
Tian masuk ke ruang tunggu dengan membawa empat bungkus nasi padang dan juga teh hangat. Memberikannya pada Azalea, Clara dan juga Zaskia. Dia menyimpan nasi milik Al disamping Azalea.
Tian menaarik Zaskia agak menjauh dari Azalea dan Clara. Dan mulai meenyuapi istrinya itu.
" Aku gak lapar Kak Tian. " elaknya.
" Kamu harus makan. Setidaknya kamu harus sehat untuk membujuk Kak Al agar mau melakukan transfusi darah kan. "
Akhirnya Zaskia hanya mengangguk kemudian mulai mau membuka mulutnya saat Tiian menyuapinya. Hingga nasi itu habis sepenuhnya.
Zaskia memperbaiki selimut Azalea dan Clara yang jatuh. Zaskia melihat Al yang tertidur dengan memeluk tangan Bia. Zaskia hendak masuk tapi ternyata pintu itu dikunci Al dari dalam.
Tian baru saja keluar dari kamar Ghazzy. Memastikan kondisinya stabil. Kemudian duduk dan menepuk kursi di sampingnya saat melihat Zaskia juga tengah melihatnya.
" Jelaskan padaku, Kia. Jangan membuatku bingung. Kenapa aku merasa Kak Al masih menganggap Bia sebagaai istrinya ? Kak Al mencintai Bia ? "
" Kak Tian juga meliihatnya ?"
" Siapapun orang yang melihat kekhawatiran Al saat ini, pasti akan mengira Kak Al suami Bia, Ki. "
" Tapi, kenapa Kak Bia tidak melihaatnya ? "
" Gak mungkin Ki. Bia seorang yang peka. Dia bahkan langsung bisa menebak perasaanku dulu sewaktu aku meminta ijin Mama untuk ikut menunggumu disini. "
" Benarkah ? Lalu, kenapa Kak Bia diam saja ? Bahkan terlihat tidak perduli pada perasaan Kak Al ? "
" Lalu,, kamu ingin Bia bagaimana Kia ? Posisi Bia saat ini adalah Istri sah Ghazzy. Tentu saja dia lebih menjaga perasaan Ghazzy daripada orang lain. Coba tempatkan posisi kamu di posisi Ghazzy saat ini. Bagaimana dengan Clara ?? Om Leon benar. Kakakmu menjalin hubungan yang rumit. "
Zaskia menyandarkan tubuhnya pada lengan Tian. Hingga air matanya merembes di bahu Tian.
" Maafkan aku, Ki. " pintanya menyesal.
" Kak Tian gak salah. Memang hubungan mereka rumit, Kak. Apalagi sekarang ada si kembar. "
" Maksud kamu ? "
" Si kembar juga anak Kak Al Kak Tian. "
" Apa ?! " tanya Tian tak percaya hingga menghadap ke arah Zaskia.
" Bagaimana bisa ? "
Zaskia menceritakan saat malam itu, dimana Gahzzy mengantarkan Al yang sudah diberi obat perangsang kolega bisnisnya menemui Bia, tiga hari setelah tim dokter inseminasi juga telah menanamkan benih embrio didalam rahim Bia. Juga menceritakan tentnag penjelasan dokter saat mengetahui tes DNA Al dan Gahzzy sama-sama positif. Mereka berdua ayah biologis si kembar.
Juga menceritakan kalo Al sudah mencintai Bia sebelum menikah dengan Clara. Bahkan niat Al yang ingin menceraikan Clara dan membuat Ghazzy juga bercerai dengan Bia kalo ternyata anak itu adalah anaknya. Karena itu mereka memutuskna untuk menyembunyikan hasil tes DNAnya sampai sekarnag.
Tian menghela nafas pnajng. Tidak percaya ada ornag seperti Ghazzy yang merelakan istrinya melakukan hubungan suami istri dengan laki-laki lain. Padahal mereka hanya melakukan pernikahan kontrak.
* Ghazzy,, Bia,,, kalian ini terlalu baik atau bodoh. *
Tian membelai kepala Zaskia dengan lembut yang tertidur dipangkuannya.
Bia terbangun saat merasakan tangannya terasa kebas dan berat. Dia menoleh. Ada wajah yang seharian ditunggunya. Wajah yang bisa menyelamatkan Fawwaz anaknya. Air mata Bia kembali menetes. Entah takdir menuntunya kemana.
Dia ingin membantu dan mendukung Clara yang tengah memperjuangkan hati suaminya. Tapi, secara tidak langsung dia kembali membuat Clara tersiksa dengan perasaan cemburunya. Mungkin Ghazzy bisa mengerti dengan sikonnya sekarang, bagaimanapun mereka telah melakukan kesalahan dengan pernikahan kontrak. Lalu, bagaimana dengan Clara ? Bagaimana dengan perasaannya sekarang ?
Isakan tangis Bia membuat Al terbangun. Dia mengucek kedua matanya dan sedikit merentangkan tangannya karena tubuhnya terasa kaku. Bia hanya menhapus air matanya dengan kedua tangannya. Membuat Al tersadar dia tengah berada dikamar Bia dirumah sakit. Dia kembali menggenggam tangan Bia meskipun terasa Bia menolaknya. Tapi tidak diperdulikannya. Akhirnya Bia menyerah.
" Apa ada yang sakit ? Kenapa menangis ? Apa aku panggil Om Leon ? Atau kamu mau ke kamar mandi ? Aku panggilkan suster jaga. "
" Mas,, Mas Al,,,"
Al yang hendak berdiri kembali duduk.
" Aku gak mau apa-apa. Lepasin dulu tanganku. "
" Kamu mau apa ? "
" Aku cuma mau duduk Mas. "
Al dengan sigap membantu Bia untuk duduk meskipun berkali-kali Bia meyakinkannya dia bisa melakukannya sendiri.
" Maaf sudah merepotkan. Aku masih bisa sendiri Mas." keluhnya saat Al meeletakkan satu bantal untuk tempat bersandar Bia.
" Kamu sudah lebih baik ? "
Bia hanya mengangguk karena tahu Al tidak memperdulikan protesnya.
" Apa kamu haus ? mau minum ? "
" Iya Mas. Tolong ambilkan. " jawab Bia karena memang tidak bisa menjangkau botol air mineralnya.
" Aku bisa sendiri Mas. " keluh Bia saat Al masih memegang botol itu dan mengarahkan satu sedotan ke arah mulutnya.
" Minumlah. Kamu bilang haus Bi. " tegas Al.
Bia menghela nafas kemudian minum air itu dari tangan Al.
" Sudah cukup ? "
__ADS_1
Bia mengangguk.
" Terima kasih. " jawabnya.
Al kembali duduk. Bia sengaja menautkan kedua telapak tangannya agar tidak lagi digenggam Al. Tapi, rupanya kesengajaan itu terbaca oleh Al. Dia hanya tersenyum smirk. Dan malah menggenggam kedua tangan yang saling bertautan itu dengan kedua tangannya.
" Apa sudah lebih baik ? " tanyanya.
" Alhamdulillah. Mas,, jangan begini. Aku gak enak sama Kak Clara dan yang lainnya Mas. " kata Bia sembari menarik tangannya tapi Al malah semakin erat menggenggamnya.
" Mereka lebih tahu kekhawatiranku saat ini Bi. Mereka pasti mengerti. "
" Aku baik-baik saja Mas. " tegas Bia.
" Kaki kamu retak lagi. Dan kamu masih bilang baik-baik saja ? " omelnya.
" Yah,, tapi kan gak usah pegang tanganku kayak gini. Udah lepasin Mas. Beneran gak enak sama Kak Clara nantinya. "
" Bi,, stop ! " bentak Al.
Bia terdiam tidak lagi berusaha melepaskan tangannya dari Al karena bentakan Al.
" Tidak bisakah kamu mengerti aku Bi. Sekali ini saja. Hatiku sedang tidak baik-baik saja Bi. Pikiranku benar-benar kacau. "
Bia masih terdiam saat Al berkali-kali menciumi telapak tangannya. Berkali-kali pula dia beristighfar dalam hatinya, takut akan semakin larut dalam perasaan Al saat ini.
" Aku ,, aku mohon selamatkan Fawwaz Mas. " pinta Bia sendu.
" Kamu,,, kalian terlalu kejam padaku Bi. "
" Maafkan aku Mas. Aku benar-benar takut Mas akan merebut si kembar kalo Mas tahu hasil tesnya positif. Aku takut rumah tangga Mas nanti akan berantakan. Aku takut,,, "
" Hentikan Bi. Ketakutanmu semakin membuatku ingin membawa kamu dan anak-anak pergi dari sini. "
Bia menggeleng cepat saat Al menatapnya tajam.
" Jangan Mas. "
" Apa tidak ada sedikitpun perasaan padaku Bi ? Sampai kamu menyembunyikan kenyataan tentang mereka. "
" Bukan begitu Mas. Aaahh,, sudahlah. Aku bingung harus gimana menjelaskannya. Anggaplah keegoisanku karena takut kamu akan nekat meninggalkan Kak Clara. "
" Mereka anak-anakku Bi. Aku yang lebih berhak menemani kamu dibandingkan Ghazzy ! "
" Mereka juga anak-anak Mas Ghazzy, Mas. "
Al tersentak. Bagaimana mungkin ?
Al memeluk Bia dan mengusap lengannya agar tenang. Sesekali mencium kepala Bia yang masih terbungkus hijab.
" Aku mohon Mas. Selamatkan mereka. "
" Aku kira naluriku selama ini memang salah. Aku sudah bisa menerima mereka anak-anak kalian. Karena mereka tak ada yang mirip denganku. Hidung mereka seperti Ghazzy, bibirnya seperti bibirmu Bi. Dan,,, "
" Mata mereka sepertimu Mas. " potong Bia sambil melepaskan pelukan Al.
Al terduduk disamping Bia. Seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
" Kemarin, kamu melihat mereka saat tidur. Tentu saja kamu tidak bisa melihatnya. Mata mereka,, juga sebiru ini Mas. " kata Bia seraaya menyentuh wajah Al.
Al memegang tangan Bia dan kembali menggenggamnya.
" Istirahatlah. "
" Mas gak percaya dengan apa yang aku katakan ? "
"Aku perlu waktu untuk menenangkan pikiranku Bi. "
" Aku mohon Mas. "
" Apa kesembuhan mereka bisa menjamin kamu mau kembali padaku ? "
Bia tersentak kaget.
" Apa maksudnya ? "
" Aku ingin kita menikah lagi. "
" Mas,, jangan ngawur kamu Mas. "
" Aku gak ngawur. Aku mau kita bersama-sama. Aku mencintaimu Bi. Kasi aku kesempatan untuk membuktikannya. "
" Mas,,, !! " seru Bia kesal.
Bia membuang selimutnya ke arah samping. Dan kembali memaksakan hendak bangkit untuk berdiri.
" Mau kemana kamu, Bi. "
" Aku mau temui Om Leon. Aku akan meminta Om Leon mengambil darahku saja. Tidak perlu merepotkan kamu, Mas. " kata Bia sembari turun dari ranjangnya.
Dengan langkah terseok, Bia mulai melangkah. Tapi baru tiga langkah Al langsung menggendongnya.
__ADS_1
" Astahhfirullah. " pekiknya kaget.
" Kamu masih sakit Bi. "
" Aku baik-baik saja. Suudah turunkan aku Mas. "
" Kamu mau kita sama-sama terjatuh kalo kamu berontak terus ?! " serunya kesal.
Bia menjadi terdiam.
" Aku mau ke kamar anak-anak Mas. " kata Bia saat Al hendak merebahkan tubuhnya kembali ke ranjangnya.
Al menatap Bia sejenak kemudian kembali memggendongnya dan meletakkan di kursi roda.
" Sudah. Aku bisa mendorongnya sendiri. " ujar Bia ketus.
Al menarik dan menahan kursi roda itu hingga usahaa Bia menjalankan rodanya gagal.
" Mas !! " serunya marah.
Al duduk didepan Bia dan mensejajarkan tubuhnya dengan lutut Bia.
" Kamu marah ? "
" Gak. "
" Apa kamu akan memaafkan aku kalo aku melakukan transfusi darahnya ? "
" Benarkah ? " tanya Bia dengan mata berbinar.
" Apa kamu senang sekarang ?! "
Bia tersenyum sembari mengangguk. Al mengusap kepala Bia lembut.
" Aku akan mengantarmu ke kamar mereka. "
" Tapi,, aku juga mau melihat Mas Ghazzy. "
" Aku juga akan mengantarmu kesana nanti. " ujar Al ketus.
Bia ingin tertawa saat melihat ekspresi cemburu Al yang tidak pada tempatnya. Tapi diurungkan niatnya. Takut Al kembali membatalkan niatnya melakukan transfusi darah.
" Ke kamar Mas Ghazzy dulu Mas. " kata Bia pelan.
Al menghentikan mendorong kursi rodanya. Tepat di bekakang pintu. Bia menoleh bingung.
" Kenapa ? "
" Bukannya mau ke kamar anak-anak ? " tegurnya kesal.
" Aku mau membangunkan Mas Ghazzy untuk sholat shubuh berjamaah. "
Al mendengus pelan.
" Aku akan tetap disini. Kalo kamu mau menjadi Imam sholat shubuh. "
Al terpaku mendnegar permintaan Bia. Sudah berapa lama dia tidak lagi melakukan ibadah itu.
" Gak mau kan. Ya sudah. Aku ke kamar Mas Ghazzy sendiri. " ujarnya sembari berusaha menggapai gagang pintu.
Saat hampir saja dia bisa mencapai gagang pintu itu, Al menarik kursi rodanya beberapa langkah.
" Mas Al,, !! " seru Bia kesal.
" Aku akan menjadi imam sholatmu kali ini. " tegasnya.
Kali ini Bia yang tersentak. Dia menelan salivanya getir.
* Bagaimana ini ? Aku tadi kan hanya bercanda. Kenapa Mas Al malah menanggapinya serius ? * batin Bia bingung.
" Mas yakin ? "
" Tentu saja. Ayo aku bantu kamu berwudhu. "
" Ehhhmm,, apa gak bangunkan Mama, Kia dan Kak Clara juga Mas ? " tanya Bia mencoba menggagalkan niat Al untuk menjadi imam sholat.
" Aku cuma mau jadi Imammu. Biar mereka berjamaah dengan Tian. "
Al hendak menggendong Bia setelah berwudhu.
" Gak usah Mas. Aku sholat di atas kursi roda saja."tolak Bia.
Al memberikan mukena Bia. Dan dia beranjak berwudhu. Dia tersenyum saat melihat Bia sudah bersiap dengan mukenanya.
Air mata Bia mengalir satu per satu saat Al dnegan fasihnya membaca Al Fatihah dan juga surat-surat pendek. Bahkan alunannya lebih merdu dibandingkan Ghazyy saat merekq memimpin sholat.
* Maafkan aku Mas Ghazzy,, Kak Clara. *
Clara menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Bahunya betgetar menahan isak tangisnya. Dia menyandarkan tubuhnya. Membingkai pemandangan paling menyakitkan daripada Al yang menghindarinya.
* Bagaimana bisa Al menjadi Imam Bia. Sedangkan selama ini dia tidak pernah melakukannya saat berada dirumah ? Kamu keterlaluan Al. Aku istrimu,, bukan Bia. *
__ADS_1