Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 145


__ADS_3

Zaskia langsung menyerahkan Bilqis yang ada di gendongannya kepada Tian saat melihat mobil Al memasuki halaman rumah mereka. Dia berdiri didepan teras. Berharap-harap cemas dengan keadaan Bia.


Sejak Azalea menerima telpon dari Mark yang mengatakan Bia pingsan setelah sempat diculik oleh Ayden. Zaskia sudah tidak bisa lagi fokus memperhatikan Bilqis dan anak-anak Bia. Saking kepikirannya sampai ASInya jadi ikutan macet. Tian dan Adiba berkali-kali berusaha memberikan breast massage tapi tidak juga bisa membuat pikiran Zaskia tenang, hingga ASInya tidak juga mai keluar.


" Kak Biaaa,,, !!! " seru Zaskia cemas sembari memeluk Bia saat Al membantu Bia keluar dari mobil dan mendekapnya.


Pelukan Zaskia membuat Bia mundur beberapa langkah. Untung saja ada Al yang menopang tubuhnya hingga tidak terjatuh.


" Apa Kak Bia baik-baik saja ? Apa ada yang terluka ? Apa mereka menyakiti Kka Bia ? " tanya Zaskia beruntun sambil memindai tubuh Bia.


Bia hanya bisa tersenyum dibalik keharuannya pada perhatian keluarga ini. Dia kembali meemluk Zaskia untuk menenangkannya.


" Alhamdulillah. Aku baik-baik aja Ki. Doamu dan Mama menyelamatkanku. " ujar Bia haru.


" Aku mencemaskan Kak Bia. Sudah cukup Kak. Jangan berurusan dengan mereka lagi. Lebih baik Kak Bia berhenti bekerja saja. Aku takut terjadi sesuatu pada Kak Bia. " kata Zaskia di antara tangisnya.


" Iya, besok hari terakhir aku kerja Ki. "


Zaskia melepaskan pelukannya.


" Janji ? Aku gak mau hal ini sampai terjadi lagi. " kata Zaskia sambil menatap Al agar bersedia juga berjanji.


" Iya, aku janji. Maafkan aku, sudah ceroboh. Sampai hal ini bisa terjadi. Aku janji ini pertama dan terakhir kalinya hal ini terjadi. " tegas Al sambil mengusap kepala Zaskia.


Bia tersenyum kemudian menghapus air mata Zaskia yang masih mengalir deras.


" Mami Kia,, kenpaa menangis ? " tanya Faiz yang baru keluar ke teras sambil mendorong stroller adik-adiknya dibantu Fawwaz.


" Bunda baru saja diculik temannya Leny Mas Faiz. Mami khawatir terjadi sesuatu pada Bunda, makanya Mami nangis. " jawab Zaskia jujur apa adanya.


" Kiaaa,,, " tegur Azalea.


Bia dan Al hanya menghela nafas panjang. Karena Faiz dan Fawwaz tentu saja langsung menghambur ke pelukan Bia dan menangis disana.


" Bunda,, Bunda ,, baik-baik saja kan. " seru Faiz khawatir


" Ki,, kamu sih. " gumam Bia.


" Kan aku jawab apa adanya. Aku memang khawatir kok. " protes Zaskia.


Bia menarik kedua anaknya menuju taman dan duduk di kursi taman. Bia mengusap air mata Faiz dan Fawwaz bergantian.


" Alhamdulillah,, Bunda baik-baik saja. Ada Papa, ada Tante Wimpi, Opa Mark, dan Om Alex yang mencari Bunda. Dan akhirnya bisa menyelamatkan Bunda. Kan Mas Faiz dan Mas Fawwaz tahu kalo Tante Wimpi hebat ilmu bela dirinya. "


" Jangan bekerja lagi Bun. Mas khawatir. " pinta Fawwaz.


" Papa,, apa masalah dengan teman-teman Papa belum selesai ? Apa Bunda gak bisa dirumah saja menemani kami ? Papa bisa bekerja sendiri tanpa Bunda kan. " protes Faiz.


Al duduk berjongkok di hadapan Faiz. Mendekap Faiz kemudian tersenyum smabil mengusap kepala Faiz.


" Alhamdulillah, berkat doa anak-anak Papa. Masalahnya sudah beres. Bunda bisa tetap berada di rumah seterusnya. Kita gak boleh biarkan Bunda kecapean bekerja lagi kan. Cukup Papa yang mencari nafkah umtuk kalian. "


Faiz memeluk Al dengan erat.


" Terima kasih Papa. " ucap Faiz tulus.


" Pokoknya Bunda harus di rumah. " tegas Faiz sambil melayangkan tatapan tajam ke arah Bia.


" Eeehh,, udah berani melototin Bunda sekarang ya. " gurau Bia seraya menyentil hidung Faiz.


Sontak saja Faiz langsung tertawa mendengarmya.


" Papa yang ajarin Bun. " sahut Fawwaz sambiil menunjuk ke arah Al.

__ADS_1


" Hah,, Papa ? Kapan ? " tanya Al bingung.


" Tiap kali kalo Papa lagi marah-marah. " jawab Fawwaz sambil tertawa.


Wimpi mendekat dengan membawa Arra yang sedang menangis.


" Sebentar Kak Wimpi aku belum cuci tangan. " cegah Bia.


Bia hendak berdiri tapi Adiba memdekat sembari membawa satu gayung berisi air.


" Cuci tangan dengan ini saja. Kasihan Arra sudah lapar mungkin. " kata Adiba.


" Ahh,, terima kasih Bu Adiba. Maaf, sudah merepotkan. " kata Bia sembari mencuci tangannya.


" Semoga lelahmu selalu menjadi berkah Bia. Dan Allah selalu menjagamu dan seluruh keluarga ini. " ucap Adiba tulus.


" Amin, ammin ya robbal alamiin. " sahut semua orang memgamini.


Bia mengambil Arra yang sudah berheenti menangis dari gendongan Wimpi.


" Tante Wimpi,, ajari aku ilmu bela diri. Biar bisa melindungi Bunda dan Papa. Seperti yang Tante Wimpi lakukan. " seru Faiz tiba-tiba sambil mengayunkan tangan kanan Wimpi.


Fawwaz pun melakukan hal yang sama di tangan kiri Wimpi. Bia dan Al saling berpandnagan lalu tersenyum.


" Ide bagus ! " celetuk Bia. " Biar gak mainan HP mulu." sambungnya.


" Tapi Papa kan juga bisa Mas Faiz, Mas Fawwaz. " elak Wimpi.


" Papa kan harus bekerja. Dirumahh ada Tante Wimpi." protes Fawwaz.


" Betul. " sahiut Al.


Bia dan Zaskia tertawa melihat ekpresi bingung Wimpii. Azalea mendekat begitupun Adiba yyang sudah membuang air di gayung yang digunakan Bia cuci tangan.


" Di ajari saja Wimpi. Biar mereka bisa secekkatan kamuu menjaga keluuarganya. " kata Azalea.


" Ada dokter Sandra Wimpi. " celetuk Tian lucu.


" Betul itu,, urusan luka-luka biar jadi urusan dokter Sandra. " sahut Zaskia menambahkan dan kembali menggendong Bilqis.


" Lakukan saja. Ajari anak-anak basicnya. Kalo kamu sedang keluar, Randy bisa menggantikannya. " kata Al yang mengerti kekhawatiran Wimpi.


Menjadi guru bela diri untuk anak seusia mereka memang harus ektra sabar. Karena sifat manja mereka pasti selalu lebih kentara.


" Om Randy juga bisa Papa ? " sahut Faiz takjub.


" Semua pengawal Papa dan Bunda harus bisa bela diri Mas Faiz. Biar bisa menyelamatkan Papa dan Bunda kalo ada yang mau berniat jahat. " jelas Tian.


Faiz dan Fawwaz mengangguk-angguk mengerti.


" Ayo kita belajar sekarang Tante Wimpi. Kalo mau seperti Papa, aku harus bisa bela diri sehebat Tante Wimpi dan Om Randy. " seru Fawwaz bersemangat.


" Papa Mas Fawwaz lebih hebat lho. " elak Wimpi lagi.


" Jangan,, jangan belajar dari Papa. Nanti ikut jadi searogan Papa. " sahut Bia tanpa sadar.


" Heemmmm,,, beraninya ledek suaminya. " gumam Al sambil menarik hidung Bia gemas.


Bia tertawa keki, lupa kalo masih ada Al.


" Tapi Kak Bia memang benar. Nanti ikutan seemosional Kak Al. Makin bertambah orang resek nantinya. " ejek Zaskia.


Al hendak mendekat ke arah Zaskia tapi Azalea menarik lengannya agar tidak terjadi adu mulut lebih lama lagi.

__ADS_1


" Kia,, " tegur Tian pelan.


Zaskia hanya cekikian keki karena di tatap Tian. Adiba dan Azalea geleng-geleng sambil tersenyum.


" Ayo Tante Wimpi. " ajak Fawwaz lagi.


" Baiklah. Mas Fawwaz dan Mas Faiz, panggil Om Randy dulu. Tante mau ganti baju. " jawab Wimpi.


" Oke !! " seru si kembar dan berlari menuju taman belakang.


" Permisi Tuan, Nyonya, Non. " pamit Wimpi.


" Terima kasih Kak Wimpi. " ucap Bia tulus.


" Bia, Arra sudah nyenyak lagi. Letakkan saja di stroller. Kalian bisa mandi dan istirahat dulu. Aku tahu kamu pasti masih sedikit shock Bia. " kata Azalea lalu mengambil Arra di gendongan Bia.


" Kak Bia,, ceritain dong. " pinta Zaskia.


" Nanti saja Ki. Bia sepertinya memang terlihat lelah." sahut Adiba.


" Nanti ya Ki, aku mau mandi dulu. Permisi. " pamit Bia.


Al mengekor dibelakang Bia masuk ke rumahnya. Menuju kamarnya. Masih dua langkah menaiki tangga, tubuh Bia terasa ringan karena Al tiba-tiba menggendongnya.


" Maafkan aku Bi. " ucapnya sambil berjalan menuju kamarnya.


" Mas,, ini udah kesekian kalinya Mas minta maaf padaku. Aku udah bilang kan. Ini udah berlalu. Aku juga yang ceroboh, gak mau ditemani Kak Wimpi. "


" Lain kali, kemanapun kamu pergi. Biarkan Wimpi menemanimu. "


" Bukannya kemarin-kemarin ada yang protes kalo aku selalu mengandalkan Kak Wimpi. " sindir Bia lalu tertawa.


Al menurunkan Bia dan mengunci pintu kamarnya.


" Karena aku belum tahu sesigap apa Wimpi. Hari ini aku sudah melihat segesit apa Wimpi. Bukan hanya tindakannya tapi juga cara berfikirnya. " kata Al sembari mengusap wajah Bia.


" Maafkan aku, pasti tadi Mas Al panik. " ucap Bia sembari melingkarkan tangannya memeluk Al dengan wajah yang masih menatap Al.


" Gimana gak panik, kalo ponsel yang aku titipkan pada Reiga gak ada. Hilang. Apalagi waktu Alex mengirimkan video saat Ayden tengah menatap kamu dan mengusap wajah dan bibirmu. Rasanya aku ingin membunuhnya kalo kami bertemu nanti. "


" Allah tahu kamu sedang seemosi itu. Karena itu mengirim bantuan melalui perantara Papa Mark dan Alex. " gurau Bia seraya mencium bibir Al sekilas.


Al tertawa lirih lalu memeluk Bia erat.


" Aku gak tahu akan semenyesal apa kalo kamu sampai menjadi korban Ayden Bi. Mungkin aku akan melukai tnagan dan kakiku sendiri sebagai permintaan maaf padamu karena gak bisa menjagamu dengan baik. Aku yakin Ghazzy sedang menatapku marah saat ini. "


" Ishh,, apaan sih ngomongnya. Ngawur aja. "


" Aku benar-benar frustasi tadi Bi. Melebihi frustasiku saat menunggu kelahiran anak-anak. "


Bia terkekeh lucu, karena telah mendengar dari cerita Zaskia dan Azalea saat itu.


" Terima kasih Mas. Udah mencintaiku sebesar itu. " ucap Bia.


" Aku mencintaimu Bi. Robiatul adawiyah. Nyonya Malik Alfaririzhi. " bisik Al.


" Udah ah. Aku mau mandi. Lalu rebahan sebentar. Mama benar, aku masih sedikit shock memang. Ini pertama kalinya aku kena hipnotis. Waktu sadar, aku mendengar Mas dan anak-anak memanggilku tapi setelah aku menoleh dan melihat sekelilingku. Aku gak menemukan Mas Al dan anak-anak. Aku malah melihat Papa Mark dan Alex sedang memukuli Ayden. "


" Sekarang kamu mandi. Aku siapkan airnya. "


" Eehh, gak usah Mas. Aku bisa sendiri. "


" Kan untuk istriku tercinta. " bisik Al sambil meniup telinga Bia.

__ADS_1


" Sepertinya pikirannya udah mulai mesum. " gurau Bia sembari melepaskan pelukannya.


Al tertawa lalu masuk ke kamar mandi untuk menyiapkan air dengan aroma terapi ke bathtub. Agar Bia bisa berendam dan merasa rileks.


__ADS_2