagi. " tegas Azalea.


Bia tertawa melihat Al yang menggeleng cepat. Malah menyandarkan kepalanya di pundak Bia.


" Gimana gak ngajak Kak Bia. Mama lihat aja anak Mama itu. Bucinnya makin akut. " sindir Zaskia.


" Haaalllaaahhh,, palingan Al yang terlalu sering menengok anak-anaknya. Iya kan Bi ?! " sindir Leon ceplas ceplos.


Al hanya tertawa sambil mengacungkan kedua jempolnya.


" Bisa dicoba Om Leon. " gurau Al sambil mengerlingkan matanya pada Bia.


" Isshh,, apaan sih. " geram Bia malu.


" Kapan kamu terakhir USG ? " tanya Gita.


" Eehhmm,,, sepertinya saat Kia lahiran. Sempet periksa ke dokter Iren. Tapi gak pake USG. " jawab Bia.


" Kenapa ? "


" Dokter Iren bilang, karena terlalu stres. Mungkin ikut teegang saat Kia mau lahiran. " jawab Bia smabil terkekeh.


Berbed dengan Gita dan Leon. Mereka saling berpandnagan. Apa prosedur RS di Kalimantan berbeda ? Harusnya tetap dilakukan USG, mengingat usia kehamilan Bia sudah masuk trimester akhir.


" Jadwal USG lagi kapan ? " tanya Gita.

__ADS_1


" Ehhmm,, sepertinya hari ini. Iya kan Mas ? "


" Iya. Aku juga sudah mengambil nomor antriannya. Mungkin sekitar dua jam lagi. " jawab Al.


" Baguslah. Aku akan ikut denganmu. Aku ingin melihat USG nya. " jawab Gita.


" Kita ikut sekalian Ma ? " tanya Zaskia.


" Kia,,, Bilqis mau ditinggal ? " tegur Bia.


" Bilqis kan lagi tidur Kak Bia. "


" Tapi, ya gak ditinggal juga kan. Kamu gak boleh ikut. " elak Bia.


" Kan ada Kak Tian. "


" Ki,, ibunya kan kamu. Masa iya, Tian yang mau kasi ASI ke Bilqis. " celetuk Gita.


Tapi bisa menyadarkan keegoisan Zaskia.


" Tapi,, "


" Kia,, gak ada tapi-tapian. Kamu tetap dirumah. " tegas Azalea.


" Iya,, iya,,, " gerutu Zaskia.


Semuanya tertawa mendnegar gerutuan Zaskia.


" Aku telpon Papa sebentar ya. Aku mau pastiin Afifah gak rewel. " pamit Gita.


" Silahkan Tante. Maaf. Aku merepotkan Tante Gita. "


" Apaan sih kamu ini Bia. "


---------------------------------------------------


Dan dibelakangnya ada dua dokter yang mempunyai sertifikasi ganda. Dia sudah melihat bagaimana kinerja mereka berdua yang ternyata pasangan suami istri. Saat menyelamatkan adik dari Tuan Al. Ada mereka disini membuatnya bingung harus bagaimana.


Apalagi mereka berdua juga ikut masuk ke dalam ruang tindakan USG. Dokter Iren tidak bisa mengelak karena suami Bia, Al mengijinkannya.


Dia menjelaskan tentang kondisi janin Bia dan detak jantung si kembar yang normal. Dan menasehati Bia agar tidak terlalu stres memikirkan kehamilannya yang masuk trimester akhir.


Bukan itu yang membuat alis Gita berkerut. Raut wajahnya yang serius membuat Leon juga ikut menatap layar USG itu.


" Tunggu dulu ! " seru Gita.


Dokter Iren mengurungkan niatnya untuk menyudahi USG 3dimensinya. Dan menatap Gita bingung.


" Bisa ambilkan kami sarung tangan ? " pinta Leon pada asisten perawat yang ada disana.


Perawat itu melihat ke arah dokter Iren yang dijawab dengan anggukan. Lalu dengan sigap memberikannya pada Leon. Dan satu lagi diserahkan Leon pada Gita.


Gita mengambil alih USG Bia. Alisnya makin berkerut.


" Sebelah sini ? " tanya Leon sembari menunjuk ke arah kanan perut Bia.


Gita mengangguk sambil tersneyum, bangga dengan kesigapan Leon.


" Maaf, permisi ya Bia. " kata Leon saat mengambil alih USG karena tangan Gita tidak sampai.


Bia mengangguk, melihat kedu orang dokter keluarganya itu beraksi. Sedikit membuat Bia khawatir terjadi sesuatu pada janinnya. Tanpa sadar Bia menggenggam erat tangan Al yang nampak menatap tajam pada kedua orang dokter itu.


" Ada apa Om ,, Tante ,,, ? " tanya Al cemas.

__ADS_1


" Apa RS ini tidak memiliki USG 4dimensi ? " tanya Gita serius.


Perawat dan dokter itu saling berpandnagan kemudian mengangguk.


" Ada, dokter. " jawab perawat itu.


" Bisa diambilkan ? Saya memerlukannya untuk pemeriksaan lebih lanjut. " kata Gita smabil melirik ke arah dokter Iren yang menunduk.


Perawat itu tampak bingung harus bagaiamana. Apalagi dokter Iren hanya menunduk.


" Ambilkan semua keperluan dokter Gita. Aku yang akan bertanggung jawab. Kalo perlu aku akan menelpon dokter kepala sekarang juga. " hardik Al kesal karena melihat dokter dan perawat makin lemot.


" Baik, Tuan. " jawab perawat itu.


" Sabar Al. " hibur Azalea sambil mengusap lengan Al untuk menenangkannya.


Al segera menelpon dokter kepala dan menyuruhnya untuk ke poli kandungan. Dimana dia berada sekarang.


" Si kulkas kelihatan keren Lea. " sindir Leon.


" Dia keponakanmu Leon. " tegur Azalea.


Bia sedikit terhibur mendnegarnya. Perawat itu masuk dengan membawa USG 4dimensi bersamaan dengan dokter kepala dan juga direktur utama RS Medika.


Semuanya melihat apa yang tengah dilakukan Gita dan Leon. Direktur utama yang dulunya juga dokter spesialis bedah senior dari Leon menghela nafas panjang. Begitupun dengan dokter kepala.


" Apa yang bisa kamu tangkap dari USG ini dokter Iren ? " tanya Gita serius bahkan terdengar marah.


Semua mata menatap dokter Iren yang ada disana. Dia melihat layar USG itu, tapi masih belum menemukan kejanggalan disana.


" Kamu masih belum mengerti juga ? " teegur Leon.


" Maafkan dokter kami. Saya yang akan mengambil alih. " sahut dokter Tri, dokter kepala disana.


" Jelaskan ada apa ini ? " seru Al cemas.


" Hidden twins. " jawab Gita marah.


Dokter Tri dan dirut RS, dokter Baim kembali menghela nafas panjang. Dokter Iren kembali menatap layar USG.


" Sedemikian jelas melalui USG 4dimensi. Dan dokter Iren masih gak mengerrti juga ? Ini RS terbesar di Kaltim. Apa hanya karena ada satu dokter yang ceroboh membuat nama baik RS ini rusak ? Apa RS terbesar ini gak mempunyai dokter spesialis obgyn yang lain ? " tegur Leon tegas dan dingin.


" Maafkan kecerobohan tim kami. Saya yang akan mengambil alih pasien Bia. " sahut dokter Tri.


" Tidak perlu. Aku akan mencabut semua investasi perusahaanku. Kalo terjadi sesuatu pada istri dan anak-anaaku. Akan aku pastikan lisensimu akan dicabut. " geram Al sambil membantu Bia bangun dari tidurnya.


" Sebenarnya apa yang terjadi Mas ? Ada apa ? Kenapa kelihatannya ada yang serius ? " tanya Bia bingung.


" Gak ada apa-apa Bi. Kamu tenang aja. " hibur Al.


" Kita bisa membicarakan masalah ini baik-baik Tuan Al. Kami akan bertnaggung jawab sepenuhnya. " kata dokter Baim menenangkan.


" Kita bicara diruanganmu sekarang juga. Kita semua." hardik Al.


" Baik,, baik,, Tuan. Silahkan. " jawab dokter Baim semabri mempersilahkan.


" Sekalian perawat itu suruh ikut. " sahut Leon.


" Baik dokter Leon. Silahkan. " kata dokter Tri mempersilahkan.


Leon dan Gita melepaskan sarung tangannya dan membuangnya ke sampah medis yang ada di ruangan dokter Iren.


" Ma,, ini sebenarnya ada apa sih ? " tanya Bia sedikit berbisik.

__ADS_1


" Aku juga tidak tahu Bia. Kenapa sikonnya jadi setegang ini. Memangnya ada apa dengan USG kamu tadi ? "


Bia dan Azlaea mengangkat bahu pertanda tidak menemukan jawaban apapun.


__ADS_2