
" Kita naik pesawat pribadi ? " tanya Azalea.
" Ke Surabayanya saja Ma. Ke Singapuranya , aku udah pesan tiket untuk kesananya. Apa Mama keberatan ? " tanya Al balik.
" Bukannya keberatan. Mama hanya khawatir, para bumil gak nyaman. Indera penciuman mereka pasti sensitif sama aroma kan. " jelas Azalea.
" Nanti, aku suruh Reiga untuk mengurus ijin menggunakan pesawat perusahaan Ma. Perjalanan ke Surabaya gak membutuhkan waktu lama. Aku harap mereka masih bisa menahannya. "
" Semoga saja. "
" Papa,,, adek udah siaaappp. " seru Fawwaz sambil menarik tangan Al.
Al menggendong Fawwaz.
" Mas Faiz mana ? " tanya Al.
" Mas Faiz,, bantuin Bunda menggandeng Tante Kia. "
" Tante Kia ? Memangnya Om Tian kemana ? "
" Om Tian mengantarkan Oma Diba pulang. Itu Om Tian. " seru Fawwaz.
" Assalamualaikum. " sapa Tian setelah memarkirkan mobilnya di garasi.
" Waalaikumsalam. Coba lihat keadaan Kia, Tian. Apa dia sakit ? Kenapa Bunda dan Mas Faiz harus mneggandengnya ? " tahya Al.
" Hah,, permisi Kak. " seru Tian cemas.
Tian baru saja hendak masuk. Tapi keburu Bia dan Zaskia sudah keluar rumah.
" Ki, kamu baik-baik saja ? " tanya Tian panik.
Zaskia tertawa.
" Tante Kia baik kok Om. Memangnya Tante Kia kenapa ? " tanya Faiz heran.
" Lalu, kenapa Mas Faiz dan Bunda kok menggandeng Tante Kia. Bukannya untuk membantu Tante Kia jalan ? " protes Fawwaz.
" Kata Bunda,, kalo kita membantu orang lain saat kesusahan. Nanti kita juga akan dibantu sama orang lain. Kalo bukan kita, bisa Papa atau Bunda atau Adek, nanti yang akan di bantu orang lain saat sedang kesusahan. Iya kan Bunda ? " celoteh Faiz.
Bia mengangguk sembari tersenyum.
" Terima kasih Mas Faiz,, " seru Zaskia sambil menoel pipi Faiz gemas.
" Aammiiinn. " seru Al diikuti Azalea, Leon, Gita dan Tian.
" Tuan, ada mobil yang menunggu didepan rumah." kata Randy.
" Mobil perusahaan sudah datang. Ada dua mobil kan Randy ? " tnaya Al.
" Iya Tuan. Salah satunya, ada Reiga. " jawab Randy.
" Oke. Ayo kita berangkat. " ajak Al sembari mendekap bahu Bia.
Seperti biasa masih tetap tidak suka melihat Bia terlalu akrab dengan Tian.
" Papa,, mau jalan sama Mas Faiz. " kata Fawwaz sembari turun dari gendongan Al.
Reiga sudah menjemput keluarga bosnya yang nampak kompak dengan baju couple berwarna mocca. Azalea pun juga mendatangkan seorang MUA untuk memake up dirinya, Zaskia, Gita dan Bia.
" Bi,, lipstik kamu terlalu merah. Hapus. " tegur Al tidak suka sembari memberikan tisu pada Bia.
" Mas,, lipstik ini sewarna kayak yang dipake Mama, Tnate Gita dan Kia lhoo. Menurutku ini masih wajar. Gak terlalu merah kok. " protes Bia.
" Iya. Isshh,, Kak Al mau lihat Kak Bia terlihat pucat. " omel Zaskia.
" Terserah kamu. Kalo kamu gak mau menuruti apa kata suamimu. Ayo kita berangkat Reiga. " sindir Al kesal sembari berjalan bersmaa Reiga.
Bibir Bia mengkerucut kesal. Tapi tak ayal juga berusaha menghapus lipstiknya. Bahkan menghapusnya dengan air mineral yang dibawakan Azalea.
" Anak Mama memang hebat kalo urusan ancam mengancam. " ledek Bia kesal.
Semuanya hanya tertawa mendenagrnya.
" Pake aja vitamin bibir milikku Bia. " kata Gita sembari mengoleskan vitamin bibir di lipstik Bia.
" Terima kasih Tante Gita. " ucap Bia senang.
" Ayo kita berangkat. Keburu Al makin marah. " ajak Azalea.
" Lily,,, ??!!!! " seru Bia saat melihat Lily yang tengah bersanding dengan Devan.
Bia berjalan menuju pengantinnya, tanpa Al. Juga lupa tidak berpamitan padanya. Keluarganya hanya melihatnya tersenyum karena Bia tengah bertemu dengan sahabatnya.
" Bisa-bisanya kamu gak kasi kabar ke aku, Ly !! " seru Bia kesal sambil memcubit lengan Lily.
Lily menoleh dengan kaget. Dan langsung memeluk Bia.
__ADS_1
" Biaaa,,, aku senang kamu bisa datang ke pernikahanku. "
" Kenapa kamu gak mengundangku ? " tanya Bia.
" Maaf, Bu Bia. " jawab Devan.
" Issshh,, panggil saja Bia, Devan. "
" Aku pikir kamu menetap di Kalimantan, Bia. Aku jadi gak enak hati mau mengundang kamu. Dipernikahanmu dengan Al saja kamu gak mengundangku. " omel Lily.
" Huuussshh, sayang. Pak Al. " tegur Devan.
" Upppss,, maaaf lupa. Iya, maksudku Pak Al. " ralat Lily.
" Apaan sih Ly. Gak usah dengarkan Devan. Biasa aja. "
" Maaf, aku gak sempat kerumahmu sewaktu Mas Ghazzy meninggal dulu. Ehhmmm,, lebih ke segan sebenarnya sih. " kata Lily.
" Isshh,, kamu itu,, "
" Gimana kabar kamu Bia ? Alhamdulillah kamu gak lagi poliandri sekarang. Bahkan kalian sekarang menikah. " ucap Lily senang.
" Alhamdulillah Ly. Sudah tak serumit dulu. " gurau Bia.
" Aku tahu Mas Ghazzy selalu tahu yang terbaik untukmu. " puji Lily.
" Yah,, kamu benar sayaang. Ghazzy memang sangat mencintai Bu Bia. Begitupun dnegan Pak Al. " sahut Devan.
" Devan. " panggil beberapa teman kerja Devan.
Bia mengambil satu gelas air mineral. Saat Lily masih menyapa teman-teman Devan. Bia mengedarkan pandnagannya untuk mencari Al.
Hatinya sedikit nyeri saat melihat Al tengah berbicara dengan seorang wanita dengan gaun sedikit terbuka di dada. Dengan belahan bawahnya setinggi lutuut. Mereka bahkan sesekali tertawa dengan masing-masing membawa minuman bersoda.
" Mengatakan lipstikku terlalu merah tapi dia sendiri sedang berbicara dengan wanita yang lipstiknya semerah itu. " gumam Bia kesal.
Bia mengalihkan pandangannya saat Al juga tengah menatap ke arahnya.
" Maafkan aku Bi. " sapa Lily.
" Gak apa-apa. Gimana bisa dengan Devan ? "
" Dulu, aku sempat berkenalan dengannya saat kami bertemu di mall Expo. Mas Gahzzy memperkenalkan kami Bi. Aku juga kaget saat dia tiba-tiba datang ke rumah bersama Mas Ghazzy, dan yang lebih kagetnya. Dia langsung melamarku. "
" Waahh,, benarkaah ? Mas Ghazzy gak pernah menceritakannya padaku. "
" Mungkin lupa Bi. Apalagi kalo dirumah sudah bertemu si kembar. "
Bia tertawa mendengarnya.
" Aku harap pernikahanmu langgeng, Ly. Sudah waktunya kamu membuka lembaran baru. Kamu berhak bahagia. Bagaspun pasti sudah melupakanmu sekarang. "
" Kalimat yang sama seperti yang diucapkan Mas Ghazzy saat menemani Mas Devan melamarku dulu Bi. "
" Benarkah ? " tanya Bia tidak menyangka.
" Ghazzy ? Kalian mengenal Gahzzy ? Apa Ghazzy yang sama yang bekerja di mall Expo ? " tanya salah seorang teman Devan.
Bia dan Lily menoleh. Kemudian hanya mengangguk.
" Ghazzy seorang yang ulet dan rajin ibadah. "
" Iya. Devan, apa kamu ingat waktu kita mwngajaknya ke dugem saat di Kalimantam dulu ? " sahut temannya yang lain.
" Gahzzy menolaknya, bahkan hanya menunggu di mobil. Ya, dan kalian ingat apa yang Gahzzy katakan wakttu itu ? "
" Aku berpamitan pada istriku saat pergi ke Kalimantan untuk bekerja bukan untuk bersenang-senang. "
" Devan pasti sangat kehilangan partner kerja dan juga sahabat sebaik Ghazzy. "
Devan melihat mata Bia yang mengembun. Tidak akan membutuhkan waktu lama untuk menangis.
" Dia ini ,, " kalimat Devan menggantung saat matanya dan Bia bertatapan.
Bia segera menggelengkan kepalanya saat Devan seolah hendak memperkenalkannya sebagai istri Ghazzy.
" Kenapa Devan ? Dia kenapa ? "
" Dia tetangga Mas Ghazzy dulu. " jawab Lily sambil menggenggam tnagan Bia.
" Oh benarkah. "
" Pak Al,, anda juga datang ? " sapa salah satu teman Devan.
Lily dan Bia menoleh dan sedikit minggir. Bia melihat ekpresi Al yang datar. Membuat sikapnya menjadi dingin.
* Apa Mas Al mendengar obrolan mereka tentnag Mas Ghazzy ? * batin Bia.
" Iya. Selamat atas pernikahanmu Devan. " ucap Al semabri mengulurkan tangannya pada Devan.
" Terima kasih Pak Al. " jawab Devan sambil emnjabat tangan Al.
__ADS_1
" Al,, kenapa meninggalkan aku. " kata wanita yang tadi mengajak Al ngobrol dengan manja.
" Apa hadiah dari CEO kamu ini Devan ? Apa kamu akan menggantikan jabatan Gahzzy? Sudah lama jabatan itu kosong. " seru wanita itu sembari menggandeng lengan Al.
Sontak Al menatap Bia yang langsung memalingkan wajahnya. Al menepis tangan wanita itu dari lengannya.
" Aku belum memikirkan penggantinya. Devan bisa saja menempati posisi itu sejak dulu kalo dia mau. " kata Al.
" Waahh,, hebat kamu Devan. "
" Tapi kenapa kamu menolaknya ? "
" Aku belum sekompeten Gahzzy, Pak. " jawab Devan apa adanya.
" Posisi Ghazzy tidak akan pernah tergantikan. Jangankan ditempat kerja, aku yakin istrinya juga akan sulit menemukan pengganti Ghazzy. " celetuk teman Devan.
Bia tersenyum sembari menunduk. Senyum yng sudah terlihat jelas dimata Al.
" Tentu saja. Seperti yang kita bilang tadi. Ghazzy seornag yang baik pada siapapun. Dia juga gak sombong, selalu menjawab dan menjelaskan apa yang tidak kita ketahui. Meskipun dia juga seorng yang bertindak tegas pada anak buahnya yang bersalah. "
" Akan sulit menemukan pengganti Ghazzy. "
" Benarkah ? Eehhmm,, mungkin aku harus sibuk melihat kinerja kalian ke depannya agar bisa memutuskan siapa yang bisa menggantikan posisi Gahzzy. " tegas Al.
Telinganya sudah panas sedari tadi mendengar semua yang dikatakan teman-teman Devam tentamg Gahzzy.
" Aku pulang dulu Devan. Aku sudah meletakkan hadiahku di tumpukkan hadiah yang lain. " kata Al.
" Al, kok sudah mau pulang. Jarang-jarang kan kamu datang ke Surabaya. Kenapa cepat sekali. Apa aku boleh ikut mobilmu. " rayu wanita itu.
" Maaf. Sudah ada istriku yang menempati kursinya. " jawab Al sembari menggandeng tangan Bia.
" Aku pulang ya Ly. Sekali lagi selamat atas pernikahan kalian. " ujar Bia semabri menjajari langkah Al.
" Dia,, istri Pak Al ?? "
" Bukannya istrinya sudah meninggal satu bulan yang lalu ? " tanya wanita itu.
" Tentang Pak Al yang punya dua istri yang slaah satunya sedang mengandung itu benar ?? "
" Dari manaa kamu mendnwgarnya ? "
" Dari majaalah bisnis dua tahun yang lalu. "
Devan menggenggam tamgan Lily dan mengajaknya pergi dari teman-temannya yang tengah sibuk menggosipkan Al.
" Lepas dulu ! " seru Bia sembari menepis tnagan Al dan menuju kamar mandi yang ada di dapur.
Dia kembali memuntahkan makan malamnya. Apalagi sikap Al yang dingin saat diperjalanan tadi. Mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinghi seolah mengatakan dia sedang emosi saat ini.
Al memijat tengkuk Bia agar Bia merasa lebih baik. Kemudian menggendong Bia menuju kamar atas. Lalu menurunkan Bia didepan kamarnya.
" Kenapa kita ke kamar kamu Mas ? " tanya Bia sembari menarik tangannya saat Al membuka pintu kamarnya.
" Aku gak mau tidur di kamar itu. "
" Memangnya kenapa ? "
" Terlalu banyak kenanganmu dan Gahzzy di kamar itu. " jawab Al datar.
" Lalu, kamar itu ? Bukannya juga penuh kenangan dengan Kak Clara ? " protes Bia kesal.
" Aku gak pernah menyentuh Clara. Aku tidur di sofa Bi. Satu-satunya yang aku ingat dikamar ittu, hanya saat kita melakukan hubungan pertama kalinya. " seru Al dengan sedikit emosi.
" Di bawah obat perangsang. " gurau Bia. Inhin mencairkan suasana.
" Iya,, !! Aku memang gak sebaik Gahzzy. Aku gak serajin dia. Aku juga gak serendah hati dia. Aku ini pemabuk, aku pemarah dna aku ini arogan. Itu kan yang selalu kamu bilang padaku.
Apa yang mereka katakan memang benar. Apa yang aku lakukan gak pernah bisa sebanding dengan yang apa dilakukan Ghazzy. Sampai kapanpun kamu gak akan bisa mencintaiku seperti kamu mencintai Gahzzy. Sampai kapanpun aku gak akan bisa kan menggantikan posisi Gahzzy di hatimu. Selama ini, memang hanya aku kan yang mencintaimu Bi. " seru Al marah dan langsung masuk ke kamarnya sendiri. dengan membanting pintu kamarnya.
Bia terpaku ditempatnya berdiri. Dia menyandarkan tubuhnya didepan pintu kamar Al. Tubuhnya sudah terasa lemas, kehamilannya saat ini benar-benar menguras tenaganya. Dia akan selalu merasa lemas dan muntah-muntah setiap kali Al marah padanya. Seprti yang Bia rasakan semalam. Dan sekarang kecemburuan Al saat ini benar-benar kembali menyiksanya.
Bia segera masuk ke kamarnya yang ada disebelah kamar Al. Langsung menuju kamar mandi. Kembali memuntahkan apa yang dimakannya. Dia duduk bersandar pada bathtubnya. Melepaskan jilbabnya dan membuka resleting gaunnya. Tapi masih belum bisa berdiri untuk melepaskannya.
" Kenapa harus marah-marah sih ? Kamu yang cemburu kenapa aku yang kena imbasnya ? " gumam Bia kesal.
Wajah Bia sudah terlihat pucat. Dia lelah sendiri karena merasa mual dan muntah-muntah. Dia mengusap perutnya yang masih rata.
" Papa yang marah kenapa Bunda yang di hukum Nak."
Bia berusaha sekuat tenaga untuk bangkit dari duduknya tapi susah. Kepalanya sudah terasa pusing dan kembali muntah. Akhirnya dia kembali duduk bersandar di bathtub.
Haduuhh mau sampai kapan speerti ini. Mas Al,, kenapa gak peka sih. pikir Bia.
Al menghela nafas panjang. Dia mengusap wajahnya dengan kasar. Menyesali karena dia kemabli menjadikan Bia sebagai pelampiasan kemarahannya.
* Kenapa aku jadi seemosi itu pada Bia ? * batinnya.
Al hendak keluar tapi sudah terlanjur marah pada Bia. Apalagi Bia juga tidak berusaha menenangkannya seperti yang dulu. Setiap kali dia emosi.
__ADS_1
Al duduk di meja kerjanya. Ingin melihat aktivitas Bia selama hampir dua jam ini. Al langsung berlari keluar kamarnya dan masuk kamar Bia saat tidak melihat Bia keluar dari kamar mandi selama dua jam.
* Aku gak akan pernah bisa memaafkan diriku kalo sampai terjadi sesuatu padamu Bi. * batinnya.