Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 63


__ADS_3

" Assalamualaikum. " ucap Bia saat Clara membuka pintu kamar Mark.


" Waalaikumsalam. Kalian sudah kembali. Gimana ? Apa kata dokter tadi ? "


Clara duduk diantara Mark dan Naya.


" Papi sudah ganti baju ? Sudah boleh pulang ? "


" Tentu saja. Karena ada anak kesayangan Papi. " jawab Mark senang.


Clara menyandarkan kepalanya di bahu Mark dan menggandeng lengannya. Bia ragu untuk mengatakan tentang penyakit Clara. Tidak sampai hati mengecewakan Mark yang tengah bahagia.


" Bia,, Clara. Kenapa kalian diam saja ? Apa kata dokter tadi ? " tanya Naya mengulang pertanyaannya.


Bia dengan ragu menyerahkan amplop putih hasil serangkaian tes yang dilakukan dokter Gita tadi. Naya menerimanya dengan penasaran dan segera membukanya.


" Apa,, apa ini Bia ? Clara ?! " tanya Naya kaget.


" Ada apa honey, apa isi surat itu ? " tanya Mark sambil merebut surat yang di pegang Naya.


Mark bingung kenapa anak kesayangan dan istrinya menjadi bertangisan setelah melihat isi surat itu.


" Kalian berdua jelaskan ini ! " seru Mark sembari memegang dadanya.


" Om Mark tidak apa-apa ? " tanya Bia khawatir.


Pertanyaan Bia membuat Clara dan Naya sontak mendekap Mark di kanan dan kirinya.


" Aku tidak apa-apa Bia. Jelaskan saja. " kata Mark sambil berusaha menetralisir nafasnya.


" Papi,, "


" Sayang, jangan memaksakan diri. "


" Siap atau gak siap. Kita harus menghadapinya. Jadi, jelaskan saja sekarang. Apa kata dokter Bia ? " tegas Mark.


Clara menatap Bia sembari menganggukkan kepalanya.


" Dokter Gita bilang. Kak Clara terlalu terlambat memeriksakan dirinya. Myom yang selama ini ada di rahimnya berkembang menjadi tumor ganas dan sudah merusak jaringan di rahimnya. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan sekarang hanya,,, "


Kalimat Bia terpotong. Dia menghela nafas panjang. lidahnya mendadak kelu ingin menjelaskan keputusan dokter Gita.


" Hanya apa Bia ? " tanya Naya.


" Pengangkatan rahim Kak Clara. "


" Apa ?!!! " seru Mark dan Naya bersamaan.


Mark langsung memeluk Clara, membayangkan bagaimana kelanjutan rumah tangga anaknya kelak. Sesabar apapun laki-laki yang menjadi suaminya sekarang, pasti tetap mengahrapkan anak dari Clara nantinya.


" Bagaimana bisa Bia,, bagaimana bisa ada keputusan seperti itu ? Apa tidak bisa dilakukan kemoterapi atau pengobatan lainnya ? "


Bia mendekat dan memeluk Naya yang terasa lemah. Dan shock. Sama seperti diirinya kemarin, saat mengetahui penyakkit Ghazzy.


" Kalo kita tetap mempertahankan rahimnya. Bisa mengakibatkan kematian Tante. "


" Tidak,, tidak,,, " seru Naya yang menangis dipelukan Bia.

__ADS_1


Clara dan Bia saling berpandangan dan keduanya meenghela nafas. Sama-sama berusaha menguatkan oraang yang tengah berada dipelukan mereka.


" Kita ke Singapura. Kita cari dokter terbaik disana. " kata Mark tegas.


" Kemanapun aku pergi, tumor ini tetap mengikutiku Pi. Lebih baik diisni saja. "


" Tidak. Kita ke Singapura sekarang juga. Panggil suamimu dan suruh dia menyusul ke Singapura. Ayo sayang. "


" Bia,, tidak bisakah kamu ikut dengan kami ? Temani aku disana Bia. " pinta Clara sembari menggenggam tangan Bia.


" Maafkan aku Kak. Mas Ghazzy sedang sakit. Lagipula ada si kembar. Aku gak bisa meninggalkan mereka. Mas Al pasti akan segera mneyusul Kak Clara kesana. "


" Kalo gitu, kamu saja yang memeberitahu pada Mas Al. "


" Tidak,, tidak,, " sahut Bia cepat.


" Kenapa Bi ? "


" Kak Clara atau Tante dan Om yang lebih berhak menyampaikan kabar itu. Maafkan aku. "


" Sudahlah Clara. Biar nanti Papi yang akan menelpon Al. Dan menyampaikan kabar ini. " kata Mark.


Clara memeluk Bia erat.


" Kamu tahu maksudku Bia. Aku takut Mas Al akan menceraikanku Bia. Aku takut. Lebih takut menghadapinya daripada operasiku nanti. Aku gak mau bercerai denganya Bia. "


" Aku yakin Mas Al akan mengerti Kak. "


Mark mengusap kepala Bia dengan lembut.


" Kak Clara kakakku Om. Tentu saja dnegan sennag hati aku melakukannya. " jawabnya.


Mark mendekap Naya dan Clara.


" Kita pulang sekarang. Dan kita langsung berangkat ke Singapura. " tegas Mark.


Bia hanya mengangguk kemudian mengusap air matanya. Lalu beranjak pergi menuju kamar Ghazzy. Berkali-kali menghela nafasnya untuk menetralisir degup jantungnya.


 


" Assalamualaikum. " sapa Bia sembari membuka pintu kamar Ghazzy.


" Waalaikumsalam. "


Bia tidak memperdulikan siapapun yang tengah menatapnya dengan heran. Dipikirannya hanya ingin menenangkan dirinya, saat ini dia hanya ingin memeluk Ghazzy. Dan menangis dipelukan ternyamannya.


" Ada apa sayang ? Apa yang terjadi ? " tanya Ghazzy cemas. Sambil mengusap kepala Bia dan punggungnya.


" Biarkan sepeti ini dulu By. Aku ingin menangis. " bisik Bia.


Ghazzy memeluk Bia lebih erat seolah ingin ini air mata terakhir yang Bia keluarkan saat bersamanya nanti.


Sepuluh menit kemudian Bia menerima tisu yang diberikan oleh Zaskia. Lalu duduk diatas ranjang Ghazzy. Menatap sekelilingnya, dimana Ghazzy, Leon, Tian, Zaskia dan Azalea tengah menatapnya cemas.


" Apa yang terjadi sayang ? Kenapa dengan Om Mark ?" tanya Ghazzy.


" Om Mark ,, Alhamdulillah sudah sembuh By. Bahkan Om Mark sudah boleh pulang hari ini juga. " jawab Bia dengan suara parau.

__ADS_1


" Lalu kenapa kamu menangis seperti ini Bia ? " tegur Leon khawatir.


" Aku gak tahu apa nanti Kak Clara akan marah padaku atau gak. "


" Apa maksudnya Bia ? Clara ? Apa hubungannya dengan Clara ? " tanya Azalea bingung.


" Lea. Dengarkan Bia dulu. " sahut Leon.


" Aku mengkhawatirkannya ! " seru Azalea tidak terima.


" Ma,, tadi Kak Clara mengajakku check up ke dokter Gita. "


" Kak Clara hamil ?!! " seru Zaskia antusias.


" Kia,, dengerin dulu. " tegur Leon lagi,


Zaskia mendengus kesal.


" Gak Ki. Kak Clara selalu merasa kram diperutnya bahkan sampai pingsan setiap kali datang bulan. "


Leon mendekap bahu Azalea dan mengkode Tian dengan matanya agar melakukan hal yang sama pada Zaskia. Dia bisa menebak kemana arah pembicaraan Bia, apalagi dengan respon Bia yang sehisteris sepeeti saat dia tengah mengatakan penyakit Gahzzy.


" Lalu, apa kata dokter Gita Bia ? " tanya Azlaea.


" Di rahim Kak Clara ada myom Ma. Dan Kak Clara sangat terlambat memeriksakannya. Myom itu berkembang menjadi tumor. Dan saat ini sudah merusak jaringan rahimnya. "


" Apa ? Apa yang harus kita lakukan ? " tanya Azalea histeris.


" Rahim Kak Clara harus dianglat Ma. Kalo gak, Kak Clara bisa meninggal. "


Bia mengakhiri penjelasannya dengan kembali memeluk Gahzzy. Menangis dipelukannya.


Tian merasakan tubuh Zaskia terasa makin melemah dan segera memeluknya. Tidak butuuh waktu lama Zaskia menangis seperti Bia.


Leon mendudukkan Azalea dikursi agar lebih tenang. Memberikan satu gelas air mineral pada Azalea dan satu lagi ke Tian. Untuk diberikan pada Zaskia.


" Ujian apa lagi ini,, " keluh Azalea.


Ghazzy memejamkan matanya sejenak. Tubuhnya terasa merinding seketika.


* Amalan dan doa seperti apa yang kamu langitkan Al. Sampai seolah Allah memberikanmu kemudahan untuk menjawab semua doamu. * batin Ghazzy.


" Lalu apa keputusan Clara ? " tanya Leon saat melihat Azalea dan Zaskia sedikit lebih tenang.


Bia menoleh dan mengusap air matanya.


" Om Mark mengajak Kak Clara untuk berobat ke Singapura. Menelpon Mas Al agar segera menyusulnya ke Singapura. "


" Al bersedia ? " tanya Leon lagi.


" Aku gak tahu Om. Aku sudah bilang pada Kak Clara. Kalo aku gak mau ikut campur. " jawab Bia.


Sontak Ghazzy dan Leon saling bertatapan. Seolah Leon ingin menegaskan kalo alibinya benar. Bia pasti tidak mau berada ditengah-tengah Al dan Clara lagi.


" Ayo kita pulang. Ghazzy butuh istirahat. " ajak Leon.


Ketiga pasangan itu tersenyum kemudian memgangguk mengerti.

__ADS_1


__ADS_2