
Bia keluar dari kamar mandi lebih dulu. Membuka lemari Al. Memindai baju-baju Al yang kemungkinan bisa dia pakai sementara.
" Apa yang sedang kamu lakukan ? " tanya Al yang baru keluar dari kamar mandi.
Al memeluk Bia dari belakang. Menghirup aroma vanila di rambut Bia.
" Mas,, jangan mulai. " ancam Bia.
" Hahhaa,, gak. Aku hanya memelukmu. Aku tahu kamu capek. Aku juga lapar. "
Bia kembali mencibir melihat pantulan bayangan wajah Al yang tersenyum smirk.
" Senyummu mengatakan lain. " gerutunya.
Al kembali tertawa.
" Aku kan masih dalam masa penyembuhan. Jadi, harus sering-sering minum obatku. Dan memelukmu jadi booster kesembuhanku. "
" Halahh,, alasan. Itu hanya modus kamu kan Mas. " ejek Bia.
" Aku lapar Bi. "
" Iya. Aku juga. Salah Mas juga sih. Gak berhenti-berhenti. Aku jadi kesiangan masaknya. " omel Bia sambil menyikut perut Al.
" Gak usah masak. Aku sudah delivery order tadi. Mungkin udah sampai. "
" Memang kapan ordernya ? "
" Tadi, sebelum kita mandi bersama. " jawab Al sambil terkekeh.
" Heeemmmm,,, pantesan aja. "
Al tertawa lagi. Sedangkan Bia kembali memindai baju-baju Al.
" Kamu ngapaain ? Apa yang sedang kamu cari ? " tanya Al.
" Aku gak bawa banyak baju ganti. Baju yang aku bawa hanya tiga stel. Itupun baju gamis. Masa iya, siang-siang kayak gini aku pake baju gamis dirumah ?"
" Pakai bathrob ini aja gak apa-apa Bi. Atau gak pake baju juga gak aap-apa. Aku malah senang lihatnya. " goda Al lalu meniup telinga Bia.
" Isshh,, Mas. Udah sana dulu. Lama-lama kayak gini kamu makin berbahaya. "
" Kan aku udah bilang. Kamu canduku Bi. "
" Udah gombalnya. Bantu aku memilih baju kamu. Mana yang bisa aku pakai. "
" Kamu pakai apapun pasti cocok Bi. "
" Bukan masalah cocok atau gaknya Mas. Aku gak masalah memakai baju apapun. Masalahnya ini yang kira-kira muat di aku yang mana ? "
" Waktu itu aku masih lima belas tahun Bi. Tubuhku pun gak sebesar sekarang. Eeehhhmmm,, mungkin kemeja putih ini muat. " kata Al sambil mengambil kemeja putih di lemari.
" Muat. " seru Bia saat selesai membolak balikkan kemeja putih itu.
" Aku ke bawah dulu. Ambil makanannya. "
" Gak ganti baju ? "
" Bajuku ada di bawah sayang. " desis Al.
" Mas,, " tegur Bia.
" Ghazzy juga bagian dari kita Bi. Aku gak mau kamu melupakannya. Aku sangat berterima kasih pada Gahzzy karena sudah membuatku akhirnya bisa menikah denganmu lagi. "
" Kamu baik-baik saja nantinya ? " tanya Bia memastikan.
Bagaimanapun panggilan seperti itu hanya dilakukan Ghazzy. Tentu saja rasanya akan berbeda. Bia tidak mau Al merasa menjadi bayang-bayang Ghazzy.
" Cepat atau lambat pasti akan terbiasa sayang. Daripada aku di protes anak-anak nantinya. "
Bia tersenyum. Kemudian mengangguk.
" Gak mau memindahkan barang-barang kamu ke kamar ini ? " tanya Bia saat Al hendak keluar kamar.
" Nanti. Kalo kamu benar-benar berjanji akan tinggal bersamaku dimanapun aku berada. " kata Al sambil menutup pintunya.
__ADS_1
Bia menghela nafas panjang. Sebenarnya dia ingin tinggal di Surabaya. Setiap kali merindukan Ghazzy pasti bisa langsung ke makamnya. Tapi, pekerjaan Al ada di Kalimantan. Kalo dia tetap bertahan di Surabaya, itu artinya dia telah menjadi egois lagi.
Al mengikuti kemanapun langkah Bia. Menyiapkan makanan, mencuci piring kotor, membuang sampah. Selalu mengekori Bia.
" Mas,, lepas dulu. Aku mau telpon anak-anak. " keluh Bia kesal.
Dia sedang duduk di sofa ruang tamu tapi Al duduk disampingnya. Mendekapnya erat, sesekali menciumi leher Bia.
" Aku merindukanmu sayang. Aku ingin meluapkan rasa rinduku. " protes Al.
" Isshh,,, modus. " elak Bia sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan Al.
" Gimana caranya biar kamu percaya , heeemm ? "
Bia terkekeh dan menggeleng.
" Udah lepasin. Aku mau menelpon anak-anak. "
" Jangan dulu. Biar kita bisa program membuat adik untuk mereka. "
Mata Bia melotot mendengar perkataan Al.
" Tidak,, tidak,, lepasin. Iya, aku lupa gak minum ,,, "
Kalimat Bia menggantung saat Al berhenti menciuminya dan menatapnya penuh selidik.
" Lupa gak minum apa ? " tanya Al datar.
Bia menggeleng cepat.
" Jawab Bi ! " seru Al.
Nyali Bia menciut mendengar nada bicara Al menjadi tinggi.
" Bi,,, !! Jawab aku. "
Bia menunduk.
" Obat,,, penunda hamil. " jawab Bia takut tanpa mendongak.
" Dimana kamu letakkan obat itu ? Di koper kamu ? "
Bia mendongak seolah bertanya kenapa ?
Al mendengus kesal dan segera beranjak pergi ke kamarnya. Bia berusaha menjajari langkah Al yang semakin cepat. Bahkan tangan Bia yang menggandeng lengannya ditepisnya dengan kasar.
" Mas,, denger dulu. " pinta Bia.
Tapi Al tidak mau mendengarkannya. Dia membuka lemari pakaaiannya, membawa koper Bia dan melemparkannya ke atas ranjang. Memeriksa semua saku yang ada di koper Bia.
" Mas,, tenang dulu. "
Setelah beberapa lama mencari, akhirnya Al menemukan obat kontrasepsi di koper Bia. Meremat-remat obat itu, mengeluarkan satu per satu pil yang ada. Dan menginjak-injaknya dengan marah.
" Apa kamu benar-benar gak menghargaiku sebagai suami kamu Bi ? Kenapa ? Apa yang kurang dariku ? Apa yang harus aku lakukan supaya kamu bisa menerimaku ? Apa perasaanku selama ini kamu anggap lelucon Bi ?!! " geramnya marah.
Bia menunduk. Dia hanya membeli obat itu. Semula memang hanya untuk antisipasi kalo Al tiba-tiba meminta haknya.
Siap atau tidak siap,, Bia harus menuruti keinginan Al. Sekarang dia sudah menjadi istri sah Al. Hanya sjaa,, Disaat keadaan rumah tangganya dan Clara lebih baik. Bia tidak mau menjadi orang ketiga lagi yang memicu pertengkaran mereka. Tapi, kenyataannya, malah dihadapkan dengan meninggalnya Clara.
Bia terlonjak kaget saat Al tiba-tiba memukul pintu lemari pakaiannya. Dia mendekati Al. Memeluknya dari belakang. Mengusap dadanya agar lebih tenang.
" Aku buutuh jawaban Bi. " kata Al tanpa menoleh.
" Aku sudah meminta Mas untuk mendengarkan dulu kan tadi ? Aku sudah meminta Mas tennag dulu. " jawab Bia dengan suara tercekat.
Al menghela nafas menenangkan emosinya. Menyadari kalo sekarang Bia tengah ketakutan disampingnya. Al meraih tangan Bia dan menariknya untuk duduk diatas ranjang.
" Maafkan aku. Tapi aku butuh penjelasan. " kata Al sambil mengusap pipi Bia.
" Aku akan menjelaskannya Mas. Tapi gak usah pake emosi. Aku takut. " jawab Bia getir. Hingga tak sadar air matanya menetes.
Al mengusap air mata Bia. Dan mencium keningnya lama. Satu tetes air matanya jatuh di pipi Bia. Membuat Bia trenyuh. Dia memeluk Al untuk sama-sama menenangkan diri.
__ADS_1
" Maafkan aku sudah membuatmu takut Bi. Aku terlalu emosi. "
Speeti pasangan yang lainnya. Setelah menikah pasti ingin segera memiliki anak. Begitupun yang dirasakan Al. Dia ingin memiliki segera memiliki anak dengan Bia. Benar-benar buah cinta mereka. Tidak seperti dulu, ada campur tnagan dokter yang sednag melakukan program inseminasi.
Bia mengangguk kemudian melepaskan pelukannya.
" Kita bicara sekarnag ? " tanyanya memastikan.
Al mengangguk.
" Aku bukannya gak menghargai kamu Mas. Tapi PR kita masih banyak. Karena itu, aku belum siap kalo nanti hamil. Meskipun aku juga sangsi apa bisa hamil tanpa inseminasi lagi. "
" Sejak dulu kamu bilang PR ku banyak. Sekarang PR kita. PR apa yang kamu maksud Bi. "
" Kita masih punya hutang penjelasan Mas. "
" Hutang penjelasan ? "
" Memberi penjelasan pada anak-anak. Memberi penjelasan pada Tante Naya dan Om Mark. "
" Anak-anak ? Memangnya kenapa dengan anak-anak ? "
" Mas, mereka tahunya kamu, Papa mereka. Suami dari Mama Ara. Gimana kamu akan menjelaskan pada anak-anak kalo sekarang kita sudah menikah. Belum nanti kita menjelaskan pada anak-anak kalo Kak Clara sudah meninggal. Kalo di Surabaya, Ayah mereka ada makamnya. Mas belum menunjukkan pada anak-anak makam Kak Clara. Aku yakin mereka masih menganggap Mama Ara mereka masih hidup. "
Al terdiam, memikirkan perkataan Bia dengan sunghuh-sungguh. Dan memang masuk akal.
" Lalu apa hubungannya dengan Tante Naya dan Om Mark ? Bukannya mereka sudah mau menerima kenyataannya kalo kita sudah menikah ? "
" Lalu bagaimana kamu menjelaskan pada mereka hubunganmu dnegan anak-anak ? Tante Naya dan Om Mark belum pernah bertemu dengan anak-anak. Dan kita gak mungkin menyembunyikan mereka terus kan. Apa yang akan Mas bilang pada mereka kalo mereka melihat mata anak-anak sama sepertimu Mas. Apa mereka nanti gak berfikir yang tidak-tidak pada kita ? "
Al kembali terdiam.
" Ini yang aku maksudkan dengan aku masih perlu waktu Mas. Sejak kita menikah. Apalagi saat kamu mengajakku untuk tinggal di Kalimantam bersama Kak Clara.
Karena aku tahu, dimanapun kita tinggal nantinya. Salah satu diantara aku dan Kak Clara hanya akan jadi konsumsi publik. Salah satu dari kami hanya akan menjadi bahan ejeekan.
Mungkin, aku bisa menerimanya, tapi Kak Clara ? Dari status sosialnya sjaa kita tahu, Kak Clara gak mungkin bisa menerima cemohan masyarakat nantinya.
Mas pikir aku seegois itu membiarkan Kka Clara dijatuhkan mental dan harga dirinya ? Kita sudah menyakitinya dmegan menyeretnya ke hubungan complicated kita. "
" Lalu,, obat itu ? Kenapa kamu sampai mengkonsumsinya ? "
" Demi Allah Mas. Aku hanya membelinya. Aku gak pernah minum satu kali pun. " tegas Bia.
" Lalu kenapa membelinya ? "
" Aku pikir ketidak datangan Mas ke Surabaya karena rumah tangga Mas dan Kak Clara sudah lebih baik. Aku juga gak mungkin menolak Mas kalo tiba-tiba ingin meminta hakmu. "
" Karena itu kamu antisipasi, takut kamu dan anak kita nantinya akan menjadi ornag ketiga lagi diantara aku dan Clara ? "
Bia mengangguk pasti. Al memijat pelipisnya yang cenut-cenut kepikiran dengan yang dikatakan Bia.
" Kita hanya bisa minta tolong pada Mama dan Kia untuk membantu kita menjelaskan baik pada anak-anak ataupun pada ornag tua Kka Clara. Tapi, lihatlah. Kamu masih aja mendiamkan mereka. Memberikan jarak pada mereka. Lalu, kita mau minta tolong pada siapa lagi ? "
Al masih tetap terdiam masih memijat keningnya.
" Kenapa ? Pusing ? "
Al mengangguk.
" Itu karena Mas tiba-tiba emosi gak jelas. Aku harap ini terakhir kalinya Mas emosi gak jelas seperti ini. "
" Cckkk,, aku sedang kesakitan. Tapi kamu masih gak berhenti mengomeliku Bi. "
Bia terkekeh sejenak. Kemudian Bia menggeser tubuhnya ke tengah ranjang menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang. Lalu menepuk-nepuk pahanya.
" Tidurlah. Aku bantu memijat keningnya. "
Al tersenyum sumringah. Lalu segera merebahkan kepalanya di pangkuan Bia.
" Maafkan aku, Bi. Aku gak berfikir sejauh itu. Aku hanya bahagia bisa menikah dan tinghal bersamamu lagi. " pintanya sambil mengusap wajah Bia.
" Hheeeemmm,,, kalo maafku kemarin ada syaratnya. Speertinya kali ini aku juga harus memikirkan syaratnya. " gurua Bia.
" Kamu mau kita melakukannya lagi ? Kita buat adik untuk si kemabr lagi ?! " seru Al sennag.
__ADS_1
" Enak aja. Gak. Aku akan memikirkannya nanti. "
Al mendengus kesal. Kali ini Bia yang tertawa menang.