
" Assalamualaikum Bunda. " sapa Faiz saat melihat Bia masuk setelah pulang kerja.
Bia menghindar dari Faiz sejenak. Membuatnya menatap Bia bingung.
" Waalaikumsalam Mas. Sebentar, Bunda cuci tangan dulu ya. " jawab Bia sembari beranjak ke dapur diikuti Faiz.
Setelah cuci tangan dan mengelapnya dnegan lap. Bia berjongkok agar Faiz bisa mencium punggung tangannya dan dia bisa mencium pipi kanan Faiz.
" Bunda,, Mas ada PR. Nanti bantuin ya Bun. " kata Faiz.
" Mas Faawaz juga punya PR ? " tanya Bia.
" Gak tahu Bun. Kan kelasnya beda Bun. " jawab Faiz.
" Oke. Nanti habis sholat Isya, Bunda bantuin kerjain PRnya. "
" Yeeeyyy,, makasi Bun. " seru Faiz senang sambil mencium kedua pipi Bia bergantian.
Bia tertawa melihatnya. Begitupun dengan Al yang baru masuk ke dapur. Melihat Al masuk ke dapur, seperti biasanya. Faiz langsung menghindar.
" Bun,, Mas ke adik-adik dulu. " pamit Faiz sembari pergi.
" Faizz,, Faizzz,, !! " panggil Al tapi Faiz tidak mau menoleh lagi.
Al menghela nafas panjang, Bia ikut sedih melihatnya.
" Sampai kapan Faiz akan menghindariku Bi ? " tanya Al sedih.
" Kamu belum minta maaf pada Faiz Mas. " jawab Bia.
" Bagaimana mau minta maaf ? Lihat saja sikapnya padaku. Dia selalu menghindariku Bi. Biasanya anak-anak selalu memaklumiku. "
" Aku sudah bilang Mas. Kamu berubah. Mungkin anak-anak juga merasaakan perubahan kamu. Bahkan Mas keluar kota kemarin gak berpamitan pada mereka. "
Al menunduk menyesal. Skandalnya dengan Sesil dan ketakutannya Sesil akan nekat memberitahu keluarganya benar-benar membuat Al tanpa sadar telah berubah.
Bia mendekat dan mengusap lengan Al untuk menenangkannya.
" Anak-anak sudah besar Mas. Mereka sudah bisa melihat dan merasakan apa yang terjadi pada ornag tuanya. Aku harap Mas bisa lebih berhati-hati kedepannya. "
Al memeluk Bia. Menciumi puncak kepala Bia.
" Maafkan aku Bi. "
" Bukan hanya padaku. Mas juga harus minta maaf pada anak-anak. "
" Bantu aku Bi. "
Bia melepaskan pelukan Al.
" Aku akan membantumu untuk bicara dengan Faiz nanti. Sekarnag Mas mandilah dulu. Aku mau melihat anak-anak. " kata Bia.
Al mengangguk mengerti. Lalu beranjak ke kamarnya. Sedang Bia sendiri beranjak ke taman belakang. Melihat semua keluarganya tengah berkumpul disana. Bia hendak memberikan ASI pada Arra tapi Bik Amy mencegahnya.
" Non Bia mandi dulu saja. Mereka masih tidur kok. " kata Bik Amy.
" Kak Bia,, stok ASI untuk anak-anak sudah menipis lho. Kak Bia gak mompa lagi ? " tanya Zaskia heran.
" Masih sih. Aku juga gak tahu. Beberapa hari ini susah keluarnya. Padahal dulu saat menyusui Faiz dan Fawwaz gak pernah speerti ini. Kenapa ya Ma ? " keluh Bia.
" Mungkin kamu terlalu stres Bia. " jawab Adiba.
" Bu Adiba benar. Kamu terlalu stres memikirkan persoalan Al. " sahut Azalea menambahkan.
" Mungkin juga sih. Lalu, apa yang harus aku lakukan, Ma ? Bu Adiba ? " tanya Bia.
" Lebih baik kamu konsultasikan dengan Gita. " jawab Azalea.
" Eehhmmm,, baiklah. Aku akan menelponnya. " kata Bia.
" Kak Bia mandi dulu gih. Biar fresh lagi. " kata Zaskia mengingatkan.
" Baiklah kalo begitu. Aku ke kamar dulu. "
Semuanya mengangguk dan tersenyum.
" Aku harap Al segera tersadar. Kasihan Bia. " gumam Azalea.
" Setuju Ma. Sedari hamil sampai sekarang, Kak Al memang selalu buat Kak Bia stres. " sahut Zaskia kesal.
__ADS_1
" Semoga bisa membuat perasaan mereka semakin saling menyayangi kedepannya. Sama-sama makin bucin nantinya. " celetuk Adiba.
" Aammiinn. " seru Azalea dan Bik Amy.
" Kamu kenapa Bi ? " tanya Al saat Bia masuk ke kamarnya dengan wajah murung.
Bia terkejut melihat Al ada dikamarnya.
" Kenapa kamu sekaget itu melihatku. Memangnya ada yang aneh ? " tanya Al heran.
" Aku kaget aja Mas. Kan kemarin-kemarin kamu ada di kamar pribadi ruang kerja kamu. " jawab Bia jujur.
" Ini juga kamarku Bi. " tegasnya.
" Lalu, kemarin-kemarin ? " cibir Bia.
" Aku sudah minta maaf Bi. Aku tahu aku salah. " pinta Al.
Bia terkekeh melihat Al menunduk menyesal.
" Aku mandi dulu Mas. "
" Aku ke ruang kerjaku sebentar. Aku mau meminta Reiga untuk menambah tim keamanan dan juga satu detektif baru untuk mencari keberadaan Ayden. " pamit Al.
" Apa mungkin dia sudah kembali ke Singapura ? " tanya Bia.
" Tidak ada penerbangan atas nama Ayden selama tiga minggu ini. "
Bia mnggut-manggut mengerti.
" Mungkin dia lewat jalur laut. " tebak Bia sambil menuju kamar mandi.
Al terdiam dan berfikir. Yah,, memang tidak ada salahnya dia mengecek semua transportasi yang menuju Singapura.
*****
" Bunda,, bantuin. " kata Faiz mengingatkan Bia.
Faiz menuju meja makan dengan membawa satu buku lengkap dengan kitabnya.
" Biar Papa yang bantuin PR kamu Mas Faiz. " sahut Al saat sampai di meja makan.
" Faiz,, sama Papa ya. " bujuk Azalea yang tengah menepuk-nepuk tubuh Farish agar tidak terganggu rengekan saudara kembarnya.
" Gak mau. Tunggu Bunda aja. " jawab Faiz ketus tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Bia.
Al mendekat ke arah Faiz. Tapi dia menggeser posisinya menjadi lebih dekat dnegan Bia.
" Apa bedanya kerjain PR smaa Papa. Gak ada bedanya kan. " seru Al kesal karena Faiz malah bersikap ketus padanya.
" Papa,, " tegur Bia pelan sembari menggeleng.
Al menghela nafas. Lalu mengambil alih Arra dari Adiba.
Ponsel Bia berdering lama. Ada nama Gita disana.
" Mas Faiz, tolong angkat telpon Bunda. Oma Gita telpon Mas. "
" Iya Bun. " jawab Faiz.
Faiz mengangkat panggilan video dari Gita. Nampak Gita tengah menggendong Afifah yang sudha semenggemaskan Bilqis disana.
" Assalamualaikum Oma. " sapa Faiz.
" Waalaikumsalam Mas Faiz, calon dokter gimana kabarnya. " jawab Gita.
Faiz tertawa mendengar sapaan Gita.
" Alhamdulillah baik Oma. Opa Leon, Oma Gita dan Adik Afifah gimana kabarnya ? "
" Alhamdulillah baik calon dokter. Bunda mana Mas ? " tanya Gita.
Faiz mengarahkan ponselnya memutari meja makan. Dan berakhir fokus di Bia.
" Waahh,, lagi makan malam ya. "
" Iya Tante. " jawab Bia.
__ADS_1
" Kamu kenapa Bia ? " tanya Gita.
" Aku ? Aku kenapa maksudnya ? " tanya Bia bingung.
" Kak Lea bilang, ASI mu lagi macet. " jawab Gita.
" Ehh iya Tante. Kenapa ya ? " tanya Bia smabil melirik Al yang langsung menatapnya.
" Karena itu tadi aku tanya. Kamu kenapa ? Kalo ASI macet, biasanya Bunda sedang banyak pikiran atau stres. Di kehamilan kamu kemarin, kamu sudah mengalami stres karena banyak hal yang kamu pikirkan Bia. Gak menutup kemungkinan kalo kali ini juga karena pikiran dan stres lagi. Kamu sedang menyusui Bia, jangan berfikir terlalu berat. Nanti bisa terkena syndrom babys blues. " jawab Gita.
Gita banyak menjelaskan tentang syndrom itu pada Bia dan semua yang ada disana. Dan juga alternatif terapi yang bisa dicoba Bia kalo ASI nya masih tidak mau keluar. Breast massage, yang bisa dibantu oleh suaminya.
Zaskia yang juga ikut mendengarkan hanya manggut-manggut mengerti. Adiba juga pernah mengatakan pada Tian untuk sekali-kali melakukan terapi itu pada Zaskia. Tapi selama ini Zaskia tidak paham apa manfaatnya.
Sampai satu jam panggilan itu berlangsung, akhirnya di matikan oleh Gita karena waktunya memberikan ASI pada Afifah.
" Aku baru tahu ada terapi untuk ibu menyusui Kak Bia. " sahut Zaskia.
" Aku juga Ki. Karena baru kali ini ASIku pakai macet. Padahal dulu sewaktu Faiz dan Fawwaz ya lancar-lancar aja. "
Al semakin merasa bersalah pada Bia.
" Mungkin karena dulu kan gak ada yang bentak-bentak Bunda. " celetuk Faiz.
Semuanya terdiam dengan apa yang dikatakan Faiz. Bia menelan ludahnya getir. Melihat ke arah Al dan Faiz yang saling melemparkan tatapan.
* Apa lagi ini ?! * batin Bia.
" Apa maksud Mas Faiz mengatakan itu ? " tanya Al tegas.
" Papa,, "
" Diamlah Bi. Aku tahu apa yang aku lakukan. " hardik Al.
Emosinya karena Faiz semakin antipati dan tidak sopan padanya sudah mengalahkan rasa bersalahnya pada anak-anak.
" Gak usah bentak-bentak Bunda !! " seru Faiz seolah makin menantang Al. Seolah tengah melindungi Bia.
Bia menghela nafas. Beginilah yang ditakutkan. Papanya keras kepala, anaknya juga keras kepala. Kalo bertengkar bisa lumayan membuat jantungan karena pasti tidak akan ada yang mau mengalah.
Bik Amy mengambil Farash dari gendongan Bia. Dan membawa stroler anak-anak mereka menjauh ke taman belakang bersama Bik Okta.
" Kenapa kamu makin gak sopan sama Papa ?! " tegur Al marah.
" Kenapa harus sopan pada orang yang suka ingkar janji ? " tantang Faiz.
Alis Al berkerut.
" Ingkar janji ? Kapan Papa melakukannya ? "
" Papa lupa kalo sudha menyuruhku dan adik Fawwaz berjanji untuk gak membuat Bunda menangis lagi ? Papa sudah melanggar janji Papa. Papa membuat Bunda menangis. Dan sekarang juga suka membentak-bentak Bunda. "
Al terdiam. Terpaku karena perkataan Faiz. Keluarganya hanya bisa diam. Bia berjongkok dan mendekap Faiz yang masih terlihat menahan marahnya.
" Mas,, sudah ya. Gak sopan ah sama Papa kayak gitu. Istighfar sayang. " kata Bia menenangkan sambil mengusap kepala Faiz.
" Kalo Papa udah gak sayang sama kita lagi. Kita pulang ke rumah kita dulu aja Bun. " kata Faiz.
" Tidak boleh !! " seru Al cepat tanpa sadar.
Benar-benar takut Faiz bisa membujuk Bia untuk meninggalkannya.
Hingga Arra yang digendongannya kaget dan langsung menangis. Adiba segera memggendongnya untuk menennagkannya di taman.
" Kenapa Mas Faiz mengira Papa gak sayang lagi sayang. Papa sayang sama Bunda dan Mas Faiz, Mas Fawwaz dan adik-adik. " jawab Bia smabil mengusap air mata Faiz.
" Kalo Papa sayang sama kita. Papa gak akan membuat Bunda menangis. Papa gak mungkin bentak-bentak Bunda. Papa gak akan melakukan ini Bun. Mas benci sama Papa. " seru Faiz smabil melemparkan satu foto yang ada didalam bukunya ke arah Al dan berlari kekamarnya.
" Mas,, Mas Faiz. " panggil Bia.
Azalea mencegah Bia yang akan mengejar Faiz.
" Biarkan Faiz tennag dulu Bia. " kata Azalea.
Bia mengambil foto yang dilemparkan Faiz. lalu melihat ke arah Wimpi.
" Bagaimana Faiz bisa tahu tentnag foto ini Kak ? " tnaya Bia kaget.
Al merebut foto itu dan tubuhnya langsung menegang. Sesil membohonginya. Dia sudah mengirimkan bukti ituu pada keluarganya.
__ADS_1