
Sesampainya dirumah, Bia segera mandi agar bisa menggantikan merawat anak-anaknya. Mereka tengah bersama Bik Amy di taman belakang. Bersama Zaskia dan Adiba. Tian sedang berenang bersama Faiz dan Fawwaz.
" Bunda,,, !!! " seru anak-anaknya.
Faiz naik ke tepian dan berjalan dengan cepat menuju Bia yang baru saja selesai mandi. Dia langsung memeluk Bia. Tidak perduli tubuhnya yang masih basah karena teengah berenang.
" Eeehh,,, kok main peluk Bunda. Basah dong baju Bunda. " gurau Bia sembari duduk berjongkok.
Faiz berganti memeluk Bia.
" Kok Bunda sekarang kerja ? " tanya Faiz heran.
Bia mengusap sisa air yang ada di mata Faiz.
" Hanya satu bulan Mas. Bunda bantuin Oma Lea. Kan Papa masih ada di luar kota. Pekerjaan yang disini jadi gak ada yang gantikan. Kasihan Oma Lea kalo mengerjakannya sendirian. "
" Papa kok keluar kota gak bilang-bilang Bun ? Ngapain keluar kota ? "
Pertanyaan Faiz membuat Bia menelan salivanya getir.
" Perusahaan Papa yang diluar kota sedang ada masalah, Mas. Papa yang harus turun tangan langsung. Nanti pasti Papa minta maaf karena gak pamit ke Mas Faiz dan Mas Fawwaz. Apa mau telpon Papa ? " jelas Bia.
Bia terjebak dengan kalimatnya sendiri. Yahh,, baru disadari Bia. Sejak kepergiannya kemarin. Al bahkan tidak menelponnya. Tidak speerti biasanya yang pasti selalu menelponnya mengabari apapun kegiatan yang dilakukannya.
" Gak mau Bun. Hanya satu bulan kan Bun ? Mas sedih pulang sekolah gak bertemu Bunda speeti biasanya. "
Bia hanya tersenyum dan mengangguk.
" Iya Mas. Hanya satu bulan. Bunda harap, Mas Faiz mau bantuin Bunda. "
" Bantuin apa Bun ? "
" Bantuin jaga adik-adik selama Bunda bekerja ya Mas. Bantuin Mami Kia, Oma Diba, Bik Amy dan Bik Okta menjaga adik-adik. Mau kan Mas ? " tanya Bia.
" Siap Bun !! "
" Kakinya gimana Mas ? Udah baikan ? "
" Udah Bun. Tadi udah bisa dibuat renang sama Papi Tian. "
" Udah gak nyeri lagi kan ? "
Faiz mengangguk.
" Pinter dong. Calon dokter sih. " puji Bia sambil menoel hidung Faiz yang terkekeh.
" Mas,, udahan renangnya ? Mau mandi sekarnag ? "
" Gak mau. Masih belum Bun. " jawab Faiz sambil berlari ke arah koalm renang lagi.
__ADS_1
" Gimana hari pertama bekerja di Dewandaru Kak Bia ? " gurau Zaskia.
" Asyik sih. Teorinya di ajari mentor suruhan Mas Al. Prakteknya diajari Mama. " jawab Bia smabil terkekeh.
" Bikin paanas Kia. " celetuk Azalea saat bergabung dnegan keluarganya.
Bia menggendong Farash dan memberikan ASI dengan membelakangi kolam renang. Karena ada Tian disana. Azalea menggantikan Adiba menggendong Arra.
" Panaas kenapa Ma ? " tanya Zaskia sembari memberikan Bilqis pada Adiba yang ingin menggendong cucunya sendiri.
" Ini baru hari pertama Bia ikut meeting dengan klien perusahaan. Tapi CEO perusahaan itu sudah tertarik pada Bia. Bayangkan saja, Ki. Dia menatap Bia tidak berkedip sama sekali saat Bia mempresentasikan program kerja kita. Gimana Mama gak kesal lihatnya."
Bia tertawa mendengar Azalea mengadukan sikap Alex tadi. Zaskia menggelengkan kepalanya.
" Kalo Mama sampai semarah ini, berarti memang udah keterlaluan Kak Bia. Lihat aja kalo Kak Al yang melihatnya tadi. Pasti keduanya udah berakhir di RS. "
" Kamu terlalu lebay ah. Aku saja masih kalah jauh denganmu. Mungkin karena aku yang belum berpengalaman aja Ki. " elak Bia.
" Hati-hati Bia. Takutnya menjadi fitnah kedepannya nanti. " tegur Adiba mengingatkan.
" Iya Bu Adiba. Hanya untuk satu bulan. Itupun Kak Wimpi selalu menemaniku. " jawab Bia.
" Ini memang karena si Alfarizhi itu. " ujar Zaskia ketus.
" Ki,, gak boleh begitu. Al itu,, kakakmu. " tegur Adiba.
Zaskia mengangguk tidak enak hati.
" Oh iya Bia. Aku prihatin dnegan apa yang terjadi pada Al. Aku harap ini bisa sedikit membantu menghilangkan efek teluh itu pada Al. " kata Adiba sembari memberikan satu paperbag kecil kepada Bia.
Bia meletakkan Farash yang tertidur nyenyak di strolernya. Kemudian membuka paperbag pemberian Adiba. Ada sebuah jam tangan bermerk disana.
" Jam tangan Bu ? "
Adiba mengangguk.
" Jam tangan itu sudah diisi dengan bacaan ayat-ayat rukyah yang ditujukan untuk Al. Suruh aja Al memakai jam itu. Aku harap bisa membantu menyadarkan Al. "
" Terima kasih,, terima kasih Bu Adiba. " ujar Bia tulus.
" Sama-sama Bia. Al seorang pengusaha sukses. Pasti banyak yang iri dengan kesuksesannya. "
" Terima kasih Adiba. Semoga bisa segeera menyadarkan Al. Jangan sampai dia kembali melewatkan waktuunya bersama keluarganya seperti dulu. Apalagi sekarang,, sudah banyak yang mengenal Bia sebagai sekretarisku atau Al. Aku sampai harus menekankan pada mereka kalo dia ini menantuku. "
" Awas aja Kak Bia sampai cinlok pada salah satu karyawan apalagi pada klien yang dibilang Mama tadi. Aku gak bisa bayangkan kemarahan Kak Al nanti Ma."
" Itu juga yang menjadi kekhawatiran Mama Ki. " jawab Azalea gelisah.
" Yang penting Mas Al sadar dulu. Itu kita urus nanti ya Ma. Aku akan bertanggung jawab penuh pada keputusanku ini. " tegas Bia.
__ADS_1
" Kak Bia tumben pake bawa bekal ? " tanya Zaskia saat melihat Bia sedang menyiapkan bekal utnuk dibawa ke kantor.
" Hari ini kakakmu pulang Ki. Entah langsung ke rumah atau ke kantor dulu. Ma, aku ganti baju dulu. " jawab Bia sembari pergi kekamanya.
" Jangan sampai wanita itu mempunyai kesempatan memberikan Al makanan yang berisi jampi-jampi itu. "
omel Azalea.
" Jadi,, kali ini teluhnya gak berupa foto kayak Leny dulu Ma ? " tanya Tian.
" Gak Tian. Wimpi bilang, dari makanan yang selalu dibawakan wanita itu. " jawab Azalea.
" Jadi, wanita itu selalu membawakan makan siang untuk Kak Al ? Waahh berani sekali dia. " gerutu Zaskia.
" Aku sudha menyuruh orang untuk mencari tahu hubungan dia dan Ayden. "
" Ayden ? Kak Ayden teman kuliah Kak Al dan Kak Clara dulu ? " tanya Zaskia.
" Memangnya Ayden seornag pengusaha seperti Kak Al Ma ? Apa mereka sedang melakukan kerja sama dengan perusahaan sampai-sampai Ayden dan wanita itu punya akses untuk masuk ke perushaan dan bertemu dengan CEO perusahaan tanpa appointment terlebih dulu ? " kata Tian heran.
" Setahuku,, Ayden memang memiliki saham. Tapi itu di perusaahaan cabang yang ada di Singapura. Karena memang sedari kuliah dulu mereka sudah saling kerja sama. " jelas Azalea.
" Tapi,, tidak dipungkiri juga kalo Ayden memang berniat jelek pada Al. " sahut Azale sembari memberikan ponsel yang sedang memutar video rekaman cctv di kantor Al dan kamar pribadinya pada Tian.
Zaskia menutup mulutnya tidak percaya. Tidak menyangka Ayden bisa menjadi pengkhinat.
" Sudah ada bukti seperti ini, kenapa Kak Al masih belum sadar ? " geram Tian.
" Jampi-jampi itu membuat Al linglung saat dirumah Tian. Dan bisa menuruti kemauan wnaita itu saat berada didekatnya. Wimpi bilang, sudah ada yang pernah mencoba menghapus rekaman cctvnya tapi gagal. " jelas Azalea.
" Kenapa Kak Al mudah sekali sih terkena hal semacam ini. Padahal setahuku ibadah Kak Al juga tekun. Sholat malam juga kayaknya gak pernah ditinggalin. Tapi, masih aja gampang banget urusan sama barang ghaib kayak gini. " gerutu Zaskia.
" Kak Wimpi bilang, karena Mas Al dulu sudah pernah terkena sihir teluhnya Ki. Jadi, lebih rawan daripada kita. Ustadz Yahya sudah memagari rumah ini, mungkin karena itu juga akhirnya wanita itu lebih memilih mengirimnya ke kantor Mas Al. " jawab Bia saat sudah siap dengan stelan kerjanya.
" Heeemmm,, pantas saja banyak klien perusahaan yang kepincut sama kamu Bia. Kamu terlihat lebih muda dari usiamu. Bahkan gak terlihat sudah memiliki lima ornag anak. " gurau Tian.
Bia terkekeh.
" Tuhh kan,, kemarin aku dan Mama juga udah bilang kalo penampilan Kak Bia itu perfect Kak Tian. " sahut Zaskia.
" Baju Clara kelihatnnya pas untukmu. Kalo di pakai Kia, pasti hanya akan jadi tatapan mata-mata liar. Speeti dulu saat menggantikan Ghazzy di mall expo. Semuanya menatap Kia. " geram Tian sambil mencubit pipi Zaskia yang tertawa.
" Kita berangkat sekarnag Bia. " ajak Azalea.
" Iya Ma. Kia,, Tian,, aku nitip anak-anak ya. ASInya udah aku taruh dikulkas. "
" Siaap Kakakku sayang. " kata Zaskia sembari salim pada Bia.
__ADS_1
" Maakasi ya adikku sayang. " balas Bia.