Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 74


__ADS_3

Azalea menelpon ke nomor Bia berkali-kali tapi belum juga diangkat. Akhirnya dia menelpon Zaskia. Di deringan ketiga baru di angkat.


" Halo assalamualaikum Ma. Mama ada dimana sekarang ? Kenapa gak pulang sama Kak Al ? "


" Waalaikumsalam. Satu-satu Ki. "


Terdengar suara tawa Zaskia diseberang sana.


" Mama ada dimana srkarang ? "


" Mama ada dirumah Clara. "


" Kenapa gak pulang bersama Kak Al "


" Kakakmu terlalu merindukan Bia. Bahkan dari bandara langsung naik taksi gak menunggu Reiga menjemput kami. "


" Yaa,, dan langsung marah-marah gak jelas. "


" Marah ? Kenapa ? "


" Mama,,, masa Kak Al cemburu sama Kak Tian. Hanya karena melihat mereka ngobrol doang Ma. Apalagi alasannya, karena dulu Kka Tian pernah berniat menikahi Kak Bia. " protes Zaskia.


Azalea tertawa membayangkan ekspresi kesal Zaskia saat ini.


" Lalu,, kenapa Bia gak angkat telpon Mama ? Apa dia sedang bersama anak-anak ? "


" Anak-anak aku bawa ke rumah Ibu Ma. Aku meninggalkan Kak Bia bersama Kak Al. "


" Ohh iya Ki. Saat di Singapura Al demam, tapi dia gak perduli. Setelah pemakaman Clara selesai. Dia malah sibuk meeting dengan kliennya. Apa dia baik-baik saja sekarnag ? "


" Aku gak tahu. Tapi, Mama tenang saja. Kak Al bersama orang yang tepat kan. "


" Aah iya kamu benar. Biarkan mereka disana dulu. "


" Iya. Rencananya aku memang mau menginapa dirumah Ibu bersama anak-anak. Kak Bia biar merawat bayi besarnya dulu. "


Keduanya tertawa.


" Kalo gitu, Mama akan menginap di rumah Clara saja."


" Begitu lebih baik Ma. "


" Ya sudah Mama akan istirahat. "


" Selamat istirahat Mama. "


" Assalamualaikum. "


" Waalaikumsalam. "


 


Bia membuka matanya saat merasa tubuhnya terasa berat. Dia tersenyum melihat Al yang memeluknya posesif. Jadi tidak bisa bergerak lagi.


Dengan pelan dia menyingkirkan tangan Al yang memeluknya. Kemudian duduk disampingnya. Menyentuh kening Al.


" Dasar keras kepala. Demamnya masih belum turun. " gumam Bia kesal.


Bia bangun dan mengambil ponsel yang diletakkan diatas laptop Zaskia di atas meja kerja Al. Dan beranjaak menuju dapur.


Dirumah itu, pelayan hanya sampai sore. Setelah masak untuk makan malam. Mereka akan pulang kerumah masing-masing. Tidak seperti Bik Amy dan Bik Okta.


Bia membuatkan bubur dan sup ayam untuk Al. Lalu membuatkan minuman jahe hangat. Mencari kotak P3K untuk mencari obat penurun panas. Untung saja stok obat penurun panasnya masih ada. Dia juga mengambil termometer untuk mengecek suhu tubuh Al saat ini.


Ponsel Bia berdering lama. ada telpon dari Zaskia.


" Assalamualaikum Ki. "


" Waalaikumsalam. Kak Bia baik-baik saja kan. Si Alfarizhi itu gak macam-macam kan. "


" Apaaan sih. Kakak kamu sakit Ki. "


" Aku tahu. Tadi Mama telpon juga udah kasih tahu kalo Kak Al sakit. "


" Lalu, kenapa gak pulang ? Ini udah jam berapa Kia. Gimana dengan anak-anak ? "


" Mereka udah tidur setelah mendnegar dongeng yang dibacakan Ibu. "


" Kalian menginap dirumah Bu Adiba ? "


" Iyalah. Daripada lihat orang pencemburu itu. "


" Ornag itu kakakmu kalo kamu lupa. "


" Udah ah. Aku juga mau istirahat. "


" Kamu gak tanya keadaan Kakak kamu gimana ? "


" Dia berada di tangan yang tepat. Karena aku tahu sakitnya sakit rindu. "


" Iissshh,,, "


" Bener kan. Pasti dia akan mengurung Kka Bia dirumah itu. "


" Kamu ituu,,, aku udah masak sup ayam kesukaan kamu Ki. "


" Itu juga makanan kesukaan Kak Al kok. Dan aku tahu Kak Bia memasaknya untuk Kak Al. Kak Tian bisa memasaknya untukku. "


" Isshh,, sombong sekali sekarang ya. "


" Hahaha,, sudah waktunya Kak Bia merawat kakakku. Ini hukuman karena Kka Bia terlalu menyiksa Kakakku."


" Apaan sih nhomongnya. "


" Oh iya. Kak Wimpi bilang. Barang-barnagnya sudah dipindahkan ke kamar pembantu. "


" Dia masih belum mau ke kamarnya. "


" Aaahh Kak Bia. Pasti dia marah padaku kan. Karena membiarkan Kak Bia tidur disnaa. "


" Hukuman buat kamu. "


" Enak aja. Aku bisa menginao dirumah Ibu terus. "


" Pulangkan anak-anak. "


" Gak mau. Anggap aja kalian sedang bulan madu sekarang. "


" Bulan madu apanya. Kakakmu sakit Ki. "


" Sampaikan saja salamku pada Kak Al. Dia akan sembuh kalo sudah meminta haknya pada Kak Bia. "


" Kia ,, ! " tegur Bia kesal.


Tapi suara diseberang sana hanya tertawa.


" Itu faktanya Kak. Coba aja. "

__ADS_1


" Udah. Aku tutup telponnya. Bicaramu makin ngawur."


" Pasti si Alfarizhi sudah panggil Kak Bia kan. "


" Gak. "


" Jangan lupa salamku di sampaikan. Assalamualaikum. "


" Waalaikumsalam. "


Bia mendengus kesal mendengar celoteh Zaskia. Dia mengunci pintu utama. Dan membawa nampan berisi bubur, sup ayam dan obat penurun panas.


Nampan itu diletakkan Bia diatas nakas. Dia mengira Al sudah bangun. Tapi dugaanya keliru. Termometernya sudah diletakkan Bia dibawah lengan atas Al. Lalu melepaskan sepatu Al. Menaruhnya di rak sepatu.


" 39°. Dirumah gak ada siapa-siapa lagi. "


Bia kembali ke dapur untuk mengambil sebaskom air untuk mengkompres kening Al.


" Bi,,, Bi,,, Bi,,, Bia,,, "


Bia tergopoh-gopoh mendekat ke arah Al. Meletakkan sebaskom air itu diaatas nakas juga.


" Iya Mas. Aku di sini. " jawabnya.


" Bi,, Bi,,, Bi,,, jangan pergi,, Bi,,, Bia,,, "


" Mas Al ngigau ? " gumam Bia smabil geleng-geleng.


Dia meletakkan handuk kecil basah itu di kening Al. Menggantinya tiap setengah jam. Sampai dia ketiduran dengan posisi duduk dibawah dan menggenggam tangan Al.


Al mengerjapkan matanya. Mengambil kain yang ada di keningnya. Tersenyum senang saat melihat Bia tertidur dengan menggenggam tangannya. Dia menatap wajah Bia yang masih tertidur. Mengusap kepalanya dngan lembut.


" Aku bahagia Bi. " desisnya pelan.


Bia membuka matanya perlahan saat merasakan usapan dikepalanya. Matanya langsung berbinar saat emlihat Al sudah sadar dan tengah tersenyum padanya.


" Mas sudah bangun ? " tanyanya sambil mengecek kondisi Al sekarang.


" Masih panas Mas. Besok pagi kita ke dokter ya ? " keluh Bia cemas.


" Aku gak apa-apa. "


" Gak apa-apa gimana. Panasnya udha 39° Mas. Gak turun-turun dari semalam lho ini. " omel Bia.


" Obatku ada disini. "


Bia teringat dengan obat penurun panas yabg sedari tadi malam dibawanya.


" Aahh iya. Obatnya belum sempat diminum. Bubur dan sup ayamnya sudah dingin Mas. Tunggu, biar aku panaskan lagi. " kata Bia sambil berdiri.


" Gak usah. Kapan kamu membelinya. Kan sudah aku bilang jangan tinggalkan aku. "


" Aku memasaknya semalam. Tapi Mas gak bangun-bangun. Aku jadi ketiduran. "


" Ini masakan kamu ? "


" Iya. Aku panasin dulu ya. "


" Gak usah. Aku makan sekarnag. Udah waktunya sholat. "


Bia melihat jam di dinding kamar Al. Sudah menunjuk angka tiga pagi.


Al bangun dna bersandar di ranjangnya. Mengambil bubur yang disiapkan Bia. Meskipun dipaksakan, tapi memenag tubuhnya sedang tidak fit. Baru dua suapan. Tapi Al sudah hendak memuntahkannya.


Bia dengan sigap membantu Al dan membersihkan bekas muntahannya. Lalu menuangkan jahe hangat dari teko ke gelas yang lain. Membantu Al meminumnya. Sesekali meniupnya takut masih terlalu panas.


" Maafkan aku Bi. Aku makan lagi. "


Bia mengambil piring itu dari Al. Dan mengusap jambang Al yang belepotan terkena muntahnya.


" Gak usah di paksain. Aku buatkan lagi aja. "


" Ini pertama kalinya kamu masak untukku. "


" Nanti akan ada kedua dan ketiga,,, " gurau Bia sambil tertawa.


Tidak menyangka untuk hal yang sesimpel itu bisa menjadi istimewa untuk Al.


" Apa itu berartti,, kamu akan tetap tinggal disini ? " tanya Al smabil menatap Bia.


Bia terdiam, masih belum tahu apa yang akan dilakukannya nanti.


" Lihat nanti aja ya. " kata Bia pelan.


Al menarik Bia untuk duduk disampingnya. Memegang wajah Bia dengan lembut.


" Mau lihat apa lagi ? Harus menunggu berapa lama lagi Bi ? "


Bia masih terdiam. Bingung harus mengatakan apa. Al bukan orang yang mudah dipermainkan dnegan janji.


" Apa belum cukup waktuku selama ini menunggumu. Dulu karena Ghazzy, lalu Clara. Sekarang harus menunggu apa lagi ? "


" Setidaknya, setelah kamu selesai berduka Mas. Kak Clara baru saja meninggal. Masa kita udah bersenang-senang ? "


" Tapi, itu juga keinginan Clara agar kita bisa menjadi satu keluarga yang utuh kan Bi. "


" Iya aku tahu. Sama sepertiiku yang harus menunggu masa iddah Mas. "


" Harus berapa lama lagi Bi. "


" Untuk sekarang, sampai kamu sembuh Mas. Kamu masih demam. Kita ke dokter ya ? "


Al kembali menggeleng.


" Obatku cuma kamu Bi. Katakanlah kamu akan tinggal disini bersamaku. "


" Bukan saatnya membahas itu. Kamu harus sembuh dulu. "


Al mendengus kesal. Menunduk tanpa bisa berbuat banyak. Karena memang dirasanya tubuhnya masih lemah. Bia tersenyum. Dan memberanikan diri mencium bibir Al meskipun singkat. Al sampai dibuat shock.


" Sembuh dulu. Baru kita bicara masa depan. "


Al tersenyum senang diantara sakitnya.


" Bantu aku. Aku mau ambil wudlu. "


" Mas mau sholat malam ? Kuat ? "


Al mengangguk pasti.


" Mukenaku ada di kamar atas. Eehhhmm,, tidak bisakah kita sholat dikamar atas saja ? Di kamar ini gak bisa dibuat berjamaah. Terlalu sempit. "


Al melihat Bia yang tengah melihat ruangan dikamar itu. Memang terlalu sempit untuk di gunakan berjamaah.


" Kamu juga mau sholat ? "


" Mas gak mau jadi Imamku ? "

__ADS_1


Al tertawa.


" Setiap hari aku menantikannya. "


Bia tersnyum keki.


" Bantu aku ke kamar. Maaf kalo dikamar itu aku,, masih teringat dengan Papaku. "


" Aku tahu kamu perlu waktu Mas. Sama sepetiku. " gurau Bia.


" Cckk,, kamu bukannya oerlu waktu. Tapi kamu memang suka sekali menyiksaku. "


Bia tertawa. Kemudian menggamit lengan Al untuk membantunya berdiri.


" Apa gak ada ciuman lagi ? "


" Mas mau aku ketularan. Kita jadi sama-sama sakit ?"


" Tidak,, tidak,,, "


" Nanti saja kalo sudah sembuh. "


Al tersenyum smirk.


" Aku catat janjimu Bi. Aku akan menagihmu nanti. " bisik Al sambil mencium telinga Bia.


Bia merasa merinding seketika.


" Mas !! " tegur Bia.


" Kenapa ? Aku tahu itu titik sensitifmu Bi. "


" Udah jalan sendiri aja. " gerutu Bia sambil berjalan lebih dulu.


Tapi Al menariknya lagi.


" Maaf,, maaf. Bantu aku sayang. "


" Jangan panggil sayang Mas. "


" Kenapa ? Teringat Gahzzy ? " tebaknya.


Mau tidak mau Bia mengangguk. Karena dia gak mau membandingkan keduanya.


" Maafin Papa Bun. "


" Itu lebih baik. Apalagi kalo ada anak-anak. "


" Dimana mereka ? "


" Kia membawa mereka bertemu Bu Adiba. "


" Aku serius gak suka kamu terlalu akrab dengan Tian Bi. Aku gak mau kamu bicara dengan laki-laki lain. "


" Aku tegaskan sekali lagi ya. Tian, adik ipar kamu. Bukan ornag lain. Itupun kami hanya bicara oas ada ornag lain. Gak hanya berdua. Tian juga bisa menjaga dirinya. "


" Kamu bahkan membelanya sekarnag. "


" Bukannya membelanya Mas. Tapi kenyataannya seperti itu. "


Bia membuka pintu kamarnya. Al menghela nafas lalu masuk ke kamar itu. Memindai kamar itu sejenak.


Bia mendekap Al seolah ingin memberinya support.


" Gantikan kenangan buruk disini dengan kenangan indah bersama anak-anaak nanti Mas. " bisiknya.


Al mengangguk.


" Aku wudhu dulu ya. " kata Bia.


Al menarik Bia hingga dia terjatuh dipelukan Al. Dan Al langsung mencium Bia.


Bia memukul dada Al berkali-kali karena Al tidak juga mau melepaskan ciumannya. Akhirnya Bia menginjak kaki Al kesal.


" Aaawww,, sakit Bi. " serunya.


" Mas bener-bener mau aku ketularan ya. Aku sudah bilang nanti kalo kamu sembuh. "


" Pemanasan Bi. " celetuknya.


" Nanti,, kalo sudah sembuh. " Bia berjalan kearah kamar mandi dengan langkah mundur.


" Jangan seperi itu. Nanti kamu jatuh. "


" Kamu itu membahayakan sih Mas. "


" Aku cuma mau minum obat. " godanya sambil mendekati Bia yang semakin mundur.


" Nanti kalo sudah sembuh. Itu pun kalo aku masih berada disini. " seru Bia sambil berlari ke kamar mandi dan menguncinya.


Al mengetuk pintu kamar mandi.


" Apa maksud kamu Bi. Kamu mau pergi lagi. "


" Kalo kamu bandel gak mau ke dokter atau minum obat. "


" Ccckk, baiklah,, baiklah,, buka pintunya. "


" Sebentar aku wudhu dulu. "


Al tertawa senang sambil mengusap bibirnya. Bagaimana dia bisa melepaskan ciumannya tadi. Kalo Bia sudah mau membalas ciumannya. Ahh,, andai saja tidak sedang sakit saat ini. Pikirnya.


Bia membuka pintu kamar mandi dengan ragu. Takut Al masih berada disana. Heran dengan Al, tubuhnya sudah lemah. Demamnya masih belum turun. Sempat-sempatnya berfikir untuk menciumnya.


" Kok lama ? Kan cuma wudhu. " protes Al yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar mndi.


Dan terdiam cukup laam saat melihat Bia tidak memakai jilabbnya. Hanya menggunaka handuk bathrobnya.


" Hehehe,, maaf. Sekalian mandi. " gurau Bia.


Al maju mendekati Bia yang juga makin mundur.


" Massss,, stopp. Keburu waktu sholat malamnya habis. " seru Bia kesal.


Al meremas tangannya didepan Bia.


" Kamu terus-terusan memancingku Bi. Aku akan menghukummu nanti. Lihat ajaa. " kata Al sembari beranjak ke kamar mandi.


" Kalo gitu, aku akan meminta Kia atau Tian memesankan tiket pulang ke Surabaya. "


Al mengurungkan niatnya masuk ke kamar mandi. Dan kembali mendekat ke arah Bia.


" Kamu mau aku menghukummu sekarang ?! "


" Tidak,, tidak,, maaf,, maaaf,, sudah sana wudhu dulu." ralat Bia sambil mengatupkan kedua telapak tangannya seolah tengah memohon.


" Awas aja kalo kamu masih bicara dengan Tian nanti." ancamnya.

__ADS_1


" Buruan. Nanti waktuunya habis. "


__ADS_2