
" Lakukan saja tugas Om Leon. Jangan bicara apapun padaku. Aku masih marah pada kalian semua. " tegas Al saat dia melihat wajah sumringah Leon setelah keluar dari ruang operasi.
Leon menghela nafas panjang. Susah untuk mencairkan orang sedingin Al.
" Aku juga sedang tidak ingin bicara denganmu. Aku hanya mau menjelaskan prosedurnya. "
" Berapa lama Fawwaz akan sadar. "
" Kita harus terus mengawaasinya. Sama seperti Kia dulu. Harus memastikan tubuhnya tidak menolak donor darimu. "
" Tentu saja tidak akan menolaknya. Aku Papanya. " sindir Al.
" Meski kamu kakak kandung Kia. Kamu pun tidak bisa mendonorkan darahmu. " kata Leon balik menyindir.
Al mendnegus kesal mendengarnya.
" Kita harus lakukan beberapa tes. Aku,, "
" Tes apalagi ? Masih meragukan aku yang Papanya ?!"
" Al,, !!! " tegur Leon kesal.
" Aku akui memang telah bersalah memalsukan tes DNA kamu dulu. Tapi, ini untuk Fawwaz. Dia masih terlalu kecil untuk kemungkinan terburuknya nanti. Aku harus memastikan dalam darahmu tidak lagi tercampur miras. " jelas Leon dengan sedikit melunak.
" Sudah hampir dua tahun aku tidak menyentuh miras lagi. " ujarnya.
" Benarkah ? Aku sennag mendengarnya. Biar prosesnya cepat dilakukan. Jenuh aku lihat wajah sinismu itu. " ejek Leon.
" Ikutlah dengan perawat itu, aku harus mengecek kondisi Fawwaz. "
" Om Leon meninggalkanku ?! "
" Memangnya kamu Faiz yang harus aku gendong ? Sudah setua ini masih saja angkuh. "
" Harusnya itu sindiran untuk Om. Aku setua ini sudah punya dua ekor. Gimana dnegan Om sendiri. Opa kapan akan menikah. "
" Itu kan karena kamu beruntung saja. Lihat saja, kamu dan Clara bahkan belum punya. " sindir Leon.
Rahang Al mengeras. Pertanda marah dengan kalimat Leon barusan. Tapi Leon tidak perduli.
" Bawa dia !! " titah Leon kesal kepada seorang perawat laki-laki.
Leon tertawa melihat ekspresi Al yang marah. Kemudian keluar untuk mengecek kondisi Fawwaz dan Bia. Juga memastikan kondisi Ghazzy stabil setelah operasi.
" Apa kabar Bia ? " tanya Leon saat masuk kamar Bia.
Faiz juga sudah bangun dan masih duduk di atas ranjang Bia. Bermain dengan mobil remot yang tadi dibelikan Al.
" Alhamdulillah baik Om. "
" Aku lihat kakimu dulu Bia. "
Bia mengangguk.
" Ini bagaimana ? Apa aku ke atas ranjang dulu Om ? "
" Itu lebih baik Bia. Sini biar aku bantu. "
" Tidak. Jangan sentuh dia !! " hardik Al yang tiba-tiba muncul dikamar Bia.
Semuanya menoleh.
" Papa,, ! " seru Faiz senang.
" Ki,, bantu aku. " bisik Bia pelan hingga hanya terdengar oleh Zaskia.
Zaskia menatap Bia heran kemudian mengangguk saat Bia mengerling padanya. Menunjukkan dagunya ke arah Clara.
__ADS_1
Bia sengaja berdiri dengan berpegangan pada Zaskia. Dan hendak maju beberapa langkah. Tapi Al segera menggendongnya dan membaringkannya di atas ranjang. Dekat dengan Faiz.
Semuanya melongo tak terkecuali Faiz. Apalagi Leon dan Tian. Mereka pikir Al hanya akan memapah Bia. Bukannya menggendongnya.
" Aku bisa melakukannya. Jangan ceroboh lagi. " omelnya di telinga Bia.
" Ceroboh bagaimana. Aku memang bisa kok. " protesnya. Mulutnya mengerucut karena kesal.
" Kalo tidak ada mereka. Aku bisa mencium bibirmu itu Bi. " bisiknya sambil meniup telinga Bia.
Bia bergidik ngeri. Al hanya tersenyum melihat ekpresi Bia. Kemudian memberikan tempatnya untuk Leon.
" Sudah. Ngapain kamu disini. Gangguin saja. " omel Leon.
Azalea tersenyum. Sudah lama tidak melihat adik dan anaknya adu mulut.
" Anak Papa sudah bangun. "
" Sudah Pa. Papa darimana ? Kok Mama sendirian ?"
" Kan ada Bunda, Tante dan Oma. " kata Al sembari duduk diatas ranjang Bia dan mendudukkan Faiz dipangkuannya.
Hati Tian terasa nyeri. Begitupun dengan Clara.
* Harusnya bukan Al yang duduk disana. * batin Tian.
" Opa Leon. Kaki Bunda belum sembuh ? "
" Belum sayang. Ini masih proses. Bunda jangan boleh jalan dulu ya. Harus tetap dikursi roda. Biar cepat sembuh. "
" Ssiiaaapp Opa. Bunda,,jangan nakal. Turuti apa kata Opa. " kata Faiz sembari mengacungkan jari telunjuknya.
Spontan semua yang ada disana tertawa melihatnya. Bia mengusap kepala Faiz dan mencubit pipinya yang gembul.
" Iiisshh,, sekarang nakal ya. Udah ngeledekin Bunda. besok Mas Faiz harus bantuin Bunda latihan jalan ya."
Bia tersenyum keki. Dia langsung melihat Clara yang menunduk. Berbeda denagn Al yang tampak senang mendengarnya.
" Tentu saja. Papa akan menggendong Bunda. " kata Al sambil mencium pipi Faiz.
" Jangan dong Mas,, nanti Mama iri dong. " gurau Bia sambil memegang tangan Faiz.
" Kan sementara Bun. Sampai Ayah sembuh. Kalo Ayah sudah sembuh pasti Ayah yang gendong Bunda. "
Bia mencium tangan Faiz senang karena anaknya mengerti. Tawa di wajah Al sedikit demi sedikit menghilang. Ekspresi itu terekam jelas dipikiran orang-orang yang ada disana.
" Mas Faiz,, mau ikut ke kamar Ayah dan Adek Fawwaz ?" tanya Leon.
" Bunda ikut juga ? "
" Iya dong. Ayo kita jenguk Ayah dan Adek Fawwaz. "
Al kembali dengan sigap menggendong Bia dan menaruhnya diatas kursi roda.
" Terima kasih, Mas. "
" Mas Faiz gak melakukan apapun Bunda. Makasih kenapa Bun ? "
" Eeehhh,, maksudnya. Terima kasih Papa. "
" Bunda,, sekarang tahu kan gimana rasanya kena protes si kembar mulu. " sindir Zaskia.
Azalea dan Clara saling mendekap sambil tertawa.
" Sini Mas, sama Bunda. "
" Gak mau Bun. Mau digendong Papa aja. "
__ADS_1
" Siaaapp anak Papa. " kata Al senang sembari menggendong Faiz.
" Mama bawa apa ? " tanya Faiz saat melihat Clara yang membawa biskuit.
" Biskuit. Mas Faiz mau ? " jawab Clara.
" Mau Ma. Tapi suapin ya. Tangan Mas Faiz kotor belum cuci tangan. "
" Siaaapp.. !! " seru Clara senang.
Bia dan Zaskia tersenyum.
* Terima kasih Mas Faiz sayang. Sudah membantu meringankan beban Bunda. Teruslah mendekatkan mereka, Nak. * batin Bia.
Zaskia mendorong kursi roda Bia. Leon dan Lea berjalan bersaman. Al dan Clara berjalan beriringan karena bersamaan menyuapi Faiz.
" Bagaimana kondisi Mas Ghazzy sekarang Om. "
" Alhmdulillah operasinya sukses Bia. Kita hanya menunggu Ghazzy sadar. Mungkin baru nanti malam dia sadar. "
" Alhamdulillah. Aku akan menunggunya disini Om. "
" Tidak boleh. Kamu juga harus istirahat. " tegas Al.
Bia menoleh dan mendengus kesal.
" Itu tugas Opa untuk mengecek Ayah. Iya kan Mas Faiz. Bener kan kata Papa. " jata Al minta dukungan Faiz.
" Betul. " jawabnya.
Clara membersihkan mulut Faiz yang belepotan sembari tertawa kecil. Gemas dengan tingkah Faiz. Al menatap Clara sejenak, kemudian kkembali menetap Bia. Membuat Clara kembali cemburu.
* Al,, cepatlah sadar.Aku takut tidak kuat lagi melihat tatapan matamu yang selalu ppenuh cinta pada Bia. *
" Bagaimana dengan Fawwaz Leon ? " tanya Azalea khawatir.
Seorang perawat memberikan hasil tes Al pada Leon. Dia memeriksanya sejenak. Kemudian menghela nafas.
" Kenapa ? Masih meragukan aku Opa. " sindir Al.
" Berhentilah memanggilku seperti itu. " omel Leon.
" Memang Opa. Mau dipanggil Om juga sama cucunya ? Cari Tante dulu. "
" Kamu Ini.. !! "
Zaskia tertawa mendnegar sindiran Al.
" Aku setuju dengan Kak Al. "
" Kalian ini. Aku akan mebuatmu tidur berhari-hari. "
" Jangan macam-macam ya. Om bisa aku laporkan karena malpraktek. "
" Enak aja. "
" Berhentilah main-main. Gimana dengan Fawwaz. " tegur Azalea.
" Nanti malam kita bisa melakukan tranfusinya, Lea. "
" Alhamdulillah. " ucap Bia senang.
Al menatap senyum Bia yang terlihat sangat bahagia. Membingkai tawa Bia, bibirnya yang nampak sedikit pucat. Entah rasanya ingin sekali Al mencium bibir Bia. Ingin merasakan apakah rasanya masih semanis dulu.
Clara kembali tertunduk saat menyadari tatapan Al intens menatap ke arah Bia. Seolah tidak mau melewatkan apapun yang tengah dilakukan Bia.
__ADS_1