
Al menarik tubuh Bia hingga merapat dengan tubuhnya sesaat sebelum masuk ke rumahnya.
" Apa sih ini. Lepasin Mas. Nanti dilihat anak-anak. "
" Tadi takut dilihat karyawan kantor. Sekarang, takut dilihat anak-anak. Kamu milikku Bi. Aku mau semua ornag mengenalmu sebagai istriku. Aku gak mau orang lain menatapmu. Mengertilah. " omelnya.
" Kok ngomongnya itu lagi sih. Aku cuma minta lepasin lho. Gak enak dilihat anak-anak. " protes Bia.
" Biar aja mereka melihatnya. "
" Ya sudah, terserah kamulah Mas. "
" Kamu marah karena aku melarangmu belajar myetir mobil ? "
" Gak marah. Aku bisa mengerti alasan kamu, Mas. Sudah lepasin. Aku mau masuk. "
" Kalo gak marah. Kenapa masih sejutek itu padaku ?" goda Al.
Bia mneghela nafas. Kemudian menarik hidung Al gemas. Lalu mengecup bibirnya sekilas.
" Udah puas kan. Lepasin. " gerutuu Bia.
Al tertawa senang karena Bia memahami keinginannya. Kemudian melepaskan pelukan Bia tapi tetap mendekapnya. Sesekali malah menciumi pipi Bia.
" Mas, sudah hentikan. " protes Bia kesal.
" Cckkk,, kalian ini. Kalo sudah tidak tahan lagi. Kenapa gak pergi aja ke kamar kalian. " seru suara di balik pintu utama rumah Al.
" Alex ?! "
" Pak Alex ? "
Alex menyandarkan tubuhnya di pintu dan tangannya bersedekap.
" Hai Bia. Aku sudah bilang, kita pasti bertemu lagi. " seru Alex senang.
Tentu saja membuat Al makin posesif. Dia mengeratkan dekapannya pada Bia.
Bia menghela nafas. Sampai kapan mereka akan saling melemparkan tatapan penuh permusuhan.
" Apa yang kamu lakukan di rumahku Alex !! " bentak Al marah.
" Al, apa yang terjadi ? " tanya Mark yang ikut keluar rumah saat mendengar bentakan Al. Begitupun dengan Naya.
" Assalamualaikum Papa. " sapa Bia sembari tersenyum manis dan mencium punggung tangan Mark.
Alex ikut tersenyum smirk melihatnya. Mengusap bibirnya dengan jempolnya. Lalu menatap Bia intens.
* Menarik, kamu sangat manis Bia. Aku jadi semakin ingin merebutmu dari Al. * Batin Alex.
" Waalaikumsalam Bia. I miss you. " jawab Mark sambil mengusap kepala Bia.
" Bia,,, Mama sanagt merindukan kamu. " sapa Naya sembari memeluk Bia.
" Aku juga Ma, Pa. Maaf gak bisa menyambut kedatangan Mama dan Papa. " ujar Bia senang.
Al mendorong tubuh Alex dengan kesal agar sedikit menjauh dari orang tua Clara dan Bia. Tatapan Alex yang intens pada Bia membuat Al serasa ingin mencongkel matanya. Sikap Alex,, ? Seperti biasa hanya tertawa tidak memperdulikan kecemburuan Al.
" Alex,, kau tidak mengganggu Bia kan . " tebak Naya saat melihat tatapan penuh marah dan sikap posesif Al yang semakin berlebihan pada Bia.
" Hahaha,, tidak. Tentu saja tidak. Kalo Tante gak percaya, tanya saja pada Bia. Bukan begituu Bia ? " gurau Alex sembari duduk di kursi taman.
" Tante ? " gumam Bia heran.
" Al gak mungkin bersikap seperti ini, kalo kamu gak mengganggu Bia. " jawab Naya.
__ADS_1
Tapi Alex hanya kembali tertawa. Seolah menertawakan sikap posesif Al pada Bia.
" Kenapa Bia memanggil Om dan Tante dengan Mama dan Papa ? " tanya Alex sedikit berbisik pada Naya.
Tapi bisikan Alex terdengar jelas oleh Al dan Bia. Entah apa maksud Alex sebenarnya.
" Itu bukan urusanmu !! " seru Al.
Azalea dan Zaskia keluar rumah dengan membawa stroler anak-anak mereka. Sedikit memgalihkan perhatian ornag tua Clara dan Bia. Al hendak meraih Farash di stroleer tapi Bia memcegahnya.
" Mas belum cuci tangan. " kata Bia melarang.
" Kamu juga belum Bi. " protes Al.
" Kan aku gak gendong anak-anak. " elaknya.
" Kalian berdua. Mandi dan sholat dulu. " tegur Azalea menghentikan perdebatan anak dan menantunya.
" Bau asem tauuu. " ejek Zaskia sambil menjepit hidungnya.
" Iiissshhh,, awas aja nanti malam gak boleh mengganggu Bia. " sahut Al sambil mencubit kedua pipi Zaskia dan beranjak menghindar ke belakang Bia.
" Kak Aaaaalllll,,, !!!! " pekik Zaskia sewot sembari mengusap kedua pipinya.
Pekikan Zaskia spontan membuat anak-anak bertangisan bersama-sama karena kaget. Adiba dan Tian segera mendekat dan membantu Zaskia menenangkan Bilqis.
" Iiishhh,, kalian berdua memang benar-benar ya. Lihat saja, karena kalian anak-anak jadi terbangun kan. " omel Azalea lalu menggendong Farash.
Adiba membantu Azalea dnegan menggendong Farish. Naya ikut mendekat dan menggendong Arra. Bahkan si kembar Faiz dan Fawwaz pun jadi ikutan keluar rumah karena heran mendengar adik-adiknya bertangisan. Begitupun dnegan Bik Amy dan Bik Okta.
" Ada apa Oma ? Kenapa adik-adik menangis ? " tnaya Fawwaz heran.
" Itu Mas,, Mami Kia nakal. Berisik aja. " jawab Al bergurau sambil mendekap Bia.
" Sudah,, kalian berdua gak bisa ya gak adu mulut seharian. Kalian mau membuat anak-anak menangis lagi. " gertuu Azalea.
" Kia,, " tegur Tian saat Zaskia hendak protes pada Azalea.
Zaskia hanya menunduk, mengurungkan niatnya untuk protes pada Azalea. Bia memukul dada bidang Al yang terkekeh melihat Zaskia tidak bisa berkutik di depan Tian dan Adiba.
" Siapa nama mereka Bia ? " tanya Mark smabil mencium kening Arra yang ada di gendongan Naya.
" Yang di gendong Oma Diba,, adik Farish Opa. Yang di gendongan Oma Lea, adik Farash. Yang digendongan Papi Tian, adik Bilqish. Lalu yang di gendongan Oma Naya. Namanya Arra. " jelas Faiz.
Semuanya tersneyum lucu melihat Faiz yang sudah seceria dulu sebelum mengetahui tentnag foto yang dikirim oleh Sesil.
" Opa Mark. Nama Adik Arra hampir mirip sama Mama Arra ya. " celetuk Fawwaz.
Naya menghapus air matanya. Kemudian mengangguk dan tersenyum.
" Mas Fawwaz,, buat Oma Naya menangis kan. " sahut Faiz.
Keduanya lalu mendekat pada Naya dan Mark. Mendekap keduanya yang tengah menunduk sedih. Bia menoleh saat tangan Al mengusap air matanya yang ikutan menetes. Bia hanya tersneyum, tnagannya terulur membalas dekapan Al.
" Jangan sedih Oma Naya. Mama Arra udah bahagia di atas sana. " hibur Fawwaz.
" Mama Arra dan Ayaah Ghazzy udah tnenag berada di sisi Allah. " sahut Faiz sambil mencium pipi kanan Naya dan pipi kiri Mark.
" Makasi ya Mas. Bunda memang punya anak-anak yang hebat. " puji Mark.
" Iya dong. Bunda siapa dulu. " seru keduanya bangga.
" Hanya Bunda yang hebat ? " sindir Al.
" Iya dong. Memang Bunda hebat. " tegas Fawwaz dan Faiz bersamaan.
__ADS_1
" Iisshh kalian ini,, " geram Al pura-pura kesal. Hingga anak-anaknya hanya tertawa.
" Aku permisi dulu. Mau mandi. " pamit Bia.
" Iya. Silahkan. " gurau Alex.
" Kenapa kamu masih disini ? Kamu belum menjawab pertanyaanku. Sedang apa kamu dirumahku ? " sahut Al kesal.
Bia mengurungkan niatnya untuk masuk ke rumahnya. Karena Al sudah terlihat terpancing emosi.
" Memangnya kenapa ? Bukannya kita rekan kerja. " jawab Alex santai sambil memainkan jemari tangan Arra.
" Jangan sentuh anakku ! " hardik Al.
" Mas,,, " tegur Al.
" Kalo gitu,, apa aku boleh menyentuh Bundanya ? Setidaknya ijinkan sekretarismu itu makan siang denganku besok. "
" Alex,, jaga bicaramu. Al masuk dan mandilah dulu. " tegur Azalea.
Alex mengangkat bahunya sembari tertawa lagi. Apalagi saat melihat Mark tengah menatapnya tajam. Seolah membenarkan perkataan Azalea.
" Ayo kita semua masuk. Siap-siap sholat maghrib ya." ajak Bia sembari menganggukkan kepalanya pada Faiz dan Fawwaz.
" Bunda,, kami belum mandi juga Bun. " seru Faiz.
" Ya sudah ayo kita mandi sama-sama. Kita balapan !!" seru Al sambil sedikit berlarian ke dalam rumah.
Faiz dan Fawwaz tertawa.
" Bunda,, Papa curang !! Sudah lari duluan. " seru keduanya dan langsung berlarian menyusul Al ke dalam rumah.
" Hati-hati. " tegur Bia.
" Bu Adiba. Maaf,, masih merepotkan. " ujar Bia merasa bersalah saat Adiba melewati Bia dengan masih menggendong Farish.
" Sudah. Santai saja Bia. Aku malah senang. Di usiaku sekarang ini, masih bisa bermanfaat utnuk ornag lain. Apalagi bisa dekat dengan besan dan cucuku. "
" Terima kasih Bu. " ujar Bia.
" Bagaimana dnegan Al, apa efek teluhnya benar-benar sudah hilang ? "
" Alhamdulillah Bu. Berkat jam tnagan pemberian Bu Adiba juga. Sekarang dipake terus sama Mas Al. "
" Alhamdulillah Bia. Aku ikut senang mendnegarnya. Aku harap ini terakhir kalinya Al terkena teluh. "
" Aaammiinn,,, aammin ya robbal alamin. "
" Apa ASInya masih macet ? "
" Alhamdulillah sudah lebih baik Bu. "
" Breast massage ? " tebak Adiba.
" Iya Bu. "
" Syukur Alhamdulillah. Pergilah mandi dan bersiap sholat. Aku bawa Farish ke kamar dulu. "
" Permisi Bu. "
Adiba mengangguk sambil tersenyum.
Alex kembali menyandarkan tubuhnya di pintu utama yang sudah di tutupnya. Melihat semua anggota keluarga Al masuk ke kamar anak-anak Al.
* Siapa Bia ini,, kenapa auranya terpancar begitu bercahaya. Seolah semua orang ingin memilikinya ? Bahkan sedari siang aku berada dirumah ini, dinginnya sikap keluarga Al. Langsung mencair saat Bia sudah datang. Heeemmm ,,, Bia,, bisakah aku merebutmu dari Al ? Aku penasaran siapa kamu ini Bia ? * batin Alex.
__ADS_1