Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 147


__ADS_3

" Bukannya nanti ada acara aqiqoh anak-anak Non ? Kok masih ke kantor ? " tanya Wimpi saat mereka menunggu didepan lift bersama karyawan yang lain.


" Ada beberapa berkas yang belum aku periksa Kak Wimpi. Nanti Pak Al juga ada meeting dengan klien perusahaan. " kata Bia dengan menegaskan panggilan Pak pada Al.


Wimpi menoleh ke kanan dan kiri. Dia tersenyum mengerti saat melihat ada Rico di belakang Bia.


Pintu lift terbuka. Semua karyawan berebutan untuk masuk. Wimpi berada di belakang Bia agar bisa melindunginya. Hal itu dimanfaatkan Rico untuk berdiri di samping Bia. Membuat Bia sedikit risih.


" Bia,, apa nanti malam kamu pergi ke acara aqiqoh anak-anak Pak Al ? " tanya Rico ramah.


" Inshallah Pak Rico. Bukannya semua karyawan juga sudah mendapatkan undangan dari Pak Al ? " jawab Bia balik bertanya.


Wimpi dibelakang Bia hanya tersenyum mendengar pertanyaan Rico.


* Pak Rico pasti kaget saat melihat Non Bia menjadi tuan rumah di rumah Tuan Al nanti. * batin Wimpi lucu.


" Iya. Semua staf dan karyawan mendapat undangannya. Dulu, sewaktu acara syukuran empat bulanan istrinya, Pak Al juga mengundang seluruh karyawan di kantor. Tapi, sayang sekali saat itu aku berhalangan hadir. "


" Oh iya. Sayang sekali. " ujar Bia singkat sembari tersenyum tipis.


* Pantesan saja, Pak Rico gak mengenaliku sebagai Istri Mas Al. * batin Bia.


" Apa kamu mau datang bersamaku Bia ? " tanya Rico antusias.


Semua karyawan bahkan tengah menatapnya dan Bia bergantian. Seolah menunggu jawaban Bia. Wimpi pun juga sempat tercengang mendengar tawaran Rico.


" Tidak usah repot-repot Pak Rico. Saya berangkat bersama Kak Wimpi. Terima kasih tawarannya. " tolak Bia halus agar tidak menyinggung Rico.


Pintu lift terbuka. Semua karyawan bergantian keluar dari lift. Rico menarik tangan Bia. Hingga dia berhenti sejenak. Wimpi menepis tangan Rico hingga terlepas. Membuatnya mendapatkan tatapan tajam dari Rico.


" Apa yakin gak mau berangkat bersamaku ? " tanya Rico lagi.


" Tidak usah Pak. Terima kasih. Sampai ketemu di rumah Pak Al, Pak Rico. Permisi. " jawab Bia sembari beranjak pergi.


" Kalo kamu berubah pikiran. Telpon aku ya Bia. Ini kartu namaku. Aku ke ruanganku dulu ya. " kata Rico sembari memberikan kartu namanya dan meletakkannya di tangan Bia. Lalu pergi meninggalkan Bia dan Wimpi yang terdiam.


Belum juga Bia melihat kartu nama di telapak tangannya. Seseorang sudah merebutnya dan melewatinya dengan marah.


Bia bergidik saat melihat Al masuk ke ruangannya dan menutup pintu ruangannya dengan keras.


" Apa tadi di lift ada Mas Al, Kak Wimpi ? " tanya Bia memastikan.


Wimpi nampak mengingat-ingat. Lalu kemudian menggeleng.


" Aku gak yakin sih Non. Tapi, sekilas tadi aku memang melihat Reiga di belakangku. " jawab Wimpi.


Bia menghela nafas panjang.


" Sepertinya, hari terakhirku bekerja harus di iringi omelan Mas Al karena cemburu. " gumam Bia.


Wimpi tertawa lirih.


" Tuan Al pasti sangat marah pada Pak Rico Non. "


" Yaahh,, dan aku harap Mas Al gak mengambil keputusan apapun disaat marah seperti ini. "


" Tidak mungkin Non. Karena Tuan Al hanya cemburu bukan marah seperti kemarahannya pada Tuan Ayden misalnya. " gurau Wimpi.


" Ckkk,, meskipun begitu. Tetap aku yang akan kena getahnya nanti Kak Wimpi. " protes Bia sambil menggamit lengan Wimpi untuk segera menuju ke mejanya.


" Selamat pagi Non Bia. " sapa Reiga sembari berdiri.


" Selamat pagi Reiga. Pak Al meeting jam sepuluh kan ?" tanya Bia memastikan.


" Iya Non Bia. " jawab Reiga.


" Aku akan menyiapkan berkasnya. " kata Bia sembari mengetuk pintu ruangan Al dan masuk setelah si empunya kantor mempersilahkannya masuk.


Bia duduk di mejanya. Dan segera menghidupkan laptopnya. Mengecek jadwal pekerjaan Al hari ini. Setelah memeriksa beberapa berkas yang harus ditanda tangani Al dan menyiapkan berkas yang akan dibawa Al meeting nanti. Bia menuju meja pantry untuk membuatkan Al segelas kopi susu.


" Mas,, Ehhhmm,, Pak Al. Ini berkas yang harus ditanda tangani. Dan ini, berkas untuk meeting nanti Pak. Silahkan diminum kopi susunya Pak. "


" Jadi,, kamu ingin berpamitan pada Rico. " sindir Al dingin sembari berdiri.

__ADS_1


" Ehhmm,, maksud Pak Al. "


Al menekan interkom. Ada suara Reiga menyapa disana.


" Jangan biarkan satu orang pun masuk ke ruanganku. Aku akan keluar saat meeting nanti. Mengerti ?! "


" Baik Bos. " jawab Reiga.


Bia menoleh ke arah pintu saat mendengar suara dari daun pintunya. Sepertinya ada yang tengah mengunci pintu itu dari luar.


Al mencengkram lengan Bia dan menariknya ke kamar pribadinya. Menuju kamar mandi. Membasuh tnagan Bia dan memberikan sabun untuk membersihkan tnagannya.


" Kenapa sih ? " tanya Bia bingung.


" Aku gak mau ada sidik jari orang lain membekas di tnaganmu. " geram Al tanpa menoleh pada Bia.


Bia hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian tersenyum simpul. Kemudian dengan sengaja mencipratkan sisa air ditangannya ke wajah Al yang masih cemberut.


" Mas cemburu ? " goda Bia.


Al merengkuh Bia dlaam pelukannya dan langsung menciumnya.


" Eehh,, bajunya,, mmmphh,, nanti basah. " ujar Bia disela ciuman Al.


Seperti biasa, Al pasti tidak memperdulikan protes Bia. Dia mendorong tubuh Bia hingga merapat ke dinding kamar mandi.


" Biar saja basah. Toh, sebentar lagi pasti akan basah karena keringat. " bisik Al dnegan suara yang berat.


" Iisshh,,, ini kan hari terakhirku kerja Mas. Gimana aku bisa menyeleaaikan pekerjaaanku nanti. "


" Daripada membiarkan kamu berpamitan pada Rico."


Bia tertawa mendnegarnya.


" Kamu kalo lagi cemburu, benar-benar ya Mas. Lagian mau ngapain aku ke ruangan Pak Rico. Aku beneran mau mengerjakan laporan keuangan yang belum selesai. Aku udah janji pada Mama akan pulang sebelum makan siang nanti. "


" Baguslah kalo begitu. " bisik Al smebari kembali menciumi wajah dan telinga Bia.


" Aku ingin Bi. Lagipula, ini teraakhir kalinya aku biisa menikmati sensasinya bercinta dengan sekretarisku sendiri. " gurau Al.


" Iissshh,,, "


Al tertawa lalu menggendong Bia menuju ke ranjangnya.


" Sudah waktunya Papa minum ASI. " goda Al sambil membuka baju Bia.


" Mas,, aku belum pompa ASIku. ini sudah mengeras. " keluh Bia sambil menunduk karena malu.


Al tertawa lalu kembali mencium Bia.


" Aku suka melihatmu malu seperti ini Bi. Padahal aku ini suamimu sendiri lho. Aku juga ikut menikmatinya. " goda Al sembari mempermainkan buah chery didada Bia.


" Ihh,, Mas. Biarkan aku pompa dulu. "


" Aku bantu ya. "


" Hahhh ? "


" Aku sudah belajar breast massage pada Bu Adiba dan Tian. Aku ingin mempraktekkannya. "


" Terserah Mas. " ujar Bia masih menunduk karena malu.


Dengan tawanya Al mengambil pompa ASI di atas kulkas mini dikamarnya.


Al mempraktekkan breast massage yang dipelajarinya dari Tian dan Adiba. Dan memang berhasil, karena ASI Bia nampak keluar banyak dan lancar.


" Sepertinya berhasil Mas. ASInya keluar lebih banyak dan lancar. Tidak sepeti biasanya. "


" Benarkah ? Next time, aku akan membantumu lagi."


" Aku kan udah gak kerja lagi Mas. Jadi, aku bisa memberikan ASI eksklusif pada anak-anak nanntinya."


" Ahh,, benar juga. "

__ADS_1


" Atau,, aku masih bisa bekerja lagi. "


" Gak. Kamu hanya kerja diranjang. Seperti saat ini. "


" Isshh,,, "


" Udah cukup kan pompanya. Sekarang giliran Papanya. "


" Jangan sampai keminum lho. "


" I know my wife. "


" Ihh,,, genit ah. " gurau Bia.


Al tertawa mendengarnya.


" Cepet ya. Karena Mas ada meeting lho. "


" Nikmati saja Bi. Aku juga sudah mengerjakan laporan keuangan yang kamu kahwatirkan itu kok. "


Bia terbangun dan duduk di samping Al. Membuat ciuman Al terhenti.


" Beneran ? "


" Iya dong. "


" Kenapa gak bilang ? "


" Sudah aku bilang. Aku ingin menikmati sensasi bercinta dengan sekretarisku. " goda Al sambil menarik tangan Bia hingga dia terjerembab jatuh dipelukan Al.


" Bisaa aja kalo modus. Tahu gitu, aku dirumah aja tadi. "


" Aku kan juga kangen kamu Bi. Aku ingin kita honeymoon seperti yang kamu bilang dulu. " kata Al sambil mengusap wajah Bia.


" Tapi, anak-anak masih terlalu kecil Mas. "


" Gak sekarang Bi. "


" Eehhhmm,,, apa aku boleh memilih tempatnya ? "


" Tentu saja. Kamu mau kemana ? "


" Makkah Mas. "


" Kamu mau umroh ? " tanya Al serius.


" Iya Mas. Dengan harta yang Mas miliki saat ini. Aku pikir cukup untuk mengajak seluruh keluarga kita umroh bersama-sama Mas. Gak sekarang juga gak apa-apa. Mungkin nanti, kalo uangnya sudah cukup. "


" Kalo uangnya,, inshallah cukup Bi. Hanya saja pekerjaanku,, waktuku,, "


" Kalo mau menunggu sampai Mas Al gak sibuk. Kita gak akan berangkat-berangkat Mas. Pekerjaan itu kan gak ada habisnya. "


Al nampak berpikir sejenak. Kemudian mengangguk mengiyakan.


" Dua bulan lagi. Gimana ? Kita tunggu sampai anak-anak bisa diajak sekalian. "


Air mata Bia luruh begitu saja. Tidak sabar akan hari itu. Dia sampai mencium Al saking bahagianya.


" Apa kita bisa mengajak Bik Amy, Kak Wimpi, Kak Randy dan Bu Adiba ? " tanya Bia ragu.


" Bi,, kamu bilang keluarga kan. Tentu saja termasuk mereka. Aku yakin, kamu sudah menganggap mereka bagian dari keluarga kita kan. "


Bia memeluk Al dengan erat. Air matanya masih mengalir begitu derasnya.


" Terima kasih, Mas. Terima kasih,, kita beritahu mereka saat semuanya udah diproses ya Mas. Biar jadi surprise. "


" Terserah kamu saja. "


" Aku mencintaimu Mas. Aku harap Mas gak pernah berubah. "


Al mencium puncak kepala Bia.


" Kamu anugerah buatku Bi. "

__ADS_1


__ADS_2