Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 105


__ADS_3

Pikiran Al sudah kacau sejak kedatangan Bia dikantornya. Setelah makan dan minum jahe hangat yang dibawakan Bia. Tubuh Al semakin membaik. Tapi tidak pikiran dan hatinya.


Seharian dia mencoba menelpon Bia tapi tidak satupun yang diangkat. Membuatnya berfikir Bia masih slaah faham dan marah padanya. Saking kesalnya Al sampai mengacuhkan Reiga. Permintaan maaf dari Reiga pun tidak dia hiraukan.


Reiga mengantarkan Al kerumahnya. Takut Al masih merasa pusing. Setelah turun dari mobil Al langsung berlari menuju kamar Bia. Tidak perduli tatapan heran dari penghuni rumahnya.


" Bi,, Bi,, " panggilnya sambil membuka pintu kamarnya.


Melihat Bia yang baru keluar dari kamar mandi dengan masih menggunakan bathrob. Al menelan salivanya getir. Bia membuat hasrat Al langsung naik. Tapi dia berusaha menahannya. Makin menambah pusing kepalanya.


" Bi,, aku bisa jelasin. Apa yang kamu,, "


" Sudah,, Mas. Disana saja. " kata Bia semakin mundur saat Al semakin mendekat padanya.


Bukannya apa-apa. Sejak pulang dari kantor Al. Bia merasa lemas. Karena semua yang dia makan sewaktu sarapan sudah dimuntahkannya. Dia hanya tiduran. Mungkin karena belum maakn apapun lagi tubuhnya makin melemah. Melihat Al yang tiba-tiba masuk kekamarnya membuat Bia mencemaskan keadannya.


" Bi, aku tahu kamu masih marah. Tapi aku bisa jelasin semuanya. " kata Al sambil masih mendekati Bia.


" Stop Mas. Disana saja. " kata Bia sambil masih mundur.


" Aku suamimu Bi. Jangan bersikap seolah kamu jijik padaku !! Sudah aku bilang, apa yang kamu lihat gak seperti apa yang kamu bayangkan. " hardik Al marah karena Bia masih tetap mundur dan menjaga jarak dengannya.


Bia terdiam. Bingung harus bagaimana. Menjauhi Al tapi takut Al semakin salah faham dan marah. Tapi kalo Al mendekat, mualnya sudah tidak bisa tertahaan.


" Apaan sih kamu itu Mas. Bicaramu ngawur. Lebih baik kamu mandi sekarnag. " kata Bia sambil kembali mundur.


Al langsung mencengkram lengan Bia agar tidak lagi menjaga jarak denganya. Merengkuhnya dalam pelukannya.


" Dengerin penjelasanku. Jangan bersikap seolah aku ini seorang yang menjijikkan. " geram Al dengan tatapannya yang dingin.


Bia menahan nafasnya sejenak. Berharap bisa menahan rasa mualnya saat ini.


" Lepasin Mas. Kamu nyakitin aku. " seru Bia.


" Setelah kamu mendengar penjelasanku Bi. "tegas Al.


" Ya sudah. Sekarnag apa maumu ?! " kata Bia sembari menutup mulutnya.


" Aku gak tahu kalo Reiga menempatkan wanita itu menjadi sekretarisku. "


" Terserah. Itu bukan urusanku. " seru Bia sambil menepis tangan Al yang masih mencekram lengannya. Dia sudah tidak tahan lagi dengan aroma parfum Al.


" Dengarkan aku !! " bentaknya.


Bia sampai terlonjak kaget. Dia masih berusaha memberontak. Wajahnya sudah pucat. Karena sesekali menahan nafasnya agar tidak mual.


" Lepasin Mas. Aku udah gak tahan. Aku mohon. " pinta Bia smabil menangis.


Al tersentak dan langsung melepaskan lengan Bia. Setelah Al melepaskan tangannya, Bia berlari ke kamar mandi, dan langsung memuntahkan air mineral yang tadi diminumnya.


Bia sengaja mengunci pintu kamar mandi agar Al tidak bisa masuk.


" Bi,, buka pintunya !! " seru Al kesal karena Bia malah mengunci pintu kamar mamdinya.


" Keluarlah Mas. Aku sudah menyiapkan bajumu di ruang kerjamu. " teriak Bia tanpa membuka pintu kamar mandinya.


" Aku bilang buka Bi !!! " bentak Al sambil memukul pintu kamar mandi seolah hendak mendobraknya.

__ADS_1


" Papa,, ada apaa ? " tanya Fawwaz yang berada di belakang Al.


Al berhenti mengetuk dan mendobrak. Lalu berjongkok memeluk Fawwaaz dan menciumi wajah Fawwaz karena merindukannya.


" Papa udah pulang ? " tanya Faiz yang mengulurkan tnagannya untuk salim.


" Sudah sayang. " jawab Al dengan suara parau.


Al mendekap anak-anaknya dan menciuminya bergantian. Entah merasa sangat merindukan mereka. Seolah mereka baru saja bertemu setelah berpisah lama.


" Papa, kenapa menangis ? " tanya Fawwaz heran saat melihat Al sampai menangis.


" Papa merindukan kalian. " jawab Al smabil tersenyum dan mengusap sisa air matanya demgan lengannya.


" Papa sibuk bekerja. Sampai gak pernah mengajak Mas dan Adek bermain lagi. " gerutu Fawwaz.


" Maaf,, Maafkan Papa. " pinta Al sambil mencium telapak tangan keduanya.


" Dimana Bunda Pa ? " tanaya Faiz saat celingukan dikamar dan tidak menemukan Bia.


" Bundaa,,, !!! " panggil Fawwaz sambil mengetuk pintu kamar mandi.


Tidak ada sahutan. Al semakin khawatir.


" Bunda, jangan bercanda. Buka pintunya sekarnag juga !! " hardik Al panik.


" Papa, kenapa Bunda diam saja ? " sahut Faiz.


" Kalian berdua mundur dulu. Biar Papa dobrak pintunya. " titah Al.


Al mencoba mendobrak pintu itu. Di hentakan kedua baru pintu itu berhasil terbuka. Al segera masuk, tubuhnya menegang saat melihat Bia yang terduduk di depan bathtub dengan mata terpejam.


" Bunda,,, Bunda,,, " panggil Faiz dan Fawwaz.


" Mas,, Adek,, panggil Oma !! Suruh Oma memanggil dokter. " seru Al panik sembari menggendong Bia.


" Baik Pa. " seru keduanya.


" Hati-hati. Jangan lari. " sahut Al saat melihat keduanya berlarian.


Al merebahkan Bia diatas ranjangnya. Mengganti bathrobnya dengan baju rumahan. Dan juga memakaikan jilbabnya.


" Al,, apa yang terjaid ?! " seru Azalea saat masuk ke kamar Bia.


" Apa Mama sudah menelpon dokter ? " tanya Al panik smabil memciumi kening Bia dan tangan Bia.


Azalea tersenyum haru melihatnya.


* Anakku benar-benar sudah kembali. Alhamdulillah. * batin Azalea.


" Mama sudah menelpon dokter Sandra. Dia sedang dalam perjalanan. " kata Azalea sambil berdiri di belakang Al.


" Mama,, apa yang terjadi pada Kak Bia ? " tanya Zaskia khawatir sambil naik ke ranjang Bia. Mengusap kepala Bia dengan sayang.


Sudut bibir Zaskia tersenyum melihat Al yang khawatir sampai menangisi Bia.


* Alhamdulillah,, Kak Al udah kembali. *

__ADS_1


" Assalamualaikum. " sapa seorang dokter wanita seusia Azalea.


Dokter Sandra masuk diikuti Tian dan si kemabr yang masih bertangisan.


" Sini Mas,, Adek,, " seru Zaskia.


Anak-anaakpun duduk di sebelah kanan dan kiri Zaskia. Smabil menyandarkan tubuh mereka ke Zaskia. Terlihat jelas mereka takut terjadi apa-apa dengan Bia.


" Apa yang terjadi pada istriku dokter ? " tanya Al panik.


" Bu Bia dehidrasi Pak Al. " jawab dokter Sandra sambil memeriksa kondisi janinnya.


" Syukurlah tidak berakibat fatal pada janinnya. Janinnya kuat karena berada di rahim seornag Ibu yang kuat . " hibur Sandra.


" Oma dokter,, apa Bunda baik-baik saja ? " tanya Faiz.


Sandra dan Azalea nampak tertawa sejenak mendengar panggilan dari Faiz.


" Alhamdulillah Bunda sehat. "


" Dedek bayi,, jangan nakal,, nanti Bunda sakit. " kata Fawwaz sambil mengusap perut Bia.


Sandra kembali tertawa mendengar Fawwaz. Zaskia terkekeh begitupun dengan Tian. Al tersenyum getir. Merasa bersalah.


" Bu Bia sepertinya sedang banyak yang dipikirkan, jangan membuatnya berfikir terlalu berat. Bisa membuatnya terlalu banyak mual dan muntah. Perutnya kosong. Pasti Bu Bia malas makan karena takut mengalami morning sicknes. Saya sudah menyuntikkan vitamin untuk mengurangi mualnya dan juga penguat kandungannya. Kalo nanti Bunda bangun, paksa Bunda untuk makan ya anak-anak. "


" Siaaaapp Oma dokter !! " seru keduanya senang.


" Mari dokter. Saya antar ke depan. "


" Terima kasih Pak Tian. Bu Kia,, jangan sering emosi lho ya. Gak baik untuk kandungannya. " kata Sandra mengingatkan.


" Baik dokter. Terima kasih. " jawab Zaskia.


Al kembali menciumi tangan Bia, sesekali mencium kening Bia.


" Al,, mandi dan ganti baju dulu. " kata Azalea.


" Gak. Aku akan menunggunya disini. " tegas Al.


" Mama gak akan melarang kamu. Tapi lebih baik kamu mandi dulu. Kamu pasti sudah tahu kan kalo Bia selalu mual mencium aroma parfum kamu ? "


Al menghela nafas lalu memgangguk. Mau gak mau dia beranjak pergi dari sisi Bia. Menuju ruang kerjanya.


" Aku sedih melihat Kak Al seperti itu. " keluh Zaskia.


" Sebenernya Mama juga Ki. Tapi mau gimana lagi. Bawaan bayi. " jawab Azalea yang dijawab anggukan.


" Tante Kia,, ngantuk. " sahut Fawwaz.


" Tidurlah disamping Bunda. Mas Faiz gak ngantuk ? "


" Ngantuk sih Tante. Tapi nanti kalo Bunda bangun. Gak ada yang menyuruh Bunda makan. " jawab Faiz.


" Nanti, Oma yang suapin Bunda. " sahut Azalea.


" Makasi Oma. "

__ADS_1


__ADS_2