Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 94


__ADS_3

" Paket apa itu, Len ? " tanya Naya saat Leny masuk ke rumahnya dengan membawa satu paket seperti sebuah buku.


" Paket yang dikirim dari Rumah Sakit Nyonya. " jawab Leny sembari menyerahkan paket itu ke Naya.


Naya membolak balikkan paket itu. Lalu membaca satu pesan yang tertulis di pembungkusnya.


* BUKU MILIK NY. CLARA, YG TERTINGGAL DI KAMAR PASIEN. *


" Kamu bisa pergi. Lanjutkan pekerjaanmu Leny. Aku akan membukanya di ruang kerja Suamiku. " kata Naya saat melihat Leny masih menatap paket itu dengan intens.


" Permisi Nyonya. " pamit Leny.


Naya menghela nafas kemudian menuju kamarnya. Bukan ke ruang kerja Mark.


" Kenapa dengan ekspresi wajahmu itu honey ? " tanya Mark heran sambil menepuk ranjang di sebelahnya.


Pertanda ingin Naya ikut duduk disana. Naya pun memdekat dan duduk disebelah Mark.


" Aku gak suka dengan sikap Leny yang selalu ingin tahu keadaan dirumah ini. Apa dulu sewaktu dirumah Clara, dia juga bersikap seperti ini ? " keluh Naya.


" Tapi, kamu yang memintanya untuk datang kesini Honey. "


" Ya. Karena aku tahu, Mbok Nina merindukan putri semata wayangnya. Semenjak tinggal dengan Clara di Kalimantan dia gak pernah menjenguk ibunya. "


" Biarkan saja honey. Kita gak usah ikut campur urisan pribadi mereka. "


Naya menghela nafas membenarkan apa yang dikatakan Mark. Kemudian memberikan paket milik Clara pada Mark.


" Apa ini ? "


" Sepertinya buku milik Clara. Tertinggal di kamar RS saat Clara operasi pengangkatan rahim dulu. "


" Buku apa sampai dibawa Clara ke RS ? " tanya Mark penasaran.

__ADS_1


Naya mengangkat bahunya pertanda tidak tahu.


" Bukalah. " titah Naya.


Mark membuka bungkus paket itu. Buku yang pernah dilihat Mark tapi dia tidak tahu buku tentang apa itu


" Ya, ini memang milik Clara. Dulu aku pernah melihat Clara membaca buku ini. " kata Mark.


" Bia benar,, aku bahkan kalah dengan ketaatan Clara. Ini pasti buku pemberian Bia yang dulu pernah dikatakan Clara. " kata Naya teringat Clara.


" Tentang apa ini ? Apa Clara masih belajar tentnag sholat ? Lalu, gimana dengan sholatnya selama ini ? " tanya Mark bingung.


" Sholat Tahajud, Honey. "


" Apa bedanya dengan sholat yang biasanya kamu lakukan ? "


" Sholat yang dilakukan di sepertiga malam terakhir. "


" Aku akan membacanya nanti. Letakkan saja diatas nakas. "


Naya meletakkan buku itu diatas nakas, ada sebuah kertas jatuh dari dalam buku itu. Naya memungutnya.


" Apa itu honey ? " tanya Mark.


" Entahlah, terjatuh dari buku ini. Eehhmm,, sepertinya ini tulisan Clara, honey. " kata Naya semabri kembali duduk disamping Mark.


Keduanya saling bertatapan sejenak. Kemudian sama-sama membaca kertas berisi tulisan Clara.


Sedari awal aku sudah bersalah karena menjadi ornag ketiga di antara Al dan Bia. Meskipun hubungan mereka di awali dengan satu keterpaksaan. Sama sepertiku, yang menerima tawaran Al untuk menggantikan Ayden bertunangan denganku. Hanya karena aku gak mau menjadi bahan gosip teman-temanku di Singapura karena dicampakkan oleh calon tunangannya. Lalu, akhirnya aku juga tahu kalo Al juga terpaksa karena menghormatiku sebagai sahabatnya. Dan juga,, karena kebodohan kami berdua. Hingga,,, Mama, Kia dan Bia memergoki kami.


" Honey,, are you okey ? " tanya Mark saat melihat Naya memegang dadanya.


" Aku baik-baik saja. Aku hanya merasa menjadi gagal menjadi seorang Ibu. Karena aku gak tahu apapun tentang anakku. "

__ADS_1


" You're the best Honey. Trust me. " tegas Mark sambil mendekap Naya.


Dan aku sudah tahu gimana rasanya, mencintai orang yang sudah biasa kita lihat setiap harinya. Aku tidak tahu kalo selama ini Al dan Bia sudah menikah kontrak. Untuk melaksanakan nadzar Mama apabila ada pendonor untuk Kia. Aku mengatakan pada mereka kalo Poliandri haram di Indonesia. Dan Ghazzy menegaskan kalo pernikahan kontrak itu telah berakhir. Tapi, tidak dengan perasaan Al pada Bia.


Aku tahu Al sudah memcintai Bia sejak pertunangan kami. Entah keluarganya tidak tahu atau pura-pura tidak tahu tentang perasaan Al pada Bia. Tapi,, tentu saja aku tidak mau menjadi wanita yang dicampakkan dua orang pria sekaligus. Apa kata teman-temanku nanti ? Akhirnya, aku tetap memaksa Al untuk menikah denganku dan membawanya pergi jauh dari Bia.


Awalnya, aku marah karena dijadikan bayang-bayang Bia. Tapi sejak bertemu dan lebih mengenalnya. Ahh,, entahlah. Aku tidak habis pikir ada orang-orang sebaik Bia dan Ghazzy di dunia ini. Dan aku bersyukur telah mengenal mereka.


Mama, Bia, dan Kia mengatakan kalo Al sudah mencintaiku sejak dulu. Tentu saja aku senang mendengarnya. Dan perasaannya pada Bia hanya sementara karena rasa bersalahnya pada Bia setelah melakukan KDRT pada Bia .


Mereka terlalu menyayangi Bia, sampai melupakan satu hal. Al,, seseorang yang tidak mudah jatuh cinta. Tapi saat dia sudah jatuh cinta pada seseorang. Dunianya hanya akan ada wanita itu. Dan wanita itu,,, bukan aku. Tapi Bia.


Dekat dengan Bia, membuatku menjadi pribadi yang lebih baik. Yang paling aku rasakan,, saat aku bersimpuh meminta maaf pada Mami dan Papi. Tangisku pun tidak bisa aku bendung lagi. Menydari selama ini aku belum pernah berbakti pada orang tuaku. Aku benar-benar meminta maaf dari lubuk hatiku. Satu hal yang hanya aku lakukan saat Idul Fitri.


Mereka memintaku bersabar dan berusaha membuat Al kembali mencintaiku lagi. Akan aku lakukan, meski aku sangsi. Karena aku tahu siapa Al.


Sangsi yang aku rasakan semakin besar, saat melihat Al begitu memperdulikan kehamilan Bia. Yahh,, faktanya aku juga ikut andil menyembunyikan kebenaran kalo anak yang di kandung Bia juga anak Al. Dunia kedokteran juga dihebohkan dengan fakta ini. Bagaimana bisa Bia mengandung anak kembar dengan dua ayah biologis ? Mereka anak dari Al dan Ghazzy. Yaahh,, saat pernikahan kontrak itu berakhir, ternyata Bia sedang hamil.


Tapi, aku percaya. Karena ikatan batin antara Al, Bia dan juga anak-anaknya sangat kuat. Bahkan anak-anaknya seaktif itu di perut Bia ketika mereka berdekatan. Membuatku yakin,, aku gak bisa menggeser posisi Bia di hati Al.


Semakin aku mengenal Bia,, semakin aku merasa menyayanginya layaknya speeti adikku sendiri. Akhirnya aku tahu, kenapa Al begitu mudah menggantikan rasa cintanya padaku kepada seseorang yang sesimple Bia. Bahkan bukan dari golongan orang kayaa ataupun yang berpendidikan.


Aku dari semula yang marah saat menjadi bayang-bayang Bia. Menjadi sangat bahagia saat ada yang bilang aku mirip dengan Bia layaknya saudara kandung. Ahh,,, bahagianya. Itu berarti aku sudah menjadi Clara yang lebih baik bukan. Mami dan Papi pasti ikut bahagia melihatku yang sudah berubah lebih baik. Meskipun belum sesholeha Mami, dan aku harap Papi mendapatkan hidayah untuk menjadi Imam Mami. Imam dunia akhirat Mami.


Aku pikir berada di Singapura bersamaku, Al bisa sedikit melupakan Bia. Mengenang kembali kebersamaan kami saat kuliah dulu. Ada sedikit harapan, Al bisa sedikit saja kembali menyayangiku. Tapi, aku salah. Al tetaplah Al. Ornag yang tegas dengan komitmennya. Dia tetap memikirkan Bia dan anak-anaknya yang lucu dan menggemaskan. Bahkan Bia menyuruh mereka memanggilku Mama Ara. Aahh Bia,, kamu gak tahu sebahagia aku mendengar mereka memanggilku Mama. Dan sekarang, dan sampai kapanpun aku gak bisa memberikan Al seorang anak.


Akhirnya aku tersadar,, dua tahun aku tidak bisa menggeser posisi Bia di hati Al. Tapi aku juga bahagia bisa mengenal Al. Kalopun nanti akan ada perceraian antara aku dan Al,, sungguh ,, aku sangat ikhlas. Aku yakin hanya Bia yang bisa membuat wajah Al seceria dulu. Aku yakin hanya Bia yang bisa mengembalikan senyum di bibir Al.


Aku bahagia bisa mendampingi Al. Aku bahagia berada diantara keluarga Al. Kalo ada yang membuatku berat berpisah dengan Al itu Bukan karena Al,, tapi aku tidak rela berpisah dengan keluarga Al.


Al membuatku bisa merasakan bagaimana rasanya disayangi oleh Adik seperti Kia. Bagaimana rasanya menjadi seorang Kakak, bagi Bia. Dan bagaimana rasanya disayangi sebagai menantu seorang Azalea Dewandaru. Dan terlebih lagi,, menjadi seorang Mama untuk Faiz dan Fawwaz.


Aku sudah merasakan kesempurnaan kebahagiaan. Allah begitu menyayangiku. Menegurku dengan sangat halus karena niat awalku yang menikah dengan Al bukan karenaNya. Tapi karena tidak ingin menjadi wanita yang telah dicampakkan oleh calon tunangannya. Aku hanya berharap Mami dan Papi juga bisa merasakan kesempurnaan kebahagiaan yang aku rasakan karena telah mengenal dan menyayangi Bia. Aku harap mereka juga bisa menyayangi Bia seperti aku menyayanginya.

__ADS_1


Naya menangis sesenggukan. Mark hanya bisa memeluknya erat. Karena dia sendiripun juga tengah menangis. Dibalik kepribadian Clara yang lebih baik, tersimpan perang batin melihat suaminya mencintai ornag lain. Terlebih orang itu punya andil besar dlama perubahan dihidupnya yang menjadi lebih baik.


__ADS_2