
Hari-hari telah berlalu berganti bulan. Sudah memasuki bulan kedua kehadiran Farash, Farish dan Arra. Faiz dan Fawwaz sudah mulai bersekolah. Semuanya baik-baik saja. Sampai masuk ke bulan kedua ini, ada yang berbeda dari Al.
Dia terlihat gelisah setiap kali berada didekat Bia. Seperti sedang menutupi sesuatu. Kegelisahan yang tertangkap jelas di mata Bia. Tapi dia tidak punya keberanian untuk menanyakannya pada Al.
Wimpi masuk kerumahnya dengan membawa sebuah paket. Alisnya berkerut, paket itu tipis seperti berisi foto atau kertas. Dan herannya lagi, itu tertuju untuk Bia. Tidak pernah satupun paket untuk Bia selam ini.
Wimpi menyembunyikan paket itu saat melihat Bia tengah menggendong Arra sambil mengantarkan Al ke mobilnya.
" Kak Wimpi,, bisa bantu aku sebentar ? " tanya Bia saat melihat Wimpi tidak jauh dari mobil Al yang sudah keluar dari pagar rumah mereka.
" Iya Non. " jawab Wimpi sembari menggendong Arra.
" Bisa kita bicara di ruang kerja Mas Al Kak ? " tanya Bia.
Wimpi hanya mengangguk. Bia sudah lebih dulu ke ruang kerjanya. Wimpi meletakkan Arra di strollernya bersama Farash dan Farish. Mereka sedang bersama Bik Amy. Randy sedang mengantarkan Faiz dan Fawwaz sekolah yang minta ditemani Azalea.
Bia duduk di sofa ruang kerja Al. Dia minum air mineral yang dibawahnya dari dapur.
" Duduk Kak. " kata Bia mempersilahkan.
" Iya Non. Ada apa Non ? Apa memerlukan sesuatu ? " tanya Wimpi saat duduk di depan Bia.
Bia menghirup nafas panjang kemudian melepaskannya perlahan. Dia sadar apa yang akan ditanyakannya bisa mengumbar aib rumah tangganya nanti.
" Kak Wimpi,, ehhmm,, aku hanya ingin bertnaya. Mas Al,, tidak terjadi apapun pada Mas Al kan ? Maksudku,, tidak ada,, ehhmm,, seperti dulu lagi ? "
Bia menunduk, bingung bagaimana menjelaskan pada Wimpi maksud hatinya.
" Maksud Non Bia,, apa ada teluh seperti dulu ? "
Bia tersenyum senang lalu mengangguk. Wimpi tersenyum sejenak kemudian menggeleng.
" Alhamdulillah. " ujar Bia.
" Meskipun aku akui, Tuan Al masih snagat rawan terkena teluh Non. Karena dulu sudah pernah terkena."
Jawaban Wimpi membuat senyum diwajah Bia sedikit demi sedikit menghilang.
" Lalu apa yang harus aku lakukan Kak Wimpi. "
" Seperti yang dibilang Ustadz Yahya Non Bia. Non Bia lebih tahu apa yang harus dilakukan disepertiga malam Non Bia. " gurau Wimpi.
__ADS_1
" Ckk,, ayolah Kak. Aku serius. Aku saja baru selesai masa nifas. Kemarin-kemarin kan aku gak bisa sholat malam." keluh Bia.
" Teluh itu insyaallah tidak akan sampai kerumah ini Non. Ustadz Yahya sudah membuat pagar ghaib untuk melindungi rumah ini. Tapi kita gak tahu apa yang akan terjadi diluar rumah. Di kantor misalnya. " jelas Wimpi untuk menenangkan Bia.
Bia kembali menghela nafas.
* Ada benarnya juga sih. Masa iya mau membuat pagar ghaib di kantor Mas Al juga. Astaghfirullahaladzim,, kenapa aku jadi seperti ini ? Seolah aku gak percaya pada kuasa Allah. * Batin Bia.
" Apa terjadi sesuatu pada Tuan Al Non ? " tanya Wimpi ragu.
" Ehhmm,, sepeetinya Mas Al,, sedikit berubah Kak. Entahlah,, aku merasa sepeti sedang gelisah aja. Bahkan kalo aku ajak ngobrol tentnag perkembangan anak-anak, Mas Al dengerin juga ngerespon. Tapi mata Mas Al kayak kosong. Kayak sedang memikirkan sesuatu. " jelas Bia bingung.
" Mungkin Tuan Al sedang banyak pekerjaan Non. Fokusnya jadi kebagi. " hibur Wimpi.
" Iya juga sih. Anggap aja seperti itu Kak. Biar gak negative thinking nanti. " gurau Bia sambil tersenyum sedikit lega.
" Oh iya. Ini ada paket untuk Non Bia. " kata Wimpi sambil menyerahkan paket itu ke Bia.
" Paket ? Aku gak sedang membeli apapun lho. "
Bia membolak balikkan paket itu dan memang ada namanya disana. Lalu Bia membuka paket itu. Ternyata berisi sebuah amplop coklat, Bia menatap Wimpi yang hanya mengangguk. Keduanya tahu pasti isinya berupa foto-foto.
Tidak sadar kalo ada satu foto yang terjatuh di bawah meja. Bia menghela nafas berkali-kali sambil beristghfar menenangkan gemuruh dalam hatinya. Dia memejamkan matanya. Menyandarkan tubuhnya ke sofa. Air matanya luruh begitu saja.
* Mas Al,, kenapa ? Apa ini yang membuatmu gelisah selama ini. * batinnya.
Wimpi memindai semua foto-foto Al yang tengah memeluk seorang wanita di satu selimut. Alis Wimpi kembali berkerut.
* Wanita ini,, dimana aku melihatnya ya. Aku yakin Tuan Al tidak mungkin melakukan hal ini. Pasti ada yang sengaja menjebaknya. * batinnya.
Wimpi melihat Bia menangis saat matanya terpejam. Kemudian dia menggenggam tangan Bia. Membuat Bia membuka matanya .
" Aku yakin ada yang sengaja menjebak Tuan Al Non Bia. Tuan Al gak mungkin melakukannya, semua ornag tahu sebucin apa Tuan Al pada Non Bia. Tuan mencintai Non Bia sedari dulu. Gak mungkin sebodoh itu melakukan hal ini. "
" Siapa Kak. Siapa yang tega menjebak Mas Al seperti ini ? Lalu apa untungnya ? "
" Non Bia,, Tuan Al itu seorang CEO Dewandaru. Perusahaannya snagat maju bersaing dengan perusahaan lainnya. Pasti banyak pengusaha-pengusaha culas yang menginginkan kehancuran Tuan Al. Pasti mereka juga tahu kalo kekuatan Tuan Al ada di keluarganya. Karena itu, mereka dengan sengaja mengirim paket ini kerumah ini. Dan ditujukan untuk Non Bia. " jawab Wimpi.
" Aku gak tahu harus bagaimana Kak Wimpi. " kata Bia sambil membalas genggaman Wimpi.
" Aku akan mencari tahu apa yang terjadi di kantor Tuan Al. Aku akan menyelidiki siapa wanita itu Non. "
__ADS_1
" Terima kasih Kak Wimpi. Aku menunggu hasilnya Kak."
" Secepatnya Non. Sekarang lebih baik Non Bia tenang dulu. Apa boleh foto-foto ini aku yang menyimpannya ? Takutnya anak-anak tahu tentang ini. " tanya Wimpi.
* Bukan tentang anak-anak, tapi aku yakin aku pernah melihat wanita itu sebelumnya. * batin Wimpi.
" Tolong simpan saja Kak. Kalo nanti urusannya sudah selesai. Bakar aja Kka. "
" Baiklah Non. "
Bia menghela nafas lalu menghapus air matanya. Terdengar suara tangisan dari Arra diluar sana.
" Kak, aku keluar dulu. Sepertinya Arra nangis. " pamit Bia.
Wimpi mengangguk, setelah membereskan semua foto-foto itu Wimpi mengikuti Bia beranjak dari ruang kerja Al.
" Ada apa Bik ? Kenapa tiba-tiba menangis ? " tanya Bia sembari menggendong Arra.
" Itu Non. Mas Faiz pulang lebih awal tadi, kata Randy lagi gak enak badan. Datang-datang main cubit pipi Arra. " kata Bik Amy sambil tertawa sembari menennagkan Farash dan Farish yang nampak terganggu dengan suara tangisan Arra.
" Hahhah,, Mas Faiz,, usil aja memang sama adiknya. " sahut Wimpi.
" Dimana Faiz sekarang Bik ? " tanya Bia sembari duduk untuk memberikan ASI pada Arra.
" Sepertinya di kamar Non. Tadi setelah mencubit pipi Arra sampai nangis, dia lari kedalam rumah Non. "
" Heemmm,, ya sudah nanti aja aku tanyakan kenapa pulang lebih awal. " kata Bia.
Faiz keluar dari tempat persembunyiannya. Dibalik tirai ruang kerja Al. Yah,, niatnya tadi ke ruang kerja Al untuk mengadukan keadaanya yang tiba-tiba pusing. Tapi saat mendengar isakan tangis Bia, Faiz mengurungkan niatnya dan mendenagrkan pembicaraan Bia dan Wimpi.
Faiz menghapus air matanya, sebenarnya sedari tadi ingin keluar dan menghapus air mata Bundanya. Tapi dia masih penasaran foto apa yang membuat Bundanya sampai menangis.
Faiz mendekat ke arah sofa. Saat melihat di meja tidak ada satupun yang memcurigakan. Dia mendnegus kesal. Dia menendang sofa itu dnegan kesal, tapi yang ada kakinya yang malah sakit.
" Aduuh,, kakiku,,, " rintihnya sambil terduduk dibawah melihat kakinya.
" Aduuhh,, sampai berdarah. Bunda,, kukunya mau copot. " gumam Faiz diantara sakitnya.
Faiz meraih sandaran sofa agar bisa membantunya bangun. Tapi matanya menemukan satu foto di bawah meja. Dia mengambil foto itu.
" Pantesan aja Bunda sampai menangis. Papa keterlaluan. " geramnya sambil mengusap sisa air matanya dengan kasar.
__ADS_1