
" Bunda,, ini rumah siapa ? " tanya Fawwaz bingung saat masuk ke rumah Nenek Zaskia.
" Ini rumah buyut. " jawab Zaskia.
" Papa mana ? "
" Papa masih mengantarkan Mama Ara. " jawab Zaskia lagi.
Bia tersenyum sembari mengusap kepala Faiz yang tertidur di pelukannyA.
" Adek tidur lagi ya. Ini masih malam sayang. Itu, Mas Faiz masih tidur. " kata Tian sambil menggendong Fawwaz.
Fawwaz mengangguk sambil mengeratkan pelukannya pada Tian.
" Bawa mereka ke kamar Mama aja Kak Tian. " kata Zaskia.
Wimpi mengambil alih Faiz dari gendongan Bia untuk membantunya.
Bia melihat ke arah kamar paling ujung. Sepertinya kamar itu tidak pernah dibuka selama ini.
" Itu kamar siapa Ki ? "
" Kamar Kak Al. "
" Aku tidur disana saja Ki. "
" Eeehhhmmm,,, "
Alis Bia berkerut saat melihat Zaskia tampak bingung.
" Kenapa ? "
" Kak Al gak pernah tidur dikamar itu lagi Kak. "
" Lalu tidur dimana ? "
" Di ruang kerjanya. Dilantai bawah. "
" Kenapa ? "
" Kamar itu,,, eehhmm,, kamar dimana Kak Al mendapatkan kdrt dari Papa. karena itu Kak Al gak mau tidur disana lagi. "
Bia menatap kamar itu lalu langkahnya beranjak menuju kamar itu. Membukanya perlahan.
" Kamarnya besar Ki. Harusnya nyaman kan. "
" Kan Kak Al punya kenangan buruk dikamar itu Kak."
" Aku akan tidur disini dengan anak-anak. "
" Hahhh,, Kak Bia yakin ? Kak Al bisa marah padaku Kak. " protes Zaskia.
" Mas Al harus belajar memaafkan masa lalunya. Memaafkan Papa. Aku akan tidur disini. Aku yang akan bertanghung jawab kalo dia marah nanti. " tegas Bia.
" Tapi,,, "
" Kia,, gak apa-apa. " kata Bia meyakinkan.
" Kak Wimpi tolong Faiz direbahkan di ranjang itu. "
" Baik Non Bia. "
" Untuk sementara biar Kak Wimpi tidur disini ya." pamit Bia.
" Baiklah. " jawab Zaakia.
Tian menyerahkan Fawwaz yang sudah tertidur digendongan Bia.
" Ini kamarku Kak. " kata Zaskia. Sambil menunjuk kamar sebelah.
" Istirahatlah, Bia. Ini pertama kalinya kamu datang ke Kalimantan. Welcome Bia. " gurua Tian.
" Terima kasih. Hahah. "
Ketiganya terkekeh sejenak. Kemudian Zaskia dan Tian permisi untuk ke kamarnya. Bia pun juga masuk kekamarnya.
Memindai semua barang-barang Al. Padahal kamarnya masih bersih, dan tidak ada yang berubah sama sekali. Bia membuka lemari pakaian Al. Masih banyak pakaian Al muda disana.
Bia melanjutkan melihat-lihat foto-foto Al seewaktu masih muda. Senyum tersungging jelas di bibirnya.
" Biar Fawwaz direbahkan dulu Non. " kata Wimpi sambil mengulurkan tangannya,
" Terima kasih Kak Wimpi. Istirahatlah Kka. Aku mau sholat dulu. "
" Iya non. "
Tujuh hari kemudian.
" Kia,,sedang apa ? " tanya Bia saat melihat Zaskia sedang mengotak atik laptopnya di tepi kolam renang.
" Mama dan Kak Al kan ada di Singapura. Mau gak mau Dewandaru jadi tanggung jawabku. " jawabnya.
" Maaf,, aku gak bisa bantu Ki. Karena kamu tahu, aku bisanya masak bukannya main laptop. " goda Tian sambil menyuapi Zaskia satu sendok salad buah.
Zaskia terkekeh mendengar gurauan Tian.
" Isshh,, pagi-pagi udah romantis aja. " ledek Bia.
" Aku belajar ini dari kamu dan Ghazzy Bia. " celetuk Tian.
Bia terkekeh, sudut hatinya ada rasa perih karena merindukan Ghazzy.
" Apaa yang akan kamu lakukan Bia ? " tanya Tian serius.
" Aku ? Melakukan apa ? "
" Apa kamu akan menetap di Kalimantan ? "
" Hah ? Untuk apa ? "
" Kak Bia,, !! Kak Bia lupa kalo sekarang Kak Bia istrinya Kka Al. "
Bia menunduk. Setiap Al tidka ada pasti dia merasa dia masih seorang janda yang ditinggal meninggal oleh suaminya.
" Aku gak tahu. " jawab Bia pasrah.
__ADS_1
" Kak,, jangan permainkan Kakakku. " tegur Zaskia.
" Siapa yang berani mempermainkan CEO Dewandaru Ki. Aku gak pantas berada di sampingnya Ki . "
" Sudah. Lanjutkan debat kalian. Aku akan mengajak anak-anak ke rumah Ibu. " pamit Tian.
" Kok mendadak sih Kak. Aku masih belum selesai mengerjakan laporannya. " keluh Zaskia.
" Aku sudah menunggumu dua jam Ki. " protes Tian.
Zaskia menunduk menyesal.
" Sudah. Kalian pergi saja. Biar aku lanjutkan pekerjaan kamu. "
" Serius Bia ? Kamu bisa ? "
" Mas Al sampai mendatangkan mentor terkenal untuk mengajariku dulu. " jawab Bia sambil terkekeh.
" Oh iya. Aku lupa. Syukurlah. Sekarnag Kak Bia lanjutkan membuat laporannya. Aku mau ganti baju dulu. Tunggu sebentar Kak Tian. " kata Zaskia sambil beranjak pergi ke kamarnya.
" Ini pertama kalinya kamu datang ke Kalimantan. Apa gak mau jalan-jalan ? "
" Gak etis kayaknya. Kita kesini karena sedang berduka bukan untuk jalan-jalan. "
" Benar,, benar,, Kapan Kak Al akan pulang ? "
" Aku gak tahu. "
" Bia,, kamu istrinya. Harusnya,,, "
" Sudah tahu kan kalo dia istriku !!! " geram suara di balik pintu taman belakang.
Tian berdiri, Bia menuttup laptop Zaskia dan ikut-ikit berdiri.
" Mas,,,Al,,, " panggil Bia ragu.
Karena Al tampak sedang tidak baik-baik saja sekarang. Matanya merah, alisnya berkerut. Dia tampak sangat marah.
" Kak Al,, Kak Al sudah pulang ?! Di mana Mama ? " seru Zaskia senang.
Senyum diwajahnya menghilang saat melihat Al yang tengah marah.
" Apa kamu gak bisa menjaga suamimu ini !! "
" Apa sih Kak. Datang-datang langsung marah. " protes Zaskia.
" Jangan pernah bicara dnegan laki-laki lain Bi. Aku gak suka !! "
" Laki-laki lain gimana sih. Dia Tian, suami Kia, adik ipar kamu Mas. " kata Bia menengahi.
" Tapi, dia pernah berniat menikahimu dulu !! "
Tian terkekeh mendnegarnya. Berbeda dengan Zaskia dan Bia yang melongo mendengar alasan Al .
" Ayo Ki. Kita berangkat. " ajak Tian tidak memperdulikan kemarahan Al.
Zaskia mengangguk sambil bergumam tidak jelas.
" Kak Bia. Aku bernagkat. Assalamualaikum. " seru Zaskia sambil mengacungkan jari kelingking dan ibu jarinya membentuk telpon. Yang dijawab anggukan oleh Bia.
Al menarik lengan Bia hingga dia mundur beberapa langkah.
" Aku belum selesai bicara ! " hardiknya.
" Mau bicara apa lagi Mas ? "
" Kita bicara diruang kerjaku. " jawab Al sambil menarik lengan Bia menuju ruang kerjanya.
Al melepaskan cengkramannya pada lengan Bia. Lalu menatapnya tajam. Bia mengusap lengannya yang terasa sakit karena cengkraman Al.
" Bisa-bisanya kamu bermesraan dnegan Tian. Apa kamu gak mikirin perasaaanku ?!! "
Bia menghela nafas. Membiarkan Al mengungkapkan kemarahannya dengan ngomel-ngomel.
" Apa selama ini perasaanku gak ada artinya sama sekali buat kamu Bi. Kamu bisa lho tersenyum dengan laki-laki lain. Kenapa kamu gak bisa melakukannya padaku ?! "
Al menggebrak meja karena emosi tapi masih berushaa bersabar. Takut akan kembali menyakiti Bia. Apalagi rumah ini, membuatnya semakin kalut. Siluet-siluet potongan ingatan tentnag masa lalunya di rumah ini bermunculan di kepalanya.
Bia melihat ada satu teko berisi air putih. Dia menuangkannya ke satu gelas yang berada disana. Lalu mendekat ke arah Al yang membelaknaginya.
" Duduk dulu. " kata Bia saat Al menoleh.
Al duduk di atas meja kerjanya. Tapi masih tidak mau melihat Bia.
" Minumlah. Biar gak emosi terus. "
Al menarik tangan Bia, dia minum air putih itu dengan tangan Bia.
" Sudah lebih baik ? " tanya Bia.
" Aku masih marah sama kamu, Bi. " jawabnya sambil menunduk dan menggenggam tangan Bia.
* Hangat,, apa Mas Al masih sakit ? *
Bia meletakkan gelas itu disamping Al. Dan menyentuh kening Al dengan tangan yang lainnya. Sontak Al langsung mendongak.
" Kamu demam Mas. Panas banget ini. " ujar Bia panik.
" Kamu khawatir Bi ? " tanay Al senang.
" Kamu ngomong apa sih Mas. Kita ke dokter ya ? "
Al menggeleng. Lalu mengusap pipi kanan Bia.
" Aku cuman kangen kamu Bi. "
" Isssh,, aku serius Mas. Kita ke dokter aja ya. Disini,, kotak p3K nya ada dimana ? Ada termometer gak ? "
Al tertawa senang melihat Bia yang panik.
" Kok Mas malah tertawa sih. Bukamnya di jawab. "
" Melihatmu sepanik ini, aku senang Bi. "
" Apaan sih. Aku panggil Kak Wimpi dulu. Mau minta antar ke ruamh sakit. " kata Bia sambil melepaskan genggaman Al.
Tapi Al menariknya hingga dia semakin merapat dengan tubuh Al. Semakin merasakan suhu tubuh Al yang demam.
__ADS_1
" Mas,, jangan seperti ini. Kamu demam. Kita kerumah sakit. Aku akan panggil Kak Wimpi. " keluh Bia cemas sesekali menyentuh kening Al dan pipi Al.
" Aku sudha bilang. Obatku ada disini. " kata Al sembari semakin mengeratkan mendekap Bia. Sampai tubuh Bia benar-benar merapat ke tubuhnya.
" Mas lepasin !! Ini serius. Kita ke rumah sakit ! " tegur Bia kesal.
" Aku akan istirahat sebentar. Mungkin hanya jetflag Bi. "
" Mas yakin ? "
Al mengangguk.
" Ya sudha istirahat aja. Aku bantuin ke kamar. "
" Kamar ? Kamu menyiapkan kamar pengantin untuk kita ?! Apa karena kamu merasa bersalah setelah bermesraan dnegan laki-laki lain ?! " geram Al.
Bia mendengus kesal.
" Kamar kamu, Mas. Kamar penagntin apaan sih. Istirahatlah, kamu makin lama makin ngawur. "
Al tersentak.
" Kamu tidur di kamar atas ? "
" Iyalah. Kan itu kamar kamu Mas. Masa aku tidur dikamar Mama atau Kia. "
" Kenapa Kia membiarkan kamu tidur disana. " bentaknya.
" Lalu aku tidur dimana ? Mau tidur di kamar Kia ? Nanti kamu salah faham lagi kayak sekarnag. " omel Bia.
" Iya. Tapi gak dikamar itu Bi. kamu bisa tidur di ruang kerjaku. Disana ada kamarku. "
" Ini ruang kerja kamu Mas. Kamu mau ruangan ini dikacaukan sama anak-anak ? "
Al mendnegus kesal. Bahkan sampai melepaskan dekapannya pada Bia.
Bia tersenyum, sudah bisa menebak ekpresi Al akan sepeti ini.
" Ya sudah kalo Mas maunya disini. Aku akan ke kamarku. Aku mau istirahat. " kata Bia.
Baru saja Bia hendak membuka pintu ruang kerja Al. Tapi sebuah pelukan erat dibelakangnya membuat langkahnya berhenti.
" Kali ini aja. Istirahtlah disini bersamaku. Aku belum siap berada di kamar itu. "
" Bukan masalah siap ato gak siap Mas. Kamu harus mulai memaafkan masa lalu kamu. Terutama memaafkan Papa. "
" Aku mohon Bi. Malam ini saja. Aku akan mencobanya besok. "
" Beneran ? Janji ? "
" Iya. "
" Janji dulu. " tegas Bia sambil menoleh ke belakang.
" Baiklah. Aku janji. " kata Al lalu mengecup bibir Bia singkat.
" Iisshhh,, bisa aja kalo modus. " protes Bia sambil berushaa melepaskan pelukan Al.
Al tertawa sambil mengeratkan pelukannya.
" Aku udah bilang. Kamu obatku. Bibirmu udah buat aku kecanduan. "
" Udah sana istirahat dulu. Lepasin aku. "
" Gak mau. Temani aku istirahat. " kata Al sambil memdorong tubuh Bia masuk ke salah satu pintu.
Bia melongo melihat kamar yang ada dibalik pintu. Lebih kecil dan lebih simple. Tapi kalo dia disuruh memilih, dia lebih memilih kamar ini daripada di kamar atas.
" Kamarnya simple. Tapi terasa hangat. "
" Kamu menyukainya ? "
" Suka sih. Tapi kalo diatas lebih nyaman karena ada anak-anak. "
Al mendudukkan Bia diatas ranjangnya. Dan duduk mensejajarkan tubuhnya dengan lutut Bia.
" Istirahatlah dulu. Aku buatkan sesuatu untuk membuat tubuhmu hangat Mas. "
" Disini aja. Aku membutuhkan kamu. "
" Nanti aku kesini lagi. "
" Kamu sudah terlalu sering menghindariku Bi. Aku gak percaya lagi. " sindir Al.
Bia tersenyum keki.
" Eeh,, beneran. Aku cuma mau buatkan minuman jahe lhoo. " elak Bia sambil hendak berdiri.
Al kembali mendudukkan Bia.
" Kenapa ? Kamu takut aku akan macam-macam ? "
Bia mengangguk dan menggeleng keki. Hingga membuat Al tertawa. lalu mendorong tubuh Bia hingga terbaring. Kembali membaringkan Bia saat dia maish berontak. Al berbaring disamping Bia dan mendekapnya agar tidak berontak untuk bangun.
" Tidurlah. Aku gak akan macam-macam. Eehhmm,, mungkin hanya memciummu. "
" Itu namanya macam-macam. " geruttu Bia.
" Kamu istriku. Tentu saja sudah halal. Meskipun aku belum meresmikannya. Aku minta maaf. "
Bia menunduk. Merasa bersalah.
" Maaf,, aku mengingkari janjiku. Aku gak datang setelah masa iddahmu selesai. "
Bia mengusap wajah Al. Semakin merasa bersalah dengan pembahasan ini.
" Istirahatlah Mas. Tubuhmu juga butuh istirahat. "
" Temani aku disini Bi. Jangan tinggalkan aku. "
" Aku akan tetap disini. Tidurlah sekarnag. "
Al mengangguk sambil mengecup puncak kepala Bia.
" Aku merindukanmu Bi. Sangat merindukanmu. Aku bersyukur bisa menikahimu lagi. Aku gak mau kehilangan kamu lagi. Meskipun kamu maish belum merasakan apapun padaku. "
Bia menangis. Kalo boleh jujur, Ketulusan Al selama ini sudah membuat Bia menyaynginya. Mungkin gak sebesar perasaan Al saat ini. Siapapun yang dicintai sebesar ini pasti tidak akan membuttuhkan waktu lama untuk bisa membalas perasaan itu.
__ADS_1