
Zaskia tersenyum saat melihat Al dan Clara tertidur dengan mengapit si kembar. Mengabadikannya dalam ponselnya. Mengirimnya pada Ghazzy. Lalu keluar dari kamar mereka menuju ruang tamu.
" Dimana kakakmu ? " tanya Azalea.
" Keduanya tidur sama si kembar Ma. " jawab Zaskia.
" Leon sudah mempersiapkan semua hantarannya. Akad nikahnya jam delapan pagi. Kalo dari rumah Nenek lebih dekat untuk ke rumah dokter Gitanya. "
" Kalo gitu, kita berangkat dari sana saja Ma. Nanti malam kita bisa berangkat kesana. "
" Bagaimana dengan Clara ? Dia masih sakit. "
" Aku sudah lebih baik Ma. " jawab Clara yang muncul dibelakang Zaskia.
Zaskia memeluk Clara erat.
" Aku ikut prihatin dengan apa yang menimpa Kak Clara." bisiknya.
" Terima kasih Ki. "
Clara melepaskan pelukannya pada Zaskia. Dan menyalami Azalea lalu memeluknya. Menangis sesenggukan.
" Maafkan aku Ma. Maafkan aku. " bisiknya.
" Kenapa harus minta maaf Clara ? Maafkan Mama karena gak sempat menjengukmu di Singapura. "
" Maaf. Karena aku bukan menantu sempurna Ma. Aku gak bisa memberikan Mama cucu nantinya. "
Azalea mendudukkan Clara di sampingnya. Mengusap air mata Clara. Menggenggam tangannya.
" Gak ada istilah sempurna Clara. Mama yang harusnya minta maaf karena membuatmu masuk ke dalam hubungan yang rumit ini. Kamu sudah terlalu tersakiti. Maafkan Mama Clara. "
" Aku mencintai Al Ma. "
" Aku tahu Clara. "
" Tolong, jangan memintaku untuk bercerai dengan Al Ma. Aku gak sanggup. "
Azalea dan Zaskia slaing menatap heran.
" Clara. Gak ada yang memintamu untuk bercerai dnegan Al. " ujar Mama.
" Benarkah ? Mama dan Kia kesini bukan untuk memintaku bercerai dengan Al ? Karena aku gak bisa memberikan anak pada Al ? "
" Ya Allah, Kak Clara. Kenapa pikirannya sampai sejauh itu ? Kak Clara lupa ? "
Clara menatap Zaskia bingung.
" Kak,, besok hari pernikahan Om Leon dan Dokter Gita. "
Clara menepuk keningnya.
" Aku benar-benar lupa Ki. Aku pikir Mama dan kamu kesini untuk memintaku bercerai dengan Al. "
" Buang jauh pikiran itu Clara. Aku sudah menganggapmu sebagai anakku sendiri. Bukan sebagai menantu. Sama seperti Bia. "
Clara celingukan seolah tengah mencari sesuatu.
" Ada apa ? " tanya Azalea bingung.
" Bia,, dimana Bia , Ma ? "
" Bia dan Gahzzy gak ikut. "
" Kenapa ?! " seru Al yang baru bangun dan bergabung dengan keluarganya.
" Kak Ghazzy kan menggantikan Kak Al di perusahan Dewandaru. Pekerjaaan di Mal Expo jadi numpuk dong. Tentu saja gak bisa datang. "
" Lalu apa hubingannya dengan Bia ? "
__ADS_1
" Kak Bia mau menemani Kak Gahzzy dong ! " seru Zaskia sengaja memancing emosi Al. Sedikit ingin tahu bagaimana perasaan Al pada Bia.
" Dan memilih meninggalkan anak-anak ?! "
" Kan disini sudah ada Papa mereka. " sahut Zaskia sambil menunjuk Al.
" Aaarrgghh,,, !! " keluh Al kesal seraya pergi masuk ke ruang kerjanya.
Al melemparkan jasnya ke sembarnag tempat. Kemudian duduk di tempat kerjanya.
" Bisa-bisanya kamu gak ikut Bi. Apa karena pembicaraan kita tempo hari ? " gumam Al.
Leon mengucapkan ikrar janji dengan tegas dan mantap. Mengikuti semua rangakaian acara adat yang digelar dikediaman Gita. Senyum tak juga hilang dari wajah Leon dan juga Gita. Berbahagia akhirnya disatukan dalam pernikahan.
" Dokter Gita cantik sekali By. " puji Bia saat melihat video yang dikirimkan Zaskia di ponsel Ghazzy.
" Kamu juga cantik dulu sayang. "
" Dulu ?? Heemmmm,, jadi aku sekarang udah gak cantik lagi By ? "
" Makin cantik dong. Makin glowing. Sampai CEO Dewandaru jatuh cinta. "
" Isshh,, apaan itu ngomongnya sepeti itu By. " gerutu Bia kesal.
" Lhoo,, aku bicara faktanya sayang. "
" Males ah. bahas apaan sih ini. Udah waktunya minum obat By. Lalu istirahat. " omel Bia sembari hendak bangkit dari rebahannya pada bahu Ghazzy.
Ghazzy menarik tangan Bia hingga dia kembali terduduk.
" Sayang,, kemarin-kemarin,, poliandri memang haram sayang. Tapi, poligami sunnah sayang. "
Bia tersentak. Mencoba menebak apa yang hendak dibicarakan Gahzzy.
" Kamu itu ngomong apa sih By. Gak penting ah By. "
" Aku gak mau. Sudah lepasin. Udah waktunya minum obat. " seru Bia kesal.
" Bagaimana kalo Al ingin menikahimu sayang ? "
" By,, stop. "
" Aku lebih tenang kalo Al yang menggantikan posisiku nanti sayang. Anak-anak membuutuhkan sosok Ayah. Dan hanya Al yang bisa emmenuhi tanggung jawab itu."
" By, tanpa menikah pun faktanya sudah seperti itu kan. Lalu apa bedanya ? Gak ada kan. "
" Ada sayang. "
" Apa ? "
" Anak-anak nanti hanya mempunyai satu Papa dan dua Mama. "
" By,, gak lucu !!! " seru Bia marah.
" Sayang,, "
" Aku gak mau dengar tentang ini lagi By. Aku mencintaimu By. Hatiku sakit mendnegarmu mengatakan itu semua. "
Ghazzy merengkuh Bia dalam pelukannya. Merasakan dadanya sudah basah karena air mata Bia.
" Kamu tahu aku mencintaimu juga sayang. Tapi, kamu harus melanjutkan hidupmu sayang. Ada anak-anak yang membutuhkan kamu. "
" Sudah, By. Jangan mengatakannya lagi. Kamu baik-baik saja By. " pinta Bia sedih.
Mereka menjadi bertangisan dan saling berpelukan. Hingga tertidur. Entah siapa yang tertidur duluan.
Bia mengerjapkan matanya, lalu seketika langsung terbangun saat melihat Gahzzy kembali mimisan. Dilihatnya jam menunjukkan angka empat pagi. Bia segera membangunkan perawat dan Wimpi yang ada di kamar sebelah. Sementara menempati kamar anak-anak.
__ADS_1
" Bagaimana sus ? " tanya Bia panik.
Bahkan dekapan Wimpi tak mampu mengurangi kekhawatirannya.
" Ini ,, untuk kesekian kalinya. Aku harap kita ke rumah sakit sekarang. Tuan Gahzzy butuh perawatan intensif. "
Ingin sekali Bia mengiyakan saja permintaan suster yang di pekerjakan Leon. Tapi, seketika itu juga Bia teringat permintaan Gahzzy. Tidak membawanya ke rumah sakit meski separah apapun keadaannnya nanti. Bia hanya bisa menangis bingung. Kemudian menggeleng.
" Maafkan saya Nyonya. Kalo kita tidak membawa Tuan Ghazzy ke rumah sakit. Kita gak bisa melakukan apapun saat ini. "
Wimpi mendekap Bia lebih erat. Hingga Bia menumpahkan kekhawatiran dan ketakutannya dalam dekapannya.
" Apa yang harus aku lakukan Kak ? " keluh Bia sedih.
" Kenapa gak telpon Tuan Leon, Non ? "
" Di malam pernikahan mereka Kak ? Apa pantas ? "
" Nyonya. Kita bisa menunggu sampai besok pagi. "
Bia mengangguk mengerti.
" Aku sholat dulu Kak. " pamit Bia.
Selesai sholat Bia membaca surat Yasiin didekat Ghazzy sembari menggenggam tangan Gahzzy.
" Bi,,, !!! "
Al mengusap keringat dikeningnya. Dilihat sekelilingnya, dia kembali ketiduran dikursi kerjanya. Dia menghela nafas panjang.
" Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada Bia ? Kenapa aku selalu bermimpi tentang Bia ? " gumam Al sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
Melihat jam di pergelangan tangannya. Masih sempat untuk sholat malam sebelum waktu shubuh datang.
Al beranjak menuju kamar anak-anaknya. Untuk membangunkan mereka sholat ahubuh. Sepeti yang dilakukan anak-anakmya saat berada di Surabaya.
" Mas Faiz,, Adek Fawwaz,,, bangun Nak. " kata Al sembari mengguncangkan tubuh Faiz dan Fawwaz dengan pelan.
Mereka mengerjapkan matanya dan meregangkan tangannya.
" Papa,, Bunda mana ? " tanya Fawwaz tanpa sadar.
" Bunda ? " tanya Al bingung.
" Aku tadi bermimpi Bunda sedang menangis, Pa. " jawab Fawwaz.
Al tersentak, bagaimana bisa dia dan Fawwaz bermimpi hal yang sama ? Melihat Bia menangis ?
" Adek. Bunda kan menemani Ayah dirumah. Nanti setelah sholat shubuh kita telpon Ayah dan Bunda ya."
Hibur Faiz.
" Ayo kita mandi dan sholat Mas. Biar bisa doain Ayah agar cepat sembuh. "
" Ayo. " ajak Faiz senang.
" Mas Faiz,, tunggu. Ayah,, sakit ? " tanya Al.
Faiz mengangguk.
" Ayah kirim salam pada Papa. Apa Papa belum melihat pesan Ayah ? " tanya Faiz penuh selidik.
" Papa ketiduran. Belum sempat melihat ponsel. Nanti setelah shubuh kita telpon Ayah dan Bunda. "
" Iya Pa. Kami mandi dulu. "
" Pake baju yang mana ? "
__ADS_1
" Udah disiapin Bunda. Tinggal ambil baju yang di koper. " jawab Faiz sambil beranjak ke kamar mandi.
Al penasaran dan membuka koper anak-anaknya. Dia langsung tersenyum salut. Bia menyiapkan satu stel baju sekaligus baju dalaman di satu wadah plastik. Jadi, anak-anaknya tidak harus bingung memakai baju yang mana. Tinggal ambil satu wadah plastik itu.