Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 138


__ADS_3

" Alex. Aku ingin bicara. " tegas Mark saat sampai di mansion milik orang tua Alex.


Alex mengurungkan niatnya untuk masuk ke ruang kerjanya. Seharian tidak ke kantor, dia yakin pekerjaannya pasti sangat menumpuk.


" Kita bicara di ruang keluarga saja Om. " jawab Alex.


" Baiklah. " ujar Mark.


Mark berjalan beriringan dengan Alex. Tangannya mendekap Alex dan sesekali menepuk pundak Alex yang kini sudah melebihi tinggi badannya. Alex sudah terlihat gagah seperti adiknya dulu. Mark menghapus satu buliran air disudut matanya sebelum terjatuh dipipinya. Dia merindukan adiknya dulu, dan melihat Alex seolah tengah melihat adiknya.


" Ada apa Om ? " tanya Alex to the point.


Alex tahu Mark tengah merindukan Papanya. Dia menyadari Mark yang tengah menghapus air matanya tadi. Alex sadar, sedikit banyak kehadirannya pasti membuat Mark teringat dengan adiknya dulu.


" Aku yang harusnya bertanya seperti itu. Ada apa denganmu ? " tanya Mark.


Tentu saja Alex bingung dengan pertanyaan Mark. Naya menatap Mark dan Alex bergantian. Naya juga bingung dnegan maksud pertanyaan Mark pada Alex.


" Aku ? Memangnya aku kenapa Om ? " tanya Alex bingung.


" Aku harap aku salah. Aku harap ini hanya pikiran bodohku saja. "


" Maksud Om ? "


" Kamu,, gak sedang menyukai Bia kan ? " tebak Mark.


Naya tercengang mendengar tebakan Mark. Bagaimana mungkin ? Bia kan sudah menikah dengan temannya sendiri. Pikirnya.


Alex tertawa sejenak. Sedikit keki dengan tebakan Mark. Memang sedari dulu, Alex tidak pernah bisa menyembunyikan perasaannya pada dua orang ini. Karena selalu saja tertebak.


" Tawamu semakin memperjelasnya Alex. " tegas Mark.


Tawa di wajah Alex lama kelamaan berhenti hingga menyisakan satu senyuman saja.


" Apa boleh Om ? " gumamnya.


" Alex. " ujar Naya tidak percaya.


" Aku benar kan. Harusnya dulu Om menikahkan Bia denganku saja. Kenapa harus dengan Al ? Apa Bia tidak cukup menjadi pengganti Clara sebagai putri kalian saja ? Kenapa dia juga harus menjadi pengganti Clara sebagai istri Al ? "


" Bagaimana bisa Alex ? Bukannya kamu sudah tahu kalo Bia sudah menikah dan mempunyai lima orang anak. " seru Naya.


" Anak-anak Bia itu menggemaskan Tante. Sama seperti Bia. Tidak sulit untuk bisa langsung menyayangi mereka. " jawab Alex sesekali terkekeh mengingat saat kebersamaannya dengan Faiz dan Fawwaz tadi.


" Apa bukan hanya karena kamu sedang terobsesi untuk memancing emosi Al saja ? " tebak Mark lagi.


" Ehhhmmm,,, mungkin salah satunya. Hahaha. "


" Alex,, seriuslah. " tegas Naya.


" Awalnya hanya ingin memancing emosi Al saja Tante. Tapi, aku gak tahu. Sejak Bia menjadi sekretaris pribadi Al di kantor. Bia selalu bisa dengan mudah menenangkan emosi Al. Gak seru Tante. " gurau Alex.


" Itu, karena Al terlalu mencintai Bia, Lex. Butuh waktu lama akhirnya Al bisa memiliki Bia. Karena itu dia sangat bucin pada Bia. " jawab Naya.


" Kalo Al sebucin itu apda Bia. Tentu dia tidak akan terlibat affair dengan sekretaris Ayden. Itu gak adil untuk Bia. " protes Alex.


" Ayden ? Ayden siapa ? " tanya Mark sedikit emosi setiap kali mendengar nama Ayden.

__ADS_1


" Ya. Ayden yang sama. Ayden Alkatiri. Sahabat Al dan Clara. Laki-laki pengecut yang membatalkan pertunangannya dengan Clara. " jawab Alex emosi.


" Kamu mengenalnya ? " tanya Naya bingung.


" Tante pasti tahu kalo Clara selalu menceritakan ten.tang apapun padaku lewat email, tentang aktivitasnya sehari-hari. Tentang sahabat-sahabatnya. Tentang Ayden dan juga Al. Sejak menikah, aku hampir kehilangan kontak dengan Clara. Dia sepertinya sibuk dengan status barunya. Sampai aku mendnegar kabar tentnag kematiannya. Al pasti tidak bisa menjaga Clara dengan baik sampai Clara bisa sakit dan meninggal. " jawabnya.


Rahang Alex mengeras dan tangannya terkepal. Pertanda sedang emosi.


" Karena itu, kamu selalu saja memancing emosi Al ? " kata Naya.


" Aku akui, Al memang sangat beruntung. Dia selalu di kelilingi orang-orang hebat yang bisa menenangkannya. Terlebih sekarang ada Bia. Jujur saja, aku iri Om. Aku bahkan ingin merebut Bia dari Al. Bia tidak pantas untuk laki-laki seperti Al. "


" Lalu kamu pikir, seorang casanova sepertimu yang cocok utnuk Bia ? " sindir Naya kesal.


Alex tertawa keki. Sekali lagi perasaannya tertebak oleh Naya.


" Kalo aku mempunyai istri speerti Bia. Aku yakin bisa berhenti menjadi casanova Tante. " gurau Alex.


" Kenapa kamu yakin sekali Bia mau dneganmu ?! " gerutu Naya.


" Aku punya segalanya Tante. Kekayaanku sama dengan Al. Dan secara fisik, aku juga gak kalah dari Al." jawab Alex dengan pedenya.


" Hahahh,,, kamu salah menilai tentnag Bia Alex. " ejek Naya sambil tertawa. Begitupun dnegan Mark.


Tentu saja membuat Alex bingung. Salah ? Bukannya semua wanita itu sama saja ? Dikasi harta nanti juga akan luluh sendiri. Pikirnya.


" Ini surat terakhir Clara, yang kami temukan dibuku pemberian Bia untuk Clara. Bacalah. Dan kamu akan mengerti kenapa Al sampai sebucin itu pada Bia. " kata Naya sembari memberikan buku Clara lengkap dengan kertas yang berisi surat dari Clara dari dalam tasnya.


Alex menerima buku itu. Dia membolak balikkan buku tebal yang diberikan Naya. Alisnya berkerut.


* Keutamaan sholat tahajud ?? Sejak kapan Clara menyukai buku seperti ini ? Bukannya Clara jurusan hukum di Singapura dulu ? * batin Alex.


Mark menepuk bahu Alex lalu beranjak menuju kamarnya dnegan menggandeng Naya. Meninggalkan Alex yang masih terdiam melihat buku itu.


Alex membawa buku itu ke ruang kerjanya. Tapi bukan untuk membacanya. Dia meletakkan buku itu disamping berkas-berkas perushaan. Seperti yang dia duga, pekerjaannya menumpuk karena seharian tidak ke kantor. Kedatangan Mark dan Naya membuatnya senang bahkan mengalihkan perhatiannya yang ingin mengajak Bia makan siang.


****


Alex meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Dilihatnya jam sudah menunjuk angka dua belas malam. Sudah empat jam Alex memeriksa semua berkas perusahaannya. Rasa kantuk sudah menyerangnya sedari tadi. Saat meletakkan sebotol air mineral dimeja. Alex tidak sengaja menyenggol buku milik Clara. Kertas dengan tulisan tangan Clara juga ikut terjatuh.


Alex memungut kertas itu dan kembali duduk di kursinya. Membuka kertas itu dan langsung membacanya.


Air mata Alex menetes begitu saja. Setelah membaca surat yang ditulis Clara. Meskipun Clara mempunyai orang tua lengkap tapi dia juga kesepian sepertinya. Alasan yang smaa. Karena keduanya sama-sama anak tunggal.


Kalo Clara sudah berubah speerti foto yang diselipkan Naya disana. Fotonya bersama Bia dan kedua anaknya. Pasti karena Bia bisa menghapus kesepian Clara selama ini.


" Ahh,, Bia. Aku semakin penasaran sama kamu. Kalo Clara bisa berubah lebih baik. Clara,, apa aku juga bisa berubah lebih baik ? Aku terlalu banyak dosa Bia. Apa Tuhanmu bisa memaafkan aku ? Berapa banyak gadis yang sudah aku hancurkan masa depannya. " gumam Alex sedih.


******


Alex terbangun saat mendengar suara ketukan pintu di ruang kerjanya.


" Aku mandi dulu Tante. Sebentar lagi aku keluar. " serunya tanpa membuka pintu.


Alex menyandarkan tubuhnya dikursi. Dia ketiduran di kursi semalam. Bahkan masih memegang kertas dan foto Clara bersmaa Bia.


" Mungkin karena melihat foto ini, aku jadi memimpikan Clara. " ujarnya.

__ADS_1


Alex memejamkan matanya untuk mengingat mimpinya tadi. Dia melihat Clara dengan gamis dan hijab berwarna putih. Sangat cantik dan wajahnya terlihat sangat bercahaya. Dia hanya tersenyum sembari melambaikan tangannya agar Alex mengikutinya. Kalo tidak salah lihat, Clara menunjuk satu gedung di depannya. Eehhmm,, terlihat seperti sebuah masjid. Dan dimasjid itu, ada Mark, Naya dan juga,, Bia bersama keluarga Al.


" Apa kali ini kamu juga melihatku yang sedang galau Clara ? Apa kamu juga ingin aku berubah ? Aku merindukanmu Clara. " gumam Alex sambil mengusap foto Clara.


*****


Wimpi berdiri saat melihat Bia tengah rapi keluar dari kantor Al. Seperti mau pergi.


" Non Bia mau kemana ? " tanya Wimpi.


" Berkas meeting Mas Al ketinggalan Kak Wimpi. Aku akan mengantarkannya ke hotel X. " jawab Bia.


" Hotel X ? Kenapa ke hotel Non Bia ? "


" Kliennya menginap disana. Jadi, mereka meeting di restoran yang ada di hotel itu. "


" Saya antar Non. " tawar Wimpi.


" Gak usah Kak. Mas Al sudah menyuruh supir perusahaan untuk menjemputku. Dia sudah ada di loby sekarang. "


" Tapi, Non. "


" Kak Wimpi,, tenang aja. Aku akan baik-baik saja. Ada Mas Al dan Reiga disana. Kalo Kak Wimpi pergi juga, yang jaga disini siapa ? "


Wimpi menghela nafas sejenak. Berusaha untuk tnenag. Karena memang sedari tadi hatinya sangat gelisah. Tapi mau bagaimana lagi, ini masih dikantor. Wimpi tidak di sikon menjadi bodyguard Bia. Tapi sekretaris Al. Tentu saja dia harus tetap standby disnaa. Apalagi Reiga juga sedang tidak ada di tempat.


Bia menggenggam tangan Wimpi yang terlihat gelisah.


" Aku akan baik-baik saja Kak. Tenanglah. Toh, Kak Wimpi juga sudah memasang GPS di ponselku. "


" Iya sih Non. Tapi beneran gak enak Non. "ujar Wimpi gelisah.


" Sekarnag kita kan jadi sekretaris. Harus bisa profesional dulu. Oke. " tegas Bia menghibur.


" Baiklah Non. Tolong, berhati-hatilah Non. " pinta Wimpi sembari menggenggam balik tangan Bia.


" Iya, Kak Wimpi. Tenang sjaa. Aku pergi. " jawab Bia.


Wimpi hanya mengangguk pelan.


* Kenapa hatiku segelisah ini ? Ada apa ? *


Wimpi kembali duduk dan menenangkan dirinya. Sangat tidak nyaman dengan perasaannya saat ini.


******


Bia celingukan setelah keluar dari loby perusahaan. Mencari supir perusahaan yang dimaksud Al di telponnya tadi.


Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dengan keras. Bia menoleh.


" Ikut aku sekarang. " kata orang yang menepuk pundaknya sambil membuka pintu belkang mobil.


Bia tiba-tiba merasa blank. Kosong. Tidak bisa berfikir apapun. Hanya mengikuti wanita yang tengah menyuruhnya masuk ke dalam mobil tanpa bicara lagi.


" Duduk dan diam saja. " kata wanita itu lagi.


Bia duduk di mobil dan hanya mengangguk patuh. Wanita itu tersenyum. Lalu menelpon seseorang.

__ADS_1


" Halo Ayden. Aku sudah berhasil membawa Bia. Yah , dia sudah aku hipnotis, dia akan menuruti perintahku. Sesuai rnecana kan. Aku akan membawanya ke hotel X. Temui aku di loby hotel. " kata wanita itu lalu masuk ke mobilnya dan melajukan mobilnya ke arah hotel X dimana Ayden berada.


__ADS_2