Satu Hati Dua Cinta

Satu Hati Dua Cinta
bab 144


__ADS_3

Al mendekap Bia yang baru keluar dari lab tes darah. Membantu Bia membetulkan bajunya. Azalea dan Wimpi sudah keluar lebih dulu dan menunggu mereka di depan lab.


" Bu Bia,, "


Bia menoleh saat mendnegar namanya disebut oleh seseorang di belakangnya.


" Dokter Irene,, masyaallah. Dokter makin cantik saja." puji Bia sembari mengulurkan tangannya untuk membalas uluran tnagan dokter Irene.


" Bagaimana kabarnya Bu Bia ? Heemm,, si kembar pasti sudah lucu-lucu dan menggemaskan. "


" Alhamdulillah baik dokter. Heemmm,, Mas Al, gak lupa kan memberikan undnagannya pada dokter Baim dan dokter Tri ? " tanya Bia.


" Iya, sayang. Aku gak lupa. Undangan dokter Irene sudah aku titipkan pada dokter Baim. " jawab Al.


" Iya Bu Bia. Saya audah menerima undangannya. Terima kasih karena Pak Al, tidak melanjutkan kasus kecerobohan saya waktu itu. " ucap dokter Irene tulus sambil menangkupkan kedua tangannyaa ke arah Al.


Bia menatapnya takjub. Memindai pakaian dokter Irene yang terlihat lebih syar'i ketimbang saat terakhir kalinya bertemu.


" Mashallah, sepertinya dokter Irene sudah berhijrah. Saya sampai takjub dibuatnya. " puji Bia.


" Alhamdulillah Bu Bia. Saya benar-benar shock dengan kasus Bu Bia kemarin. Dokter Gita telah menyadarkan saya, Alhamdulillah masih ada yang mau mengingatkkan saya yang terlalu sombong karena merasa RS ini milik kakak saya. Maafkan saya Bu Bia. "


jelas dokter Irene tulus.


" Tidak ada yang perlu dimaafkan dokter. Alhamdulillah semuanya sudah selaamat, sehat dan tidak kurang satu pun. " jawab Bia.


" Bia,, kalian sudah selesai ? " tnaya Naya yang baru tiba besama Alex dan Mark.


" Ah,, Mama baru datang ? Iya kami sudah selesai. "


" Dimana Bu Lea dan Wimpi ? " tanya Mark.


" Mereka menunggu di loby Pa. " jawab Al.


" Kami duluan gak apa-apa kan Pa. Aku harap Papa dan Mama gak lupa untuk menjenguk cucu-cucu kalian." sindir Bia.


" Tentu saja. "


Bia menatap Alex yang tengah menatap ke arah dokter Irene yang sedang menerima telpon. Aahhh,, Alex, andai kamu sudah berhijrah sama speerti Papa. Aku yakin dokter Irene pasti bisa menjadi istri yang baik untukmu. pikir Bia.


" Maaf Bu Bia. Silahkan di lanjutkan. Saya permisi karena ada pasien darurat. " pamit Dokter Irene sambil kembali mengulurkan tnagannya.


" Aku harap dokter Irene menyempatkan untuk datang ke acara aqiqoh si kembar. " ucap Bia.


Keduanya saling berpelukan sejenak lalu cipika cipiki. Alex menatap senyum dan lesung pipit dokter Irene tidak berkedip.


" Bia,, kamu gak mengenalkan aku padanya ? Kan aku sudah memintamu untuk mengenalkan satu wanita sepertimu. " kata Alex yang sperti biasanya selalu spontanitas.

__ADS_1


Naya sampai memukul lengan Alwx karena mempermalukannya didepan seorang dokter temna Bia. Kini giliran Al yang menertawakan Alex yang nampak keki.


" Wanita seperti Bu Bia ? " gumam dokter Irena seolah bertanya pada Bia maksudnya.


" Tidak usah dipikirkan dokter Irene. Dia ini memang selalu tengil bawaanya. Maafkan dia dokter Irene. "


" Ohh begitu. Kalo gitu saya pamit Bu. Mari Pak Al. Pak,, Bu,, " pamit dokter Irene sembari melangkah pergi.


Entah kenapa Alex seolah terhipnotis ingin mengikuti langkah kaki dokter Irene. Untung saja Mark segera menarik bajunya dan mendekapnya agar tidak lari lagi.


" Om,, kenapa di pegangin. Aku mau kenalan Om "


" Alex,, jaga sikapmu. Ini rumah sakit. " geram Mark.


" Cckkk,, Om dan Bia sama aja. Keburu dia hilang Om. "


Protes Alex ketus.


" Memangnya mau ngapain ? " seru Bia kesal.


" Kenalanlah. Atau mau aku nikahi sekarang juga boleh. " goda Alex.


Tawa Al smeakin keras mendnegar jawaban Alex. Sampai Bia harus memukul Al agar sadar masih berada di rumah sakit.


" Nikah,, nikah,, memangnya sudah tahu bacaan syahadat ? " celetuk Bia.


" Apa itu ? "


Bagaimanapun, bertanya tentang urusan agama seseorang. Pasti sedkit banyak akan menyinggung perasaan lawan bicaranya.


" Jangan katakan aku gak berusaha Bia. Belum. Lihat aja nanti. " seru Alex.


" Kalo gitu, kenalannya nanti saja kalo udah merasa sempurna. Aku yakin wanita itu sudah mengenal seornag Alex, owner Pratama Company. Yang hobinya menyortir wanita yang ada di club. " gurau Bia.


" Ckkk,, sudahlah Bia. Jangan mengungkit hal itu lagi. Okeylah aku ini seorang pendosa. Tapi tidak perlu kau ingatkan aku berkali-kali speeti itu. " geram Alex marah.


Bia tersentak, kaget dengan ekspresi marah Alex. Dia pikir Alex akan bersikap seperti biasanya. Menertawakan setiap apapun yang di ucapkan Bia.


" Maaf,, maafkan aku. Aku gak bermaksud menyinggungmu. " ralat Bia tidak enak hati.


" Aku harap kamu gak mengungkitnya lagi. I'll do my best to change Bia. Dan kamu saudaraku, pengganti Clara. Jadi, aku harap kamu selalu mendukungku. "


Bia tertawa sekilas karena Alex sudah seceria biasanya.


" Jadi,, kapan kamu akan mengenalkan dia pada saudaramu ini ? " tnya Alex sembari melingkarkan tangannya ke pundak Bia.


Sontak Bia menatap Al yang lngsung berhenti tertawa. Al menepis tnagan Alex dnegan kasar dan merengkuh Bia dalam dekapannya.

__ADS_1


" Jangan sentuh istriku !! " seru Al kesal.


" Tnenag aja. Aku sudah menemukan pengganti ' Bia ' yang lainnya. " gurau Alex sembari hendak kembali mendekat ke arah Bia.


" Aku bilang jangan menyentuh istriku ! “ geram Al tertahaan.


" Ckkk,, dasar posesif sekali sih. " ejek Alex.


" Sudah. Ayo kita masuk Alex. Al,, Bia,, kami masuk dulu. " pamit Naya sembari menarik lengan Alex yang tidak juga berhenti menggoda Bia dan Al yang pencemburu.


Bia memukul dada bidang Al saat ketiga ornag itu sudah masuk lab.


" Kamu apa-apan sih Mas. Bisa-bosanya marah-marah gak jelas didepan Papa dan Mama. " gurau Bia.


" Siapa yang marah-marah gak jelas Bi ?! Tnagannya sudah lancang menyentuhmu. Aku gak suka kamu dekat dengan Alex Bi. " keluhnya.


" Dulu Tian,, sekarang Alex. Ingat ya Mas, kalian ini rekan kerja lho. Teman SMP malah. Apa gak bisa senyum ini di perlihatkan padanya. " kata Bia smabil mencubit pipi Al.


" Biar saja. Aku gak perduli. Mau dia teman SMP atau teman SD. Pokoknya aku gak mau kamu dekat-dekat dengan Alex. Titik. Aku gak mau kamu mendebat lagi Bi ! " seru Al kesal.


" Iya, Mas. Iya. Ayo kita pulang sekarang. "


" Ayo. " ajak Al sambil menggandeng Bia.


" Ini ekspresinya biasa aja dong. " goda Bia.


" Sudah gak usah menggodaku. Aku masih kesal. "


" Ya sudah, oke. Aku gak akan menggodaa Mas lagi. Tapi, Mas Al harus melakukan hal yang sama lo ya. Aku juga gak mau menanggapi godaan Mas Al dirumah nanti. " kata Bia sembari menjajari langkah Al yang makin lama makin cepat.


Bia mendongak kaget saat tiba-tiba Al berhenti dan berbalik menatapnya. Otomatis Bia jadi menabrak tubuh Al.


" Ada apa ? Kenapa berhenti mendadak sih . " gerutu Bia sambil hendak mundur.


" Awas aja kalo berani gak menanggapiku. Aku gak akan mengijinkan kamu bekeerja besok. " ancam Al.


" Ehh iya,, iya,, besok kan hari terakhirku Mas. Laporanku juga tinggal dikit ko. "


" Kita lihat aja nanti. " ancam Al sembari tersneyum smirk.


" Iishhh, semyummu membahayakan Mas. Kalo udah tersenyum seperti itu. Pasti bawaannya mesum aja kan. " gurau Bia setengah berbisik.


Takut menjadi perhatian beberapa ornag yang lalu lalang.


" Mesum sama istri sendiri malah berpahala Bi syang." bisik Al lalu meniup telinga Bia.


" Mas,, hentikan ! " seru Bia kesal.

__ADS_1


Tiupan Al di telinganya sudah pasti membuat tubuh Bia menegang. Bahkan bulu kuduknya sudah meremang.


Tapi sepetti biasa. Al pasti hanya akan menertawakan respon Bia. Menurutnya respon Bia terlihat sangat menggemaskan.


__ADS_2