Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 50


__ADS_3

Leon menghela nafas panjang seraya meminum coffee latte didepannya. Dia meletakkan ponselnya dengan kesal. Satu pesan teks dari dokter Bima membuatnya malas untuk kembali ke ruangannya. Apalagi satu jam lagi dia harus memeriksa kondisi Ghazzy dan Fawwaz. Dan juga Bia dan Al.


" Dokter Leon ? "


Leon mendongak saat mendengar namanya disebut. Ada seraut wajah dokter Gita tengah tersenyum padanya. Sudah dua tahun mereka tidak pernah bertemu. Karena dokter Gita memutuskan untuk sekolah lagi ke Jepang. Ingin lebih dalam mempelajari tentang obgyn. Terkhusus kasus bayi tabung. Dari kasus Bia, dokter Gita ingin tahu lebih banyak tentang bayi kembar.


" Apa kabar dokter ? " sapa Gita.


Leon berdiri mendekap kedua telapak tangannya. Berusaha memahami dokter Gita seseorang yang sangat menjaga diri.


" Alhamdulillah baik, dokter Gita. Apa kabar ? Apa Jepang sudah membuatmu terpesona hingga mengurungmu dua tahun disana ? " gurau Leon.


Gita terkekeh.


" Dokter sendiri ? Apa sudah ada yang menyibukkan anda dirumah ? Atau masih setiaa mengurus kekuarga Nyonya Azalea ? " sindirnya.


Memang Leon pernah mengirimnya email. Hanya untuk bercerita, tidak berharap dokter Gita akan merespon curhatnya.


" Hheeemmm,, sepertinya sudah membaca email dariku. Tapi sampai detik ini aku masih belum menerima jawabannya. "


" Lhoo,, bukannya hanya ingin cerita tanpa mengharapkan jawaban kan. " kata Gita tak enak hati.


" Untuk saat ini, mungkin aku butuh jawabannya. Karena masalahnya ternyata gak semudah yang aku bayangkan. "


" Maksud dokter ? " tanya Gita bingung.


" Apa tidak apa-apa aku minta waktunya ? "


" Dokter tidak ada jadwal visit ? "


" Ada. Karena itu, aku membutuhkan jawabannya. Aku akan menemui mereka satu jam lagi. "


" Bu Bia masuk rumah sakit ? " tebak Gita.


" Tidak keberatan kalo duduk bersamaku sebentar disini ? " tanya Leon.


" Semoga saja tidak menimbulkan fitnah." jawab Gita sembari duduk di depan Leon.


Leon tersenyum senang sembari mengangguk.


" Jawaban seperti apa yang dokter inginkan ? "


" Aku sudah melihat perkembangan keponakanku. Aku bersyukur dia tidak mabuk dan workaholic lagi. Dia memaang melakukannya karena wanita. Tapi, yang jadi masalahnya,,, wanita itu sudah menikah. Dan sialnya lagi. Anaknya juga anak keponakanku. "


Gita kembali tertawa mendnegar penjelasan Leon yang terdengar lebih ke omelan.


" Maafkan aku. " pinta Leon salah tingkah.


" Kenapa minta maaf ? Kan gak ada yang salah dokter Leon. "


" Kita gak bisa maksain dan nentuin dimana rasa cinta kita kan. "


" Tapi dia mencintai istri orang Gita. "


Gita nampak sedikit terkejut saat Leon hanyaa memanggilnya nama tanpa embel - embel dokter.


" Eeehh,, Maaf. Maksudnya dokkter Gitaa. " raalat Leon cepat.


Melihat Gita yang tertunduk, membuat Leon merasa bersalah.


" Gita saja Dokter Leon. Kita tidak sedang berada di rumah sakit sekarang. "


Leon teersenyum senaang


" Kalo gitu, paanggill Leon saja. "


" HAAH ?? Gakk enak dokteer. "


" Terlalu formal Gita. "


Gita tampak berfikir sejenak. Leon kembali minum coffe lattenya.


" Mas,, Aku panggil Mas Leon saja ya. "


Uhuuukk,,, uuhhuuukkk,,,


Leon tersedak mendengar panggilan Gita.

__ADS_1


* Ahh,, Gita,, andai kamu tahu aku menyukaimu sejak Bia memperkenalkan kamu kepadaku. Setelah dua tahun berpisah, aku rasa hatiku masih mengininkanmu. *


" Mas Leon tidak apa-apa ? "


Leon menghela nafas panjang kemudian menggangguk.


" Aaahh Giita.. !! " seru Leon sembari meremas tangannya di depan Gita.


Gita tersenyum keki.


" Kenapa Mas ? "


" Aku bisa gila mendengarmu memanggilku seperti itu."


" Memangnya kenapa ? " tanya Gita bingung.


" Rasanya ingin membungkusmu dan mmebawamu pulang ke rumahku. "


Kali ini Gita kembali terkekeh. Leon menatapnya sendu.


" Apa Jepang sudah membuatmu menemukan orang yanh tepat ? "


" Orang yang tepat ? Maksud Mas Leon ? "


" Aku,, aku menyukaimu Gita. Sejak Bia memperkenalkan kamu. "


Gita tersentak. Dia menunduk untuk mengatasi rasa kagetnya.


* Alhamdulillah,, ternyata selama ini, orang yang aku sukai mempunyai perasaan yang sama. *


" Apa aku terlambat Gita ? "


Gita tersenyum.


" Terlambat untuk apa Mas ? "


" Mencintaimu Gita. "


" Mas yakin ? Dirumah sakit kita, banyak dokter-dokter junior yang mengidolakan Mas Leon. Eehhmm,, ada juga yang mencintai Mas Leon. Dan berharap jadi istri Mas Leon. Mereka cantik-cantik lho Mas. "


" Kalo aku boleeh berharap. Apa kamu juga salah satu diantara mereka ? "


" Ehhmm,, aku tidak di masa tengah menanti pacar Mas. Aku menunggu Imamku. " jawab Gita sembari meminum jus jambu yang dipesannya.


" Apa aku bisa menjadi Imammu Gita ? Aku akan segera menemui orang tuamu. "


" Mas serius ? " tanay Gita tak percaya.


" Tentu saja aku serius. Tapi, tolong beri aku waktu sampai anak-anak Bia sembuh. "


" Aku akan menunggumu Mas. "


Leon mengatupkan kedua tangannya senang. Membuat alis Gita berkerut.


" Aku sennag sekali. Rasanya,, ingin sekali memelukmu. Kalo tidak ingat kamu belum menjadi muhrimku sekarang. "


Gita tersenyum. Ada rona merah dikedua pipinya. Leon menarik sebuah kalung yang ada dileehernya. Melepaskan satu cincin yang ada di kalung itu.


" Untuk sementara. Untuk membuktikan aku serius dengan ucapanku akan segera melamarmu. " kata Leon sembari meletakkan cincin itu didepan Gita.


" Terimalah. Pakai cincin itu. "


Gita menatap Leon tak percaya. Sebenarnya Gita tidak mau berharap banyak. Dia pikir Leon pasti hanya mengerjainya saja. Pasti besoj dia akan melupakannya. Tapii tidak menyangka Leon bahkan menyiapkan satu buah cincin.


Leon mengangguk senang. Dan menunjuk dengan jarinya agar Gita mau memaakainya. Gita mengambil cincin itu dan memasangnya di jari manisnnya dengan bibir yang tersungging senyum.


" Tunggu aku Gita. "


" Terima kasih Mas. Aku pikir Mas Leon sedang bercanda akan melamarku. "


" Pernikahan bukan lelucon. Aku gak mau menjadi sebodoh keponakanku. "


" Aahh iya. Kenapa kita bisa melenceng daari yang kita obrolin tadi ? "


" Tidak apa-apa. Setidaknya aku sudah menemukan obat penawarku. "


" Apa itu Mas ? "

__ADS_1


" Kamu Gita. Kamu obatku. "


Leon berpikir sejenak. Dimana dia mendengar klimat itu. Lalu teringat Al dikamar Bia semalam.


* Aaahh,, Al !! *


" Gombal ah. "


Leon tertawa mendengarnya. Ada satu pesan dari dokter Bima.


' Aku akan membaca gesturenya dari rekaman cctv. Bisa kamu kirimkan rekaman cctvnya ? '


Leon menghela nafas.


' Aku akan mencoba memintanyaa pada divisi keamanan. '


' Oke. As soon as possible. '


" Siapa Mas ? " tanya Gita heran karena Leon membalasya dengan setengah hati.


" Dari dokter Bima. "


" Ehhmm,, pskiater ?? "


Leon mengangguk.


" Dia dokter Al dulu. Aku memintanya untuk membaca gesture Al. Aku kira dengan foto saja bisa. Ternyata tidak. "


" Apa separah itu sikapnya menunjukkan rasa cintanya ? "


" Sangat. Bahkan aku merasa, dia seolah sedang menjaaga dan merawat istriny sendiri. "


" Apa karena ada hubungannya dengan anak-anak ? "


" Mungkin. Tapi yang jelas. Siapapun yang melihatnya pasti dia akan mengiraa Al suami Bia. "


" Sudah dua tahun. pasti si kembar udah lucu. "


" Mereka ada dirumah sakit. Apa kamu menjenguknya ? "


" Ehhhmm,, lihat nanti Mas. Aku harus menemui Kepala RS dulu. Memberikan surat lamaran kerjaku. "


" Kamu akan bekerja disini lagi ? "


" Kalo dokter kepala RS masih mengijinkannya. "


" Pasti. Aku yakin beliau tidak akan menyia-nyiakan bakatmu. "


" Aammiin. Udah satu jam Mas. "


" Ahh iya kamu benar. Aku harus kembali ke RS. "


" Sekalian Mas. Aku juga mau ke RS. "


" Ayo ! "


Gita mengangguk senang. Di berjalan disepanjang loby RS sembari menunduk mempermainkan cincin yang terpasang di jari manisnya.


" Apa sebahagia itu sampai melihat cincinnya. Padahal yang kasi cincin ada di sebelahnya lhoo. " sindir Leon sambik tertawa.


Gita menoleh sekilas. Dia tersenyum malu. Keduanya berhenti didepan lift.


" Apa kamu mau aku mengantarkanmu ke kantor Dokter kepala Rs ? "


" Haahh,, yah gak usahlah Mas. Ada-ada aaja. Mas kan harus visit. "


" Aku yakin Bia akan mengerti. " guraunya.


" Gak boleh ah. Harus tanggung jawab sama pasiennya. "


Tinggg,,,


Pintu lift terbuka.


" Baiklah, Nyonya Leeon. Assalamualaikum. " seru Leon sembari masuk ke lift. Sempat melihat wajah merah Gita yang malu Leon memanggilnnya Nyonya Leon.


 

__ADS_1


"


__ADS_2