
Setelah mandi dan berwudhu, Al merasa kedinginan dan makin menggigil. Padahal suhu tubuhnya hangat, tidak sepanas tadi malam. Setelah sholat shubuh, dia merebahkan tubuhnya diatas ranjang king sizenya.
" Maass,, ini udah selimut ketiga lho. Masih dingin ? "
Tanya Bia khawatir.
" Masih Bi. " katanya smabil menarik selimutnya hingga menutupi lehernya.
Bia melihatnya semakin khawatir. Padahal AC sudah dimatikan. Bia mengunci pintu kamarnya. Lalu mendekat ke arah ranjang.
Bia memikirkan cara supaya Al tidak meraskan kedinginan lagi. Dan satu-satunya cara yang terpikirkan hanya dengan skin to skin. Kalo tidak Al akan semakin memggigil. Karena Al masih keras kepala tidak mau ke dokter.
Mata Al membulat saat melihat Bia masuk ke dalam selimutnya dan memeluk tubuhnya erat.
" Bi, nanti kamu ketularan. "
" Apa masih dingin ? " tanya Bia cemas.
Tapi Bia memeluk Al masih dengan pakaian lengkapnya. Al tersenyum nakal. Tidak mau melewatkan kesempatan ini. Apalagi setelah membaca pesan Zaskia semalam.
Flashback On.
Yah,, sewaktu Bia mandi. Al memeriksa semua pesan whatsapp Bia. Hanya ingin tahu siapa yang sering mengirim chat pada Bia.
" Tidak ada yang mencurigakan. Aku tahu Bia pandai menjaga diri. " gumamnya.
Lalu mata Al tertuju pada pesan yang dikirim Zaskia. Teringat anak-anaknya yang sedang bersama Zaskia, dia membuka pesan itu.
' Kak Bia gak lupa dengan apa yang aku katakan semalam kan ? Kak Al pasti sembuh kalo sudah meminta haknya pada Kak Bia. '
Al tertawa pelan karena takut terdengar Bia yang sedang berada di kamar mandi. Tubuhnya memang tidak selemah semalam. Suhu tubuhnya juga sudah tidak sepanas semalam.
" Aku sudah bersama obatku Ki. Tentu saja aku harus sembuh. " gumamnya sambil masih tersenyum.
Flashback off.
" Kalo pake metode skin to skin pasti langsung hangat Bi. " bisiknya sambil meniup telinga Bia yang masih tidak memakai jilbabnya.
Bia menutup telinganya. Bulu kuduknya meremang seketika.
* Mas Al sepertinya modus ini. * batinnya.
" Mas hentikan. Ya sudha. Aku keluar aja. "
Al memeluk Bia posesif. Seolah takut Bia akan meninggalkannya lagi. Menutup selinutnya hingga ke seluruh tubuh.
" Aku mencintaimu Bi. " ucap Al sambil memcium kening Bia.
" Aku tahu. Sekarnag kamu istirahat. " kata Bia sambil menyentuh kening Al untuk mengecek kondisinya.
* Gak sepanas semalam. Tapi kenapa Mas Al merasa kedinginan ? * batin Bia.
" Pernikahan kita kemarin sah kan ? " tanya Al tiba-tiba dan menatap mata Bia.
Bia terdiam. Mengalihkan tatapannya ke dada Al. Mempermainkan kancing baju koko Al. Kemudian mengangguk pelan.
__ADS_1
" Maafkan aku Mas. " pintanya masih tanpa menatap Al. Tidak punya keberanian karena dihinggapi rasa bersalah.
" Kita tidak perlu mengulang pernikahan kita kan ? "
Al tersenyum melihat Bia yang terus menghindari tatapannya.
Bia menggeleng. kemudian mmeberanikan diri menatap Al yang terus mengecupi puncak kepalanya.
" Mas,, mau memaafkan aku kan ? " tanya Bia penuh harap. Dia sangat merasa bersalah.
" Aku akan memaafkan kamu tapi dengan satu syarat." kata Al sambil kembali menatap Bia.
" Syarat ? " tanya Bia bingung.
Al mengangguk sambil tersenyum. Menempelkan keningnya di kening Bia.
" Syarat apa ? "
" Aku ingin meminta hakku sekarang. "
Bia melongo. Bisa-bisanya Mas Al berfikir ke arah sana. Pikirnya.
" Tapi, kamu masih sakit Mas. " protesnya.
Al mencium bibir Bia.
" Ini obatku. Harus berapa kali diminum obatnay ? Tiga kali kan. "
Al mencium bibir Bia sebanyak tiga kali.
" Aku sangsi kamu sedang sakit saat ini Mas. Kamu lagi modus kan ini. " elak Bia sembari berusaha menjauhi Al.
Al tertawa kemudian membenamkan wajahnya diceruk leher Bia. Membuat tnada merah disana. Membuat Bia mendesah pelan.
" Kenapa gak sampaikan salam Kia padaku ? Aku rasa apa yang dikatakan Kia ada benarnya juga. Kita bisa mencobanya, anggap saja kamu menggunakan metode skin to skin. "
Bia mendorong tubuh Al menjauh. Hingga ciuman Al pada tiap inci wajah Bia dan turun ke lehernya terlepas.
" Kok Mas Al tahu ?! " seru Bia heran.
" Dia mengirimimu pesan. Maaf, aku membukanya tadi. Takut ini tentang anak-anak. " jawab Al.
" Iisshhh,, Kia. " gerutuu Bia kesal hingga mengerucutkan bibirnya.
Al kembali mencium bibir Bia dan tiap inci wajah Bia.
" Bolehkan aku melakukan syaratnya ? " bisiknya di telinga Bia. Dan menciuminya agar Bia terangsang dengan sentuhannya.
Dua tahun bukan waktu yang sebentar membuat Al langsung berhasrat saat melihat Bia. Apalagi sekarang Bia sudah sah sebagai istrinya. Dia tidak bisa menahannya lagi.
Akhirnya Bia hanya mengangguk pelan. Sentuhan Al sudha berhasil meningkatkan hasratnya. Apalagi melihat mata Al yang berkabut dipenuhi nafsu.
Bia tidak membawa banyak baju karena saat itu dia pikir akan berada di Kalimantan beberapa hari saja. Dia malah membawa baju-baju anak-anak yang lebih banyak. Karena itu dia masih memakai bathrobnya sedari mandi shubuh tadi. Tentu saja itu mempermudah Al untuk melancarkan aksinya. Membuka tali bathrob Bia.
Baik Al dan Bia sudah sama-sama tidak memakai baju sehelai pun sekarnag. Al tersenyum senang saat Bia memberikan respon pada semtuhannya. Tidak seperti terakhir kalinya mereka melakukan penyatuan dulu.
__ADS_1
" Mas,,, udah. Lepasin. " seru Bia kesal.
Saat Al sudah kembali memciumi wajah Bia dan meremas dua gunung kembarnya.
" Tapi aku masih ingin Bi. " ujar Al sambil kembali menindih tubuh Bia.
" Tidak,, tidak,, ini sudah ketiga kalinya Mas. Aku capek. Mas bener-bener ya. Masih sakit sempet-sempetnya modus gini. "
" Tapi ,,, "
" Mas,, aku lapar. "
" Satu kali lagi Bi. " pinta Al.
" Aku mau mandi. " seru Bia sambil mendorong tubuh Al agar minggir.
" Kita mandi bersama. "
" Gak. Bukannya mandi malah aneh-aneh nanti. "
" Aneh-aneh gimana ? Kamu lupa kalo mandi bersama itu salah satu sunnah Nabi. "
Bia terdiam. Tidak bisa mendebat Al kalo sudah membahas tentang agama. Al tertawa menang.
" Kita mandi bersama. " kata Al sambil membopong tubuh Bia menuju kamar mandi.
Bia mengeratkan pelukan di leher Al.
" Sebenarnya kamu gak sakit kan Mas ? " tanya Bia dengan tatapan penuh selidik ke Al.
" Aku memang sakit kok. Tapi aku sudah minum obatku. " protes Al sambil tertawa.
Bia mencibir kesal. Al kembali mencium bibir Bia sedikit lebih lama.
" Itu obat yang harus diminum di siang hari. " ujarnya.
" Baru sadar kalo sekarnag udah siang ? " gerutu Bia.
Al menurunkan Bia dibawah kran shower. Tapi tetap memeluknya dari belakang. Bia melongo melihat pantulan bayangannya di cermin. Leher dan tubuhnya sudah dipenuhi kissmark dari Al.
" Maaasss,, apa-apaan ini. Kenapa merah semua ?!! "
Al tertawaa senang mendengar protes Bia.
" Yang disini belum ada merahnya Bi. " desis Al ditelinga Bia sambil meremas buah dadanya.
" Aahh, Mas. Ini kapan kita mandinya kalo kamu kayak gini terus. " keluh Bia yang sudah kembali mulai berhasrat.
Karena satu tangan Al berada di buah dada Bia dan satu lagi di ***********. Sedangkan Al terus menciumi telinga dan leher Bia.
" Satu kali lagi Bi. "
Bia sudah tidak bisa mendebat lagi. Apalagi tangan dan ciuman Al sudah kembali menjelajahi tubuhnya.
__ADS_1