
Bia mengetuk kamar Clara. Kemudian membukanya perlahan. Dilihatnya Faiz masih rebahan diaatas ranjangnya sendirian. Membelakangi pintu dan menghadap lemari. Melihat kedatangan Bia dari pantulan kaca lemari.
Faiz bangun dan bersandar di sandaran ranjang. Bia duduk di depan Faiz. Memegang keningnya, takut saat ini Faiz sedang sakit.
" Mas,, mas Faiz sakit ? Kok gak keluar kamar ? "
" Keluar kok Bun. Tadi waktu sarapan. "
" Lalu ke kamar lagi ? Gak mainan sama Adek ? "
Faiz menggeleng, kemudian menunduk.
" Mas Faiz gak sakit. Lalu kenapa diam dikamar sendirian ? Ada yamg sedang Mas Faiz pikirkan ? "
Faiz masih terdiam. kemudian menggeleng lemah.
" Apa Mas Faiz lupa apa yang semalam Bunda katakan saat Papa minta maaf pada Oma ? "
Faiz menatap Bia bingung, seolah bertanya perkataan yang mana ?
" Kalo merasa salah pasti akan menangis saat minta maaf. Sekarang, Bunda mau minta maaf ke Mas Faiz. Kalo Bunda punya salah. " kata Bia sembari mencium tangan Faiz.
Sontak Faiz memeluk Bia terisak dalam pelukan Bia. Pikiran Bia masih belum bisa menebak penyebab anaknya menangis seperti ini.
* Apaa sedang merindukan Mas Ghazzy ? * batin Bia.
" Gak Bunda. Bunda gak ada salah sama Mas. " jawab Faiz tanpa melihat wajah Bia.
Bia melepaskan pelukan Faiz. Kemudian mengusap air mata Faiz.
" Lalu,, kenapa Mas Faiz menangis ? Mengurung diri di kamar. Ini bukan sepeti anak Bunda. "
Dengan ragu Faiz menatap Bia lama.
" Apa ada yang ingin Mas katakan pada Bunda ? " tebak Bia.
" Bunda jangan marah pada Mas ya Bun. Mas hanya mau bertanya. "
" Kenapa harus marah kalo hanya bertanya ? Mau bertanya apa, Mas ? "
" Bundaa,, apa benar Mas dan Adek ini. Anak hasil dari perselingkuhan ? Apa benar Bunda ,, pelakor ? Atau Mama Ara yang menjadi pelakornya Bun ? "
Bia tersentak. Bagaimana Faiz mendapatkan perbendaharaan kata seperti itu ? Bagaimana Faiz bisa berifkir seperti itu ?
" Bunda,, jangan marah. " ujar Faiz sembari mengusap pipi Bia. Yang tak sadar tengah menangis.
" Bunda,, jangan menangis Bun. Maafkan Mas Faiz Bunda.. " rengek Faiz.
Bia menjadi tersadar dan segera menghapus air matanya. Lalu tersenyum pada Faiz.
" Bunda gak marah Mas. Memangnya Mas Faiz mendengar hal ini dari siapa ? "
" Semalam, waktu Tante Wimpi memarahi Bik Leny. "
" Bik Leny yang mengatakan itu ? "
Faiz mengangguk.
" Apa benar begitu Bunda ? "
" Tentu saja gak benar dong Mas. "
" Lalu ,, Mas dan adek anak siapa Bun ? "
" Tentu saja anak Bunda dan Ayah. "
" Anak Papa juga kan Bun ? Berati bener, Bunda selingkuh ? " kata Faiz marah.
__ADS_1
" Husshh,, dengarkan Bunda dulu. Mau seperti Papa, marah-marah pada Oma sebelum mendengar penjelasan Oma ? "
Faiz menggeleng cepat.
" Mas mau dengerin Bunda. "
" Bunda, gak tahu. Mas Faiz akan mengerti atau gak dengan yang diceritakan Bunda nantinya. Tapi jangan dipaksakan ya. "
Faiz mengangguk mengerti.
Bia menceritakan pertama kalinya dia harua berada di keluarga ini. Untuk menolong Zaskia, menikah kontrak dengan Al, melakukan program inseminasi dengan Ghazzy. lalu bercerai dengan Al disaat dia hamil anak-anaknya. Sampai dengan permintaan Ghazzy yang ingin Bia menikah dengan Al.
" Apa Mas bingung dengan penjelasan Bunda ? "
Faiz mengangguk.
" Nanti,, setelah Mas Faiz dewasa nanti. Bunda akan menjelaskannya lagi. Untuk sekarang, yang perlu Mas Faiz fahami. Mas dan adek, anak-anak Bunda. Dan juga anak-anak Ayah dan Papa.
Kalo Mas bertanya bagaimana itu bisa terjadi, Bunda gak bisa menjawabnya. Yang Bunda tahu, itu sudah menjadi takdir Allah. Kalo gak, Mas bisa belajar menjadi dokter seperi Opa Leon dan Oma Gita. Biar Mas tahu proses ilmiahnya. Karena Opa Leon dan Oma Gita yang selama ini membantu Bunda, disaat sedang hamil kalian berdua. "
Faiz masih terdiam memikirkan penjelasan Bia.
" Mas Faiz masih mengingat wajah Ayah kan ? "
Faiz mengangguk cepat.
" Sekarang,, Mas Faiz lihat di cermin itu. Mas pejamkan mata Mas Faiz, lalu buka lagi. Apa Mas Faiz bisa sekilas melihat wajah Ayah disana ? "
Faiz nampak melakukan apa yang dikatakan Bia. Kemudian dia tersenyum dan mengangguk.
" Lalu,, lihat mata Mas Faiz. Apa Mas juga melihat mata dan hidung Papa disana ? "
Faiz kembali menatap pantulan dirinya di cermin. Kemudian mengangguk pasti sambil menatap Bia.
" Kalo Mas Faiz bertanya, bagaimana bisa begitu. Bunda gak tahu. Tapi, kalo Mas Faiz masih gak percaya dnegan penjelasan Bunda. Mas bisa bertanya pada Opa Leon dan Oma Gita. Bunda juga mempunyai surat pernyataan hasil tes DNA kalian. "
" Tes yang dilakukan para dokter, untuk mengetahui kalian anak siapa. "
" Hasil tesnya gimana Bun ? "
" Kalian anak Ayah dan Papa. "
" Mas bingung Bun. Tapi, yang penting. Mas dan adek bukan anak hasil perselingkuhan sepetti yang dibilang Bik Leny kan Bun. "
" Gak, Mas. "
" Jadi,, Mama Ara yang jadi pelakornya Bun. "
" Ssssststtt,,, gak ada yang jadi Pelakor. Baik Bunda dan Mama sama-smaa istri sah Papa. Gak ada istilah pelakor. Mas Faiz lupain kata itu. Mengerti kan ? "
" Mengerti Bunda. "
Bia melihat Faiz masih murung setelah mengatakan mengerti.
" Apa masih ada yang mau ditanyakan ke Bunda ? "
" Apa Bunda akan melupakan Ayah ? Melupakan kami ?"
" Hahhh,, kenapa Bunda harus melupakan Ayah apalagi kalian ? "
" Karena ada Papa sekarnag. Lalu nanti saat Bunda hamil dan punya adek bayi. Bunda pasti melupakan kami. "
Bia menghela nafas panjang. Apa lagi ini ? Pikirnya.
" Apa ini juga yang di katakan Bik Leny ? "
Faiz mengalihkan tatapannya pada Bia. Lalu memgangguk. Bia kembali menghela nafas, menyayangkan Leny yang gak bisa menjaga perkataannya.
__ADS_1
" Mas,, Ayah itu,, orang yang berarti buat Bunda. Ornag yang Bunda sayangi sebelum kalian ada. "
" Lalu,, Papa ? "
" Bunda juga menyayangi Papa. "
" Sayangnya Bunda terbagi dong. "
" Sama kayak sayangnya Mas Faiz kan. "
Faiz melihat Bia bingung. Bia menghadapkan wajah Faiz ke diirnya. Mengusap sisa air mata Faiz.
" Mas Faiz kan juga harus membagi rasa sayangnya. Sayang sama Bunda, sayang Adek Fawwaz, sayang sama Ayah, sayang sama Papa. Sayang Oma Lea,sayang sama Tante Kia dan Om Tian. Sayang sama Opa Leon dan Oma Gita. "
" Sayang sama semuanya Bun !! " seru Faiz senang.
" Iya dong. " jawab Bia senang. Karena Faiz sudah mulai bisa menerima dan tertawa.
" Jadi, Bunda gak akan melupakan kami kan meskipun nanti ada adek bayi. "
" Tentu saja gak. Kalian juga harus membagi rasa sayangnya pada adek bayi nanti. "
" Siaaapp Bunda. "
Bia tertawa melihat Faiz yang sudah tertawa.
" Lalu, apa sekarang sudah ada adek bayinya Bun ?"
" Eehh, belum ada Mas. " celetuk Bia.
" Maafin Mas ya Bun. Mas buat Bunda sedih. " kata Faiz sembari mencium telapak tangan Bia.
" Kalo Mas udah percaya sama Bunda. Bunda gak sedih lagi. Lain kali kalo dengar yang gak-gak tentnag Papa atau Bunda. Tanyakan dulu pada Bunda atau Papa. Gak boleh mengurung diri dikamar speeerti ini ya Mas."
" Iya Bunda. " kata Faiz sembari mencium pipi Bia.
" Sekarang,, Mas Faiz gak mau main sama Adek Fawwaz ? "
" Adek Fawwaz dimana Bunda ? "
" Main sama Oma. "
" Mas ikut kesana ya Bun. "
Bia mengangguk sambil menggandeng tangan anaknya untuk keluar kamar. Mereka berpapasan dengan Zaskia dan Fawwaz.
" Bunda,, Om Tian mau mengajak Adek ke rumah Oma Diba. Gak apa-apa kan Bun ? " pamit Fawwaz.
" Mas Faiz ikut ya Bun. "
" Iya. Gak boleh nakal ya disana. "
" Iya Bunda. "
" Om Tiannya dimana ? " tanya Bia pada Zaskia.
" Sudah menunggu di mobil. Aku menyuruh anak-anak berpamitan pada Bundanya dulu. "
Bia tersenyum kemudian mengangguk.
" Assalamualaikum. " seru si kembar saat sudah salim pada Bia dan Zaskia.
" Waalaikumsalam. "
" Kak. Aku anterin ke depan dulu ya. "
" Iya. "
__ADS_1
Bia membelokkan langkahnya menuju dapur. Ingin berbicara dengan Leny perihal tuduhannya hingga terdengar oleh Faiz.