Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 134


__ADS_3

Hari ini sudah lima bucket bunga yang dibuang Al ke tong sampah. Bia tidak tahu siapa pengirimnya. Karena saat Reiga atau Wimpi mengatakan ada kiriman satu bucket bunga. Al yang menerimanya. Setelah melihat siapa pengirimnya, dia membuangnya ke tong sampah.


Bia hendak memungut satu bucket bunga terakhir yang baru saja di buang Al. Tapi Al menendang tong sampah itu menjadi lebih jauh.


" Jangan pernah mengambil bunga itu ! " seru Al marah.


" Aku cuma penasaran. Dari siapa bunga itu ? " jawab Bia.


" Dari ornag gila. " jawab Al sembari mendnegus kesal.


" Tapi kan sayang kalo dibuang Mas. "


" Ini perintah dariku. Kamu mau melawan perintah atasanmu ?! Bukannya kamu sendiri yang bilang harus profesional ?! Aku sudah bilang, jangan menerima bunga apapun dan dari siapapun. " hardik Al.


" Ckkk,, urusan begini aja, kamu menyuruhku untuk profesional. " geruttu Bia sembari kembali duduk di kursinya.


Al menelpon Reiga melalui telpon yang ada di depannya.


" Reiga,, ke ruanganku. "


" Baik Bos. "


Bia sudah terlanjur kesal dengan sikap Al. Dia tidak perduli Al mau menelpon sendiri dan tidak menyuruhnya. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya.


Reiga menyapa Bia dnegan mengangguk sejenak. Kemudian menuju ke arah meja bosnya.


" Bawa tong sampah itu keluar dari ruanganku. Buang semua isinya. " seru Al dengan ketus.


" Baik Bos. " jawab Reiga bingung.


Reiga melihat ke arah Bia dengan bingung, seolah bertanya apakaah yakin bunganya akan dibuang. Bia hanya mengangguk saja.


Tapi baru saja Reiga hendak keluar ruangan Al tapi Wimpi buru-buru membuka pintu ruangan kantor Al. Bia sampai berdiri karena kaget.


" Kak Wimpi. Ada apa ? " tanya Bia bingung.


" Itu Non Bia,, Tuan Al. Ada lima puluh bucket bunga mawar di loby. Semuanya ditujukan untuk Non Bia. Sedang di antarkan OB. " jawab Wimpi.


Wimpi melihat isi tong sampah yang dibawa Reiga juga beberapa bucket bunga. Dia dan Reiga saling menatap bingung.


Al menggebrak meja kerjanya. Membuat semua yang ada disnaa terlonjak kaget.


" Suruh OB itu membuang semua bucket bunga itu !! " hardik Al marah.


" Baik Bos. " jawab Reiga panik sembari keluar.


Bia mendekat ke arah pintu untuk menutupnya. Tapi juga untuk bertnaya pada Wimpi pengirim bunga itu.


" Semua bunga itu untukku ? Dari siapa Kak ? " bisik Bia pelan.


" Biiiii,, kembali ke mejamu sekarang. " tegas Al.


Bia mendnegus kesal.


" Nanti pasti tahu sendiri Non Bia. " gurau Wimpi sambil menutup pintu kantor Al.


Ponsel Bia berdering, dia segera kembali ke mejanya. Tapi Al juga buru-buru mematikannya tanpa mau tahu siapa yang menelponnya tadi.


" Kamu itu kenapa sih Mas ? Dari tadi sewoot aja. Kenapa telponnya di matikan ? " tegur Bia kesal.


" Gak kenapa-kenapa. Telpon gak penting. "


" Mas bahkan gak lihat layarnya. Kalo telpon dari sekolah atau Mama gimana ? " protes Bia.


Al terdiam,


" Kembalikan ponselku. "


" Gak. Nanti dia menelponmu. " seru Al ketus.


" Dia ? Dia siapa ? " tanya Bia heran.


" Ornag gila. "


" Mas Alfarizhi !! "


Al menghempaskan nafas panjang. Kmeudian dengan kesal duduk di sofa. Bia tentu saja mengikutinya karena ponselnya dibawa Al.


" Ada apa sih ? Kenaap dari tadi uring-uringan sjaa. " tanya Bia sambil duduk di samping Al.

__ADS_1


Al mengeluarkan ponsel Bia dari saku jasnya. Tapi menggenggamnya dengan tangan bersedekap didadanya.


" Ini semua gara-gara kamu Bi. " tegasnya.


Bia menjadi tercengang.


" Gimana bisa gara-gara aku ? "


" Sudah aku bilang jangan terlihat cantik didepan Alex. Aku gak suka. " omelnya.


Bia mnedengus kesal.


" Ini kenapa jadi ke Pak Alex ? "


" Karena dia orang gila yang mengirimu bucket-bucket bunga itu !! " seru Al sambil memukul sandaran sofa.


Bia menghela nafas panjang. Seharian uring-uringan hanya karena cemburu ?


" Lalu kenapa mengambil ponselku ? Kembalikan. "


" Gak mau. Nanti dia menelponmu. " jawab Al ketus.


Bia menangkup wajah Al dnegan kedua tangannya. Dan mencubit kedua pipi Al dnegan kedua tnagannya.


" Iiiissshh,, Pak Alfariszhi,,, aku gak pernah memberikan nomorku ke siapapun. Apalagi CEO perusahaan lain. " seru Bia kesal.


" Benar ? "


Bia melepaskan wajah Al dan mengulurkan tangannya.


" Kembalikan ponselku. " ujarnya.


Tapi Al bukannya memberikan ponselnya malah memeluk Bia dengan posesif.


" Sudah, lepaskan aku. Kebiasaan. Marah-marah gak jelas. Aku yang kena imbasnya. " gerutu Bia.


" Siapa bilang gak jelas. Marahku jelas, karena aku gak suka melihat istriku terlihat cantik didepan orang lain. Apalagi untuk si Alex itu. Dan itu jelas karena, aku cemburru. " ketus Al.


" Terserah kamulah. Lepasin. " kata Bia sambil mendorong tubuh Al.


" Lalu kenapa Alex bilang akan menelponmu ? " tanya Al sambil melepaskan pelukannya.


Al tersenyum snenag mengetahui fakta itu. Senang karena Bia bisa menjaga dirinya. Dia menggenggm tangan Bia.


" Kalo tentnag Pak Alex yang tahu nomorku, aku gak tahu. Kak Wimpi gak mungkin memberikan nomorku pada orang lain tanpa seijinku. " jelas Bia.


" Aku akan menanyakannya pada Reiga nanti. "


" Mana ponselku ? "


" Memangnya mau telpon siapa sih. " omel Al.


" Kalo yang telpon tadi Mama atau Kia gimana ? "


Al memberikan ponsel Bia dengan masih tidak rela. Bia hendak beranjak berdiri dari sofa. Tapi Al menariknya hingga dia kembali terduduk.


" Mau kemana ? "


" Kembali bekerja. Ini belum wakttunya istirahat. "


" Gak. Disini aja. Aku tahu kamu mau mengecek ponselmu kan. Memangnya apa yang sedang kamu sembunyikan. " seru Al posesif.


" Astaghfirullah , Mas Al keterlauan deh. " ujar Bia tidak habis pikir.


Bia mengerucutkan bibirnya karena kesal. Al mendekat berniat untuk menciumnya. Tapi tnagan Bia mendorong wajahnya untuk menjauh.


" Ingat. Profesional. " tegas Bia.


" Cckkk,,, sedikit aja Bi. " rayunya.


" Gak. Pak Alfarizhi kalo cemburu benar-benar resek memang. " geruttuu Bia.


Al tertawa dan melingkarkan tangannya ke perut Bia.


" Karena cintaku pada istriku sudah seakut itu. " bisiknya.


Bia tersenyum simpul. Semabri mengecek siapa yang tengah menelponnya tadi.


" Tadi telpon dari Mama Naya Mas. " ujar Bia.

__ADS_1


" Ada apaa ? " tanya Al heran.


" Siapa yang dengan asal menutup telpon Mama Naya tadi ? " sindir Bia.


Al mengecup bibir Bia yang masih terlihat kesal. Lalu tertawa saat Bia mendnegus kesal.


" Mama Naya kirim pesan. Mereka tadi sedang berada di Surabaya. Sekarnag dalam perjalanan ke Kalimantan, Mas. Mungkin satu jam lagi sampai. Aku jemput ke bandara ya Mas. " seru Bia senang.


" Satu jam lagi aku ada meeting dnegan klien perusahaan Bi. " jawab Al.


" Ya udah meeting aja. Aku bisa menjemput mereka dengan Kak Wimpi. " omel Bia.


" Kenapa kamu selalu saja mengandalkan Wimpi. Yang suami kamu itu aku. Bukan Wimpi. "


" Cckk,, mulai deh. "


" Faktanya Bi. "


" Ya karena Kak Wimpi yang lebih sigap. " gurau Bia.


" Isshhh,, tapi aku suamimu Bi. "


" Ini apaan sih. Masa Mas cemburu juga smaa Kak Wimpi ? Mas sendiri lho yang mengenalkan aku pada Kak Wimpi. Mas juga yang meminta Kak Wimpi mengawalku dulu. " omel Bia kesal.


" Melihatmu berada diluar rumah benar-benar membuatku smeakin posesif Bi. Aku lebih tennag kalo kamu berada dirumah. "


" Ya sudah, segera selesaikan masalahmu. Aku juga capek berurusan dnegan wanita-wanita disekelilingmu. Lebih baik aku dirumah dan tidak melihatnya. " kata Bia.


Bia berdiri dengan kesal menuju mejanya. Tapi Al menjajarinya dan memeluknya dari belakang.


" Kamu cemburu Bi ? " tnaya Al senang.


" Apa aku harus seposesif dan seekpresif kamu, kalo melihatmu dengaan sekretaris-sekretaris CEO perusahaan lain ? Yakin kamu bisa menghadapinya ? "


Al menggeleng dengan cepat masih dengan tertawa.


" Iya,, aku minta maaf. Maafkan aku Bi. "


Bia membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dnegan Al.


" Ijinkan aku menjemput Mama Naya. " pamitnya.


" Tunggu aku selesai meeting. Aku yang akan mengantarmu. " jawab Al.


" Terlalu lama Mas. Nanti keburu Mama Nayaa datang."


" Kalo gitu, suruh Randy yang menjemputnya. Sebelum menjemput anak-anak. Beres kan. "


" Aku mau ikut menyambut mereka Mas. "


" Bi,,, aku gak ijinkan. " tegas Al.


Memikirkan Bia mengetahui akses menuju bandara, memebuat Al berfikiran terllau jauh. Al takut kalo sewaktu-waktu Bia nekat pergi tanpa berpamitan padanya. Lebih baik Bia tidak pernah tahu.


Bia merengut kesal.


" Aku janji akan menyelesaikan meetingku dnegan cepat. " hibur Al.


" Ya sudahlah. Aku akan menyiapkan berkas untuk meetingmu. " kata Bia.


Al mengeratkan pelukannya. Karen Bia bicara tanpa melihatnya. Pertanda dia masih kecewa.


" Aku janji. Kamu gak percaya ? Apa kamu mau ikut meeting juga. " tegasnya pelan.


" Gak usah. Sudah lepasin. "


Tnagan Al berada di wajah Bia. Dan mnegusapnya. Seolah meminta Bia untuk melihatnya.


" Maafkan aku sudah membuatmu kecewa. Tapi aku mau kamu mengandalkan aku. Bukan ornag lain, sekalipun itu Wimpi. Aku masih snaggup melakukannya." katanya pelan.


" Aku tahu kamu sibuk Mas. Aku gak mau mengganggumu. Sampai kapanpun aku pasti akan mengandalkan kamu. Tapi lihat sikonnya, kalo memang sedang sibuk gak usah memaksakan. Maafkan aku. Mas benar,, biar Kak Randy aja yang menjemput mereka. Pasti Faiz dan Fawwaz akan senang mereka dijemput Oma Naya dan Opa Mark. " jelas Bia sembari memeluk Al. Agar Al lebih tenang dan tidak seuring-uringan tadi.


" Terima kasih sudah mengerti. " bisiknya.


" Sudah. Kita selesaikan pekerjaan kita. Biar bisa cepet pulang bertemu Mama Naya dan Papa Mark. " kata Bia smebari melepaskan pelukannya dari Al.


Al mengangguk. Bia mengecup bibir Al sekilas.


" Biar semangat dan gak marah-marah aja. " gurau Bia lalu kembali ke meja kerjanya.

__ADS_1


Al mengusap bibirnya dan terkekeh. Lalu kembali ke meja kerjanya dengan senyum yang tidak juga hilang dari wajahnya. Bia yang melihatnya hanya tertawa pelan.


__ADS_2