
Al memastikan Bia dan Faiz sudah tertidur diatas ranjangnya. Kemudian mengeluarkan kursi rodanya. Agar Bia tidak nekat keluar ruangan. Baru setelah itu dia pergike ruangan Leon untuk melakukan transfusi darah pada Fawwaz.
Clara masuk ke kamar Bia untuk membetulkan selimut Faiz yang terjatuh.
" Kak Clara. " panggil Bia seraya duduk bersandar di ranjangnya.
" Apa aku membangunkanmu ? Maafkan aku Bia. "
" Gak Kak. Aku gak bisa tidur. Aku mau menjenguk Mas Ghazzy. Apa Kak Clara bisa membantuku ? " tanya Bia sembari celingukan mencari kursi rodanya.
" Maaf harus mengecewakan kamu Bi. Mas Al menyembunyikan kursi roda kamu. Mungkin dia bisa menebak kamu akan nekat keluar dari ruangan ini. "
Bia mendengus kesal. Dia tidak mau memaksakan untuk berjalan lagi. Karena dia tahu, bukan hanya Leon yang akan marah. Tapi juga Al. Dan itu juga berarti dia harus merasa tidak enak lagi pada Clara.
" Sudahlah, lebih baik kamu istirahat. Aku akan menjenguknya nanti. Dan mengirim fotonya padamu. " hibur Clara.
" Terima kasih Kak." jawab Bia senang.
" Sekarang tidurlah. "
" Aku minta maaf Kak. "
" Untuk apa ? "
" Apa yang Mas Al lakukan salah. Dan aku,,, "
" Bi,, stop. Aku udah tahu dari Kia. Aku yang harusnya minta tolong. Sadarkan Mas Al, Bia. "
Bia menangis, rasanya sesakit ini padahal dia bukan Clara. Lalu bagaimana dengan Clara sendiri.
" Maafkan aku Kak. Rasanya sesak sekali. Hatiku di penuhi rasa bersalahku pada Kak Clara dan Mas Ghazzy. "
" Aku memaafkanmu Bia. Aku juga minta tolong padamu. "
Clara memeluk Bia sejenak kemudian melepaskannya. Lalu membantu Bia merebahkan tubuhnya disamping Faiz.
" Awas,, jngan mundur-mundur Bia. Nanti kamu jatuh"
" Ehh,, benarkah. Iya kak. " kata Bia sambil menggeser tubuhnya merapat dengan Faiz agar tidak jatuh.
" Aku keluar ya. "
Bia mengangguk sambil tersenyum.
" Istirahatlah dulu. " kata Leon saat melihat Al bangun.
" Aku akan istirahat dikamar Bia. Aku takut dia membutuhkan sesuatu nanti. " jawabnya sambil melepaskan jarum infusnya.
" Kamu masih lemah Al. " tegur Leon.
" Aku tidak apa-apa. " jawabnya sseraya keluar ruangan Leon.
Al masuk ke kamar Bia. Tersenyum melihat Bia yang tertidur dengan menggenggam tangan Faiz. Al membenarkan selimut Bia. Kemudian mengusap kepalanya, lalu memegang pipinya, dan tatapan Al jatuh pada bibir Bia. Biibir yang masih terlihat merah meskipun tidak tersentuh lipstik seharian. Al mencium bibir Bia, merasakan sedikit hangat suhu tubuhnya yang kontras dengan tangannya yang dingin.
Al menghapus bekas salivanyaa di bibir Bia dengan senyum yang tak hilang dari wajahnya.
" Ini obatku,, ini canduku,, " desisnya pelan.
Al mengurungkan niatnya untuk merebahkan tubuhnya disofa saat melihat tubuh Bia bergerak dan hampir jatuh. Al segera menggendong dan menggeser tuubuh Bia agar berada di tengah seperti Faiz. Meletakkan guling Faiz sebagai sekat agar tidak terjatuh. Lalu dia merebahkan tubuhnya dii belakang Faiz. Memeluknya dari belakang hingga tanganya bisa menggapai tangan Bia yang menggenngam tangan Faiz.
Leon masuk ke kamar Bia dengan senyuman getir. Mungkinkah analisaku dan dokter Bima salah ? Al begitu telaten merawat dan menjaga Bia. Seolah tengah merawat istrinya yang sedang sakit.
Apa Al benar-benar mencintai Bia saat ini ? Bukan hanya karena rasa bersalaahnya saja ? Atau biar aku minta dokter Bima melakukan hipnoterapi padanya ?
Leon mengabadikan momen Al tertidur dengan mmenggenggam tangan Faiz dan juga Bia ke dalam ponselnya. Mengirimnnya pada Azalea dan juga dokter Bima. Setidaknya biar dokter Bima bisa membaca gesture tubuh Al.
*****
__ADS_1
Azalea yang sedang berada dirumahnya untuk istirahat. Duduk ditepian kolam renang. Melakukan seperti yang biasa Bia dan Zaskia lakukan. Menceelupkan kakinya di kolam renaang. Pandangannya menerawang ke hamparan air kolam.
" Nyonya belum tidur ? Apa mau diibuaatkan jahe hangat Nyonya ? " tanya Amy.
" Tidak usah Bik. Duduklah. Aku ingin bicara. "
Amy hendak duduk dibelakang Azalea tapi dicegahnya.
" Duduklah sepertiku. Celupkan kakimu ke kolam. Rasanya rileks sekali Bik. "
" Maaf Nyonya. " ucap Amy meminta ijin yang dijawab anggukan oleh Azalea.
" Bagaimana keadaan Non Bia, Tuan Ghazzy dan si kembar Nyonya ? "
" Bia,, kakinya retak lagi Bik. "
" Ya Allah Non. "
" Ghazzy selain mengalami retak dilengannya juga harus dioperasi karena ada gumpalan darah di otaknya yang haruz segera dikeluarkan. "
" Ya Allah,, Non Bia pasti sangat sedih Nyonya. Lalu, bagaimana dengan si kembar ? "
" Faiz hanya memar. Dia juga sudah sebawel biasanya. Fawwaz yang terluka parah. Dia harus mendapatkan transfusi darah dari Al. "
" Tuan Al ? Apa hubungannyaa Nyonya ? Bukankaah ada Tuan Ghazzy dan Non Bia ? Memangnya golongan darah den Fawwaz sama dengan Tuan Al Nyonya ? " tanya Amy beruntun.
Azalea terkekeh sejenak. Jujur dia sedang menertawakan keluargaanya yang sangaat rumit.
" Eeehh,, maafkan saya Nyonya. Terlalu ikut campur. "
" Gak Bik. Gak apa-apa. Aku senang ada teman ngobrol. Tapi, satu-satu kalo tanya. Aku bingung jawabnya. "
Kini giliiran Amy yang terkekeh mendnegar protes majikannya.
" Al,, Al juga ayah kanndung si kembar Bik. " kata Azalea yang sanggup melenyapkan senyum di wajah Amy.
" Dokter bilang ini kasus langka. Kareena si kembar punya dua gen daari Ayah yang berbeda. Karena itu Al bisa mendonorkan darahnya padaa Fawwaz. "
" Selalu ada hikmahnya ya Nyonya. "
" Iya Bik. "
" Lalu bagaimana keadaan den Fawwaz sekarang Nyonya ?? "
" Kata Leon, masih dalaam pantauan. Menuunggu reaksi tubuuh Faawwaz. Si kembar punya penyaakit yaang sama dengan Kia dulu Bik. Karena itu, pemeriksaaan mereeka lebih detaail. "
" Masyaalllahu. Mereka masih saangat kecil untuk dilakukan pencangkokan sumsum tulang belakanng Nyonyaa. "
" Yaa. Alhamdulillah mereka tidak memerlukan tindakaan itu. Untuk saat ini hanya membutuhkaan trasansfusi darah. Bia dan Ghazzy masih terlalu lemah untuk menjalani transfussi. Karenna itu Al standdby disaana. "
" Jadi,, Tuan Al beradaa dirumah sakit sekaraang ? "
Azalea mengangguk.
" Syukurlaah. "
Azalea menoleh.
" Kenapa Bik ? "
" Setidaknya ada yang menjaaga Non Bia selama Tuan Ghazzy sakit. "
Kalimat Amy memang bisa dibenarkan Azalea. Tapi, itu kalo tidak ada Clara diantaaraa mereka.
" Kenapa Bik Amy berfikir seperti itu ? "
" Saya dan Wimpi baaru menyadari perasaann Tuan Al sewaktu pernikahan Non Kia dulu Nyonya. "
" Peraasaan Al ? " tanya Azaalea pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
" Sewaktu pernikahan Kia ? "
Amy menunduk, sadar kalo dirinyaa teelah salah berucap.
" Bik Amy jangan diaam saja. Aku sudah membuka rahaasia keluargaku tentang Al dan si kembar. Apaa ada yang tidak kuketahui ? "
" Begini Nyonya. Saat saya ke kamar Non Kia sebelum di make up. Non Kia mengucapkan terima kasih pada Non Bia karena telah menelpon Tuan Al dan bisa membujuk Tuan Al untuk datang ke akad nikah Non Kia. "
Azalea tercengang mendengarnya. Jadi, Al daatang karenaa telpon dan permintaan Bia ? Sedangkan tidak ada satupun telpon dari dia, Leon, Clara atau Ghazzy yang diangkat.
" Bahkan Tuan Al pergi dari akad nikah Non Kia setelah bertemu dan berpamitan pada Non Bia. Padahal Non Bia sudah menyuruh Tuan Al untuk pamit ke yang lainnya. Tapi, Tuan Al tidak memperdulikannya. "
" Lalu kenapa bisa menarik kesimpulan kalo Al punya perasaan pada Bia Bik ? "
" Tatapan Tuan Al Nyonya. Sangat berbeda dengan sewaktu pertama kali membawa Non Bia pulang. Bahkan setelah kita merayakan ulang tahun Tuan Al waktu itu. Saya sudah bisa melihatnya. Apalagi, waktu itu saya juga melihat Tuan Al mencium Non Bia dikolam rnenaag ini. Mesra pokoknya Nyonya. " seru Amy dengan mata berbinar.
" Lalu bagaimana dengan Clara Bik ? Al sudah menikah dengan Clara. " tegas Azalea panik.
* Aku harus bicara pada Leon. Bahkan Bik Amy pun bisa melihat cinta Al untuk Bia. * batin Azalea.
" Saya tidak tahu Nyonya. " jawab Amy sambil menunduk.
" Jawablah dnegan jujur Bik. Aku tidak akan marah. Bik Amy dan Bik Okta sudah lama kerja dirumahku. Pasti sudah hafal perubahan yang terjadi pada anak-anakku. "
" Yang saya lihat sewaktu Tuan Al menikah dnegan Non Clara. Tatapannya tidak seberbinar saat melihat Non Bia nyonya. Saya gak tahu setelah dua tahun ini apakah masih sama tatapan Tuan Al pada Non Bia. "
Azalea menghela nafas panjang. Kemudian menunjukkan foto yang dikirim Leon. Foto Al yang tidur dengan menggenggam tangan Bia dan mengapit Faiz ditengah-tengah mereka.
Air mata Amy turun begitu saja. Antaara terhaaru, sedih , dan juga bahagia. Tapi juga kalut. Entah perasaan apa yang sebenarnya dominan saat ini.
" Tuan Al tampak sangat bahagia Nyonya. Tuan bahkan sampai tersenyum di tidurnya. "
Azalea kembali menatap foto itu. Yah,, Al nampak bahagia. Tidak pernah dia melihat Al sedamai itu saat tidur. Setelah bertahun-tahun selalu ketakutan dalam tidurnya, seolah takut Papanya kembali menyiksanya. Hanay Azalea yang tahu perasaan Al waktu itu. Dan saat ini. Karena itu, dia juga merasa terluka setiap kali melihat Al yang mengacuhkannya.
" Aku harus bagaimana Bik ? "
" Maksud Nyonya ? "
" Aku sadar, baru kali ini aku melihat Al sebegitu nyenyak dan tenang dalam tidurnya. Selama ini dia selaku ketakutan kalo tidak pasti insomnia. "
" Tuan Al sepertinya sangat mencintai Non Bia Nyonya."
" Itulah yang aku takutkan Bik. "
" Kenapa ? Bukannya maalah bagus ? Tuan jadi tidak pemarah lagi sejak mencintai Non Bia. "
" Bik Amy lupa ??! "
Amy terdiam bingung.
" Al sudah menikah dnegan Clara Bik. Bia juga ada Ghazzy. Lalu mereka harus bagaimana ? "
Amy menepuk keningnya lupa.
" Maaf Nyonya. Saya benar-benar lupa. Yang saya rasakan saat ini pokonya lihat Tuan Al dan Non Bia, bawaannya seneng aja Nyonya. "
" Kalo itu aku juga tahu Bik. Aku tidak akan sebingung ini kalo mereka memang pasangan halal. Lah ini ?!"
Azalea menggelengkan kepalanya.
" Speertinya Tuan Ghazzy tidak keberratan dengan keberadaan Tuan Al disekitar Non Bia Nyonya. "
" Karena Ghazzy juga sadar, ada ikatan batin antara Al dan juga anak-anak. Bagaimanapun Al , Papa si kembar Bik. Yang aku bingungkan saat ini Clara Bik. Aku tahu dia snagt terluka melihat suaminya mencintai orang lain. "
" Urusan hati, Nyonya. "
" Aku harus bagaimana Bik ? Aku bingung. Aku sakit melihat Al terluka karena terpisah dnegan Bia. Tapi aku juga egois kalo membiarkan Bia yang terluka karnea harus terpisah dari Gahzzy. Apalagi kalo mengingat Al pernah melakukan kekerasan fisik pada Bia. Clara juga tidak bersalah. ini murni karena kesalaahan anakku. Apa aku harus seegois itu membiarkan dia bahagia diatas penderitaan orang lain ? Apa aku bisa sekejam itu ? "
Amy mengusap pundak Azalea untuk sekedar menenangkannya. Tidak menyangka ada perang batin di sosok majikan yang dikaguminya itu.
__ADS_1