Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 93


__ADS_3

Al menangis saat melihat Bia duduk menyandarkan tubuhnya di bathttub. Terngiang perkataan Bia semalam.


" Sepertinya yang ada didalam. Gak suka melihat Papanya marah pada bUnda. "


Al mengusap wajah Bia yang terlihat pucat. Pipinya bahkan sudah terasa dingin. Dia segera menggendong Bia, merebahkannya di kasur. Menciumi wajah Bia dan telapak tangan Bia khawatir.


" Bangun, Bi. Maafkan aku,, " bisik Al dengan suara tercekat.


Bia mengerjapkan matanya. Melihat Al yang menciumi tangannya dan mengusap wajahnya. Air mata Al bahkan sudah menetes di hidung Bia.


Bia mengulurkan tangannya mengusap wajah Al yang masih sesenggukan sembari mengusap wajah Bia.


" Mas,, "


Al langsung memeluk Bia erat.


" Maafkan aku, Bi. Tolong maafkan aku. " pintanya sedih.


Bia ikut menangis merasakan penyesalan Al.


" Aku gak akan pernah bisa memaafkan diriku kalo sampai terjadi sesuatu padamu dan anakku. " bisiknya.


" Aku,,, sepertinya sudah lebih baik. " ujar Bia mencoba menenangkannya.


Al melepaskan pelukannya.


" Maafkan aku,, maafkan aku ,, " ujar Al sembari mengusap wajah Bia.


Hati Bia menjadi trenyuh melihat kekhawatiran Al. Dia mengusap sisa air mata Al.


" Sudah Mas,, jangan minta maaf terus. Aku sudah memaafkan kamu. " kata Bia.


" Aku,,, hatiku sakit mendengar semua orang membicarakan kebaikan Ghazzy. Aku,, cemburu, Bi. Aku takut apa yang mereka katakan benar. Aku takut aku gak bisa menggantikan posisi Ghazzy dihatimu. Aku takut kamu akan meninggalkan aku karena aku gak bisa membuatmu mencintaiku. Aku,,, "


Bia mencium bibir Al yang masih hendak berbicara tentnag semua ketakutannya. Seketika membuat Al terpaku.


" Sudah ya,, hentikan. Nanti kamu semakin terluka Mas. Aku mengerti Mas. " ucap Bia.


Al kembali merengkuh Bia ke dalam pelukannya. Lalu Bia menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjangnya. Al membaringkan kepalanya dipangkuan Bia. Menghadapkan wajahnya di perut Bia.


" Assalamualaikum anak Papa. Maafkan Papa yang sudah egois dan marah-marah pada Bunda. " ucap Al lalu mencium perut Bia.


Bia tersenyum haru. Tangannya mengusap kepala Al. Masih terdengar isakan Al di depan perutnya.


" Mas,, Mas baik-baik saja ? " tanya Bia heran.


Al mendongak dan menatap Bia.


" Harusnya aku yang bertanya begitu Bi. "


" Harusnya Papa gak seemosi itu tadi. Lihatkan sekarang jadi menyesal. "


" Maafkan aku. "


" Kan aku udah bilang. Gak usah membahas Mas Ghazzy kalo memang Mas gak siap untuk sakit hati. Bukan mauku mereka membicarakan Mas Ghazzy. Devan juga gak memulai pembhasan tentang Mas Ghazzy. Untung aja dia gak memperkenalkaan aku sebagai istri Mas Gahzzy tadi. "


Al kembali menelungkupkan wajahnya di perut Bia. Diakuinya, memang dia masih cemburu pada Ghazzy. Entah,, seperti tidak rela Bia masih mengingat kebersamaan mereka.


" Masih cemburu ? " goda Bia sambil menahaan taawanyaa.


Al hanya mengangguk tanpa menoleh pada Bia.


" Jangan mengatakan hal itu lagi Mas. Baik Mas Ghazzy ataupun kamu. Punya tempat dihatiku. Aku dan kamu,, gak mungkin bisa melupakan Mas Ghazzy.


Aku juga udah pernah bilang kan, aku sudah menerima kehadiranmu, aku sudah menerima perasaan kamu Mas. Aku juga sudah mencintai Mas.


Dulu pun, sebelum Mas Gahzzy meninggal, dia juga mengatakan hal yang sama. Melihat besarnya rasa cinta Mas Al padaku, Mas Ghazzy mengatakan kalo aku pasti akan dengan mudah mencintai Mas Al. "


Al bangun dari tidurnya. Kemudian menatap Bia tidak percaya.


" Gahzzy bilang seperti itu ? " tanyanya memastikan.


Bia tersenyum lalu mengangguk.


" Dia selalu membicarakanmu di saat terakhirnya. Berusaha meyakinkan aku supaya mau menikah denganmu. " kata Bia sambil mengusap sisa air mata Al di pipinya.


" Aku benar-benar insecure pada Ghazzy, Bi. Aku sadar,, sampai kapanpun aku gak mungkin bisa bersaing dengan Ghazzy. Aku yang jauuuh dari Ghazzy. Aku yang sudah menyakitimu. Bahkan keluargaku pun sangsi dengan perasaanku, bagaimana dengan kamu nantinya ? "


" Kamu cemburu pada orang yang salah Mas. "


" Gimana aku gak cemburu,, kalian begitu mesra dulu. Aku yang punya segalanya pun gak bisa mengalihkan perhatianmu dari Ghazzy. "


Bia tertawa mendnegarnya.


" Isshhh,, sombong sekali sih. " celetuknya.


" Maafkan aku Bi. Aku janji akan berubah lebih baik. " kata Al sembari mengusap wajah Bia.

__ADS_1


" Gak usah menjanjikan apapun, Mas. Semuanya butuh proses. Dan satu lagi,,, "


" Apa itu ? "


" Jangan bersikap dingin dan marah-marah lagi padaku. Kamu yang marah, tapi anak kamu yang menghukumku. " omel Bia kesal.


Al tertawa sambil kembali berbaring dan memciumi perut Bia berkali-kali.


" Mas,, "


" Ya,, "


" Apa Mas capek ? "


" Gak, Bi. Kamu ingin kita melakukannya sekarang ? "


" Isshh,, apaaan sih, mesum aja. "


Al terkekeh melihat Bia yang cemberut.


" Lalu ? "


" Aku lapar, Mas. Semua makan malamku udah aku muntahkan tadi. "


Al langsung bangun.


" Mau makan apa ? Aku ambilkan. Atau,, kita keluar makan malam ? "


" Keluar ? Gak usah Mas. Aku lagi mager. Masih lemas. "


" Lalu ? "


" Titip Kak Wimpi beli martabak aja. Kak Wimpi tahu dimana tempat aku biaasa membelinya. "


" Sebentar,, aku telpon Wimpi. "


Al masih mencari nomor Wimpi. Sudah keburu ada yang mengetuk pintu kamar Bia.


" Mas, tolong ambilkan jilbabku. " pinta Bia.


Al membantu Bia memakai jilbabnya.


" Aku buka pintunya dulu ya. " pamit Al.


Al beranjak menuju pintu, ada Azalea disana.


" Mama,, ada apa ? " tanya Al heran.


Al menggaruk tengkuknya keki. Malu untuk mengatakannya pada Azalea.


" Aku baik-baik aja Ma. " jawab Bia yang sudah berada di belakang Al.


Al mendekap Bia cemas.


" Bi, kenapa gak rebahan aja. " seru Al.


" Yakin ? Gak mau Gita atau Leon memeriksa kondisimu ? "


" Gak usah Ma. Aku tadi muntah-muntah Ma. "


" Ini,, tadi Wimpi bilang, ini martabak kesukaan kamu. Langganna kamu. "


" Aahhh,, Kak Wimpi memnag the best. Selalu peka dengan apa yang aku mau setiap kali ngidam. " seru Bia senang sambil menerima pemberian Azalea.


" Cckkkk,, katakan saja dimana tempatnya. Lain kali aku yang akan membelikannya. " gerutu Al.


" Kamu benar, Al. Masa istrimu ngidam , suaminya gak bisa cariin. Nanti anakmu lebih dekat ke Wimpi daripada ke kamu. " goda Azalea.


" Mama,, " tegur Bia keki.


Kenapa Mama malah makin mmeperkeruh suasana sih. Pasti Mas Al marah lagi. Pikir Bia.


" Tidak,, tidak,, lain kali kamu harus bilang padaku Bi. Hanya aku !! " tegas Al.


Bia tersenyum smirk.


" Kalo aku ingin membantu Mama mengerjakan laporan keuangan Mall Expo lagi, boleh ? " kata Bia merayu.


" Tidak !!! " seru Al sembari masuk ke kamarnya.


Azalea dan Bia jadi tertawa mendengarnya.


" Kamu pucat sekali Bi. Apa kamu yakin baik-baik saja ?" tanya Azalea khawatir.


" Aku gak apa-apa Ma. Cuman lemas aja, karena tadi sudah muntah-muntah. "


" Kali ini marah kenapa lagi itu anak. " gurau Azalea.

__ADS_1


" Cemburu Ma. " jawab Bia sambil tertawa.


" Lagi ? Sama siapa ? Bukannya disana kamu bersama Lily sahabat kamu ? "


Bia mengangguk dan kembali tertawa lucu.


" Cemburu sama Mas Ghazzy. "


" Hahhh,, kok bisa ? "


" Teman-teman Devan setelah memberi selamat malah membahas Mas Ghazzy. Dan Mas Al yang mendnegarnya. Tiba-tiba marah-marah gak jelas padaku. "


" Ckkk,, ada-ada aja. Sekarang sudah mendingan ? "


" Alhamdulillah Ma. Cucu Mama yang ini, rewel banget. Setiap kali Mas Al marah atau bersikap dingin padaku. Selalu saja membuatku muntah-muntah Ma. Tadi juga kayak gitu. Makanya jadi lemas. "


" Dasar pemarah,, sepertinya anak kamu akan sekeras kepala Al Bia. "


" Jangan dong Ma. Satu ornag itu aja udah buat pusing. Apalagi tambh satu lagi. " gurau Bia.


" Apa gak kembar lagi ? "


" Iihh,, Mama. Satu aja, satu lagi dari Kia. Ditambah lagi dari Tante Gita. Rumah kita nanti makin rame Ma. "


" Mama udah geli membayangkannya Bi. "


" Aku juga Ma. Apalagi Kia,, pasti suaranya makin melengking seperti tangisan bayinya. "


Keduanya tertawa geli.


" Makan dulu dan istirahat. Besok kita berangkat. "


" Iya Ma. Anak-anak dimana Ma ? "


" Mereka mau tidur bersama Kia dan Tian. Mereka ingin mendengarkan dongeng dari Tian. Assalamualaikum. Cucu Oma, jangan buat Bunda sakit ya. Yang pinter dan yang sabar seperi Bunda. "


" Aammiinn. " ucap Bia.


Azalea tersenyum kemudian pergi menuju kamarnya. Bia menutup pintu kamarnya dan mendekat ke arah Al yang tengah mengetik sesuatu di ponselnya.


Bia menyuapkan satu potong martabak ke mulut Al.


" Enak kan ? " tanya Bia sembari menyuapkan sepotong lagi ke mulutnya.


" Lumayan. " jawab Al singkat.


Bia hanya mencibir kesal. Rupanya Mas Al masih sewot.


" Sedang apa ? "


" Membalas email dari Papa Mark. " jawab Al.


Jawaban Al membuat Bia menghentikan makannya. Kemudian membungkus kembali martabak itu. Nafsu makannya hilang. Keinginannya untuk makan martabak menguap begitu saja.


" Kok dibungkus lagi ? " tnaya Al heran. Sembari meletakkan ponselnya.


" Udah kenyang. " jawab Bia sembari meletakkan martabak itu diatas nakas.


" Kamu cuman makan satu potong Bi. " protes Al.


" Udah kenyang, Mas. Daripada muntah lagi. Mas,, tolong air minumnya. " pinta Bia karena botol air minumnya ada disebelah Al.


Al mengambilkan air minumnya dan langsung diminum Bia. Al meletakkan botol itu ditempat semula.


" Kenapa ? Memikirkan Papa Mark dan Mama Naya ? "


Bia tersenyum dan menggeleng pelan. Takut Al semakin kepikiran.


" Besok berangkat jam berapa ? " tanya Bia.


" Jam sepuluh pagi. Kenapa ? "


" Eehhmmm,, apa Mas keberatan kalo mengantarkan aku ke makam Mas Ghazzy dulu ? "


" Tentu saja, Bi. Rencananya memang sehabis shubuh aku mau mengajakmu ke makam Gahzzy bersama anak-anak. "


" Terima kasih Mas. "


" Tidurlah. Aku mau meeting program kerjaku sebentar bersama Reiga. "


" Cckk,, lalu kenapa disini ? Pergi saja ke ruang kerja Mas. Atau ke kamar Mas sendiri. " gerutu Bia lalu merebahkan tubuhnya diataa ranjangnya. Membelakangi Al yang tengah tertawa.


Al menonakttifkan ponselnya dan juga ponsel Bia. Kemudian merebahkan tubuhnya didekat Bia. Memeluknya dari belakang.


" Kok malah tidur ? " tanya Bia tanpa menoleh.


" Aku mau istirahat. Kasihan Bunda yang masih lemas." jawab Al sambil mengusap perut Bia.

__ADS_1


" Istirahat ya sayang. Jangan nakal sama Bunda. " kata Al di telinga Bia.


Bia tersenyum menang. Kemudian berbalik menghadap Al. Memeluknya erat. Al hanya terkekeh melihat Bia yang manja padanya. Entah Bia merasa selalu ingin berada di pelukan Al. Terasa nyaman.


__ADS_2