Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 52


__ADS_3

Air mata Bia berjatuhan tidak berhenti melihat Ghazzy yang tengah terbaring lemah. Kepalanya ditutupi perban. Begitu juga dengan lengannya. Leon sedang memeriksa kondisi Ghazzy saat ini.


" By,,, " panggil Bia parau.


Al terpaku, tidak menyangka panggilan Bia pada Ghazyy sudah berganti.


* By,, ?? Apa maksud panggilan Bia pada Ghazzy?*


Tatapan Ghazzy beralih pada Bia. Leon pun juga menggeser tempatnya berdiri agar bisa ditempati Bia. Al mendekatkan kursi rodanya menuju ranjang Ghazzy. Dia mengusap kepala Bia dengan lembut.


Tampak Bia kembali hendak protes dengan apa yang dilakukan Al. Karena takut Ghazzy akan berfikir macam-macam nantinya. Akhirnya Leon yang berinisiatif untuk mengurangi kecanggunganya.


" Aku akan meninggikan posisi kepalamu Ghazzy. " Kata Leon sembari melakukan apa yang dia bilang.


Bia meraih tangan Ghazzy dan menggenggamnya.


" Gimana dengan keadaannya By. "


" Alhamdulillah. Aku kangen kamu sayang. "


Al menunduk, ada rasa nyeri di dadanya.


* Sesakit ini,, dan tidak satupun yang mau mengerti peraasaanku. * batinnya.


" Gimana dengan kakimu sayang ? "


" Sudah lebih baik. "


" Alhmdulillah. Gimana dnegan anak-anak Om ? "


" Faiz sudah saangat sehat. Dia sedang jalan-jalan dengan Kia dan Tian. " jawab Leon sennag.


" Al,, sudah ada disini. Itu berarti Fawwaz,,, Gimana dengan Fawwaz Om ? "


" Kondisinya sudah stabil Ghazzy. Fawwaz sudah keluar dari masa kritisnya. "


" Alhamdulillah. " ucap Bia dan Ghazzy bersamaan.


" Ini sudah malam. Sebaiknya kamu istirahat Ghazzy. " kata Leon mengingatkan.


" Aku boleh menunggunya Om ? " tanya Bia.


Bia menatap Leon penuh harap, begitupun dengan Al. Dengan pengharapan yang berbeda. Leon menghela nafas panjang.


" Jangan Bia. Kamu juga harus istirahat. Aku yakin kalian berdua sangat ingiin cepat pulih karena sudah bosan menemaniku sehariaan dirumah sakit kan. "


Ghazzy terkekeh meskipun masih lemah.


" Tidak bisakah kami diletakkan di satu kamar saja Om ? " tanya Ghazzy.


" Kalian ini lagi sakit. Bukannya mau honeymoon. Enak aja. Gak boleh,, gak boleh,, nanti aku jadi ornag ketiga kalo mau memeriksa kalian. " gurau Leon.


" Karena ittu,, menikahlah. " sseru Azalea sembari memukul lengan Leon.


" Sebentar lagi Ma. " jawab Bia sembari mengerlingkan matanya pada Leon.


" Eehh,, apa dia tadi kesini ? " tanya Leon kaget.


Bia mengangguk sambil tertawa melihat Leon yang sedang malu.


" Aaahh,, sudah. Kamu harus kembali ke kamarmu Bia."


" Tidak. Siapa yang dimaksud Leon Bia ? " tanya Azalea penasaran.


" Lusa. Aku janji lusa akan mengenalkanmu padanya. Ini sudah malam. Mereka harus banyak istirahat. " tegur Leon sembari mendorong Azalea untuk keluar kamar Gahzzy.


" Istirahatlaah sayang. " ujar Ghazzy.


" Kamu juga By,, "


" Al ,, maaf aku sudah merepotkanmu kali ini. "


Al hanya mengacungkaan keduaa jempolnya dan melemparkan senyum. Tidak mau mengucapkaan satu kata pun. Karenaa hanya akan terdengar parau di telinga oorang-orang disana.


" Aku akan menunggumu sampai tidur baru kembali ke kamarku By. " teegas Bia.


" Sayang,, "


" Tidurlah dulu. " kata Bia sembari mencium telapak tangan Ghazzy.


Tangan Ghazzy terulur ke kepala Bia. Dan mengusapnya dengan lembut. Sampai usapan itu terasa melemaah dan akhirnya berhenti. Ghazzy sudah teertidur setelah Leonn menyuntikkan oobat yang menyebabkan kantuk.


" Kamu juga harus istirhat Bi. " ujar Al.


Bia hanya mengangguk. Tanpa banyak protes. Memikirkan bagaimana caranya agar Al bisa melupakannya. Perubahan Clara bahkan tidak memberikan pengaruh apapun pada Al. Malah Bia merasa perasaan Al semakin dalam padanya. Belum lagi sekarang, Al sudah tidak malu lagi memperlakukan Bia dengan mesra meskipun ada Azalea atau Zaskia. Bukan tidak mungkin suatu saat Al akan melakukannya didepan Clara.


" Kamu sedang memikirkan apa Bi ? Apa memikirkan aku ? " tanya Al sembari duduk di depan kursi roda Bia. Setelah berada di kamar Bia.


Bia tersenyum keki tidak menyangka pikirannya akan tertebak Al.


" Kamu tersenyum. Aku rasa itu benar. Aku senang kamu memikirkanku Bi." jawab Al senang.


" Ehh siapa bilang ?! Iihh,, geer banget sih. "


Al makin tertawa. Bia hanya menatap Al dengan sendu.


" Mas,, kamu cakep lho kalo tertawa seperti itu. Tapi kenapa harus memasang wajah sesinis itu pada Mama dan Kia ? " sindir Bia.


" Kamu harus istirahat. " ujar Al kembali acuuh.


" Tuuhh kan pasti menghindar. Jawab dong. "


" Gak ada yang perlu dijawab Bi. " kata Al sembari menggenggam tangan Bia.


" Gak usah begini. " kata Bia sembari melepaskan tautan tangann Al yang menggenggam kedua tangannya.

__ADS_1


" Iini obatku Bi. "


" Obat apa. Paasti hanya mooduus kan. "


Al kembali tertawa. Senang akhirnya Bia mau berbicara padanya.


" Hanya kamu yang bisa membuatku tidur nyenyak. "


" Maksudnya setelah memukulku ? " tanya Bia ragu.


Karena tempo hari memang tidak tahu kalo Al tidur ddeengan menggenggaam tangannya.


" Kamu masih mengingatnya. Apa karena belum bisa memaafkankku ?? "


" Aku sudah memaaafkanmu Mas. Kamu sendiri yang belum memaafkan dirimu. "


" Sudah. " tegasnyaa.


" Benarkah ?? "


Al mengangguk pasti. Tangan Bia terulur ke kepala Al.


" Tapi kenapa disini masiih teraasa panas ? Belum lagi ini,, " jari telunjuk Bia menunjuk ke kening Al.


" Ini sudah terlalu banyak kerutan. Pasti sudah terlalu penuh kuotanya Mas. " gurau Bia.


Al tertawa kemudian menarik tangan Bia.


" Aku tahu satu cara yang bisa membuatnya tidak terlalu panas lagi. Biar cepat ke refresh. "


Alis Bia berkerut bingung.


" Bagaimana ? "


Al duduk di lantai. Kemudian meletakkan telapaak tangan Bia kembali ke kepalanya. Menuntun tangannya untuk mengusap kepalanya.


" Seperti ini. " serunya.


Bia tertawa, dia hendak menarik tangannya tapi Al mencegahnya.


" Biarkaan seperti ini sebentaar Bi. Aku mohon. "


Bia terdiam lalu membiarkan tangan Al masih menuntun tangannya mengusap kepalanya. Tampak di mata Bia, mata Al kembali mengembun sembari menatap sendu ke mata Bia.


" Aku lelah Bi. " ujarnya sembari meletakkan kepalanya dipangkuan Bia.


Al merasa sesak. Baru beberapa hari ini dia merasa kebahagiaan luar biasa. Kebahagiaan yang sama saat menemukan Bia sebagai pendonor Kia, juga kesedihan yang sama karena dia harus menikahi Bia dan melupakan Clara.


Tidak ada bedanya dengan hari ini, dia bahagia bisa berada disamping Bia, menjaga dan merawatnya saat sakit. Bergantian menjaga Faiz saat dia rewel. Lalu sekarang, kenyataan kembali membangunkannya dari mimpi indah.


* Bagaimana aku akan menghadapi hari-hariku ke depannya Bi. Anak-anakku ? Kenapa kalian setega ini merahasiakan kebenaran ini ? *


Saat merasakan Al tengah menangis. Tangan Bia mengusap kepala Al dengan perlahan.


" Jangan memforsir tubuhmu Mas. Kalo lelah ya istirahat. Jangan dipaksa kerja terus. Ada Kak Clara yang juga membutuhkan kamu. "


" Hah,, lalu ?? "


" Aku lelah karena harus kembali tersiksa merindukan kamu. Apalagi sekarang aku tahu ada anak-anakku. "


Lidah Bia terasa kelu. Tidak bisa mendebaat apa yanh diucapkan Al.


" Mas,, "


" Kenapa ? Kamu juga gak percaya kalo aku mencintaimu Bi ? Kamu juga beranggapan cintaku ini hanya karena rasa bersalahku karena dulu sempat melukai fisikmu ? "


Kalimat Al sudah bisa kembali membuat Bia terpaku.


Fix,,, Blank,,, rasanya pikiran Bia saat ini kosong. Dia tidak menemukan satu perbendaharaan kata pun di otaknya.


" Kamu diam. Itu berarti benar kan Bi. Aku harus gimana supaya kamu percaya aku mencintaimu tulus Bi. Bukan karena rasa bersalah. "


Al memegang pipi kanan Bia yang terlihat melamun.


" Mas,, aku percaya. "


" Kamu bohong. Diammu menjawab berbeda. "


" Aku percaya, Mas. kalo aku boleh jujur, aku merasakannya sewaktu hamil dulu. Pada saat Kia nikah. Dan hanya karena permintaanku kamu bersedia datang. Karena itu, aku gak berani minta apapun padamu lagi. karena aku tahu kamu pasti akan berusaha mengabulkannya. "


" Lalu kenapa kamu mengacuhkan perasaanku ? "


" Lalu aku harus bagaimana Mas ? Baik kamu dan aku, kita sama-sama tahu ini salah Mas. "


" Kamu gak ngerti gimana tersiksanya aku Bi. "


" Mas Al tahu ini akan menyiksamu. Kenapa gak berusaha untuk melupakanku ? "


" Kamu pikir semudah itu Bi ? Sejak aku pergi ke Kalimantan. Aku benar-benar hancur. Aku terus-terusan mengingatmu. Naluriku yang mengatakan anak itu adalah anakku membuatku semakin tersiksa. Dan kalian dengan kejamnya menyembunyikan kebenarannya. "


" karena kami tahu. Akan berakibat fatal pada rumah tangga kamu Mas. "


" Aku sudah menghancurkannya Bi. Sedari awal pernikahan ini memang salah. Aku gak punya perasaan apapun pada Clara. Asal kamu tahu. Bahkan saat aku menyentuh Clara di malam pertama kami. di mataku, aku melihat kamu bukannya Clara Bi. Aku malah menyebut namamu setiap kali aku melakukan kontak fisik dengan Clara. "


" Astaghfirullahaladzim. Kamu sudah mendholimi Kak Clara Mas. "


" Aku sudah bilang, aku gak bisa menikah dengannya. Tapi Mama dan kalian yang memaksaku !! " protesnya.


" Harusnya ijab qobul itu, bisa menyadarkan kamu Mas. Mungkin,, yah,, mungkkin saja kamu hanya terobsesi padaaku atau pada anak-anak. "


" Jangan bilang aku terobsesi Bi. Kalo aku hanya terobsesi, saat ini kamu dan anak-anak pasti sudah berada jauh dari negaraa ini bersamaku. "


" Mas, kamu jangan ngawur. "


" Aku hanya minta pengertian kalian. Aku mencintaimu. Aku hanya ingin mereka respect dengan peraasaanku. "

__ADS_1


" Kami semua respect dengan perasaanmu Mas. "


" Dengan meminta dokter Bima untuk mengawasi gerak gerikku ? "


Bia terdiam, bagaimana Mas Al bisa tahu mengenai dokter Bima ?


" Lalu kami ,, atau aku harus bagaimana Mas ? Kan aku sudah bilang. Jangan seperti ini terus. Ini salah. Ada Kak Clara yang mencintaimu Mas. "


" Aku gak bisa Bi. Aku sudah mencobanya. Dua tahun,, aku sudah mencobanya, tapi aku masih belum bisa melupakanmu. "


" Apa perlu aku yang menjauh ? "


" Kamu pikir Surabaya-Kalimantan belum cukup jauh Bi ? Sudah aku bilang, biarkan aku dengan perasaanku. Tidak usah memperdulikannya lagi. "


" Sekarang kamu menyuruhku mengacuhkannya. Tadi protes kenapa aku gak perduli. Aaahh,, sudahlah. "


Al kembali memegang pipi kaanan Bia dan mengusapnya.


" Sudah. Aku mau tidur. " ujar Bia mneghindar.


" Kaamu hanya mau menghindari sentuhanku kan. "


Bibir Bia terkatup rapat. Tidak tahu harus bagaimana didepan Al. Karena semua pikiiran dan keinginannya selalu tertebak oleh Al.


" Sudah tahu kan. Sana minggir,, ngeri juga kalo kamu bisa baca pikiraanku Mas. "


Al tertawa mendnegarnya.


" Mungkin cintaku sudah seakut itu padamu Bi. memmbuatku bisa sepeekaa itu padaamu. "


" Mas,, Kak Clara. "


" Sudahlah. Jangan membahas orang lain. "


" Padahal Kak Clara, sudah berubah lebih baik. "


" Aku bilang gaak usah bahas oraang lain. " tegas Al hingga membuat Bia kaget.


" Maafkan aku. " pinta Al menyesal.


" Kenapa sih Mas ? Dia bukan ornag lain. Kak Clara istrimu Mas. "


" Waktuku bersaamamu terlalu singkat. Saayang kalo digunakaan untuk membahaas ornag lain. lebih baik aku gunakan untuk melihatmu aja. "


" Ehhmm,,, kalo gitu. Bicaralah pada Maama dan Kia, Mas. Kalian sudah lama saling mendiamkan seperti ini. Terakhir, sejak pertunangan Kia kan. "


" Aku belum bisa memaafkan mereka. "


" Atas kesalahan apa ?!! " protess Bia.


" Menyembunyikan kebenarannya. "


" Harusnyaa aku juga menjadi orang yang kamu diamkaan juga. Karena secara gak langssung aku yang memintanya. Mas gak tahu sestres apa aku saat taahu kalo kemungkinan anak itu adalah anak Mas."


" Kamu juga gakk tahu segila apa aku merindukanmu."


" Tapi,, Mas gak,, eehhmmm,, minum,, mabuk lagi kan ?" tanya Bia ragu.


" Sudah dua tahun aku tidak menyentuhnya. Aku tahu dirumah hanya ada Clara. Aku takut akan menyakitinya sepertimu saat mabuk."


" Naaaahhh,,, itu bberatti Mas masih menyukai Kak Clara. Jangan memberi jarak pada Kak Clara lagi, pasti rasa suka itu lama-lama akan menjadi cinta Mas. "


Al mengecup bibir Bia sejenak. Hingga membuat Bia terpaku kaget.


" Aku bukan laki-laki ABG yang baru kenal cinta. Aku laki-laki dewasa Bi. Perasaanku gak semudah itu. " kata Al sembari menggendong Bia.


Bia memukul dada bidang Al.


" Bisa gak, jangan cium ornag sembarangan !! " geramnyaa kesal.


" Bibirmu jadi canduku Bi. Sejak pertama bertemu. "


" Tadi tangan, sekarang bibir. Terus nanti apa lagi ? "


" Keberadaanmu dan anak-anak disisiku. Itu penawar lukaku. "


Bia mendengus kesal.


" Tidurlah. " kata Al saat membaringkan Bia diranjang.


" Mas,, aku mohon. Maaafkanlah Mama dan Kia. Berbicaralah pada mereka. Aku tahu merekaa merindukanmu Mas. kamu akan mengabulkaan keinginankuu kan ? "


" Sudaah. Jangan banyak berpikir. Istirahaatlah. "


" Mas,, janji dulu. Penuhi keinginanku. Bicaaralah pada Mama dan Kia. "


" Dan sebagai gantinya, kamu akan mengacuhkanku lagi kan ? Karena Ghazzy juga sudah sadar. Kamu takut dia akan marah dengan perlakuanku ke kamu. "


Bia bergidik ngeri. Untuk kesekian kalinnya pikiramnya tertebak Al.


" Kamu beneran punya indra ke keenam ya Mas. " celetuk Bia.


" Sudah aku bilang, cintaku sudah akut. "


Bia mencibir. Saat Al mendekaat ke arahnya. Spontan Bia menutup bibirnya dengan ktelapak tangannya. Membuat Al tertawa. Dia mencium kening Bia untuk beberapa saat.


" Aku akan merindukan moment ini Bi. Tidurlah. "


Melihat Bia menurunkan telapaak tangannya dan hendak protes. Al langsung mencium bibirnya. Bia mendorong tubuh Al agar menjauh.


" Iiissshh,, dasar. "


" Tidurlah Bunda. Kalo tidak, Papa akan menemanimu tidur di ranjang itu. "


Bia menggeleng cepat dan memejamkan matanya. Al menarik selimut Bia sampai sebatas leher. Mengusap kepalanya sejenak kemudian duduk di kursi disamping ranjang Bia.

__ADS_1


Membukaa email dari Reiga tentang kondisi perusahaan. Sampai tidak terasa jam dua pagi. Al melihat Bia yang masih tidur nyenyak. Dia mendekat perlahan. Kembali mencium bibir dan kening Bia. Lalu beranjaak keluar kamar Bia, yaahh,, dia ingin bertemu dengan Gahzzy. Dia ingin menjenguk Ghazzy.


__ADS_2